Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 39


__ADS_3

"Kak, kami masuk ya! terima kasih sudah mau mengantarkan kami ke sini!" ucap Adelia pada Arka dengan mata yang berkaca-kaca, menahan tangis.


"Baik-baik kamu di sana! sering-seringlah kasih kabar," sahut Arka dengan suara bergetar, yang sama juga seperti sang adik, menahan tangis.


"Ka, Singapura tidak terlalu jauh, dan kami akan sering pulang, jadi jangan__"


"Diam kamu! aku lagi bicara dengan adikku!". Arka dengan sigap menyela ucapan Bima sebelum pria yang sudah menjadi adik iparnya itu, selesai bicara.


"Jangan lupa, adikmu itu istriku!" ucap Bima yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arka.


"Kenapa sih, kalian berdua setiap bertemu selalu saja berantem? kalian tahu tidak, kalian itu sama sekali tidak mencerminkan sikap dewasa," Ruby buka suara, menatap kesal ke arah Arka dan Bima.


"Yang tidak dewasa itu suamimu, bukan aku! Dia yang memulai duluan. Entah kenapa, sampai sekarang dia masih cemburu padaku," sahut Bima, memberikan sindiran.


" Sudahlah! sekarang kalian berdua masuk saja! nanti kalian bisa ketinggalan pesawat!" pungkas Ruby, mencoba mengalihkan pembicaraan, karena melihat wajah Arka yang sudah memerah.


"Oh ya, Pandu dan Tiara menitipkan salam dan permintaan maaf karena tidak bisa ikut mengantarkan kalian berdua," lanjut Ruby kembali.


Mendengar nama Pandu disebut oleh kakak iparnya, sontak membuat wajah Adelia berubah sendu. Namun, itu hanya berlangsung sepersekian detik karena detik berikutnya, wajah wanita itu sudah kembali biasa, bahkan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Iya, Kak. Tadi Kak Tiara sudah menghubungiku, dan sudah minta maaf," sahut Adelia masih dengan senyum manisnya.


"Sudah kalian masuk sana! Jangan kelamaan bicara di sini!" Ruby kembali mengingatkan.


"Baiklah! kami masuk dulu, ya!" Adelia memutar tubuhnya demikian juga dengan Bima. Kemudian, mereka berdua mulai mengayunkan kaki untuk masuk ke dalam bandara.


"Bima!" tiba-tiba Arka kembali buka suara memanggil Bima.


Mendengar Arka memanggil namanya, Bima kembali berbalik dan menatap ke arah Arka yang berjalan menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Bima dengan alis yang bertaut.


"Aku titip adikku padamu! sayangi dan jaga dia. Jujur aku sangat berat melepaskannya untuk pergi, karena ini pertama kalinya kami berpisah dengan waktu yang lama. Tapi, sekarang dia sudah memiliki suami, dan aku tidak boleh egois, untuk menahannya tetap di sini. Sekali lagi aku hanya ingin meminjam agar kamu benar-benar menjaganya! Aku percaya padamu!" ucap Arka sembari menepuk pundak Bima dengan lembut.


"Jangan khawatir! tanpa kamu minta pun aku akan selalu menjaganya, karena dia sudah menjadi tanggung jawabku sekarang," ucap Bima dengan tegas.


"Kakak!" pekik Adelia sembari menghambur memeluk Arka. Dari matanya, kini mengalir air mata yang dari tadi berusaha dia tahan.


"Jangan menangis! kamu sudah bersuami!" ucap Arka, menyelipkan sebuah ledekan.


"Kakak juga menangis," ledek Adelia balik.

__ADS_1


"Mana ada!" sangkal Arka.


"Jadi ini apa?" Adelia menunjuk setetes cairan bening, yang masih menempel di sudut mata Arka.


"Ini hanya keringat, bukan air mata," Arka masih berusaha menyangkal sembari menyeka cairan itu, menggunakan punggung tangannya.


"Cih, masih saja tidak mau ngaku!" Adelia mengerucutkan bibirnya.


"Sudah-sudah jangan banyak bicara! kamu masuk saja sekarang! nanti kalian berdua terlambat," Arka memutar tubuhnya adiknya dan mendorong pelan adiknya itu ke arah Bima.


Bima dan Adelia pun kini melangkah masuk, sembari sesekali melambaikan tangan pada Arka dan Ruby sampai akhirnya tubuh mereka berdua hilang dari pandangan.


"Kamu benar-benar menangis, Sayang?" tanya Ruby, sembari menatap intens mata sang suami


"Siapa bilang aku menangis? tadi aku hanya kelilipan," Arka masih berusaha untuk menyangkal.


Ruby sontak mendengus, melihat Arka yang gengsi mengakui bahwa dirinya menangis.


