
"Kamu kemana lagi sih tadi? kenapa tidak langsung masuk? dan siapa teman bicaramu tadi?" tanya Ruby beruntun setelah Tiara masuk ke rumah.
"Tadi aku ...." Tiara menggantung ucapannya merasa bingung mau mengatakan apa.
"Tadi kamu apa?" Ruby mengrenyitkan keningnya.
"Tadi dia lagi berbicara denganku,"
Mata Ruby sontak membesar begitu melihat kemunculan Pandu di ambang pintu.
"Ka-kamu ...." bibir Ruby terlihat bergetar, dan terasa kelu untuk melanjutkan ucapannya.
"Iya, ini aku. Pandu sahabatnya Arka. Apa kabar?" tanya Pandu dengan ramah disertai dengan sebuah senyuman.
"Ka-kamu kok bisa tahu aku ada di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Pandu, Ruby justru membuat pertanyaan baru. Wanita itu juga tidak lupa menatap ke arah Tiara, menuntut penjelasan.
"Jangan salahkan dia! dia sama sekali tidak memberitahukan di mana kamu berada. Aku yang mengikutinya karena penasaran untuk mengenalnya. Aku tidak menyangka kalau dia itu sahabamu. Aku juga tahunya ketika tadi kamu keluar dan memanggil Tiara. Akhirnya aku tahu kalau kamu berada di sini," jelas Pandu santai.
Wajah Ruby terlihat tegang dan seketika ada rasa takut yang muncul di kepalanya.
"Apa aku tidak dipersilakan untuk duduk? tadi di luar sudah berdiri cukup lama,apa di sini juga aku akan tetap berdiri?" sambung Pandu lagi,mencoba untuk mencairkan suasana, karena melihat wajah tegang Ruby.
"Oh, maaf! si-silakan duduk!" Ruby menunjuk ke arah sofa.
"Terima kasih, Ruby!" Pandu melangkah ke arah sofa yang ditunjuk oleh Ruby dan langsung mendaratkan tubuhnya di sofa itu.
"Aku mau ke dapur dulu ya, By. Mau ambil minum untuknya," Tiara melangkah pergi diikuti dengan tatapan Pandu yang tidak lepas sampai tubuh Tiara hilang dari pandangannya.
"Kak Pandu, bagaimana kabar Mas Arka?" tanya Ruby tanpa basa-basi.
"Hmm, yang pasti dia masih bernyawa. Kalau masalah kondisinya dia lagi merasakan kehamilan simpatik," ucap Pandu jujur.
Ruby mengrenyitkan keningnya, merasa ucapan Pandu cukup ambigu.
"Ma-maksudnya?" tanya Ruby, ragu-ragu.
"Maksudnya, ya ... istrinya yang hamil, tapi dia yang mengalami kondisi yang biasa dialami ibu hamil. Misalnya muntah-muntah, sensitif pada bau, tiba-tiba tidak suka dengan makanannya yang biasa dia suka ... kurang lebih seperti itulah," terang Pandu sembari membaca raut wajah Ruby. Namun Pandu merasa sulit untuk membaca pikiran Ruby.
"Oh seperti itu? berarti setelah menikah dengan Jelita, wanita itu langsung hamil ya?" tanya Ruby dengan lirih.
__ADS_1
"Yang bilang kalau Jelita istrinya Arka siapa? apa aku tadi ada mengatakannya?"
ucapan Pandu membuat Ruby semakin bingung. "Kalau Jelita bukan istrinya jadi siapa lagi istrinya? apa dia menikah dengan wanita lain?" tanya Ruby semakin bingung.
"Tidak sama sekali. Istri Arka kan kamu, dan anak Arka kan lagi ada di dalam perutmu, jadi, kehamilan simpatik yang dia rasa ya karena kamu hamil,"
Ruby bergeming, berusaha mencerna ucapan Pandu.
"Ma-maaf Kak Pandu, aku mau meralat ucapanmu. Aku bukan istri mas Arka lagi. Aku dan dia sudah bercerai. Aku sendiri sudah menandatangani surat cerai itu,"
Pandu kembali tersenyum misterius. "Benarkah?"
Ruby menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Apa kamu sudah lihat dia menandatanganinya?" tanya Pandu lagi.
Ruby menggelengkan kepalanya, lemah. "Belum sih, tapi di saat itu dia mengatakan kalau dia akan menandatanganinya setelah pulang ke rumah,"
"Jadi, kamu sudah yakin kalau dia sudah menandatanganinya?" Pandu kembali bertanya dengan senyum yang semakin misterius.
"Aku sangat yakin, karena aku tahu kalau dia benar-benar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan agar bisa menikahi Jelita secepatnya," ucap Ruby, lirih.
"Bagaimana kalau dia belum menandatanganinya? apa kamu__"
"Terima kasih, Tiara!" Pandu menyunggingkan senyum manisnya pada Tiara yang terlihat masih menunjukkan wajah kusutnya.
"Tiara, kenapa cuma air putih?" tanya Ruby.
"Adanya cuma itu, Ruby. Aku cape buat nyeduh kopi," jawab Tiara santai.
"Emm, begitu ya! kalau begitu biar aku yang menyeduh kopi untuk Kak Pandu," Ruby berdiri dari tempat duduknya dan hendak berlalu pergi.
"Eh tidak perlu Ruby! ini saja sudah cukup. Lagian, aku lagi tidak ingin minum kopi malam ini. Yang ada nanti aku jadi susah tidur," cegah Pandu dengan cepat.
