
Sudah seminggu waktu berlalu, namun surat cerai itu belum juga terlihat di mana keberadaannya. Hal ini, membuat mood Jelita jelek.
Mobil yang dikemudikan oleh Jelita tampak memasuki pekarangan luas kediaman Arka. Kemudian setelah berhenti dengan sempurna, wanita itu turun dan mengayunkan kakinya, melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.
"Eh, ada Non Jelita. Cari siapa, Non? jam segini kan Tuan muda ada di kantor. Non Jelita mau bertemu Nyonya Rosa ya?"sapa seorang pembantu yang kebetulan berpapasan dengan Jelita.
"Tidak kok, Bi. Aku ke sini karena diminta Adel untuk mengambil gaun yang akan dia pakai nanti. Katanya dia ada acara mendadak, tapi tidak sempat untuk pulang mengambil gaun. Jadi, dia minta aku untuk memilih gaun yang cocok untuknya," ucap Jelita, tersenyum menutupi kebohongannya.
"Oh, seperti itu? kalau begitu, silakan, Non!". Pembantu itu memberikan jalan buat Jelita.
"Terima kasih ya, Bi. Aku ke atas ya!" Jelita menaiki tangga, setelah pembantu itu memberikan izin tanpa curiga sama sekali.
"Aku sangat yakin, kalau surat cerai itu pasti diambil dan disembunyikan oleh Adelia. Dan aku sangat yakin kalau dia menyimpannya di kamarnya. Aku sama sekali tidak bisa kamu kadalin, Adelia. Kamu licik,aku bisa lebih licik," bisik Jelita pada dirinya sendiri dengan bibjr yang menyeringai sinis.
Ya, Jelita memang bertujuan untuk mencari surat cerai yang belum ditandatangani oleh Arka itu di kamar Adelia, karena dia sangat yakin, adik perempuan Arka itu lah yang menyembunyikan surat itu.
Jelita kini sudah berada di dalam kamar, Adelia yang girly. Wanita itu mengedarkan pandangannya, memindai setiap sudut ruangan, bingung untuk mencari di bagiam mana dulu.
"Hmm, kira-kira di mana ya dia menyimpannya? coba aku mulai dari laci nakas itu dulu," Jelita melangkah ke arah nakas dan menarik lacinya. Dia mencoba mencari tapi hasilnya nihil.
"Haish, tidak ada di sini sama sekali. Pasti dia simpan di dalam lemari. Tapi di bagian mananya ya? lemari dia sangat besar. Arghhh, cape pastinya, tapi aku harus tetap menemukan surat itu," Jelita mengembuskan napas kesalnya sembari melangkah menuju lemari. Wanita itu kemudian, kembali memeriksa isi lemari Adelia, dengan sangat hati-hati, agar pakaian gadis itu tidak berantakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, tampak Adelia yang berjalan memasuki rumah. Gadis itu merasa tubuhnya kurang fit, dan dia merasa kalau dia butuh istirahat, karena itu dia memutuskan untuk pulang lebih awal.
__ADS_1
"Eh,Non Adelia kenapa sudah pulang? bukannya Non Adelia sibuk dan tidak sempat untuk pulang?" ucap pembantu yang tadi bertegur sapa dengan Jelita.
"Sibuk? tidak sempat untuk pulang? siapa bilang?" Adelia mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Itu tadi Non ... Non Jelita tadi datang ke sini, katanya Non Adell yang minta untuk memilih gaun pesta yang akan Non pakai di acara yang mendadak. Tuh Non Jelitanya masih ada di kamarnya Non," terang pembantu itu dengan lugas.
"Apa! kurang ajar banget wanita ular itu!" Adelia berlari naik ke atas, meninggalkan pembantu yang kebingungan.
Brakk...
Adelia membuka pintu kamarnya dengan sangat keras hingga membuat Jelita yang masih fokus mencari surat cerai itu, terjengkit kaget hingga hampir terjatuh.
Mata wanita itu sontak membesar, terkesiap kaget begitu melihat sosok Adelia yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan sangat tajam.
