
Arka terlihat sedikit berlari menuruni tangga. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Pria itu masuk ke dalam dapur dan membuka kulkas, entah apa yang dicari pria itu.
Rosa yang kebetulan sedang turun ke bawah, mengrenyitkan keningnya mendengar suara yang berasal dari dapur. Wanita setengah baya itu, sontak berlari kembali ke atas untuk memanggil Adijaya sang suami.
"Pa, sepertinya ada maling di dapur, ayo turun, kita lihat siapa itu?" ucap Rosa sembari mengguncang-guncang tubuh suaminya yang sebenarnya baru saja memejamkan matanya.
"Maling apaan,Ma? maling kok di dapur? mau cari apa dia di dapur?Mama ini aneh," ujar Adijaya dengan nada malas sembari mengganti posisi tidurnya dari terlentang menjadi miring.
"Iya sih, Pa. Tapi Mama benar-benar mendengar suara aneh di dapur. Lampu juga menyala, Pa. Ayo dong, temani mama ke bawah," bujuk Rosa, kembali mengguncang-guncang tubuh Adijaya.
Mau tidak mau akhirnya Adijaya duduk sembari menguap. "Ya udah ayo!" pungkasnya sembari beranjak keluar dari kamar disusul Rosa dari belakang.
Tidak beberapa lama akhirnya keduanya sudah sampai di bawah dan berjalan perlahan menuju dapur.
"Tuh kan, Pa ada suara dari dapur," bisik Rosa.
"Iya, Ma. Kita harus hati-hati. Mama ambil sesuatu deh buat jaga-jaga,mana tahu malingnya ada senjata tajam," titah Adijaya.
"Tenang saja, Pa. Aku sudah siapkan senjatanya," sahut Rosa dengan sangat yakin.
"Mana? aku lihat tidak ada apa-apa di tangan Mama," Adijaya menautkan kedua alisnya.
"Senjata Mama itu suara,Pa. Mama sudah bersiap-siap untuk teriak sekencang-kencangnya nanti. Pasti satpam di depan akan langsung masuk mendengar teriakkan mama," sahut Rosa masi dengan nada berbisik.
Adijaya berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ma, apa Mama lupa, jarak pintu masuk ke pintu gerbang itu tidak dekat? apa Mama yakin kalau satpam bisa mendengar teriakan, Mama?"
"Papa meragukanku?" Rosa terlihat tidak suka.
"Iya, iya, Papa yakin deh. Masalahnya, sebelum satpam datang, kalau yang di dapur sana benar-benar maling dan punya senjata, kita sudah koit duluan, Ma," ucap Adijaya, membuat wajah Rosa menjadi pucat.
"Kalau begitu kita panggil, satpam dulu deh," pungkas Rosa akhirnya.
Namun sebelum keduanya benar-benar beranjak, mereka seketika menghentikan langkah karena mencium aroma makanan yang datang dari dapur.
__ADS_1
"Ma,malingnya lapar kali ya? kenapa ada bau makanan?" Adijaya mengrenyitkan keningnya.
"Iya juga ya, Pa. Kita periksa sendiri aja yuk!" Adijaya menganggukkan kepalanya dan kembali berjalan menuju dapur.
Mata sepasang suami istri setengah baya itu, membesar begitu melihat sosok Arka yang sedang mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci yang mengeluarkan asap.
"Arka, kamu lagi ngapain, Nak?" tanya Rosa, sembari melangkah menghampiri putranya itu.
Mendengar suara yang muncul tiba-tiba, membuat Arka terjengkit kaget, tapi kekagetannya hanya sebentar ketika dia tahu siapa pemilik suara itu.
"Aku lapar,Ma. Aku turun buat cari makanan tapi tidak ada. Jadinya aku mau masak mie instan ini, karena aku baca caranya hanya direbus saja," jawab Arka, tersenyum tipis.
"Lapar? mau makan? ini benar-benar kamu kan ,Nak? kenapa tiba-tiba kamu mau makan jam segini?" Rosa tidak bisa menyembunyikan kekagetannya karena selama 3 bulan ini, Arka sangat susah untuk makan. Dia bisa makan kalau sudah mengkonsumsi obat anti mual.
"Aku juga tidak tahu, Ma. Tiba-tiba aku sangat lapar dan aku juga tidak merasa mual mencium aroma makanan ini," sahut Arka sembari melihat ke arah panci.
"Ma, kenapa mienya jadi besar begini?" Arka mengrenyitkan keningnya.
"Astaga, itu karena kelamaan kamu masak. Lagian, masak seperti itu, hanya direbus saja kurang enak. Sini, biar mama saja yang masak," Rosa kemudian meminta Arka untuk duduk.