"Oh, seperti itu ya?" Ruby kembali duduk. Wanita itu tiba-tiba lupa pembicaraan mereka yang terakhir.
"Ruby, apa kamu membenci Arka?" tanya Pandu tiba-tiba.
Tiara sontak menatap tajam ke arah Pandu karena tadi perjanjian mereka, kalau mereka tidak akan menyinggung masalah Arka di depan Ruby.
__ADS_1
Ruby tidak menjawab sama sekali,tapi dia tetap menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak membencinya, tapi kalau untuk bertemu dengannya lagi, aku belum siap. Apalagi dengan keadaanku yang begini," sahut Ruby dengan wajah sendu dan nada yang lirih.
"Bagaimana kalau dia sudah tahu tentang kehamilanmu tapi dia tidak memintamu untuk menggugurkannya, apa kamu masih belum mau bertemu dengannya?"
"Sial! kenapa dia bertanya seperti itu sih? laki-laki ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Tadi katanya tidak akan bertanya macam-macam, hanya mau memastikan kondisi Ruby apakah baik-baik saja atau tidak.Tapi kenapa sekarang dia malah bertanya seperti itu?"Tiara menggerutu dalam hati.
"Emm, maaf bisa tidak kita tidak membicarakan dia lagi? saat ini aku tidak ingin berandai-andai. Aku mau fokus pada ketiga calon anakku," ucap Ruby, seakan-akan menegaskan kalau dirinya sedang tidak ingin diganggu dengan pembicaraan mengenai Arka yang baginya masih ambigu.
Pandu tersenyum. Sebenarnya dia hanya ingin memastikan bagaimana reaksi Ruby. Sewaktu berjalan masuk ke rumah Ruby, Ia berpikir keras mengenai kesepakatannya dengan Tiara. Seketika dia berubah pikiran, karena tiba-tiba dia merasa menjadi orang yang jahat, pada sahabatnya sendiri, kalau dia merahasiakan keberadaan Ruby, hanya agar bisa menikah dengan Tiara. Tadi, dirinya sudah memutuskan, seandainya Ruby mengatakan kalau dia akan memaafkan Arka dan mau hidup bersama lagi dengan pria itu, dia akan menjelaskan semuanya pada Ruby dan memberitahukan Arka di mana keberadaan istrinya itu.
"Baiklah! maaf kalau ucapanku membuat moodmu jadi tidak bagus. Kalau begitu aku mau pamit dulu! semoga kamu baik-baik saja, demikian juga dengan kandunganmu," Pandu berdiri dari kursinya dan beranjak pergi.
"Tunggu Kak Pandu!" cegah Ruby sebelum pria itu benar-benar pergi.
Pandu sontak berbalik lagi dan menatap Ruby dengan tatapan penuh tanya.
"Aku hanya mau memohon lagi pada Kakak agar tidak memberitahukan keberadaanku di sini pada Mas Arka. Karena aku benar-benar belum mau bertemu dengannya. Aku tidak mau, dia datang dan berniat melenyapkan ketiga anakku ini,"
Seketika Pandu menyadari kalau Ruby masih benar-benar salah paham.
"Aku rasa Arka tidak akan melenyapkan mereka karena ___"
"Ini sudah sangat malam! sebaiknya kamu langsung pulang. Perjalananmu ke hotel cukup jauh," Tiara dengan cepat langsung menyela.
"Oh, iya. Aku balik dulu ya. Oh ya, aku berjanji tidak akan memberitahukan keberadaanmu pada Arka," pungkas Pandu akhirnya.
"Kak Pandu. Satu lagi, aku ingin mengatakan kalau aku sudah ikhlas memaafkannya. Hanya saja, aku benar-benar belum mau bertemu dengannya. Aku berharap dengan maafku ini, dia tidak merasakan lagi kehamilan simpatik itu. Semoga dia baik-baik saja ke depannya," pungkas Ruby sembari berlalu pergi.
Pandu menatap kepergian Ruby sampai tubuh wanita itu benar-benar hilang dari pandangannya, kemudian dia beralih menatap Tiara yang raut wajahnya tidak kusut lagi.
"Aku pergi dulu! aku berjanji akan secepatnya kembali ke sini, untuk membantumu menjaga Ruby. Untuk masalah Arka, biarlah aku memikirkan bagaimana caranya agar dia kembali bersemangat seperti dulu, walaupun aku tahu kalau itu akan sulit," Pandu mengayunkan kakinya, melangkah keluar.
"Kak Pandu!" untuk pertama kalinya, Tiara memanggil Pandu dengan nada lembut.
"Iya ada apa?" Pandu kembali berbalik.
"Aku akan membantumu, menjelaskan pada Kak Arka, kalau Ruby baik-baik saja. Besok aku akan mengirimkan video Ruby,dan mengirimkannya padamu. Kamu bisa menunjukkan itu pada Kak Arka, dan bilang padanya kalau kamu mendapatkan video itu dari kak Risa kakaknya Ruby. Untuk sementara ini, kita berikan ruang pada mereka berdua, untuk bisa menyadari sepenuhnya rasa yang mereka miliki. Khususnya Arka. Aku tidak mau, dia mencari Ruby hanya karena rasa bersalah bukan karena cinta. Kalau dia sanggup bertahan dan merasa kalau dia benar-benar mencintai Ruby, aku akan ikhlas juga memaafkannya dan membiarkan Ruby bersamanya," pungkas Tiara dengan bijaksana.
__ADS_1
Tbc
Please untuk tetap meninggalkan jejaknya dong guys dengan menekan tombol like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh 😁😁