"Lancang sekali kamu masuk ke kamarku! kamu mau mencuri ya!" bentak Adelia tanpa menurunkan tatapan tajamnya.
"Kenapa kamu diam, hah? kamu masih punya telinga kan? kamu mau mencuri ya?" lagi- lagi Adelia membentak Jelita.
"Hei, jangan asal tuduh! Aku tidak berniat mencuri apapun di kamar ini. Aku hanya mencari sesuatu yang aku yakini kamu sembunyikan di kamar ini?" akhirnya Jelita tidak ada cara lain selain mengatakan yang sebenarnya.
"Sial! sepertinya dia sudah mulai curiga aku yang menyembunyikan surat cerai itu," bisik Adelia pada dirinya sendiri.
"Menyembunyikan sesuatu? apa maksudmu? aku sama sekali tidak mengerti. Benda apa yang aku sembunyikan?" Adelia, memasang raut wajah berpura-pura bingung.
Jelita terlihat menggeram, melihat raut wajah. Adelia yang terkesan tidak tahu.
__ADS_1
"Jangan pura-pura tidak tahu deh. Aku yakin, kamu pasti sudah tahu benda apa yang aku maksud," ucapnya.
"Hei, aku bukan cenayang yang bisa tahu apa yang kamu maksud. Sekarang jelaskan,benda apa yang kamu maksud?"
"Surat cerai Arka dan Ruby! kamu yang mengambil dan menyembunyikannya kan? kamu tidak ingin kakakmu itu menikah denganku, makanya kamu sembunyikan. Mana surat itu? kasih ke aku!" Jelita menengadahkan tangannya, meminta benda yang dia maksud.
Adelia sontak memasang wajah pura-pura kaget. " Apa? surat cerai? jadi, Kak Arka sudah membuat surat cerai dengan Kak Ruby? kenapa aku bisa tidak tahu?" Raut wajah Adelia benar-benar terlihat natural, seakan dia baru saja tahu kalau kakaknya sudah membuat surat cerai.
"Kenapa kamu jadi bingung? kamu hanya berpura-pura kan?" Jelita mulai sedikit ragu, kalau bukan Adelia yang mengambil surat cerai itu.
"Hei, apa kamu tidak bisa melihat wajahku yang benar-benar kaget? aku baru tahu, dan itupun karena kamu kasih tahu. Aku juga yakin kalau papa dan mama juga tidak tahu masalah ini, karena Kak Arka sama sekali tidak pernah cerita tentang ini,"
Jelita menggaruk-garuk kepalanya, mendengar ucapan Adelia. Wanita itu, merasa kesal karena merasa dugaannya salah.
"Ya udah deh. Aku keluar dulu! maaf, sudah mencurigaimu," pungkas Jelita sembari berlalu keluar dari kamar Adelia.
Sementara itu, Adelia menatap kepergian Jelita dengan bibir yang tersenyum misterius.
"Mau sampai kamu jungkir balik pun tadi mencari surat itu di kamar ini, kamu tidak akan menemukannya, karena aku tidak menyimpannya di kamar ini, bahkan di rumah ini sekalipun," ucap Adelia yang tentu saja dia ucapkan di dalam hati.
Ya, Adelia sudah menduga hal ini,di mana Jelita akan curiga padanya. Makanya dia sudah mempersiapkan segalanya. Gadis itu, menyimpan surat cerai Kakaknya dengan Ruby di apartemen pribadinya yang tentu saja hanya dia yang tahu, kode akses masuk ke dalam apartemennya itu. Bahkan mama, papa dan kakaknya saja tidak tahu.
Adelia memutuskan untuk menutup pintu kamarnya, tapi sebelum dia benar-benar menutupnya, samar-samar dia mendengar suara Jelita yang sedang berbicara dengan Rosa mamanya. Terdengar jelas, kalau Jelita sedang berbohong, mengatakan kalau dia datang ke rumah ini, karena rindu ingin bercerita dan bercanda dengan sang mama.
"Cih, dasar wanita bermuka dua. Tunggu aja tanggal mainnya, semua dramamu akan secepatnya berakhir," Adelia menyeringai sinis sembari menutup pintu.
__ADS_1
Tbc