
Kao Supassara as Adelia
"Kenapa kita harus makan di sini?" protes Pandu begitu melihat restoran yang dia dan Adelia kunjungi adalah restoran milik Tiara.
"Emangnya kenapa? ini kan restoran milik kak Tiara. Kakak kan tahu kalau Kak Tiara itu sahabatnya Kak Ruby, jadi tidak ada salahnya kan kita makan di sini? lagian makanan di sini juga enak-enak kok. Ayo!" ucap Adelia yang berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi, sembari menarik tangan Pandu, hingga pria itu benar-benar tidak bisa menolak.
"Aku akan melihat bagaimana reaksimu nanti kak,kalau melihat Kak Tiara. Apa matamu masih memperlihatkan rasa cinta atau tidak, nanti aku akan bisa tahu," bisik Adelia pada hatinya sendiri.
Sementara itu, wajah Pandu terlihat tegang berharap tidak bertemu dengan Tiara di restoran itu.
"Itu ada meja kosong, Kak. Ayo ke sana!" Adelia menunjuk ke arah meja kosong yang posisinya tidak terlalu jauh dari sebuah ruangan yang Pandu tahu adalah ruangan Tiara.
"Kita cari meja lain saja! itu juga masih kosong," Pandu menunjuk ke arah meja yang posisinya tepat berada di pojok, sehingga kalau Tiara keluar dari ruangannya tidak akan pernah berpikir melihat ke arah situ.
"Kenapa harus di sana? di situ kan lebih nyaman!" Adelia kekeh dengan keinginannya.
"Kalau kamu mau makan di situ, silakan! aku akan duduk di sana!" ucap Pandu tegas tak terbantahkan.
Adelia mengembuskan napasnya dengan berat, dan akhirnya mengangguk pasrah.
"Baiklah!" Adelia berjalan mengekori Pandu yang sudah berjalan di depannya.
Begitu sampai di meja yang mereka tuju,Pandu langsung mendaratkan tubuhnya duduk, tanpa menarik kursi lebih dulu untuk Adelia, seperti seorang pria pada umumnya.
Melihat hal itu, Adelia hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya dengan menunjukkan senyum di bibirnya.
Adelia mendaratkan tubuhnya duduk menunggu inisiatif Pandu untuk memanggil pelayan. Lagi-lagi Adelia harus menghela napas kecewa.
"Pelayan!" panggil Adelia sembari melambaikan tangannya, karena Pandu sepertinya tidak akan punya niat untuk memanggil pelayan.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu.
"Kak, Kakak mau pesan apa?" tanya Adelia, sembari menyerahkan buku menu pada Pandu.
"Terserah kamu! aku tidak pernah memilih dalam hal makanan," sahut Pandu, santai.
"Baiklah!" ucap Adelia, lirih.
Adelia pun menyebutkan pesanannya pada sang pelayan yang dengan sigap langsung mencatat semua pesanan Adelia.
"Permisi, Non. Makanannya ditunggu ya!" Pelayan itu nyaris melangkah pergi,tapi berhenti lagi karena Adelia tiba-tiba memanggilnya.
"Mbak, apa Kak Tiaranya ada?" tanya Adelia dengan ekor mata yang melirik sedikit ke arah Pandu untuk melihat bagaimana reaksi pria itu jika dia menyebut nama Tiara. Benar saja, Pandu terlihat merubah posisi duduknya, seperti merasa tidak nyaman.
"Oh, Ibu Tiara ada di ruangannya, tapi Ibu sedang ada tamu, Non!" jawab pelayanan itu dengan sopan.
"Tamu? laki-laki atau perempuan tamunya?" tanya Adelia lagi.
"Laki-laki, Non!"
Wajah Pandu terlihat memerah, mendengar kalau tamu yang ada di ruangan Tiara adalah seorang laki-laki.
__ADS_1
"Brengsek! mereka berduaan di dalam ruangan. Apa yang mereka lakukan di dalam sana?" umpat Pandu sembari menggerutu tidak jelas.
"Oh, ya udah deh, Mbak! terima kasih!" pungkas Adelia, menyudahi pertanyaannya.
Pelayan itu menganggukkan kepalanya dan berbalik seraya berlalu pergi.
"Kira-kira siapa ya tamunya Kak Tiara?" pancing Adelia.
"Aku tidak tahu!" jawab Pandu ketus.
"Kenapa Kakak dari tadi selalu ketus padaku? apa Kakak tidak ikhlas makan siang denganku?" Adelia akhirnya mulai mengeluarkan unek-uneknya.
Pandu seketika tersadar dengan sikapnya yang dari tadi memang selalu bersikap tidak bersahabat dengan Adelia.
"Maaf! di kantor lagi banyak pekerjaan,jadi belakangan ini, aku mudah kesal," sahut Pandu yang kali ini berubah lembut.
"Pandu,ingat! ini sudah keputusanmu untuk menikah dengan Adel, jadi jangan kamu buat dia kecewa! jangan bawa-bawa kegundahan hatimu, di depannya karena dia tidak tahu apa-apa," Pandu membatin mengingatkan dirinya sendiri.
"Del, bagaimana kalau kita secepatnya menikah? kita tidak perlu mengadakan pertunangan segala. Buang-buang waktu, kalau emang pada akhirnya kita harus menikah," ucap Pandu, membuat Adelia terkesiap kaget.
"Kenapa kesannya jadi terburu-buru begini, Kak?" alis Adelia bertaut tajam.
"Ya, buat apa lagi harus menunggu lama? toh emang arahnya ke pernikahan juga kan?" ucap Pandu.
