
"Tuan Arka, berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi tubuh, Tuan itu baik-baik saja," jelas Dokter setelah selesai memeriksa kondisi Arka.
"Tidak sakit bagaimana, Dok? aku dari tadi pagi, mengalami mual yang sangat parah, bagaimana bisa anda mengatakan kalau aku ini baik-baik saja? aku jadi meragukan kredibilitas anda sebagai seorang dokter," ucap Arka dengan nada yang sangat kesal.
"Sabar dulu, Ka, jangan langsung marah-marah begitu!" Pandu menepuk-nepuk bahu Arka, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Dok, anda bilang kalau sahabat saya ini tidak sakit, jadi kenapa dia bisa muntah-muntah?" melihat Arka yang sudah emosi, akhirnya Pandu mengambil alih untuk berbicara dengan sang dokter.
"Emm, sebenarnya ini sedikit membingungkan, tapi ada yang harus aku tanyakan pada anda Tuan Arka?" ucap dokter itu dengan sangat hati-hati.
"Apa itu?" masih terlihat jelas, sisa-sisa kekesalan di raut wajah Arka.
"Apa istri anda sedang hamil?" Pandu, tiba-tiba terbatuk mendengar pertanyaan dokter itu. Pria itu benar-benar kaget, karena bagaimanapun dia tahu kalau Ruby tengah hamil sekarang. Yang dia tidak tahu, apa hubungannya kehamilan Ruby dengan apa yang dialami oleh Arka sekarang.
"Hamil? kenapa Dokter menanyakan hal seperti itu?" Arka menautkan alisnya, bingung.
"Karena, kalau memang istri anda hamil,bisa jadi yang anda alami saat ini adalah efek dari kehamilan simpatik, di mana sebagai seorang ayah si bayi, anda yang mengalami apa yang biasanya di alami ibu hamil. Mulai dari muntah-muntah, sensitif terhadap bau sesuatu dan lagi," jelas dokter itu, lugas.
Arka tercenung mendengar penjelasan sang dokter, hati kecilnya membenarkan kalau gejala yang dia alami, seperti yang dikatakan oleh dokter,tapi dia berusaha menepis ucapan sang dokter, mengingat kalau Ruby selalu mengkonsumsi pil KB,jadi menurutnya tidak mungkin wanita itu hamil.
"Maaf, Dokter. Sepertinya diagnosa anda salah. Istri saya tidak lagi, hamil. Aku yakin, ini murni hanya karena masuk angin. Jadi, aku minta dokter memberikan obat saja padaku, bagaimana caranya agar aku tidak mual-mual lagi,"
"Emm,baiklah kalau seperti itu, Tuan. Aku akan memberikan obat untuk mengatasi rasa mual yang anda rasakan," pungkas dokter itu akhirnya mengalah.
"Tapi memang istrimu sedang hamil, Arka. Dan sepertinya, anak-anakmu itu sedang memberikan kamu pembalasan atas apa yang kamu lakukan pada mama mereka sejak mereka di dalam kandungan," ucap Pandu, yang tentu saja hanya dia ucapkan dalam hati.
__ADS_1
"Ayo, Pandu, kita keluar dari sini!" Arka terlihat sudah berdiri dan membawa secarik kertas yang berisi sebuah resep obat yang diberikan oleh dokter.
Pandu lebih dulu menatap sang dokter dan mengucapkan terima kasih serta berpamitan, kemudian dia beranjak menyusul Arka yang sudah keluar lebih dulu.
Pandu berdiri tercengang ketika melihat Arka sedang berbicara dengan seorang wanita dengan posisi yang agak menjauh sembari menutup hidungnya. Bukan sikap Arka itu yang membuat Pandu, kaget melainkan sosok wanita itu yang ternyata adalah Jelita.
Pria itu sama sekali, belum tahu mengenai kembalinya Jelita.
Ya, tadi ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, Arka mendapatkan sebuah pesan dari Jelita, yang menanyakan keberadaannya. Jadi, Arka dengan jujur mengatakan kondisinya dan dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Jelita? ternyata kamu sudah kembali?" ucap Pandu dengan nada yang tidak senang.
"Seperti yang kamu lihat, Ndu." Jelita tersenyum manis ke arah Pandu "Oh ya,kenapa dengan Arka? kenapa dia bersikap aneh seperti itu? dia mengatakan kalau parfum yang aku pakai bau, dan membuka dia ingin muntah. Padahal, ini kan parfum yang selalu aku pakai." lanjut Jelita lagi, menatap ke arah Arka dengan penuh keheranan.
"Oh, sepertinya ada malaikat-malaikat yang tidak menginginkan Arka dekat denganmu," sahut Pandu ambigu.
