
"Untuk apa kalian berdua datang ke sini?" bukan Ruby yang bertanya melainkan Tiara. Sedangkan Ruby dan Arka terlihat saling silang pandang dengan tatapan yang penuh makna. Tidak bisa dipungkiri kalau sekarang ada keinginan besar di hati Ruby ingin menghambur ke pelukan pria itu, dan mungkin ini karena dorongan dari calon anak-anaknya.
"Kenapa dengan Mas Arka? kenapa dia terlihat kurusan dan pucat? apa dia sakit? batin Ruby.
Bagaimana dengan Arka,entah dari mana datangnya perasaan itu, Arka pun seperti merasakan hal yang sama. Ada keinginan besar yang timbul di hati pria itu untuk membawa Ruby ke dalam pelukannya. Namun, perasaan itu berusaha dia tepis dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Kami berdua datang ke sini, tentunya ingin bertemu dengan Ruby. Ada sesuatu yang hendak kami bicarakan. Iya kan Sayang?" Jelita dengan sengaja memanggilnya Arka dengan nada yang sangat manja.
Arka tidak menjawab sama sekali. Pria itu, hanya mengangguk, mengiyakan. Entah kenapa, ada perasaan risih yang timbul, ketika Jelita memanggilnya sayang.
"Cih, jangan sok lembut dan sok manja. Sekarang katakan saja ada perlu apa kalian ingin bertemu Ruby? mau memamerkan kemesraan kalian berdua?" Tiara berucap dengan nada sinis.
"Maaf, Mbak. Kami ada keperluan dengan Ruby, bukan dengan kamu. Jadi tolong jangan ikut campur!" Jelita masih berusaha untuk lembut, padahal kalau seandainya Arka tidak ada di tempat itu, bisa dipastikan kalau wanita itu akan berbicara kasar.
"Dia itu sahabatku. Jadi, aku berhak ikut campur. Satu lagi, jangan panggil aku, Mbak! aku bukan Mbakmu,"
Jelita mengepalkan tangannya, berusaha untuk tidak terpancing dengan Tiara yang dia yakin sedang mencoba memprovokasinya. Sudut mata Jelita melirik ke arah Arka, ingin melihat reaksi pria itu. Lagi-lagi Jelita merasa kesal, begitu mendapati kenyataan kalau Arka terlihat apatis dan seperti tidak ada niat untuk membelanya.
"Sebenarnya kalian berdua datang ke sini ada urusan apa?" kali ini Ruby buka suara.
"Emm, sebenarnya bukan aku sih yang ada urusan, tapi Arka," sahut Jelita.
"Boleh kita bicara di dalam?" Arka juga buka suara.
"Apa hal yang ingin kalian bicarakan, sangat penting? kenapa tidak di sini saja?" Ruby mencoba untuk menolak.
"Emm, ini sangat penting, Ruby dan rasanya kurang etis untuk membicarakan hal ini di luar," kali ini Jelita kembali yang menjawab.
"Apa kamu sekarang sudah merangkap jadi juru bicara Arka ya? kenapa jadi kamu yang menjawab? Arka kan punya mulut?" sindir Tiara yang sebenarnya sangat ingin menarik rambut wanita culas di depannya itu.
__ADS_1
Jelita ingin sekali menjawab sindiran Tiara, tapi dia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Nih, si Arka kenapa diam saja sih? kenapa dia dari tadi tidak membelaku sama sekali? padahal jelas-jelas aki sudah dihina," Jelita menggerutu dalam hati.
"Baiklah, kita bicara di dalam saja," pungkas Ruby akhirnya. Dia tidak ingin sahabatnya dan Jelita berdebat terus.
Ruby membuka pintu dan mempersilakan Arka dan Jelita masuk.
"Silakan duduk!" ucap Ruby lagi, sembari duduk di kursi yang terbuat dari kayu itu.
Arka tidak langsung duduk, tapi pria itu mengedarkan pandangannya, ke segala penjuru. Ada perasaan yang sukar untuk dia ungkapkan melihat kondisi tempat tinggal Ruby.
"Sekarang kalian sudah masuk, jadi kalian boleh katakan sekarang apa keperluan kalian datang ke sini," nada ucapan Ruby terdengar sangat dingin.
"Sayang, ayo jelaskan tujuanmu ke sini!" Jelita menyikut lengan Arka.
Arma menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya ke udara lagi.
"Begini, aku datang ke sini sebenarnya hanya ingin memperlihatkan surat cerai ini padamu. Aku mau kamu segera tanda tangan. Aku tidak mau ada yang namanya sidang-sidang segala, karena toh hasil sama saja," Arka memberikan sebuah amplop berwarna coklat ke arah Ruby.
"Ya Tuhan, akhirnya pernikahanku benar-benar tamat," bisik Ruby pada dirinya sendiri.
