
Pandu dan Tiara kini sudah berada di atas panggung, demikian juga dengan Adelia dan Bima.
Nirmala yang sebelumnya sudah pernah bertemu dengan Tiara sontak tersenyum sembari menghampiri calon menantunya itu.
"Ternyata kamu memang ditakdirkan untuk menjadi menantuku," bisik Nirmala tanpa menanggalkan senyumnya.
"I-iya, Tante!"sahut Tiara, kikuk.
"Ayo, mumpung kalian sudah ada di sini, lebih baik acaranya dilangsungkan saja. Takutnya jadi lama lagi, karena sesi klarifikasi yang belum selesai dari tadi," celetuk Prasetyo, meledek, membuat yang lainnya tertawa.
"Nak Tiara, sebelum kamu bertunangan dengan anak saya, Om mau tanya ke kamu. Kamu ikhlas kan bertunangan dengan anakku?" tanya Prasetyo, memastikan.
"Tidak perlu ditanya-tanya lagi, Pa! aku tidak mau kalau nanti dia jawab, 'tidak ikhlas'." bukan Tiara yang menjawab melainkan Pandu. "Intinya, ikhlas nggak ikhlas, harus tetap bertunangan," lanjutnya kembali dengan lugas dan tegas.
"Itu pemaksaan namanya!" protes Prasetyo.
"Bodo amat!" cetus Pandu.
Semua yang mendengar ucapan Pandu hanya bisa berdecak sembari menggelengkan kepala, hanya Tiara yang menundukkan kepala, malu.
Setelah itu, seperti yang dikatakan oleh Pandu, acara pun tetap berlanjut. Pandu dan Tiara pun diminta untuk bertukar cincin yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para keluarga dan tamu undangan. Kemudian, dilanjutkan dengan acara pertunangan Bima dan Adelia.
Di sela-sela euforia tepuk tangan, Pandu menyempatkan diri, mengayunkan kaki, menghampiri Bima.
"Kenapa gaun yang dipakai Tiara terbuka begitu? kamu mau mati ya?" bisik Pandu, penuh tekanan.
"Bukannya kamu yang memintaku untuk menyiapkan gaun untuknya? kamu juga yang bilang kalau warnanya putih. Iya kan?" Bima juga balik berbisik.
"Aku memang memintamu untuk menyiapkan gaun untuknya, tapi tidak yang begitu. Yang lebih tertutup kan bisa?"
"Makanya lain kali, kalau minta tolong itu yang jelas. Harusnya kamu katakan detail gaun yang kamu inginkan, jangan hanya nyuruh menyiapkan gaun saja!" pungkas Bima sembari beranjak pergi meninggalkan Pandu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adelia, tersenyum menatap kebahagiaan yang ada di depannya. Awalnya dia berpikir kalau dirinya akan menangis, tapi ternyata pemikiran dia salah. Justru dia merasa ada kebahagiaan yang dia rasakan melihat semuanya bahagia.
Kalau dia ingat semua yang dia lakukan, dengan kerelaan dirinya, dia benar-benar tidak menyangka kalau dia sanggup melakukan itu semua.
Flash back On
__ADS_1
"Apa Tante, menyukai Kak Tiara?" tanya Adelia hati-hati.
"Tentu saja! apalagi kalau dia sahabatnya Ruby, pasti dia juga baik seperti Ruby!" Nirmala masih tersenyum sembari masih menatap Tiara yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Adelia tersenyum miris mendengar ucapan Nirmala, mamanya Pandu.
"Ayo, Sayang kita pulang! maaf sudah merepotkanmu, jauh-jauh datang ke sini. Habis,Pandu dan Om, sama sekali tidak bisa dihubungi," Nirmala sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi wajah Adelia.
"Emm, Tan, sebelum pulang bisa kita bicara sebentar?" tanya Adelia dengan sangat hati-hati.
Nirmala tidak langsung menjawab. Wanita itu justru mengrenyitkan keningnya, merasa sikap Adelia yang sedikit aneh.