"Coba saja ada Ruby, kamu pasti akan dimasakin makanan yang enak," celetuk Adijaya tiba-tiba, membuat air muka Arka berubah sedih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ruby, kenapa kamu makan itu? bukannya itu tidak baik dikonsumsi ibu hamil?"tegur Tiara yang merasa tergoda dengan aroma mie instan itu.
"Sesekali tidak apa-apa, Ra. Yang penting jangan sering-sering," sahut Ruby sembari menuangkan mie instannya ke dalam mangkok.
Ruby menelan ludahnya, tidak sabar untuk menyantap mie instannya itu. Sementara Tiara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Ruby yang mulai menyuapkan mie instan ke dalam mulutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Arka dan Ruby asik menikmati mie instan mereka, di tempat lain tepatnya di sebuah penjara, tampak dua wanita berbeda usia sedang berdebat. Siapa lagi mereka kalau bukan Jelita dan Mona mamanya.
"Semua ini salah, Mama! tukas Jelita sembari berusaha menahan tangis.
__ADS_1
"Kenapa kamu menyalahkan mama?" nada suara Mona sedikit meninggi.
"Jadi salah siapa? Mama kan yang merencanakan ini semua? Mama yang memintaku untuk mengambil sekolah designer itu. Coba seandainya mama tidak meracuni otakku, untuk tetap pergi, aku mungkin saat ini sudah bahagia menjadi istrinya Arka,"suara Jelita tidak kalah tinggi.
"Hei, kamu jangan menyalahkan mama saja! bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu belum siap mau menikah dan kamu sendiri yang meminta mama untuk memikirkan bagaimana caranya agar kamu tidak menikah, tapi tetap tidak mau dianggap salah oleh Arka? jangan main nyalahin mama dong. Mama hanya mengikuti apa maumu," Mona kekeuh tidak mau disalahkan.
"Pokoknya Mama yang salah! Mama yang buat kita berakhir di tempat ini. Udah sempit, tempat tidurnya keras, makanannya pun sama sekali tidak enak," Jelita masih tetap menggerutu.
"HEI! kalian berdua bisa diam nggak? ini sudah malam, dasar mengganggu tidur saja!" bentak seseorang wanita bertubuh tambun dan tinggi.
"Kalau mau tidur ya tidur saja. Kamu tidak punya hak memerintahkan kami untuk diam!" balas Mona tidak terima bentakan wanita itu.
Wanita bertubuh tambun itu, seketika bangun dari tidurnya dan menghampiri Mona dengan tatapan membunuh.
"Kamu bilang apa tadi? sepertinya kamu belum benar-benar tahu siapa aku di sini. Kamu berani melawanku ya?" wanita itu tiba-tiba menarik rambut Mona dengan sangat kencang.
"Ouch, sakit! lepaskan brengsek!" teriak Mona yang disertai dengan umpatan.
"Apa kamu bilang?aku brengsek?nih rasakan lagi!" Wanita itu semakin mengencangkan tarikan di rambut Mona.
"Hei, lepaskan mamaku!" pekik Jelita sembari melangkah hendak menolong mamanya. Namun belum benar-benar bisa menolong mamanya, wanita bertubuh tambun itu, dengan sigap menarik rambut Jelita lagi, hingga wanita itu berteriak kesakitan.
"Lepaskan, brengsek! kamu tidak mengenal kami ya! asal kamu tahu, aku ini calon istri Arkana Rafassya, pemilik perusahaan Terbesar di negara ini!"
Tawa wanita bertubuh tambun itu, seketika pecah mendengar Jelita membawa-bawa nama Arka.
"Belum tidur saja kamu sudah mimpi. Hei bangun! kalau kamu calon istrinya Tuan Arkana,kamu dan mamamu tidak akan mungkin ada di sini!" Wanita itu mendorong keras tubuh Jelita hingga membentur tembok.
"Sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi, dan ini gara-gara kalian berdua. Jadi, aku perintahkan kalian berdua untuk memijatku sampai aku bisa tidur. CEPAT!"titah wanita bertubuh tambun itu.
"Ba-baik! tapi lepaskan dulu tanganmu dari kepalaku!" mohon Mona sembari meringis kesakitan.
"Aku akan lepaskan! tapi ingat jangan coba-coba untuk melawanku lagi! mulai sekarang tugas kalian berdua, itu bergantian memijatku setiap malam, dan kapanpun ketika aku mau! paham kalian berdua!" suara wanita itu meninggi, hingga membuat Mona dan Jelita, ketakutan.
"Pa-Paham!" sahut keduanya, gemetaran.
__ADS_1
"Bagus! sekarang pijit aku!" wanita bertubuh tambun itu membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Sementara Mona dan Jelita dengan tangan bergetar siap untuk memijat wanita itu.
Tbc