"Baiklah! aku akan tanda tangan," Ruby meraih amplop itu dengan tangan yang bergetar dan mengeluarkan kertas dari dalamnya. Kemudian, Ruby memejamkan matanya sekilas, dan membukanya kembali, lalu Ruby menghela napasnya dengan sekali hentakan, seraya membubuhkan tanda tangannya..
"Sudah! sekarang giliranmu," Ruby menyodorkan kertas itu kembali ke arah Arka. Arka menatap tanda tangan Ruby yang tertoreh di surat itu dengan tatapan yang sukar untuk dibaca. Ada perasaan seakan tidak rela ketika dia melihat Ruby yang dengan cepat menandatangani tanpa adanya drama tangisan.
"Kamu tidak perlu memikirkan tentang itu. Aku akan menandatanganinya nanti setelah di rumah." tolak Arka sembari memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop.
"Sial! kenapa dia tidak langsung menandatangani surat itu sih? apa dia masih ragu?" Jelita mengumpat dalam hati.
__ADS_1
"Oh ya, kamu sudah empat tahun lebih menjadi istriku. Jadi, aku akan tetap memberikan harta gono-gini padamu. Aku sudah menyiapkan rumah yang cukup besar dan mobil untukmu. Aku harap kamu mau menerimanya," ucap Arka lagi, membuat Jelita terkesiap kaget, karena dia tidak tahu masalah itu sama sekali.
"Rumah? mobil? kenapa dia tidak memberitahukanku sama sekali? harusnya dia ngomong," Jelita kembali menggerutu di dalam hati. Ingin rasanya, wanita itu marah, tapi lagi-lagi dia berusaha menahannya, agar image sebagai wanita baik di mata Arka, tetap terjaga.
Mata Ruby berkaca-kaca saat mendengar ucapan Arka. "Emm, kalau boleh aku mau rumah dan mobil itu digantikan dengan uang saja seharga mobil dan rumah itu," ucap Ruby tiba-tiba, membuat Jelita semakin kaget. Karena pada awalnya wanita itu, mengira kalau Ruby akan menolak demi menjujung harga dirinya.
Bukan hanya Jelita yang kaget, baik Arka maupun Tiara juga ikut kaget.
"Ternyata kamu tetap memikirkan uang. Kamu tidak bisa jauh dari uang ya?" sikap Arka yang tadinya sudah melembut, kini kembali sinis pada Ruby.
"Kita memang butuh rumah, tapi aku tidak mau munafik kalau kita lebih butuh uang," sahut Ruby.
"Baiklah! aku akan mengirimkan uang seharga rumah dan mobil itu padamu. Aku cuma mau memberitahukan kamu harga rumah dan mobilnya lebih dulu. Harga Rumah, seharga 7 milliar dan mobil 500 juta. Jadi, aku akan memberikannya besok dan aku juga aka menambah uangnya sebesar 20 milliar lagi. Aku rasa itu sudah cukup kan? Aku pergi dulu!" pungkas Arka sembari melangkah pergi.
"Kamu benar-benar licik, Ruby!" umpat Jelita setelah Arka menjauh.
"Kamu lagi membicarakan diri sendiri ya?" sindir Ruby. "Ingat, aku tidak pernah meminta harta gono-gini, tapi Mas Arka sendiri yang memberikannya. Dan untuk masalah aku mau menggantinya dengan uang, itu adalah hakku. Sekarang, silakan kamu pergi!" lanjut Ruby lagi dengan tatapan tajam.
"Sialan!" Jelita berlalu keluar sembari menghentakkan kakinya.
Ingin sekali dia meminta Arka, untuk membantalkan niatnya memberikan harta gono-gini pada Ruby, tapi kalau dia melakukannya,Arka pasti akan curiga. Jadi, mau tidak mau dia harus tetap berpura-pura tidak merasa terganggu dengan tindakan Arka.
"Ruby, kenapa kamu meminta uang itu? harusnya kamu menolaknya, demi harga dirimu," protes Tiara begitu mobil yang dikemudikan Arka pergi.
Ruby menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali.
"Bukannya harga diriku sudah tidak ada sejak dulu baginya? jadi, biar sajalah sekalian. Untuk sekarang, aku harus mengesampingkan harga diri dulu, demi ketiga anakku,Ra. Aku harus tetap realistis kalau aku butuh uang. Apa gunanya, harga diri kalau ketiga anakku, melarat? Aku menginginkan uang itu, supaya aku bisa pergi dari kota ini dan menggunakan uang itu untuk membuat sebuah usaha, yang berguna untuk kelangsungan hidup kami nanti dan bisa memberikan mereka hidup yang layak. Kalau aku masih di kota ini, aku tetap tidak bisa menutupi kehamilanku kan? perutku ini pasti akan membesar," tutur Ruby panjang lebar memberikan alasannya.
Tbc
__ADS_1