Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 49


__ADS_3

Bima dari tadi terlihat sangat cemas, berjalan ke sana kemari di depan sebuah ruangan yang tertutup dari dalam. Pria itu bahkan berkali-kali berusaha untuk mengintip ke dalam.


"Bima,kamu duduk dulu! kamu harus yakin kalau Adelia akan baik-baik saja!" Adijaya mencoba menenangkan Bima.


"Iya,Nak Bima,benar kata mertuamu!" mamanya Bima yang kebetulan juga ada di Singapura, menimpali ucapan Adijaya.


"Bagaimana aku bisa tenang,Ma. Istriku di dalam sana dan aku tidak tahu apa yang terjadi padanya," sahut Bima sembari terduduk di lantai, menyender di tembok dengan tangan yang mengacak-acak rambutnya.


Arka menatap Bima dengan prihatin sekaligus bahagia. Pria itu bisa melihat jelas kalau pria yang dia anggap saingannya dulu, ternyata sudah sangat mencintai adiknya.


"Aku rasa Adelia sedang hamil?" bisik Ruby, tepat di telinga Arka.


"Apa? Ha ..hmpp!" pekikan Arka terhenti karena tangan Ruby, yang menutup mulut pria itu.


"Ada apa Arka?" Rosa mamanya Arka mengrenyitkan keningnya, demikian juga dengan orang-orang yang ada di tempat itu.


"Mmm, tidak ada apa-apa kok, Ma. Arka tadi hanya kaget mendengarku sempat terjatuh tadi ketika di rumah Bima," sahut Ruby, terpaksa berbohong.


"Kamu jatuh? apa ada yang sakit?" Rosa terlihat cemas.


"Tidak ada sama sekali,Ma! aku baik-baik saja. Arka aja yang terlalu berlebihan, Ma.".


"Dia memang dari dulu selalu berlebihan," ujar Rosa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu berbohong? dan kenapa kamu menutup mulutku?" protes Arka, berbisik.


"Makanya jangan teriak-teriak! aku kan hanya menebak."bisik Ruby, mendelik tajam ke arah Arka.


"Tapi, kalau benar bagaimana?" Arka kembali berbisik.


"Kalau benar ya syukur. Kalau tidak benar bagaimana? yang ada, dia yang tadinya bahagia, jadi kecewa kan? jadi biarlah dia tahu dari dokter," bisik Ruby.


Pintu ruangan terbuka dan Bima langsung berdiri kembali dan menghambur menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan istriku, Dok? apa yang terjadi padanya? kenapa dia bisa pingsan?" Bima seketika mencecar dokter dengan pertanyaan yang beruntun.

__ADS_1


"Tenang dulu, Tuan! istrimu baik-baik saja. Hal itu biasa terjadi pada ___


"Baik-baik saja bagaimana? istriku pingsan itu. Anda benar-benar dokter nggak sih? sudah pingsan begitu tapi anda masih mengatakan dia tidak apa-apa," Bima menyela dengan emosional.


"Tuan, dengarkan dulu sampai aku selesai bicara. Tuan tadi langsung memotong, padahal aku belum selesai bicara," ucap Dokter itu berusaha menahan kekesalannya.


"Iya, Nak. Kamu yang tenang dulu ya! biarkan dokternya menyelesaikan ucapannya dulu," mamanya Bima mengelus-elus punggung Bima, untuk menenangkan putranya itu.


"Baiklah! maaf, Dok kalau kata-kataku tadi tidak mengenakan pada Dokter. Aku benar-benar khawatir pada istriku.Tadi anda katakan kalau istriku baik-baik saja, tapi kenapa dia bisa tidak sadarkan diri?" kali ini Bima terlihat sudah lebih tenang.


"Itu disebabkan karena fluktuasi tekanan darah Nona Adelia rendah. Ini disebabkan karena hormon awal kehamilan, jadi Tuan tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya,"


Mata Bima membeliak, tenggorokannya seperti tercekat. Ia kembali mencoba mencerna ucapan dokter. "Awal kehamilan?" ulang Bima, memastikan apa dia salah dengar atau tidak.


"Iya, Tuan. Awal kehamilan." ucap Dokter itu yakin. "Ini disebabkan oleh pembulu darah yang melebar sehingga menyebabkan tekanan darah Nona Adel jadi rendah," lanjut dokter itu lagi.


