
Bima melonggarkan dasinya, lalu meraih apron, dan mengenakannya. Lagi-lagi ketampanan pria itu meningkat dua kali lipat di mata Adelia.
Tatapan Adelia tidak pernah lepas dari sang suami yang terlihat serius memasak makanan untuknya.
"Tuan, kenapa memasak lagi? biar aku saja yang melakukannya," tiba-tiba asisten rumah tangga mereka datang dengan wajah panik.
"Oh, tidak apa-apa, Bi! biar aku melakukannya sendiri. Non Adelia mau makan yang aku masak," sahut Bima sembari melemparkan senyumnya.
Pembantu itu sontak menoleh ke arah Adelia.
"Non, apa masakanku tidak enak? apanya yang kurang, Non biar nanti aku perbaiki!" asisten itu benar-benar merasa tidak enak.
"Tidak ada yang kurang sama sekali kok,Bi. Masakan Bibi itu enak. Aku tiba-tiba hanya ingin makan makanan yang dimasak sama Kak Bima. Bibi jangan berpikir yang macam-macam ya!" sahut Adelia dengan lembut.
Asisten itu sontak mengrenyitkan keningnya, merasa ada sesuatu yang aneh. Namun wanita itu tidak mengatakan apapun karena belum tentu yang dia pikirkan itu benar.
"Oh begitu ya,Non. Kalau begitu Bibi tenang sekarang. Aku kembali bersih-bersih ya, Non!" Pembantu itu beranjak pergi, setelah Adelia menganggukkan kepalanya.
Tidak perlu memakan waktu yang lama, Makanan yang dimasak oleh Bima sudah selesai. Pria itupun langsung menyajikan di atas piring dan meletakkannya di depan Adelia.
"Nih, sudah selesai. Kamu sekarang makan ya! aku mau langsung berangkat ke kantor," ucap Bima dengan lembut.
Senyum Adelia seketika menyurut, berganti dengan wajah masam. "Aku tidak mau makan, kalau tidak kakak temani. Sudah hampir dua minggu ini aku makan sendirian, kali ini aku mau ditemani," protes Adelia sembari mendorong piring berisi makanannya.
"Kalau untuk masalah itu aku minta maaf. Aku belakangan ini sangat sibuk karena banyak pekerjaan. Aku harap kamu bisa memakluminya," Bima masih terdengar sangat lembut.
"Aku sudah cukup memakluminya kan? sekarang aku mau Kakak yang ngertiin aku. Aku mau Kakak temani aku makan. Lagian Kakak kan juga belum sarapan," Adelia mulai mengeluarkan sisi keras kepalanya.
Bima mengembuskan napasnya, berusaha untuk menahan rasa kesalnya.
"Ini sudah cukup siang, Del. Aku sudah telat ke kantor. Lain kali aja ya aku menemani kamu makan," Bima masih berusaha untuk bersikap lembut.
"Kamu itu kan bosnya. Tidak akan ada yang marah kalau kamu telat ke kantor,"
"Walaupun aku bosnya, aku harus tetap mencontohkan kedisiplinan, Del. Bukan karena aku bos aku jadi semena-mena untuk datang jam berapapun," terang Bima, lugas.
__ADS_1
"Apa sekali saja kamu tidak bisa telat? kalau begitu kamu pergi saja. Aku tidak akan memintamu menemaniku lagi," ucap Adelia dengan air mata yang tanpa permisi, sudah jatuh membasahi pipinya.
"Del, bukan begitu! aku ... ahhh, baiklah aku akan menemanimu makan," Puni Bima akhirnya mengalah.
"Tidak usah! kamu pergi saja!" Adelia memalingkan wajahnya sembari menyeka air matanya.
Bima menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Pria itu benar-benar bingung, melihat mood Adelia yang tidak seperti biasanya.
Bima kemudian tersenyum dan memeluk Adelia, lalu menyeka air mata wanita itu. "Kamu jangan sedih begitu dong. Maaf ya, kalau aku buat kamu sedih. Sekarang kamu mau aku suapin makan?" tanya Bima dengan tatapan lembut dan senyum manis.
Adelia kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu tiba-tiba kembali ceria, hingga membuat Bima menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengembuskan napas lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu sudah waktu berlalu. Pagi ini, Adelia tampak masih bergelung di balik selimutnya. Cahaya mentari yang masuk tidak serta merta membuat wanita itu bangun dari tidurnya. Namun, begitu teringat akan sesuatu, wanita itu langsung membuka matanya lebar-lebar dan langsung berbalik untuk melihat Bima.