"Sejak kapan kamu harus izin bicara sama Tante? biasanya kamu langsung bicara aja, Del dan Tante senang-senang saja," sahut Nirmala.
"Tapi, yang ini hal penting, Tan. Ini mengenai Kak Pandu," ucap Adelia yang membuat Nirmala semakin terlihat bingung.
"Ya udah, kamu bicara saja dan Tente akan mendengarkanmu,"
"Kita bicara di dalam mobil Tante saja. Berdiri lama-lama, betis sakit juga," Adelia mulai sedikit bercanda.
Baik Nirmala maupun Adelia akhirnya mengayunkan kaki melangkah menuju mobil Nirmala yang kebetulan terparkir tidak jauh dari mobil Adelia.
"Ayo,masuk Nak!" ucap Nirmala setelah sebelumnya dia memasukkan belanjaannya ke dalam mobil.
Adelia tidak langsung menjawab, karena dirinya masih sedikit ragu.
"Apa yang aku lakukan ini benar? kuatkah aku nantinya?" batin Adelia, dilema.
"Del, kenapa kamu diam, Nak? Ada apa dengan Pandu? apa dia menyakitimu?" tanya Nirmala lagi.
"Tidak sama sekali, Tan. Hanya saja Kak Pandu tidak mencintaiku. Dia menerima perjodohan ini karena keterpaksaan,"
"Tante rasa tidak. Karena kami tidak pernah memaksanya. Dia sendiri yang mengatakan menerima perjodohan dan bilang akan belajar mencintaimu, karena dia sudah ada modal sayang. Ya, kami dengan senang hati dan bahkan bahagia menerima keputusannya. Jadi,kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, karena Tante yakin kamu pasti akan bisa membuat anak Tante cepat atau lambat mencintaimu," tutur Nirmala panjang lebar tanpa jeda.
"Masalahnya, Kak Pandu sebenarnya mencintai wanita lain. Dia sangat mencintai wanita itu. Kak Pandu memutuskan menerima perjodohan karena salah paham pada wanita itu,"
Mata Nirmala membesar terkesiap kaget mendengar ucapan Adelia. Dulu, dia merasa pernah mendengar anaknya bercerita kalau dia memang memiliki wanita yang dia cintai dan berniat mempersunting wanita itu. Tapi, masalahnya Pandu tidak pernah membawa wanita itu untuk dikenalkan. Ketika Pandu mengatakan menerima perjodohan dengan Adelia, bodohnya dia tidak bertanya mengenai wanita yang dicintai putranya itu.
"Salah paham? maksudnya?" tanya Nirmala dengan alis bertaut.
Adelia akhirnya dengan lugas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Alasan kenapa Pandu memutuskan untuk tidak mengejar wanita yang dicintai pria itu, dan alasan kenapa wanita itu bersikap seakan-akan tidak menyukai Pandu hanya karena tidak ingin Pandu tahu kalau dia juga mencintai pria itu. Adelia juga tidak lupa mengungkapkan kalau Pandu mengira wanita yang dia cintai itu sudah memiliki kekasih, yang ternyata adalah sepupu wanita itu.
__ADS_1
"Intinya,mereka saling mencintai,Tan. Aku sudah mendengar dan melihat dengan mata kepalaku sendiri. Jadi, aku hanya ingin mengatakan agar perjodohan kami dibatalkan saja, dan membuat mereka berdua bersatu." jelas Adelia panjang lebar.
"Tapi, Tante menyukaimu sebagai menantu Tante. Tante sudah mengenal kamu dari dulu," Nirmala merasa keberatan dengan keputusan Adelia.
"Tapi, Tante tadi bilang kalau Tante juga suka menanti seperti Kak Tiara,"
"Itu kan Tante bilang kalau Tante masih punya anak laki-laki lain," sangkal Nirmala.
"Masalahnya wanita yang dicintai Kak Pandu itu Kak Tiara Tante!"