"Ja-jadi, Istriku lagi hamil?" gumam Bima dengan bibir yang bergetar.


"Iya, apa Tuan tidak tahu?"


Dokter itu kemudian menyelipkan sebuah senyuman dan mengulurkan tangannya ke arah Bima. "Kalau begitu, selamat Tuan, sebentar lagi kami akan menjadi seorang ayah!"


Tubuh Bima seketika meremang begitu mendengar kata Ayah. Ia menyambut uluran tangan dokter itu dengan tangan yang bergetar.


"Te-terima kasih, Dok!" ucap Bima, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sama-sama, Tuan. Sekarang, kita tinggal menunggu Nona Adelia siuman, agar kita melakukan USG untuk memastikan usia kandungan dan perkembangan si janin. Jadi, begitu Nona Adelia siuman segera pergi ke dokter kandungan ya, Tuan! Aku permisi dulu," Dokter itu, beranjak pergi setelah Bima menganggukkan kepalanya.


"Selamat ya,Bim. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang Ayah!" ucap mamanya Bima dengan seulas senyum yang mengembang sempurna.


Semua orang yang ada di tempat itu, seketika ikut memberikan selamat pada calon papa itu. "Wah, cucu kita akan bertambah lagi, Ma!" sorak Adijaya sembari merangkul pundak Rosa istrinya.


"Dan aku akan jadi calon Nenek!" mamanya Bima ikut menimpali ucapan Adijaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bima masuk ke dalam ruangan, di mana sang istri masih terbaring dengan mata yang masih terpejam.


Mata Bima terlihat berembun saat menatap wajah dan beralih ke perut Adelia. Dia tidak menyangka kalau di balik perut istrinya yang masih terlihat rata itu, sedang bersemayam sebuah nyawa baru, yang pastinya akan mewarnai pernikahan mereka berdua.


Bima mengusap perlahan perut Adelia."Aku akan menjadi seorang ayah," suara Bima bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Padahal sebenarnya dia baru saja hendak mengatakan pada Adelia, tentang rencananya untuk memiliki anak, walaupun selama ini dia tidak pernah menundanya. Tapi, Tuhan langsung berbaik hati, menganugerahkan kehadiran janin di perut Adelia tepat di ulang tahun pernikahan ke satu tahun mereka.


"Baik-baik di dalam sana ya,Nak!" bisik Bima sembari mengecup perut Adelia. Semua yang berada di ruangan itu, merasa terharu dengan sikap yang ditunjukkan oleh Bima. Sementara Arka seketika langsung kembali membayangkan dia yang dulu. Di mana dia tidak ada selama kehamilan Ruby.


Setelah Bima memberikan kecupan di perut Adelia, tiba-tiba terdengar suara lenguhan dari mulut Adelia, pertanda kalau wanita itu sudah sadarkan diri.


"Sayang, kamu sudah bangun? apa yang sakit?" tanya Bima, dengan wajah cemas.


"Kak, kenapa aku bisa ada di sini? bagaimana dengan acara kita? aku sudah membuat kacau semuanya ya? maaf kan aku!" raut wajah Adelia terlihat sedih dan merasa bersalah.


"Kamu tidak usah memikirkan hal itu. Acaranya berjalan dengan lancar kok. Sekarang yang penting adalah kondisimu." sahut Bima, menyelipkan sebuah senyuman manis di bibirnya.


"Sayang, terima kasih ya buat hadiah anniversary yang kamu berikan padaku!" ucap Bima.


"Hadiah? Kakak lagi menyindirku ya? aku sama sekali tidak menyiapkan hadiah apapun. Aku yang sepatutnya berterima kasih karena sudah memberikan hadiah resepsi pernikahan impianku," ucap Adelia dengan raut wajah sendu.


"Siapa bilang kamu tidak kasih apa-apa? justru kamu memberikan hadiah yang sangat berharga dan tidak bisa dibeli dengan apapun. Kamu tahu apa itu?"


Adelia menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak tahu maksud suaminya.


"Hadiah kamu ada di dalam sini!" Bima mengusap kembali perut Adelia.


Adelia mengrenyitkan keningnya berusaha mencerna maksud ucapan sang suami.


"Kamu hamil,Sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua!" ujar Bima, tersenyum lebar.


Tenggorokan Adelia seketika seperti tercekat.


"Ha-hamil?" ulangnya memastikan pendengarannya.


Bima menganggukkan kepalanya, membenarkan.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2