"Tidak bermaksud apa-apa sih. Kamu telaah saja apa maksudku," ucap Pandu membuat Jelita semakin bingung.
"Ahh, apapun maksudmu, aku tidak peduli. Yang paling penting sekarang adalah kondisi Arka," ucap Jelita sembari melangkah mendekati Arka.
"Please, Jelita. Kamu jangan dekati aku dulu untuk sekarang ya. Aku sudah capek, bolak-balik kamar mandi. Kamu ganti pakaian dulu, ganti parfum,baru temui aku. Atau,kamu temui aku besok saja, karena mungkin kondisiku lagi tidak baik-baik saja, makanya hidungku sedikit sensitif sama bau,"ujar Arka dengan lembut, karena takut Jelita tersinggung.
"Sepertinya bukan karena kondisimu yang tidak baik-baik saja. Kamu sekarang sedang mendapat karma saja," lagi-lagi Pandu berucap , ambigu.
"Pandu, kamu bicara apa sih? aku lagi kurang enak badan, jangan buat aku kesal!"
__ADS_1
"Sekarang aku mau tanya, di mana Ruby istrimu sekarang?" Pandu sama sekali tidak peduli dengan keadaan Arka sekarang.
"Dia sudah pergi!"
"Aku rasa,bukan dia yang pergi, tapi kamu mengusirnya. Coba aku tebak ... kamu mengusirnya pasti gara-gara dia kan?" Pandu menunjuk ke arah Jelita.
"Kamu jangan memfitnahku. Aku justru melarang Arka, untuk menceraikan Ruby," protes Jelita dengan pura-pura memasang wajah sedih.
"Tunggu-tunggu ... apa tadi aku tidak salah dengar? aku tadi hanya mengatakan Arka mengusirnya, tapi kamu mengatakan kalau Arka akan menceraikannya, wah, ternyata masalahnya lebih berat dari yang aku kira. Selamat ya Jelita! kamu hebat memainkan peranmu," sindir Pandu sembari tersenyum miring.
"Maaf, maksud kamu apa? kenapa kamu mengatakan seperti itu? apa
sekarang kamu sedang menuduhku, penyebab perpisahan mereka berdua? bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, sementara yang menjadi korban di sini adalah aku? aku yang selama ini, hidup penuh dengan air mata karena kejadian itu. Asal kamu tahu, kalau selama ini aku sudah ikhlas, jadi bukan salahku kalau Arka tetap memilih untuk berpisah dengan wanita itu," Jelita mulai mengeluarkan air matanya. Perempuan itu benar-benar bisa bekerja sama dengan sang air mata yang bisa tetap bersedia keluar, walaupun sang tuan sedang berpura-pura. Benar-benar team yang solid.
"Jangan perlihatkan air mata buayamu itu di depanku! mungkin Arka bisa kamu bohongi, tapi tidak dengan diriku,"
"Pandu, jangan bicara seperti itu pada Jelita! Ini bukan salah dia!" Arka yang dari tadi berusaha menahan rasa mualnya akhirnya buka suara.
"Arka, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu. Sekarang kami nikmatilah, kondisimu sekarang. Sepertinya, sekarang aku harus mencari Ruby dan melakukan pendekatan dengannya. Seperti yang aku katakan, kalau aku akan menunggu jandanya dia," Pandu kembali memancing.
"Pandu! jangan coba-coba berani kamu mendekatinya!" tanpa sadar Arka membentak Pandu, seakan-akan dia tidak rela sahabatnya itu mendekati Ruby. Hal ini tentu saja, membuat Jelita kaget.
"Sialan!"Jelita mengumpat dalam hati. "sepertinya Arka sudah menaruh perhatian pada Ruby, tapi dia belum menyadarinya. Sepertinya aku, harus bertindak cepat, agar mereka berdua secepatnya bercerai dan dia menikahiku. Arka itu hanya milikku!" bisik wanita itu pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu keberatan? bukannya Ruby akan kamu ceraikan? kalau dia sudah kamu ceraikan, berarti dia sama sekali tidak punya hubungan lagi denganmu, dan siapapun bebas mendekatinya, tak terkecuali 'aku' " Pandu semakin memanasi-manasi hati Arka. Tentu saja ucapan itu hanya terlontar saja dari mulutnya, karena sebenarnya dia sama sekali tidak memiliki perasaan pada Ruby.
__ADS_1
Arka tidak menjawab sama sekali, hanya raut wajahnya yang memerah dan kepalan tangannya yang kencang,bisa menjawab kalau pria itu sedang sangat marah.
Tbc.