"Masih saja, gengsi mengakui. Padahal kalaupun menangis, itu hal yang lumrah dan normal walaupun kamu itu laki-laki. Lagian buat apa gengsi mengaku pada istri sendiri? bukannya aku sudah pernah melihatmu menangis dulu? bukan hanya aku, mama, papa, Kak Pandu, Tiara, Adel, Kak Risa, David bahkan Bima juga sudah pernah melihatmu menangis dulu," ejek Ruby.


"Ayo kita pulang! kita harus jemput anak-anak dari rumah papa," Arka dengan sengaja mengalihkan pembicaraan sembari berlalu pergi.


Ruby berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menyusul suaminya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ya, inilah alasan Pandu dan Tiara tidak bisa mengantarkan Bima dan Adelia ke bandara. Pandu tiba-tiba demam, yang disertai dengan flu.


"Sudah aku bilang, kalau bekerja itu jangan terlalu diporsir. Jadi begini kan? kita tidak bisa mengantarkan Adel dan Kak Bima ke bandara. Aku benar-benar tidak merasa enak dengan mereka," ucap Tiara sembari mengangkat handuk dari kening Pandu, dan kembali membasahi handuk itu,agar bisa ditempelkan kembali.


"Kita sama sekali tidak tahu kapan sakit itu datang, Sayang. Aku juga sangat jarang sakit. Mungkin aku bisa sakit begini karena tubuhku tahu kalau aku sudah punya istri yang akan merawatku," ucap Pandu, masih mencoba untuk menggoda.


"Ih, bisa gitu ya!" Tiara mengerucutkan bibirnya, membuat Pandu terkekeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pesawat yang membawa Bima dan Adelia mendarat dengan selamat di Changi airport.


Bima menggandeng tangan Adelia keluar dari dalam bandara dengan tangan yang lain menarik koper milik Adelia.


Sebuah mobil yang sudah diminta oleh Bima dari awal terlihat sudah menunggu kedatangan Bima dan Adelia.

__ADS_1


"Kita langsung ke rumah atau kamu mau jalan-jalan dulu?" tanya Bima ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Langsung pulang aja, Kak," sahut Adelia singkat.


"Baiklah kalau begitu!" ucap Bima. "Jhon, kita langsung pulang ke rumah ya!" lanjut Bima kembali memerintahkan supir pribadinya.


"Baik, Tuan!" pria yang dipanggil Jhon itu sontak melajukan mobil keluar dari kawasan bandara.


"Kak, apa mama dan papa akan tinggal bersama dengan kita?" tanya Adelia menanyakan kedua mertuanya, dengan nada khawatir. Kenapa? tentu saja dikarenakan wanita itu tidak bisa memasak.


"Kenapa? kamu takut ya?" tanya Bima seraya tersenyum smirk.


"Emm, aku tidak takut, tapi hanya sedikit khawatir kalau nantinya mama tidak menyukaiku," ucap Adelia, jujur.


"Kamu tenang saja, mama sangat menyukaimu. Dan satu lagi, mama juga tidak bisa masak sampai sekarang," sahut Bima yang membuat Adelia kaget sekaligus lega.


"Lagian apa yang kamu khawatirkan? mama sama papa kan sudah memutuskan tinggal di Indonesia, apa kamu lupa?"


"Eh, iya ya?" Adelia menggaruk-garuk kepalanya, seketika merasa bodoh.


Pembicaraan terhenti karena Bima merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone dari dalam. Pria itu, terlihat hendak melakukan panggilan.


"Hallo, Tuan Bima!" terdengar suara seorang wanita dari ujung telepon.


"Kamu tolong antarkan ke rumah dokumen-dokumen yang harus aku tanda tangani, karena aku tidak langsung masuk ke kantor," titah Bima dengan tegas, menambah kewibawaan pria itu di mata Adelia.


"Tuan sudah kembali ke Singapura?" terdengar jelas kalau wanita di seberang sana sangat, gembira.


"Kalau aku memintamu untuk mengantarkan dokumen ke rumah, berarti aku sudah di Singapura. Sejak kapan kamu menanyakan hal yang tidak penting begini?"


"Ma-maaf,Tuan! aku hanya__"


Bima langsung memutuskan panggilan secara sepihak, tanpa menunggu wanita yang merupakan sekretarisnya itu selesai bicara.


"Siapa itu Kak?" Adelia mengrenyitkan keningnya.


"Sekretarisku," jawab Bima, singkat.


"Dia sering datang ke rumahmu?" entah kenapa ada rasa tidak suja yang timbul di dalam hati Adelia.


"Tidak sering sih, cuma saat ada dokumen yang harus diantarkan saja. Dia duduk sebentar, dan aku memeriksa dokumen-dokumen itu. Setelah menandatanganinya aku langsung memintanya untuk pulang. Kenapa? kamu cemburu?" goda, Bima.

__ADS_1


"Tidak! buat apa aku cemburu!" Adelia sontak melihat ke arah lain agar Bima tidak melihat wajahnya yang sudah memerah.


Tbc


__ADS_2