
Arka baru saja melajukan mobilnya keluar dari area parkiran cafe, demikian juga dengan Pandu. Namun di tengah jalan entah bisikan dari mana, Pandu memutar balik mobilnya dan kembali ke Cafe, tapi tidak keluar dari dalam mobil.
"Sial! kenapa aku harus balik ke sini lagi? kurang kerjaan amat aku," bisik Pandu, merutuki apa yang dia lakukan, tapi anehnya dia sama sekali tidak berniat untuk pergi dari tempat itu.
"Kenapa mereka lama sekali di dalam sana? apa mereka tidak menyadari kalau ini sudah mulai larut malam?" Pandu terlihat mulai gusar. Berkali pria itu melihat ke arah cafe.
Cukup lama Pandu berada di parkiran mobil.Dia hampir saja tidak sabar dan berniat untuk menyusul ke dalam untuk memantau apa yang dilakukan oleh Tiara dan pria yang sama sekali tidak dia kenal itu. Namun, ketika dia hendak keluar dari mobil, tiba-tiba matanya menangkap pemandangan di mana Tiara keluar dari dalam cafe dengan bergelayut manja, di lengan pria itu. Hal itu tentu saja membuat Pandu mencengkram kencang kemudi dengan mata yang berkilat-kilat, penuh amarah.
Pandu semakin panas melihat sikap Tiara yang sangat manja, tidak mau masuk ke dalam mobil, sebelum pria itu membukakan pintu untuknya. Bahkan pria itu, tanpa sungkan mengacak-ngacak rambut Tiara, membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya.
"Sial! manja sekali sih dia! apa sih lebihnya pria itu dibandingkan aku? lihat saja, bahkan untuk membukakan pintu untuk Tiara saja dia tidak ada inisiatif. Masa dia harus menunggu Tiara ngambek dulu," Pandu menggerutu tidak jelas.
Mobil yang di dalamnya ada Tiara, mulai melaju keluar dari area parkiran dan Pandu pun mulai membuntuti.
"Ada apa sih denganku? bukannya aku yang memutuskan untuk mundur? harusnya aku senang kan melihat dia sudah menemukan pria yang dia suka? tapi kenapa aku merasa tidak rela ya?" batin Pandu dengan ekspresi kesal. Antara kesal pada diri sendiri yang tidak konsisten pada keputusannya sendiri dan kesal membayangkan Tiara bersama dengan pria lain di dalam mobil yang ada di depan.
"Mereka sedang apa ya di dalam mobil itu? apa salah satu tangan pria itu menggenggam tangan Tiara dan mengecupnya? sial! kenapa aku kesal membayangkannya?" umat Pandu, merasa panas membayangkan hal yang belum tentu terjadi.
Karena jalanan sudah mulai sepi, tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, mobil yang membawa Tiara berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar yang tidak lain adalah rumah Tiara.
"Ternyata dia pria yang bertanggung jawab! Aku kirain, tadinya dia tidak akan mengantarkan Tiara sampai ke rumah," batin Pandu sedikit lega.
Pandu menurunkan kaca mobilnya agar lenih leluasa melihat keluar. Tampak pintu dibuka oleh mamanya Tiara dan pria itu langsung memeluk mamanya Tiara. Bukan hanya itu saja, pria itu bahkan ikut masuk ke dalam..
"Oh, tenyata hubungan mereka sudah sedekat itu. Aku yang selama ini terlalu banyak berharap," Pandu menaikkan kembali kaca mobilnya, dan memutuskan untuk berlalu pergi. Pandu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah kesunyian jalanan.
Bagaimana dengan Arka?
Pria itu ternyata tidak pulang ke rumah. Pria itu justru melaksanakan rencana awalnya yaitu ke rumah Risa, kakaknya Ruby.
Sudah berkali-kali Arka menekan bel, tapi tuan rumah belum juga membukakan pintu untuknya.
"Mereka tidur atau mati sih? kenapa tidak dengar bel berbunyi?" Arka menggerutu di dalam hati.
Arka kembali mencoba menekan bel, dan menunggu ada yang membukakan pintu.
"Haish, sepertinya mereka memang benar-benar sudah tidur. Aku sebaiknya pulang," Arka berbalik hendak melangkahkan kakinya. Namun belum juga melangkah, terdengar pintu dibuka oleh seseorang.
__ADS_1
"Arka?" Risa mengrenyitkan keningnya.
"Kenapa sih pintunya lama dibuka? kalian lagi tidur atau lagi mati?" protes Arka, menunjukkan wajah kesalnya.
"Hei, salahmu sendiri! Siapa suruh kamu datang di jam segini?" Risa balik protes dan Arka hanya cengengesan.
"Kenapa kamu datang malam-malam begini? apa ada terjadi sesuatu?" tanya Risa lagi, dengan raut wajah gusar.
"Emm, apa boleh aku masuk dulu, Kak?" tanya Arka sopan.
"Baiklah! silakan masuk!" Risa memberikan jalan.
"Sekarang katakan, ada keperluan apa kamu datang malam-malam begini?" ucap Risa, menatap Arka dengan tajam sembari menyilangkan kakinya, dan tangan yang bersedekap di dada.
