Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 35


__ADS_3

Tiara memasuki sebuah kamar yang merupakan kamar Pandu, sementara Pandu masih berada di bawah, bercengkrama dengan papa dan mamanya.


Ya, mereka memutuskan untuk pulang dan tidak stay di hotel karena permintaan Tiara. Padahal, kedua mertuanya sudah meminta mereka untuk menghabiskan malam pertama di hotel saja.


Tiara mengedarkan pandangannya, memindai semua sudut kamar Pandu yang sebentar lagi juga akan menjadi kamarnya, karena Pandu adalah anak tunggal. Kamar itu terlihat sangat luas dan maskulin. Namun, kemasukulinan kamar itu sedikit berkurang karena hiasan yang ada di atas ranjang.


Tiara berjalan ke arah nakas dengan kening yang berkerut. Bagaimana tidak, di atas nakas itu, ada photo dirinya sewaktu di Bali.


"Jadi dia pernah mengambil photoku diam-diam?" batin Tiara sembari tersenyum manis.


"Aku sebaiknya mandi dulu sebelum Kak Pandu datang," batin Tiara sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Sekitar 30 menit kemudian, Tiara keluar dari kamar mandi. Dia terlihat sudah terlihat segar, setelah selesai membersihkan tubuhnya. Dia memutuskan mengenakan piyama tidur dibandingkan dengan hadiah lingerie yang diberikan oleh Ruby.


Suara tugas pintu yang diputar seseorang membuat perhatian Tiara segera beralih dari handphone di tangannya ke arah pintu. Jantung wanita itu seketika berdetak kencang, karena dia tahu kalau pelaku yang membuka pintu itu, adalah Pandu, pria yang sudah menjadi suaminya.


Benar saja, sesuai dugaan Tiara, yang membuka pintu memang benar-benar Pandu suaminya.


Pandu menatap Tiara dengan tatapan tersenyum penuh makna. Dia tidak menyangka kalau akhirnya sekarang orang pertama yang akan dilihatnya ketika membuka dan menutup mata adalah Tiara, wanita yang membuatnya hampir gila.


"Kamu sudah mandi ya?" tanya Pandu, buka suara sembari menghampiri Tiara dan duduk di samping wanita itu.


"Kamu lihatnya bagaimana?" Tiara malah balik bertanya.


"Hmm, bisa tidak kamu menjawab, 'sudah, Sayang,' apa susahnya sih jawab seperti itu?" Pandu pura-pura memasang wajah kesalnya, membuat Tiara terkekeh.


"Maaf, deh! iya, Kak aku sudah mandi!"


"Bisa tidak kamu jangan manggil aku Kakak terus?" ucap Pandu, mengungkapkan keberatannya.


"Kamu emangnya mau dipanggil apa?" Tiara mengrenyitkan keningnya.


"Kamu kan bisa panggil aku Sayang, seperti aku memanggilmu,"


"Emm, harus ya, Kak?" wajah Tiara memerah.


"Tuh kan, Kakak lagi. Aku ini sudah jadi suamimu, Ra. Panggilan seperti itu kan wajar. Awalnya memang kamu akan sedikit risih karena belum terbiasa, tapi lama kelamaan, kamu juga kamu akan biasa," tutur Pandu sembari mengelus lembut kepala Tiara.


"Iya, iya nanti aku akan panggil kamu Sayang. Tapi, sekarang kamu mandi dulu ya!"


"Kenapa aku harus mandi? toh juga nanti bakal berkeringat lagi," Pandu mengerlingkan matanya, menggoda.


"Mesum!" Tiara tersipu malu.


"Mesum sama istri sendiri kan nggak pa-pa."

__ADS_1


"Nggak, kamu harus mandi!" Tiara menarik tangan Pandu, untuk berdiri dan mendorong suaminya itu ke kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pandu keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya seutas handuk yang melilit di pinggangnya, memperlihatkan dadanya yang bidang dan perutnya yang membetuk seperti roti sobek.


Pemandangan itu, tentu saja membuat pipi Tiara memerah. Wanita itu sontak, mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.


"Kenapa kamu tidak mau melihatku? apa aku terlihat buruk?" tanya Pandu, walaupun dia tahu kalau sebenarnya istrinya itu tengah malu.


"Bu-bukan seperti itu? A-aku hanya tidak terbiasa __"


"Tidak terbiasa bagaimana? dulu di Bali kan sering terlihat hal seperti ini di Bali,"


"Itu kan beda. Mereka kan bukan pria yang aku ...." Tiara menggantung ucapannya, karena malu.


"Yang kamu apa?" goda Pandu. Padahal dia tahu apa yang hendak diucapkan oleh wanita itu.


"Ti-tidak ada!" sahut Tiara, gugup.


Pandu mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara, yang sontak mengerjap-erjapkan matanya.


Pandu yang awalnya berniat hanya menggoda, justru termakan akan niatnya sendiri. Justru kini pria itu yang tergoda.


Pandu, dengan perlahan mulai mengikis jarak, dan perlahan menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Ciuman lembut hanya bertahan sekitar 10 detik. Detik berikutnya, ciuman itu berubah ganas.


"Kak eh, Sayang jangan sekarang!" tiba-tiba Tiara menahan tangan Pandu.


"Kenapa?" tanya Pandu dengan alis yang bertaut.


"Karena, aku hanya ingin melakukannya, setelah Adelia dan Kak Bima menikah,"


Pandu seketika menjauhkan tubuhnya dari Tiara dengan raut wajah kesal.