Wajah wanita itu langsung muram, karena ternyata tidak menemukan keberadaan suaminya sama sekali.
Wanita melirik ke jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Kenapa sih aku cengeng sekali. Ini benar-benar buka aku. Kenapa rasa sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan lebih sakit yang ini dibandingkan dengan Kak Pandu dulu?" Adelia menyeka air matanya, namun lagi-lagi sesering apapun dia menyekanya tetap saja cairan bening itu memaksa untuk keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari sudah beranjak sore, Adelia sama sekali tidak bersemangat sepanjang hari ini, karena satu harian ini Bima sama sekali tidak menghubunginya dan bahkan tidak mengirim pesan juga. Untuk mengucap happy Anniversary pun tidak sama sekali.
Adelia berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah lemari. Wanita itu pun mengeluarkan pakaiannya dan memasukkan pakaiannya ke dalam kopernya.
"Sebaiknya aku pergi dari sini untuk sementara. Kalau Nanti papa nanya kenapa aku pulang, aku bilang aja kalau aku kangen ke mereka," batin Adelia sembari tetap memasukkan pakaiannya. Wanita itu lupa kalau sebenarnya dia tidak perlu membawa pakaian karena pakaiannya juga masih banyak tertinggal di rumah orangtuanya.
Tok tok tok
"Non, ada tamu di bawah!"
Tiba-tiba Adelia dikagetkan dengan ketukan di pintu. Adelia pun buru-buru langsung menutup kopernya dan melangkah menuju pintu.
__ADS_1
"Siapa, Bi?" tanya Adelia setelah pintu terbuka.
"Non, lihat sendiri aja. Soalnya mereka bilang, kalau Non Adel harus turun sendiri ke bawah.
Adelia mengrenyitkan keningnya, penasaran.
"Baiklah! ayo kita turun!" Adelia melangkahkan kakinya disusul oleh pembantunya, turun ke bawah.
Mata Adelia membesar dan wajahnya juga langsung berbinar begitu melihat siapa yang datang.
"Mama, Papa,Kak Arka, Kak Ruby, kalian semua datang?" pekik Adelia sembari menghambur memeluk keluarga besar yang sangat dia rindukan itu.
"Waduh, keponakan-keponakanku sudah besar!" Adelia langsung mencubit dan menciumi pipi-pipi gembul ketiga ponakannya.
"Happy Anniversary, Adel!" ucap Ruby, sembari tersenyum.
Senyum Adelia yang tadinya merekah tiba-tiba menyurut. Bukan karena dia tidak berterima kasih atas ucapan Ruby, tapi lagi-lagi dia merasa sedih karena ucapan itu bukan dari Bima.
"Kalian mengingatnya?" tanya Adelia, lirih.
"Tentu saja,kami ingat. Makanya kami datang ke sini. Asal kamu tahu, kakakmu yang mengingatnya dan bersikeras ke sini untuk melihatmu," jelaskan Ruby, yang disambut tawa oleh yang lainnya.
"Oh ya, di mana Bima? dia belum pulang ya? dan kenapa sepertinya tidak ada tanda-tanda perayaan apapun?" Arka buka suara, sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
"Emm, Kak Bima belum pulang, Kak. Mungkin dia lupa tentang hari ini. Tapi nggak pa-pa kok, kan ini hanya sekedar perayaan saja, dan tiap tahun juga ada. Jadi tidak masalah sama sekali," ucap Adelia berusaha untuk tersenyum.
"Tidak bisa! walaupun setiap tahun ada, tapi setidaknya dia ingat kan?" Arka terlihat marah.
"Hmm, bagaimana dengan kamu yang dulu? empat tahun kita tanpa perayaan apapun," sindir Ruby.
"Itu hal berbeda, Sayang. Situasi kita saat itu sama sekali tidak seperti suami istri," ucap Arka.
"Sudah, sudah! jangan ribut lagi. Sekarang kita bawa Adelia makan malam di luar saja. Kita sendiri yang merayakannya," Adijaya buka suara, dan disambut dengan anggukan kepala, Rosa istrinya.
"Ayo,Del kamu ganti pakaian dulu! walaupun tidak ada Bima, kamu harus tetap cantik. Kakak akan membantumu. Nanti kita ambil photo dan kirim ke Bima, biar dia tersindir," ucap Ruby, menarik tangan adik iparnya itu ke atas.
__ADS_1
Tbc