
"Akhirnya, pergi juga dia!" Adelia mengembuskan napas lega. Sementara itu, Bima tersenyum geli melihat sikap wanita itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" nada suara Adelia terdengar ketus disertai dengan bibir yang mengerucut.
Tidak hanya tersenyum lagi, kini tawa Bima pecah melihat raut wajah Adelia.
"Kenapa kamu jadi tertawa? emangnya ada yang lucu?" Adelia terlihat semakin kesal.
"Kalau aku tertawa itu berarti ada yang lucu bagiku. Kamu terlihat lucu saat sedang cemburu. Masih tidak mau mengaku kalau kamu lagi cemburu?" tukas Bima sembari mengerlingkan matanya.
"Enak aja, bilang aku cemburu. Aku sama sekali tidak cemburu. Aku hanya tidak suka melihat wanita yang kecentilan. Sudah tahu kamu punya istri tapi masih saja mau tebar pesona, kan menyebalkan!" bibir Adelia semakin mengerucut.
"Apa susahnya sih bilang cemburu?"
"Aku tidak cemburu!" pekik Adelia bersikeras menyangkal tuduhan Bima.
"Kamu kesal pada Jenni, itu karena cemburu Adel. Kalau kamu tidak cemburu, kamu pasti tidak akan peduli sedikitpun, mau siapa atau apa yang dilakukan oleh wanita itu padaku," Bima pun sama seperti Adelia. Dia tetap yakin kalau istrinya itu tengah cemburu.
"Aku sama sekali tidak cemburu. Aku hanya ingin menjaga rumah tanggaku saja dari gangguan wanita seperti dia." ucap Adelia, lugas.
Bima terdiam, tiba-tiba merasa tidak suka mengetahui kalau Adelia sama sekali tidak cemburu.
"Baiklah, aku percaya kalau kamu tidak cemburu," ucap Bima, setelah diam sesaat.
Bima kemudian tersenyum misterius, seperti mendapat sebuah ide.
"Hmm, kira-kira Ruby lagi apa ya sekarang? aku akan telepon dia dulu, karena aku yakin kakakmu pasti sedang di kantor sekarang," lanjut Bima kembali, sembari berpura-pura meraih ponselnya.
"Untuk apa kamu telepon Kak Ruby?" ponsel Bima kini berpindah tangan ke tangan Adelia. Tangan wanita itu benar-benar cepat merampas handphone itu dari tangan Bima.
"Emangnya kenapa? aku cuma mau mengabari kalau kita sudah sampai dengan selamat, apa salah?"
"Kenapa harus Kak Ruby? kenapa tidak Kak Arka saja?" mata Adelia memicing curiga. Wanita itu benar-benar tidak menyadari kalau Bima hanya sedang menggodanya.
"Kakakmu itu, ribet orangnya. Jadi aku lebih nyaman bicara dengan Ruby. Emangnya kenapa? tidak salahkan? sini handphonenya, aku mau menghubungi Ruby!" Bima mencoba merampas kembali ponselnya dari tangan Adelia. Namun, Adelia dengan sigap menyembunyikan benda pipih itu di belakang tubuhnya.
"Apa kali ini, kamu cemburu?" goda Bima sembari mengerlingkan matanya. Dia merasa menemukan sendiri permainan yang sangat menyenangkan kali ini.
"Tidak sama sekali!" sangkal Adelia dengan tegas.
"Jadi kali ini apa namanya? kesal juga? atau kamu hanya mau menjaga rumah tanggamu dari gangguan wanita lain? Ruby kan kakak iparmu sendiri, jadi tidak mungkin kan dia mau merusak rumah tangga kita? kamu tidak berpikir seperti itu kan?"
"Aahhh,Kak Bima!" Adelia benar-benar kehabisan kata-kata.
"Eits, kok Kak Bima? bukannya tadi kamu panggil aku, Sayang. Kenapa berubah lagi?" Bima masih tetap menggoda Adelia, membuat semburat merah, timbul di pipi istrinya itu
"Ihh, kamu benar-benar menyebalkan!" ucap Adelia dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Jadi apa kamu mau mengakui kalau kamu tadi cemburu?" Bima kembali mempertegas, tuduhannya.
"Tidak!"
"Aku yakin kamu cemburu!" ucap Bima lagi.
"Ti__" belum sempat Adelia menyangkal kembali, tiba-tiba ponsel Bima berbunyi. Adelia sontak melihat siapa yang sedang menghubungi suaminya itu.
"Kak Pandu?" gumam Adelia yang masih bisa didengar oleh telinga Bima.
Bima yang tadinya tersenyum lebar, seketika berubah dingin mendengar nama Pandu.
"Buat apa dia menghubungiku? sini handphonenya?" Bima menengadahkan tangannya, meminta handphonenya kembali.
"Biar aku saja yang jawab," tolak Adelia.
"Tidak boleh! sini handphonenya!"
"Tidak mau! aku yang akan jawab teleponnya!" Adelia menyembunyikan handphone Bima ke belakang tubuhnya.
"Adelia, sini handphonenya!" suara Bima berubah dingin dan tegas.
