Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Aku akan menjaga mereka untuk Arka


__ADS_3

"Kamu mengenal Ruby? tanya Tiara memastikan.


"Tentu saja aku mengenalnya. Dia itu istri dari Arka sahabatku," jawab Pandu membuat mata Tiara membesar, terkesiap kaget.


"Jadi kamu sahabatnya pria brengsek itu! aku yakin kalau kamu juga pasti sebrengsek dia!" tukas Tiara dengan tatapan sangat tajam.


"Apa kalau bersahabat, sifatnya juga sama?"


"Tentu saja," jawab Tiara dengan dingin.


"Aku dan Arka dua pribadi yang berbeda. Kami boleh saja bersahabat, tapi kami punya karakter masing-masing. Terserah kamu mau menilai apa. Lagian, Arka tidak se-brengsek yang kamu kira. Aku yakin kalau kamu pasti tahu kenapa Arka bisa bersikap seperti itu pada Ruby," ujar Pandu,merasa tidak suka mendengar kata-kata Tiara.


"Tetap saja. Dia seharusnya tidak bersikap seperti itu pada Ruby," Tiara tetap kekeuh pada pendapatnya. "Apa kamu datang ke sini mau memata-matai kami? tukas Tiara kembali dengan alis bertaut, curiga.


"Jangan asal tuduh! aku ke Bali karena ada urusan bisnis. Tapi beruntung sekali aku bisa bertemu kamu di sini, jadi aku bisa tahu kemana Ruby sebenarnya, bukan ke Luar Negri seperti yang dikatakan wanita yang mengaku kakaknya Ruby itu,"


"Jadi,apa yang akan kamu lakukan sekarang setelah tahu kalau kami ada di sini?"


"Pertanyaan macam apa itu?tentu saja aku akan mengabari Arka kalau istri yang dia cari ada di Bali," sahut Pandu santai sembari merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponsel.


Melihat hal itu Tiara dengan cepat merampas handphone Pandu dan menyembunyikan handphone itu di belakang punggungnya.


"Hei, kenapa kamu merampas handphoneku? ayo sini kembalikan " Pandu berusaha meraih Handphonenya kembali, tapi Tiara tidak kalah cepat untuk menghindar.


"Aku akan kembalikan, tapi aku mohon jangan kasih tahu Arka kalau Ruby ada di Bali," ucap Tiara.


Pandu mengrenyitkan keningnya.


"Kenapa tidak boleh?"


"Karena aku tidak mau pria itu dengan mudah bisa mendapatkan Ruby lagi. Aku ingin melihat bukti kalau dia benar-benar mengharapkan Ruby kembali, dengan perjuangannya," ucap Tiara dengan tegas.


Pandu terdiam dan menatap Tiara dengan tatapan yang semakin kagum. Dia tidak menyangka di balik sikap ketus wanita itu, ternyata dia sosok yang sangat setia kawan .

__ADS_1


"Hei ... em ... siapa namamu tadi? oh iya kata dasar dari pemandu, alias Pandu, kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Tiara.


Mendengar ucapan Tiara, sontak membuat Pandu tertawa kecil.


"Kamu lagi mengajar bahasa Indonesia ya?"


"Ah, terserah kamu mau bilang apa, yang penting sekarang, tolong kamu jangan kasih tahu Arka kalau Ruby ada di sini. Please ya!" Tiara menangkupkan kedua tangannya di depan wajah Pandu.


"Ini sangat sulit untuk aku iyakan. Karena aku sangat kasihan melihat keadaan Arka sekarang. Dia menjadi sosok pemurung, yang hanya sibuk menyesali kesalahannya dengan mengurung diri di kamar. Melamun, dan memukul dirinya sendiri karena memikul rasa bersalah yang berat. Apa kamu kira sebagai sahabat aku tidak akan merasakan berdosa, merahasiakan ini semua?".


Tiara tercenung, tidak bisa berkata apa-apa. Karena dia juga berada dalam posisi sebagai sahabat. Tiara kemudian membuang napasnya dengan sekali hentakan, berharap beban pikirannya ikut terbuang seiring dengan napas yang dia buang tadi.


"Aku tahu posisimu. Tapi, kamu juga harus mengerti kalau aku juga melakukan ini hanya ingin membalas perlakuan Arka pada Ruby. Selama empat tahun lebih dia memperlakukan Ruby dengan cara yang sangat kejam tidak seperti manusia, tidak adil rasanya jika dengan cepat Arka mendapatkan maaf dari Ruby. Aku hanya ingin memberikan pelajaran padanya dengan hidup penuh rasa bersalah untuk beberapa tahun ini. Setidaknya empat tahun ke depan atau lebih,biar impas," tutur Tiara dengan panjang lebar dan dengan nada berapi-api.


"Bukannya itu sangat kejam?" Pandu mengrenyitkan keningnya.


"Aku tahu. Tapi aku rasa apa yang dilakukan oleh Arka dulu tidak kalah kejam," sahut Tiara.


Tiara kembali terdiam. Tidak berpikir sampai ke arah sana.


"Kenapa kamu diam?Aku tahu kalau kamu sangat marah dengan apa Yang dilakukan oleh Arka dulu pada Ruby dan ingin membalasnya, tapi apa kamu yakin kalau ini juga yang sangat di inginkan Ruby? Apa kamu kira Ruby saat ini bahagia?"


lagi-lagi Tiara tidak bisa menjawab pertanyaan Pandu. Wanita itu diam dengan cukup lama, berpikir keras, tentang apa yang dia lakukan, benar atau salah.


