Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 18


__ADS_3

Setelah dirasa istrinya sudah aman, tanpa berpikir panjang, Arka memberikan tendangan keras ke lengan Juno, hingga pria itu terpental ke belakang.


Kemudian, pria itu menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Juno, memaksa pria itu untuk berdiri, lalu tangan Arka melayang memberikan pukulan di wajah Juno.


"Itu, balasan pukulan yang kmu berikan di wajah istriku!


"Aaaaaa!" Juno berteriak kesakitan, ketika Arka memelintir tangannya.


"Itu, balasan untuk tangannya yang kamu ikat,"


Bughh


Arka kembali memberikan tendangan di tulang kering kaki Juno, hingga membuat pria itu kembali tersungkur ke lantai sembari berteriak kesakitan.


"Itu, untuk kaki istriku yang kamu ikat," ujar Arka, dengan tatapan penuh amarah.


Arka kemudian kembali melayangkan tendangan dan kali ini persis di kepala Juno " Itu balasan karena kamu tidak punya pikiran, hendak memisahkan ibu dari anak-anaknya!" ucap Arka lagi. Mata Arka berkilat-kilat penuh amarah.


"Sudah, Arka aku nyerah! tolong jangan pukul aku lagi! kalau kamu mau, langsung ambil saja nyawaku!" ucap Juno, yang sudah terlihat sangat lemah sekarang.


Arka mendengus mendengar permohonan Juno. Dia menundukkan kepalanya, lalu menarik rambut Juno ke bawah, agar Arka bisa melihat wajah kesakitan Juno.


"Kalau tidak ada hukum, ingin rasanya aku melenyapkanmu sekarang juga. Sayangnya aku bukan pembunuh. Biarlah hukum yang akan memberikan kamu hukuman yang tepat, tapi sepertinya aku belum puas memberikan kamu pelajaran. Nih, rasakan ini lagi!" Arka berniat untuk melayangkan tendangannya lagi, dan kali ini sasarannya adalah dada Juno. Beruntungnya Pandu dengan cepat berteriak meminta sahabatnya itu untuk tidak kalap.


"Arka, sudah berhenti! nanti dia bisa mati! serahkan semua kepada hukum!" pekik Pandu, mengingatkan. Takut sahabatnya itu kalap dan lupa diri.


"Baiklah!" ucap Arka sembari berputar hendak meninggalkan Juno.


"Tapi, sekali lagi, gak pa-pa lah ya!" Arka tiba-tiba berbalik lagi dan benar-benar memberikan tendangan di dada Juno.


"Kalian bawa dia ke Jakarta dan serahkan pada polisi!" titah Arka pada anak buahnya yang sudah berada di ruangan itu.


"Eh, Pan, kenapa kamu ada di sini? bukannya kamu tadi aku minta bawa Ruby pergi? lagian David di mana?" sepertinya Arka mulai sadar.


Pandu tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya berdecak sembari menggelengkan kepalanya, lalu beranjak keluar.


"Eh, Pan, kamu tuli ya! aku lagi bertanya, kenapa kami nggak jawab?" suara Arka meninggi sembari berlari kecil menyusul Pandu.


Pandu kemudian menghentikan langkahnya dan menghela napasnya dengan sekali hentakan.

__ADS_1


"Apa yang harus aku jawab? harusnya kamu sudah tahu jawabannya," ucap Pandu ambigu.


"Eh, gila! kalau aku sudah tahu jawabannya, a buat apa aku tanya kamu?" Arka terlihat semakin kesal.


"Haish, bukannya kamu sendiri yang minta David bawa Ruby keluar? jadi, ya dia bawalah!"


Mata Arka membesar, mukanya memerah dan rahang mengeras.


"Aku memintamu, bukan David!" suara Arka semakin tinggi.


"Kamu meminta David bukan aku!" sangkal Pandu lagi.


"Brengsek! seingatku aku memintamu!" umpat Arka. "Berarti dia menyentuh istri dong," sambungnya kembali.


"Menurutmu? tidak mungkin kan dia bisa membawa Ruby tanpa menyentuhnya? mana dia gendongnya kaya pangeran yang menggendong pengantinnya lagi, begini nih,". Pandu mempraktekkan cara David menggendong Ruby untuk memanas-manasi sahabatnya itu.