"Hahahahaha!" tawa Adelia tiba-tiba pecah.
"Kenapa kamu tertawa?" Bima mengreyitkan keningnya.
"Kenapa dengan wajahmu? kenapa tegang seperti itu mendengar nama Kak Pandu? padahal yang menghubungi tadi itu kak Arka bukan Kak Pandu. Sekarang, kamu yang cemburu ya?" kini gantian Adelia yang meledek Bima.
"Tidak sama sekali! aku hanya __" handphone yang berada di tangan Adelia kembali berbunyi dan tetap dari orang yang sama. Bima seketika mengembuskan napas lega, merasa terselamatkan dengan panggilan itu.
"Sini handphonenya! nanti kakak kamu bisa marah kalau panggilannya tidak dijawab," dengan bibir yang mengerucut, Adelia pun memberikan ponsel itu ke tangan Bima.
"Halo,Ka!" sapa Bima.
"Kenapa kalian tidak memberikan kabar sama sekali, kalau kalian sudah sampai di Singapura?" Arka di ujung sana, tanpa berbasa-basi lebih dulu, langsung meluapkan amarahnya.
"Maaf, tadi aku langsung ada pekerjaan, makanya tidak memberikan kabar. Yang jelas sekarang, kami sekarang sudah ada di rumah," sahut Bima yang tidak terpancing dengan amarah Arka.
"Baiklah! sekarang di mana adikku? dan dia sedang apa?"
"Adel ada di sampingku. Tapi dia tidak bisa bicara karena sedang cemburu, Ka!" ucap Bima, membuat Adelia langsung menoleh dan menatap Bima dengan tajam.
"Cemburu? cemburu kenapa?" tanya Arka. Bisa dipastikan kalau kening pria itu pasti berkerut sekarang.
"Bohong, Kak! aku sama sekali tidak cemburu!" pekik Adelia.
"Jangan percaya, Ka! adikmu ini memang benar-benar lagi cemburu,"
__ADS_1
"Tidak benar!" sangkal Adelia lagi, berusaha merebut handphone dari tangan Bima.
"Cemburu bagaimana sih?" nada suara Arka mulai terdengar kesal.
"Aku tidak cemburu, Kak. Aku hanya tidak senang karena dia tadi mau menghubungi Kak Ruby!" teriak Adelia.
"Apa!" kini gantian suara Arka yang menggelegar dari ujung sana, hingga membuat Bima menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Berani-beraninya kamu mau menghubungi Istriku! mau cari mati kamu ya!" bentak Arka, membuat Adelia menjulurkan lidahnya, mengejek Bima.
"Adik kamu bohong, Ka. Aku tidak berniat menghubungi Ruby! jadi kamu tidak perlu cemburu seperti itu. Masa sama adik iparnya sendiri cemburu? tahu tidak, kalau kamu cemburu padaku, itu berarti kamu belum percaya pada diri sendiri dan masih menganggapku sainganmu,"
"Aku tidak cemburu padamu karena kamu tidak pantas aku cemburuin," sangkal Arka.
"Kamu dan adikmu sama saja. Sama-sama gengsi bilang cemburu," ledek Bima.
"Aku tidak cemburu!" pekik Adelia kembali.
"Kamu cemburu!"
"Tidak!" begitulah seterusnya.
Sementara di tempat lain, Arka, diam-diam tersenyum mendengar perdebatan adiknya dan Bima. Akhirnya pria itu berinisiatif untuk memutuskan panggilan itu sendiri.
"Aku tiba-tiba merindukan Ruby. Aku pulang saja!" Arka meraih jasnya dan langsung beranjak keluar dari ruangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruby baru saha meletakkan putri satu-satunya ke atas ranjang, setelah selesai menyusui.
Tiba-tiba dia dikagetkan dengan dua tangan yang memeluknya dari belakang. Bibir Ruby sontak menyunggingkan senyum, karena dia tahu siapa pemilik tangan itu.
"Sayang kenapa sudah pulang?" tanya Ruby, tanpa berniat untuk menepis tangan Arka dari pinggangnya.
"Aku tiba-tiba merindukanmu!" ucap Aneka dengan lembut.
Ruby kembali tersenyum dan langsung memutar tubuhnya agar bisa menatap suaminya itu.
"Masa sih kamu merindukanku? kan kita belum lama tidak bertemu, masa sudah rindu sih?"
" Satu jam saja tidak ketemu sudah bisa membuatku rindu, Sayang"
"Cih, gombal!" Ruby mengerucutkan bibirnya, yang tentu saja langsung disambar oleh Arka.
Arka mulai melu*mat bibir Ruby dengan lembut, dan penuh perasaan. Namun ketika dia sudah mulai panas tiba-tiba ketiga anaknya langsung menangis bersahut-sahutan.
"Haish, kenapa harus menangis sekarang sih Nak?" Arka menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
"Kamu sih, masih jam segini sudah mau macam-macam. Ya anak-anakmu gak terima!" Ruby menimpali ucapan Arka sembari terkekeh.
Tbc