Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 48


__ADS_3

"Sudah selesai. Kamu sudah sangat cantik, Del!" ucap Ruby, menatap kagum pada adik iparnya itu.


"Terima kasih, Kak!" ucap Adelia, tersenyum tipis.


"Secantik apapun aku, tapi Kakak tetap yang tercantik untuk Kak Bima," ucap Adelia yang tentu saja hanya dia ucapkan dalam hati.


"Kamu baik-baik saja kan, Del? tadi kamu terlihat sangat pucat," Ruby terlihat mulai khawatir.


Lagi-lagi Adelia tersenyum. "Aku baik-baik saja kok, Kak. Mungkin karena tadi aku belum makan siang," sahut Adelia.


Mata Ruby sontak membesar, kaget mendengar ucapan Adelia. "Kenapa kamu tidak makan siang? itu sama sekali tidak baik, Del!"


"Aku sama sekali tidak selera makan apapun,Kak. Aku selera makan kalau Kak Bima yang masak," sahut Adelia, lemas.


Ruby mengrenyitkan keningnya, ada sesuatu kecurigaan yang muncul di pikirannya.Tapi, wanita itu sama sekali tidak mau gegabah untuk memberitahukan apa yang dia pikirkan pada Adelia sebelum benar-benar dibuktikan.


"Oh, mungkin karena masakan Bima enak, makanya kamu suka makan yang dia masak. Ya udah, ayo kita turun lagi, biar kita berangkat. Biarkan Bima pulang ke rumah tidak menemukanmu," Ruby, meraih tangan Adelia dan menggandeng tangan adik iparnya itu.


"Kak Ruby, bagaimana sih caranya membuat Kak Bima mencintaiku?" sebelum sampai di pintu, Adelia tiba-tiba menyeletuk dengan raut wajah sendu.


"Maksudmu? apa Bima tidak mencintaimu sama sekali?"


Adelia menggelengkan kepalanya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Mungkin itu hanya dugaanmu saja, Del. Dia baik dan perhatian kan selama ini ke kamu? jangan karena dia lupa akan Anniversary kalian, kamu langsung menganggap kalau Bima tidak mencintaimu. Mungkin dia belakangan ini lagi banyak pekerjaan, yang membuat dia lupa. Jadi cobalah berpikir positif ya!" Ruby menepuk-nepuk pundak Adelia dengan lembut.


"Sebenarnya bukan hanya karena itu, Kak. Tapi, selama setahun ini, dia sama sekali tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Entah kenapa aku merasa kalau dia memberikan perhatian padaku hanya sekedar rasa tanggung jawab saja," Adelia menundukkan kepalanya, dan menyeka air mata yang tidak bisa dia cegah untuk keluar.

__ADS_1


Ruby meraih pundak Adelia dan memeluk wanita itu. Ruby tahu sakitnya mencintai secara sepihak seperti dia dulu makannya dia bisa mengerti apa yang dirasakan oleh adik iparnya itu sekarang.


"Del, percayalah kalau apa yang kamu pikirkan itu belum tentu benar. Apa kamu pernah menanyakan pada Bima, bagaimana perasaan dia ke kamu?" Adelia menggelengkan kepalanya.


"Nah, kamu jangan menyimpulkan lebih dulu sebelum kamu tanya kebenarannya. Kamu tidak harus menunggu inisiatif dia, karena tidak semua laki-laki itu memiliki inisiatif. Kadang mereka merasa kalau dengan perhatian yang mereka beri, kita kaum wanita sudah mengerti kalau mereka mencintai kita tanpa perlu diucapkan. Padahal kebanyakan kita perempuan butuh pengakuan itu. Kamu pantas kok bertanya tentang perasaannya ke kamu, karena dia itu suamimu, bukan sekedar hanya kekasih lagi," tutur Ruby memberikan saran dengan bijaksana.


Adelia tercenung, merasa kalau ucapan kakak iparnya ada benarnya. Sebuah senyuman manis langsung terulas di bibir wanita itu, dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, nanti aku akan coba tanyakan!" pungkas Adelia akhirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil yang dikemudikan oleh Jhon supir pribadi Bima, berhenti di sebuah tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan yaitu East coast park yang memiliki keindahan pemandangan yang bisa membuat pengunjung begitu terpesona dan malas untuk meninggalkannya. Apalagi di tempat itu ada sebuah pantai yang yaitu East coast beach yang merupakan pantai tidak alami tapi terlihat layak seperti pantai alami ciptakan Tuhan.


"Kenapa kita ke sini? kenapa bukan ke restoran?" Adelia turun sembari mengrenyitkan keningnya.


"Karena Kakak pikir makan dengan suasana pantai sangat nikmat. Kamu juga suka pantai kan sepertiku? sebenarnya aku menyarankan ke pantai sentosa tapi, karena ini yang terdekat ya, jadinya diputuskan di sini. Kamu tidak keberatan kan?" " tanya Ruby.


Mereka semua akhirnya melangkah masuk ke area pantai.


Tangan Ruby tidak pernah terlepas dari tangan Adelia, seperti takut adik iparnya itu terjatuh.