Mulut Nirmala ternganga, mendengar ucapan Adelia.
"Kamu jangan bercanda Adel!"
"Aku sama sekali tidak bercanda, Tan. Seperti yang aku ceritakan tadi, mereka berdua itu saling mencintai. Kak Tiara tidak mau berterus terang pada Kak Pandu bagaimana perasaannya sebenarnya, siapa laki-laki yang bersamanya,supaya Kak Pandu tetap bisa bersamaku. Kak Tiara tidak ingin melihatku terluka, sehingga dia mau mengorbankan perasaannya dan meminta pada Kak Ruby dan Kak Arka, untuk menutupi ini dari Kak Pandu. Dia juga tidak mau, hubungan keluarga kita jadi hancur karena Kak Pandu berubah pikiran," jelas Adelia, lugas dan panjang lebar.
"Pantas saja dia tidak terlalu antusias dengan pertunangan ini. Dia menyerahkan semuanya pada kami," gumam Nirmala, mengingat sikap apatis yang ditunjukkan oleh anaknya selama ini.
"Nah,jadi aku sekarang memutuskan untuk mundur dan membatalkan perjodohan kami. Aku mohon agar Tante mengerti. Tante tidak masalahkan?"
"Justru yang seharusnya bertanya tentang itu,Tante. Kamu tidak masalah?" Nirmala balik bertanya.
Adelia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja,Tan. Karena setelah aku pikir-pikir, tidak ada gunanya juga kami bersama, kalau hati Kak Pandu untuk Kak Tiara. Lagian, Kak Tiara juga wanita baik. Dia adalah sahabat terbaik Kak Ruby, yang selalu ada di saat suka maupun duka buat Kak Ruby. Dia selalu memberikan dukungan dan percaya pada Kak Ruby, di saat orang lain mencemoohnya,"
"Apa ini juga bentuk balas budi kamu untuknya?" Nirmala mengrenyitkan keningnya.
"Tidak sama sekali Tan. Ini murni karena aku memang menyadari kalau Kak Pandu hanya bisa menyayangiku sebagai adik. Dia tidak akan pernah bisa mencintaiku sebagai pasangan," senyum manis Adelia tidak pernah tanggal dari bibir manisnya.
"Tapi masalahnya sekarang adalah aku dan Om Pras sudah sepakat dengan mama papamu, jadi kalau tiba-tiba dibatalkan, kami akan dianggap mempermainkan keluargamu," ucap Nirmala, setelah diam beberapa saat.
"Untuk masalah itu,Tante tenang saja. Aku yang akan menyampaikan sendiri masalah ini pada mama dan Papa. Aku yakin mereka akan bisa menerimanya,"
"Nak, kalau Papamu,Tante yakin bisa menerima karena Tante tahu Papamu orang yang bijaksana dan selalu berpikir logis. Tapi Tante meragukan mamamu. Bagaimanapun sebagai sesama wanita, Tante tahu kalau sebagai seorang wanita, pasti lebih mengedepankan perasaan dibandingkan logika,"
Adelia tercenung mendengar ucapan Nirmala, karena yang dikatakan wanita setengah baya itu sangatlah benar.
"Emm, aku yakin kalau mama pasti bisa menerima juga,Tan. Percaya saja padaku, Tan!"
"Baiklah! Tante sebenarnya sedikit kecewa karena kamu tidak jadi menantu Tante. Tapi seperti yang kamu bilang, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita untuk tetap menjodohkanmu dengan Pandu. Karena bagaimanapun yang menjalaninya nanti adalah kalian berdua." pungkas Nirmala, akhirnya.
"Ya udah Tan, aku izin keluar ya! aku mau ke kantor Kak Pandu dulu. Aku mau berterus terang padanya!" Nirmala menganggukkan kepalanya, dan Adelia pun keluar dari mobil Nirmala, lalu berjalan menghampiri mobil sendiri.
__ADS_1
Tbc