"Kenapa lagi, sih Ra? kenapa harus menunggu mereka menikah dulu? bukannya, minggu depan, mereka akan menikah? apa lagi yang harus kamu tunggu!"


"Entah kenapa, aku merasa kalau mereka menikah bukan karena cinta. Karena itu sangat mustahil. Aku takut mereka tidak akan menikah, setelah kita menikah," ucap Tiara dengan nada yang lirih.


"Jadi, kalau mereka tidak menikah kamu mau apa? kamu mau pergi dan merelakanku lagi pada Adelia? kamu kira aku barang yang bisa dioper ke sana ke mari?" kali ini Pandu sudah tidak bisa menahan kekesalannya.


"Bu-bukan seperti itu, aku hanya__"


"Hanya apa? hanya tidak ingin merasa bersalah pada Adelia, begitu? sekarang kamu jawab pertanyaanku, apa yang akan kamu lakukan seandainya Adelia dan Bima tidak jadi menikah? kamu mau melakukan apa? Kamu mau menunggu sampai Adelia, menikah kelak, baru kamu mau melakukan kewajibanmu? begitu? kalau begitu, kamu benar-benar egois, Ra. Kamu tidak memikirkan perasaanku!" Pandu berbalik dan hendak berlalu pergi.


Melihat hal itu Tiara sontak memeluk Pandu dari belakang.

__ADS_1


"Maafkan aku! aku benar-benar pergi berniat untuk tidak memikirkan perasaanmu!" ucap Tiara sembari terisak-isak.


Pandu menghela napasnya, berusaha untuk meredakan emosinya. Setelah dirasa tenang, Pandu berbalik dan kembali menatap Tiara.


"Sayang, aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Tapi, seharusnya kamu bisa belajar dengan kejadian yang terjadi selama ini, hingga kita bisa menikah, itu berarti kita memang ditakdirkan untuk bersama. Seharusnya kamu harus menghargai pengorbanan Adelia dan Bima dengan menunjukkan kalau kamu bahagia. Apa kamu kira kalau kamu melakukan hal seperti tadi, membuntutiku Adelia bahagia? justru dia akan merasa sedih, Sayang!" tutur Pandu panjang lebar tanpa jeda.


Tiara tercenung, tidak bisa membantah ucapan Pandu yang memang benar adanya.


"Maaf! aku tahu aku salah. Kamu benar, seharusnya aku menghargai pengorbanan Adelia dan Kak Bima," ucap Tiara sembari memeluk erat tubuh Pandu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Piyama yang dikenakan oleh Tiara kini sudah tertanggal, dan tinggal benda berbentuk kaca mata yang tersisa menutupi benda kembar seperti sebuah kabut yang menutupi keindahan gunung.


Tiara terlihat malu dan sontak menyilangkan tangannya di depan dada karena melihat Pandu yang menatap dua asetnya dengan tatapan penuh gairah.


"Kenapa harus ditutupi? ini milikku sekarang," Pandu menepikan tangan Tiara dan dengan gerakan cepat melepaskan pengait benda berbentuk kaca mata itu.


Tanpa menunggu lama, tubuh keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Tiara bahkan sampai menutup matanya begitu melihat tubuh suaminya yang shirtless.


"Kamu sudah siapkan?" bisik Pandu di sela-sela napasnya yang memburu karena pikirannya sudah tertutup dengan kabut gairah.


Pandu tersenyum lebar ketika Tiara mengangguk-anggukan kepalanya, mengiyakan.


Tiara tiba-tiba menggigit bibirnya, dan memejamkan matanya sejenak. Tentu saja hal itu, menarik perhatian Pandu.


"Apa kamu belum siap? kalau belum siap, kita berhenti di sini, lain kali kita lanjutkan lagi sampai kamu benar-benar siap." Pandu hampir saja menjauhkan dirinya dari atas tubuh Tiara. Namun, wanita itu dengan sigap langsung menahan tubuh Pandu.


"Aku siap, Sayang!" ucap Tiara dengan sangat yakin. Karena dia merasa sekarang ataupun nanti tidak akan ada bedanya.


Mendengar ucapan Tiara yang pasrah, seulas senyuman kembali terbit di bibir Pandu. Pria itupun kembali melanjutkan aksinya.


"Kamu tenang saja, aku akan pelan-pelan!" bisik Pandu.


Dalam hitungan detik, suara teriakan kesakitan dari mulut Tiara menggema di dalam kamar itu, karena benda tumpul itu sudah tertanam di lahan milik Tasya yang masih belum pernah dijamah oleh siapapun.


Tidak berselang lama tubuh Pandu dan Tiara sama-sama menegang, di saat mereka hendak mencapai puncak. Rasa sakit yang sempat dirasakan oleh Tiara tadi, kini melebur berganti dengan rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata seiring dengan pelepasan yang sudah mereka gapai.


"Terima kasih, Sayang! kamu hebat. I love you!" Kama mengecup kening istrinya dengan lembut.


Tbc


Maaf, tidak bisa terlalu vulgar. Karena sekarang peraturan Noveltoon/Mangatoon sangat ketat. Bisa-bisa tidak lolos review.


Oh ya, berhubung novel ini akan segera tamat, aku sudah up karya baru, berjudul Hanya Wanita Pengganti. Jika berkenan mampir ya guys.

__ADS_1




__ADS_2