"Haish, sialan! dia benar-benar mau mati ternyata!" umpat Arka sembari berlalu pergi dengan setengah berlari.


"Sepertinya akan ada tontonan gratis," gumam Pandu, sembari menyusu Arka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Woi, David Brengsek!" teriak Arka dari arah yang tidak terlalu jauh.


"Wah, sepertinya singa itu sudah sadar!" batin David, seraya bersiap hendak berlari. Namun belum sempat berlari, Arka sudah lebih dulu menangkapnya dan langsung memelintir tangan David.


"Awww, sakit, Arka! lepaskan!" pekik David, dengan raut wajah yang meringis.


" Berani sekali kamu menyentuh istriku ya! mau cari mati kamu!" bentak Arka sembari menatap tajam ke arah David.


"Hei, apa kamu lagi-lagi amnesia? kamu sendiri yang memintaku! jawab David di sela-sela rasa sakitnya.


"Aku belum gila, memintamu membawa istriku!" Arka masih saja belum percaya.


"Ya, anggap saja, tadi kamu terlanjur gila, dan sekarang sudah kembali waras," David mulai berani, menjawab ucapan Arka. Jangan lupakan Pandu yang sudah cekikikan.


"Sialan! berani ya kamu bilang seperti itu?" umpat Arka, sembari kembali memelintir tangan David.


"Awwww, iya,iya, maaf, Arka! nggak lagi, deh!" pekik David.

__ADS_1


"Awas sekali lagi, kalau kamu berani menyentuh, Ruby! tanganmu akan aku patahkan!" ancam Arka sembari melepaskan tangan David.


"Tahu begini, aku tidak mau membawa Ruby tadi keluar, aku biarkan aja dia tergeletak di lantai," David menggerutu sembari memijat-mijat tangannya yang sakit.


"Apa kamu bilang!" Arka kembali menatap David dengan tatapan tajam.


"Tidak ada!" jawab David dengan cepat.


"Capek aku, meladeni orang kurang waras kaya kamu!" gumam David, yang dia kira tidak akan didengar oleh Arka. Namun, dia salah, Arka yang memiliki pendengaran yang tajam, mendengar apa yang digumamkan oleh David barusan.


"Berani kamu ya, memakiku kurang waras?"


"Astaga, kamu mendengarnya ya!" David menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, sembari nyengir kuda.


"Kamu kira aku tuli?" mata Arka semakin tajam.


"Maaf!" pungkas David akhirnya memilih untuk mengalah.


Kemudian Arka membuka pintu mobil, untuk melihat keadaan Ruby. Dia melihat Ruby sama sekali belum sadar dari pingsannya. Arka kembali mengeluarkan kepalanya dan menatap David dengan mata yang memicing, seperti orang yang curiga.


"Perasaanku nggak enak nih! kenapa dia menatapku seperti itu?" batin David, dengan wajah yang kebingungan.


"David, bagian mana tadi yang kamu sentuh? kamu tidak mengambil kesempatan untuk menyentuh yang tidak pantas untuk kamu sentuh kan?"


Mulut David sontak terbuka, terkesiap kaget mendengar pertanyaan Arka yang benar-benar sudah kelewatan. "Astaga, bagaimana bisa kamu sampai berpikir seperti itu? bahkan untuk memiliki niat untuk itu saja aku tidak berani," David berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau suami Ruby itu memiliki tingkat kecemburuan akut, yang membuatnya berpikiran yang aneh-aneh.


"Kamu tidak bohong?" tatapan Arka masih tetap dengan tatapan menyelidik.


"Sumpah demi apapun, Ka. Aku hanya menggendongnya keluar, lalu memasukkannya ke dalam mobil," tutur David menjelaskan, berharap Arka mengerti.


Namun, bukannya mengerti justru penuturan David membuat pikiran Arka semakin kacau.


"Bagaimana kamu memasukkannya ke dalam mobil? kamu pasti menunduk kan? kalau begitu waktu kamu menaruhnya, wajahmu pasti mengarah ke dadanya, benar kan?" Pikiran Arka benar-benar sudah negatif sekarang.


"Mati aku! benar-benar tidak waras nih orang!" umpat David seraya mengambil langkah seribu.


"DAVID!" teriak Arka, geram. Sementara itu, Pandu hanya bisa tertawa terbahak-bahak.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2