"Tapi, aku masih penasaran kenapa Kakak tiba-tiba mau menerima perjodohan ini, padahal sebelumnya kakak menolak dengan alasan sudah menganggap aku sebagai adik sendiri? Apa ada hal yang membuat Kakak berubah pikiran?" tanya Adelia, pura-pura tidak tahu.
Pandu tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat bingung memikirkan jawaban yang akan dia berikan.
"Kenapa Kakak diam? apa Kakak tidak tahu jawabannya?" desak Adelia.
"Syukurlah, makanannya datang di waktu yang tepat," bisik Pandu dalam hati.
"Kak, selagi kita makan bisa kan kakak jawab sekarang?" Adelia kembali buka suara.
"Tidak baik makan sambil bicara," sahut Pandu tanpa melihat ke arah Adelia.
Adelia menghela napasnya dengan berat dan akhirnya mulai menyantap makanannya.
"Kak, menurutku kita jangan langsung menikah. Sebaiknya kita bertunangan saja dulu," celetuk Adelia, setelah dia menelan makanannya.
Pandu mengrenyitkan keningnya dan sontak menatap Adelia.
"Kenapa?" tanyanya dengan alis bertaut.
"Karena, menurutku Kakak sama sekali tidak mencintaiku," ucap Adelia dengan hati yang sakit.
"Bukannya aku sudah bilang, kalau cinta bisa hadir dengan sendirinya?" Pandu terlihat mulai kesal. Pria itu bahkan meletakkan sendok dan garpunya dengan sedikit kasar.
"Iya. Kakak belajar mencintaiku di status sebagai tunangan saja. Kalau Kakak sudah mencintaiku, baru kita memikirkan untuk menikah. Tolong hargai keputusanku Kak!"
"Terserah kamu!" ucap Pandu, kesal.
Di saat bersamaan, dari arah ruangan Tiara, tampak wanita itu dan Bima keluar dari dalam, dan mata Adelia tidak sengaja menangkap pemandangan itu. Wanita itu, benar-benar kaget melihat sosok pria yang bersama dengan Tiara.
__ADS_1
"Bukannya itu, Bima? jadi Bima itu sepupunya Kak Tiara?" batin Adelia dengan mata yang sama sekali tidak berkedip.
"Kamu melihat apa?" Pandu ikut menoleh ke arah pandangan Adelia.
Hati pria itu lagi-lagi merasa sakit melihat pemandangan, di mana Tiara terlihat berjalan mengantarkan pria yang sama dengan malam kemarin, keluar dari restoran. Wanita itu juga tampak tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah pria itu.
Lain Pandu, lain lagi dengan Adelia. Sekarang terjadi perang antara hati dan pikirannya, antara mau memberitahukan Pandu siapa sosok pria itu atau memilih untuk diam saja.
"Kamu jangan bodoh, Adel! Jangan beritahu dia kebenarannya. Ini kesempatan kamu kan untuk bisa menikah dengan Pandu? jadi jangan sok baik, kamu juga berhak untuk bahagia!" sisi iblis Adelia berbisik.
"Beritahu saja, Adel! toh nanti belum tentu kamu akan bahagia!" sisi malaikat Adelia, ikut berbisik.
"Kita pulang sekarang!" tiba-tiba Pandu bersuara, menyadarkan Adelia dari alam bawah sadarnya.
"Kenapa harus buru-buru? kita di sini dulu sebentar! Kak Tiara!" Adelia melambaikan tangannya memanggil Tiara.
Tiara yang berniat akan kembali masuk ke dalam ruangannya, sontak menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Wanita itu tersenyum dan berjalan menghampiri Adelia yang duduk bersama dengan seorang pria yang membelakanginya.
"Hai Adel, kamu dengan siapa ke sini?" sapa Tiara sembari menoleh ke arah Pandu.
Senyum yang tadinya mengembang tiba-tiba menyurut ketika melihat sosok Pandu.
"Kalian kan sudah kenal, Kak. Ayo duduk bareng kami!" pinta Adelia.
"Hai, Kak Pandu!" sapa Tiara dengan gugup. Wanita itu benar-benar merasa canggung berhadapan dengan pria itu. Bahkan jantungnya sekarang sudah berdetak sangat kencang. Dan hal serupa pun juga dirasakan oleh Pandu.
"Oh, hai juga!" balas Pandu, dengan suara yang sangat pelan.
"Kalian berdua di sini __"
"Aku hanya makan siang dengan calon istriku!" sambar Pandu dengan cepat, menyela ucapan Tiara.
"Oh," sahut Tiara dengan wajah yang seketika berubah sendu dan semua itu tidak luput dari perhatian Adel.
"Sayang, aku mau kembali ke kantor, karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat. Kamu masih mau di sini atau ikut?" ucap Pandu yang dengan sengaja memanggil Adelia, Sayang.
"Kenapa harus buru-buru sih, Kak? Kak Tiara baru aja duduk!" protes Adelia.
"Pekerjaan ini sangat penting. Jadi, sekarang kamu putuskan mau tetap di sini atau ikut?"
"Aku di sini saja. Nanti aku akan pulang pakai taksi," pungkas Adelia akhirnya.
"Baiklah! aku pergi dulu!" tanpa menatap ke arah Tiara, Pandu berlalu pergi.
Hati Tiara benar-benar terasa sakit sekarang.
"Ternyata semua laki-laki itu sama saja. Tidak ada yang tulus mencintai seorang wanita," batin Tiara, sembari menatap punggung Pandu sampai menghilang.
Tbc
Mark print surapat as Bima
__ADS_1