Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 20


__ADS_3

"Ja-jadi kamu masih hidup?" Ruby menyentuh pipi Arka dengan mata yang berair.


"Iya, seperti yang kamu lihat, aku masih hidup," senyum Arka mengambang sempurna.


"Ta-tapi, bagaimana bisa? bukannya tadi kamu ...." Ruby tampak masih ragu.


Arka menghela napasnya, dan kembali tersenyum. Kemudian, dia menceritakan alasan kenapa dia bisa tidak meninggal.


"Kenapa kamu tidak cerita sebelumnya? kan aku tadi jadi khawatir?" ucap Ruby terisak-isak.


Krik krik krik krik


Arka menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal


"Ini konsepnya bagaimana ya?" raut wajah Arka terlihat bingung. "kan nggak mungkin aku kasih tahu kamu, sementara posisinya kamu lagi diikat dan diancam? kan nggak mungkin, begitu aku masuk, aku langsung teriak, 'Rubyy, tenang sayang,aku pakai baju anti peluru!' kalau begitu, ketahuan dong," ucap Arka, membuat tawa Tiara pecah.


Tawa Tiara sontak berhenti, begitu melihat tatapan Arka dan Ruby yang sangat tajam mengarah padanya.


"Maaf!" gumamnya, berusaha menahan tawa.


"K-Kak Pandu bagaimana? di mana dia? dia tidak apa-apa kan?" Ruby tiba-tiba teringat pada Pandu.


"Dia langsung pulang ke Jakarta, karena katanya dia ada urusan yang sangat penting," jawab Arka, lalu menoleh ke arah Tiara. "Dia pasti mengabarimu kan?" lanjut Arka.


Tiara menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.


Ruby dan Arka sontak, saling silang pandang dengan tatapan yang sama-sama bingung.


"Kenapa bisa? harusnya dia mengabarimu, masa dia bisa lupa mengabari kekasihnya?" Ruby menggerutu, kesal.


"Aku bukan kekasihnya, jadi dia tidak ada kewajiban untuk mengabariku," celetuk Tiara, dengan raut wajah sendu.

__ADS_1


Ruby sontak menatap Arka dengan tatapan menuntut penjelasan. "Mas,apa kamu belum memberitahukan Pandu siapa Sebenarnya Bima, dan tentang perasaan Tiara?" alis Ruby, bertaut tajam.


"Lho, aku kira kesalahpahaman mereka sudah berakhir. Hari itu, di hari pertama kamu dibawa pergi pria brengsek itu, aku menghubungi Pandu, dan saat itu dia lagi bersama Tiara, jadi aku kira mereka sudah menyelesaikan kesalahpahaman mereka," tutur Arka, menjelaskan.


Raut wajah Tiara terlihat bingung, tidak mengerti arah pembicaraan Arka dan Ruby.


"Kalian berdua lagi bicara apa sih? kesalahpahaman apa maksudnya?" tanyanya.


"Pandu mengira kalau kamu dan Bima adalah pasangan kekasih. Makanya dia memilih untuk menerima perjodohan dengan Adel," jelas Ruby, membuat Tiara terkesiap kaget.


Namun, rasa kaget Tiara hanya bertahan sebentar. Wanita itu terlihat menghela napasnya dengan sekali hentakan dan tersenyum tipis.


"Emm, tapi aku pikir, itu tidak ada kaitannya dengan kehadiran kak Bima, karena jauh sebelumnya aku dan Kak Pandu memang sudah berakhir, dan dia sendiri yang mengakhirinya. Jadi, menurutku tidak perlu memberitahukannya tentang siapa kak Bima, karena itu sama sekali tidak akan berpengaruh pada keputusannya. Dia mengatakan, sudah menyerah atas sikapku, By. Katanya, dia tidak mau memaksaku untuk menerimanya," jelas Tiar, sembari berusaha untuk tetap tersenyum. Terlihat jelas kalau senyum yang dia tunjukkan itu, adalah senyum terpaksa.


"Tapi dia mengatakan itu karena dia sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanmu, Ra. Dia tidak tahu, kalau sikap cuekmu itu hanya karena kamu tidak ingin pengalamanmu dulu dengan mantan kekasihmu, terjadi lagi. Karena kamu terlalu menunjukkan rasa cinta, membuat pria itu memperlakukanmu sesukanya. Tapi, Ra aku rasa Kak Pandu tidak seperti mantanmu dulu. Jadi, sebelum terlambat, sebaiknya dia harus tahu yang sebenarnya," tutur Ruby, panjang lebar tanpa jeda.


"Aku rasa tidak perlu. Karena aku jug tidak mau membuat Adelia kecewa,"


"Justru dia akan lebih kecewa kalau nantinya dia tahu," bukan Ruby yang menjawab melainkan Arka yang buka suara, sementara itu, Ruby menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Arka.


"Tapi, aku tetap tidak mau adikku dijadikan sebagai pelampiasan Tiara. Bagaimanapun Pandu harus tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya," ujar Arka dengan tegas.