"Aku tahu sebagai seorang sahabat kamu merasa kesal dengan sikap Arka selama ini. Tapi, kita tidak boleh egois. Kita juga harus melihat dari sudut pandang Ruby. Aku mau tanya, Apa dia sudah tahu apa yang terjadi? apa dia sudah tahu kalau Arka tidak jadi menikah dengan Jelita dan bahkan wanita itu sudah di penjara?" tanya Pandu dengan alis yang naik sedikit ke atas.


"Ruby sama sekali tidak tahu, karena kakaknya hanya menginformasikan padaku. Kalau untuk mengenai keadaan Ruby sekarang. Aku pastikan dia akan baik-baik saja dan bahkan dia sudah mulai ceria walaupun aku tahu, sesekali dia pasti akan melamun. Tapi, dengan kesibukan dia sekarang dia pasti akan tidak larut dalam kesedihan. Kenapa aku ada di sini? itu karena aku tidak akan membiarkan dia sendiri dengan kondisi kehamilannya. Jadi, please tolong izinkan aku memberikan pelajaran pada sahabatmu itu. Karena sejujurnya Ruby bukan sekadar sahabat bagiku, tapi dia sudah aku anggap seperti saudara kandungku. Aku hanya tidak ingin seseorang yang sudah memberikan luka pada sahabatku, dengan mudah bisa mendapatkan maaf. Benar-benar tidak adil. Setidaknya, aku ingin melihat sampai mana kesetiaannya. Apa dia akan bisa menunggu Ruby dengan jangka waktu selama itu? atau dengan mudah jatuh ke pelukan wanita lain?" tutur Tiara dengan panjang lebar.


"Bagaimana dengan Ruby? kalau seandainya Arka mampu untuk menunggu Ruby, apa kamu juga bisa memastikan kalau sahabatmu itu tidak akan berpaling pada pria lain? aku sudah mengenal Arka dengan cukup lama. Dia itu pria yang sangat setia, dan aku yakin kamu juga pasti sudah bisa menyimpulkan menilik dari kejadian yang sudah terjadi. Dia kalau sudah terikat dengan satu wanita, dia pasti tidak akan mudah berpaling, itulah dia." ujar Pandu panjang lebar.


"Begitu juga Ruby," ucap Tiara tegas.


Pandu bergeming diam seribu bahasa. Di lain sisi dia membayangkan kondisi Arka sahabatnya. Di lain sisi juga dia merasa kalau ucapan wanita di depannya itu, benar. Akhirnya setelah diam untuk beberapa saat, Pandu mengembuskan napasnya dengan keras. "Baiklah, aku tidak akan memberitahukan pada Arka di mana posisi Ruby sekarang. Tapi dengan satu syarat," Pandu tersenyum misterius.

__ADS_1


"Satu syarat? maksudnya?" Tiara mengrenyitkan keningnya.


"Aku akan memenuhi permintaanmu, tapi kamu harus bersedia menerima syarat yang aku ajukan, bagaimana?" senyum Pandu semakin misterius.


"Baiklah! apa syaratnya?" Tiara terlihat pasrah.


"Syaratnya kamu harus mau menikah denganku, bagaimana?"


"Kamu gila!" pekik Tiara. "Kita bahkan baru saja bertemu hari ini, bagaimana bisa kamu akan menikahiku?" sambungnya kembali.


"Memang kita baru saja bertemu, tapi hatiku sudah sangat yakin kalau kamu adalah orang yang tepat untuk aku jadikan istri. Sekarang keputusan ada di tanganmu. Bersedia atau tidak? tapi kamu sudah tahu konsekuensi jika kamu tidak bersedia, " Pandu mengerlingkan matanya.


"Arghhhh, gila kamu. Aku tidak mau!"


"Baiklah! kalau begitu aku akan menghubungi Arka sekarang," Pandu merampas handphonenya yang masih ada di tanga Tiara dan bertindak seakan hendak menghubungi Arka.


"Baiklah aku bersedia!" pungkas Tiara akhirnya, pasrah.


Pandu tersenyum dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


"Good! hai calon istriku!" goda Pandu. Bukannya mendapat jawaban yang sama, justru Pandu mendapat balasan wajah yang kusut dari Tiara. Namun,Pandu tidak merasa kesal dengan sikap yang ditunjukkan Tiara. Pria itu justru terkekeh.


"Kita akan menikah, tapi setelah Ruby melahirkan bagaimana? dan jangan sampai ada orang yang tahu kecuali orang tua kita masing-masing," Tiara mulai mengajukan syarat.


"Apapun yang kamu katakan aku bersedia, Sayang," ucap Pandu, sembari mengerlingkan matanya.


"Cih jangan panggil aku Sayang! aku geli mendengarnya!" Tiara berdecih tidak suka.


"Untuk sekarang, kamu bisa geli mendengarnya. Tapi,aku akan pastikan ketika suatu saat nanti aku tidak mengatakannya, kamu akan lebih tidak suka lagi," sahut Pandu.


"Besok aku akan kembali ke Jakarta dan akan datang ke sini kembali secepatnya. Aku akan pastikan dulu kalau Arka akan baik-baik saja dan memberi jaminan padanya kalau Ruby dan ketiga anaknya pasti akan baik-baik saja. Setelah itu, aku memutuskan untuk fokus mengurus bisnisku yang ada di sini dan sesekali saja ke Jakarta. Karena aku juga ingin menjaga Ruby dan ketiga anaknya, untuk Arka," pungkas Pandu, mantap pada keputusannya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2