Mata Adelia sontak membesar melihat sebuah pemandangan indah, di depan matanya. Di mana tempat itu sudah didekorasi dengan indahnya, seperti dekorasi sebuah pernikahan.



"Kak, sepertinya kita salah tempat. Sepertinya ada yang akan mengadakan pesta pernikahan di tempat ini. Kita sebaiknya cari tempat yang lain aja," Adelia menahan tangan Ruby, agar kakak iparnya itu, berhenti melangkah.

__ADS_1


Arka yang berjalan beberapa langkah di depan dua wanita yang dia sayangi itu sontak berhenti dan menoleh ke belakang. Pria itu pun melangkah menghampiri Adelia.


" Adel, kita tidak perlu mencari tempat lain. Coba kamu lihat, wajah-wajah orang-orang itu. Apa wajah mereka asing buatmu atau pernah kamu lihat?" Arka menunjuk ke arah para tamu yang tersenyum menatap Adel.


Adelia mengrenyitkan keningnya, merasa mengenali wajah-wajah para tamu itu. Mata wanita itu kembali membesar ketika melihat sosok Tomy sahabat sang suami tersenyum manis padanya.


"Kak, mereka semua aku pernah lihat di kantor Kak Bima. Kenapa mereka semua ada di sini?" Adelia terlihat sangat bingung.


"Karena ini adalah resepsi pernikahanmu dengan Bima di Singapura bersama dengan semua karyawan Bima. Untuk lebih jelasnya, nanti kamu tanyakan pada suami resemu itu!" Arka menunjuk lagi ke arah seorang pria yang tidak lain adalah Bima. Entah dari mana munculnya pria itu.


Bima mengayunkan langkahnya menghampiri Adelia yang sudah membeku di tempat dia berdiri. Kedua kakinya serasa sudah tertancap ke lantai, sehingga untuk melangkah pun dia tidak sanggup.


Bima mengembangkan senyuman di bibirnya dan berdiri tepat di depan Adelia. " Happy Anniversary dan selamat datang di pesta resepsi kita,Sayang!" untuk pertama kalinya Bima memanggil Adelia dengan sebutan Sayang dengan nada yang tulus.


"Maaf, selama dua Minggu ini aku terkesan cuek dan selalu pulang malam. Itu karena aku merancang ini semua sendiri. Kenapa aku tidak pernah mengungkapkan rasa cintaku padamu, itu karena bukan karena aku tidak cinta. Tapi, karena aku merasa belum pantas mengungkapkannya, di mana aku belum memberikan hal yang selalu kamu impikan. Sebenarnya aku tahu kalau kamu memiliki impian menikah di pantai, tapi karena situasi kita dulu kamu tidak mengungkapkannya padaku. Bahkan aku juga tidak membuat lamaran romantis untukmu. Jadi, karena kita belum mengadakan resepsi di Singapura bersama dengan karyawan-karyawanku, jadi aku berinisiatif membuat pesta sesuai impianmu," Tutur Bima, panjang lebar tanpa jeda. Sementara itu mata Adelia sudah tampak berkaca-kaca mendengar ucapan Bima.


" Mungkin awalnya kita menikah bukan karena adanya rasa cinta. Tapi asal kamu tahu, kamu tidak memerlukan waktu lama, bisa membuatku jatuh cinta padamu dengan kebesaran hatimu, kelembutanmu dan kesederhanaan yang kamu miliki. Asal kamu tahu, sekarang setiap nafas yang kumiliki adalah untuk mencintaimu. Seandainya kamu bisa hidup sampai seratus tahun, aku ingin bisa hidup minus satu hari dari seratus tahun itu, sehingga aku, tidak perlu menghabiskan hari tanpamu walau sehari pun. Aku sangat membutuhkanmu, seperti jantung yang membutuhkan detak, dan seperti dahaga yang membutuhkan air untuk memuaskannya. . Inti dari semuanya Aku mencintaimu, Adelia melebihi nyawaku. Terimakasih sudah mau mendampingiku selama ini,tanpa mau mengeluh sama sekali. Sekarang aku mau bertanya,apa kamu juga merasakan hal yang sama? " lanjut Pandu lagi berbicara panjang lebar,tanpa jeda, sehingga air mata yang sudah berusaha ditahan oleh Adelia, kini sudah membanjiri pipinya.


Adelia tidak menjawab sama sekali, tapi wanita itu langsung menghambur memeluk Bima. Aku juga mencintaimu, Kak!" bisik wanita itu di sela-sela isak tangisnya. Pelukan keduanya disambut tepuk tangan dari para karyawan-karyawan Bima.


"Jadi,Kakak yang meminta mama, papa dan kakakku datang ke sini?" ucap Adelia setelah dia melerai pelukannya.


Bima tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Bukannya kamu yang mengatakan kalau kamu merindukan mereka? ya aku langsung menghubungi mereka," sahut Bima.


Adelia kembali tersenyum dan memeluk Bima.


Setelah Bima selesai mengungkapkan perasaannya, acara pun berlanjut ke acara-acara selanjutnya.

__ADS_1


"Kak,aku pusing!" tiba-tiba Adelia pingsan di pelukan Bima.


Tbc


__ADS_2