"Menurutmu, kalaupun dia tahu, apa dia akan berubah pikiran? aku rasa tidak! Kak Pandu adalah orang yang komitmen pada ucapannya. Jadi, begitu dia memutuskan sesuatu, dia tidak merubahnya lagi. Terlepas dari dia sahabatmu atau tidak. Dia pasti juga akan menjaga perasaan keluarga besarmu," Tiara berhenti sejenak untuk mengambil jeda, sekaligus untuk menghirup udara guna mengisi kembali oksigen ke rongga paru-parunya.


"Adelia adalah tuan putri di keluargamu, jadi tidak akan ada orang tua yang bisa menerima kalau seseorang membuatnya sedih. Kalau dulu,Kak Pandu menolak, mungkin masih bisa diterima, tapi masalahnya sekarang, Kak Pandu sudah menerima, jadi begitu dia membatalkan lagi, yang sakit hati bukan hanya Adelia, tapi juga kedua orang tuamu, yang akhirnya membuat hubungan dekat keluarga kalian jadi hancur. Jadi, biarkan saja semua ini terjadi. Kita ikuti takdir kita saja. Mungkin, aku tidak ditakdirkan untuk hidup bersama dengan Kak Pandu," ujar Tiara bijaksana, sembari berusaha untuk tidak menangis.


Arka dan Ruby terdiam, tidak membantah ucapan Tiara. Kalau Ruby, sudah tahu kalau Tiara memiliki hati yang besar, tapi Arka sama sekali tidak menyangka kalau sahabat Istrinya itu memiliki hati yang sangat besar. Tidak salah kalau Pandu bisa sampai jatuh cinta dengan sangat dalam pada wanita didepannya itu.


"Arkaaa! kamu benar-benar keterlaluan ya! kamu ternyata ...." Tiba-tiba Risa masuk begitu saja, dengan raut wajah murka, karena akhirnya dia tahu apa yang sudah dilakukan pria itu pada David sang suami. Namun, wajah murkanya seketika berubah sumringah begitu melihat Ruby yang sudah siuman.


"Ruby, kamu sudah bangun, Dek?" tanyanya sembari menghampiri Ruby.

__ADS_1


"Sudah, Kak!" Ruby tersenyum manis.


"Sudah berapa lama?"


"Udah lumayan lama," jawab Ruby, jujur.


"Kenapa tidak ada yang memanggilku? berarti aku kehilangan moment waktu kamu siuman tadi dong. Aku jadinya tidak bisa mengabadikannya," sungut Risa, ambigu.


"Maksudnya? Momen apa yang harus diabadikan?" Ruby mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Ya, momen ketika kamu siuman, kamu dan Arka, berpelukan sambil menangis. Pasti suasananya membuat terharu. Tapi, aku kehilangan momen itu," sahut Risa, kesal.


"Tapi, tidak ada momen pelukan sambil nangis-nangis tadi, Kak." celetuk Tiara.


"Oh tidak ada ya? kenapa bisa seperti itu? Ah, kalian berdua benar-benar tidak seru! menyesal aku datang ke sini. Aku pergi lagi lah!" Risa berbalik beranjak pergi, lupa dengan tujuan awalnya yang ingin marah-marah pada Arka. Sementara itu, David yang tadinya berdiri di belakangnya hanya bisa menatap kepergian Istrinya dengan tatapan memelas merasa terlupakan dan tidak mendapat pembelaan dari sang istri.


"Hei, kalian berdua kenapa masih berdiri di sana? kalian seharusnya memberikan mereka ruang, kali aja, mereka malu berpelukan tadi!" tiba-tiba Risa sudah kembali berdiri di ambang pintu.


"Eh, iya ya!" sahut David dan Tiara, tiba-tiba merasa canggung. Mereka berduapun akhirnya menyusul Risa ke luar.


"Kalian bebas berpelukan sekarang! melakukan lebih juga boleh, karena aku tahu kalau kalian berdua sudah lama cuti dan pasti ada sesuatu yang menumpuk dan perlu dikeluarkan!" ucap Risa sembari menutup pintu.


Situasi di dalam kamar, tiba-tiba sunyi, karena baik Arka maupun Ruby tiba-tiba merasa canggung.


"Apa emang kita harus berpelukan ya?" Arka buka suara dengan gugup.


"Emm, aku juga tidak tahu," sahut Ruby, yang juga tidak kalah gugupnya dengan Arka.


"Haish, kenapa aku bisa jadi bodoh begini?" Arka menggerutu sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Emang kamu bodoh dari dulu!" bukan Ruby yang berucap melainkan suara dari balik pintu.

__ADS_1


"Hei, kalian bertiga masih di depan pintu ya!" Teriak Arka sembari berjalan mendekati pintu.


Sementara itu, di luar kamar Risa, David dan Tiara yang tadinya menempelkan telinga di pintu, sontak berlari begitu mendengar langkah kaki Arka.


__ADS_2