"Aku mau meminta tolong sesuatu pada Kakak. Aku mohon Kakak bantu aku untuk membujuk Ruby mau bersamaku lagi, boleh ya Kak?" Arka mulai mengutarakan permintaannya.
Risa mengrenyitkan keningnya dan berdecak.
"Jadi, kamu datang malam-malam begini,. mengganggu orang tidur, hanya karena urusan ini? Astaga, Arka. Kamu sadar nggak sih kalau kamu sudah menggangu istirahat orang," Risa menggerutu, kesal dan Arka hanya tersenyum sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Maaf, Kakak ipar!"
"Aku udah berusaha keras, Kak. Tapi tetap saja, Ruby masih seperti dulu. Kakak mau kan membantuku? tenang saja, nanti aku akan memberikan apapun yang Kakak minta," seperti biasa Arka mulai menggunakan kuasanya.
"Kamu kira aku akan tergiur? tidak akan! sekarang kamu harus tetap usaha sendiri. Oh ya, kamu bilang kamu sudah berusaha keras, tapi tidak berhasil, itu berarti kamu harus lebih keras lagi berusahanya," ucap Risa.
"Bagaimana kalau kakak mau membantu, aku akan mengembalikan perusahaan David yang dulu? karena aku dulu yang membelinya," Arka mencoba membujuk lagi.
Risa terdiam sejenak, mencoba memikirkan tawaran Arka yang menggiurkan.
"Pasti tidak akan ditolak, aku yakin itu!" Arka membatin , sangat yakin.
"Maaf, Arka. Aku tetap tidak mau,"
Arka sontak terkesiap kaget, mendengar penolakan Risa.
"Kamu harus tetap berusaha sendiri. Kalau aku membujuknya dan memintanya untuk menerimamu kembali demi kembalinya perusahaan itu, bukannya itu sana saja kalau aku menjual adik sendiri? sekali lagi aku tidak mau," Risa menolak dengan tegas.
__ADS_1
"Beda, Kak. Kakak sama sekali tidak menjual Ruby karena aku masih suaminya. Kakak hanya mempersatukan kembali suami istri,". Arka masih tetap berusaha.
"Maaf, aku tetap tidak mau!" lagi-lagi Risa menolak dengan tegas.
"Kak, kali ini tolonglah aku! bukannya Kakak sudah lihat kalau aku sudah tidak seperti dulu lagi? tidak ada salahnya membantu mempersatukan hubungan suami istri kan?" Arka masih tetap berusaha membujuk.
"Aku tetap tidak mau!"
"Sayang, ada apa ini?" tiba-tiba David muncul, membuat Arka seketika memasang raut wajah tidak senang.
"Bukan urusanmu!" celetuk Arka, menjawab pertanyaan David.
"Hei Arka. Dia itu suamiku. Aku ini Kakak iparmu, jadi kamu harus sopan pada suamiku," tegur Risa, memasang wajah tidak suka.
"Tetap saja dia pernah jadi mantan Ruby dan aku benci mengetahui kenyataan itu," ujar Arka, kesal.
David berdecak dan menggelengkan kepalanya. "Jadi kamu cemburu padaku? wah aku bisa dicemburui orang hebat seperti kamu, berarti aku lebih hebat dari kamu," David mulai memancing Arka.
"Apa kamu bilang? aku sama sekali tidak cemburu padamu! bukan levelku untuk cemburu pada orang seperti kamu!" Arka mulai terpancing.
"Asal kamu tahu, aku dulu pernah sangat dicintai oleh Ruby. Kami sering jalan berdua, tertawa bersama sembari bergandengan tangan. Minum dengan sedotan yang sama dan___" David dengan sengaja menggantung ucapannya, membuat Arka over thinking. Pria itu berusaha menahan tawanya melihat wajah Arka yang sudah memerah dan rahang yang mengeras.
"Dan kamu pernah menciumnya, begitu ya?" celetuk Risa ikut-ikutan memancing amarah Arka. Benar saja, wajah Arka terlihat semakin memerah dan napasnya sudah memburu.
"Kamu menciumnya di bagian mana?" sepertinya Arka benar-benar sudah mulai terpancing.
"Sudah, sudah tidak usah tegang begitu. Aku sama sekali tidak pernah menciumnya. Kamu tenang saja. Hanya cium pipi saja, dan itupun hanya sekilas. Kamu tidak perlu mau memukulku hanya gara-gara itu," David menunjuk ke arah tangan Arka yang sudah terkepal kencang.
Arka sontak melepaskan kepalan tangannya dan kembali bersikap tenang.
"Bagaimana, Kak. Apa kakak mau membantuku?" tanya Arka , kembali ke topik semula.
"Membantu apa?" David buka suara dengan alis yang bertaut.
"Kamu tidak perlu tahu!" jawab Arka, ketus.
"Aku akan usahakan! tapi aku tidak menjamin akan bisa berhasil," pungkas Risa akhirnya.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejak ya Guys. Please like dan komen. Untuk vite rekomendasinya yang dibagi oleh sistem setiap hari Senin, bolehlah dikasih ke karya ini biar aku lebih semangat.🥰🥰🥰