Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 21


__ADS_3

Arka menutup kembali pintu kamar dan kembali menghampiri Ruby. Jangan tanya kondisi jantung mereka berdua sekarang. Yang pastinya bak genderang yang mau perang.


"Emm,apa aku boleh duduk?" tanya Arka, kikuk.


"Silakan!" Ruby juga tidak kalah kikuk.


Arka mendapatkan tubuhnya duduk di tepi ranjang dengan kaki menggantung menyentuh lantai, sementara Ruby masih dengan posisi semula, menyender ke sandaran ranjang.


Keheningan benar-benar terjadi, karena keduanya benar-benar tidak tahu mau melakukan apa.


"Emm, kita ngapain sekarang?" tanya Arka memecahkan keheningan.


"Aku juga nggak tahu," jawab Ruby.


"Emm, aku mau tanya, kamu tidak berubah pikiran kan, mau menerimaku kembali?" tanya Arka, hati-hati.


"Menurutmu?" Ruby bertanya balik.


"Ya, aku sih berharap kalau kamu tidak berubah pikiran, karena aku takut kamu merasa kalau bersamaku, hidupmu akan terancam," tutur Arka, mengungkapkan ketakutannya.


Ruby tersenyum manis, seraya menghela napasnya dengan sekali hentakan.


"Aku tidak berubah pikiran, Mas. Karena aku menyadari kalau aku tidak boleh egois. Ketiga anak kita, membutuhkan kedua orang tuanya,"ucap Ruby, menenangkan Arka.


Arka terdiam, merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya.


"Jadi, kamu menerimaku hanya karena anak-anak? bukan karena kamu mencintaiku?"


Ruby sontak terdiam, mendapatkan pertanyaan Arka. "Kalau aku jawab iya, apa kamu akan menarik kembali kata-katamu, dan tidak mau aku kembali lagi?" sudut mata Ruby sedikit naik ke atas.


"Tentu saja tidak! justru aku akan tetap berupaya membuatmu bisa mencintaiku," bantah Arka dengan cepat dan tegas.


"Jadi kalau begitu, buat apa kamu bertanya lagi, kalau hasilnya juga kamu tetap memaksaku untuk tetap bersama?" Ruby mengerucutkan bibirnya.


"Ya, walaupun seperti itu, aku tetap ingin tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya. Karena kalau kamu terpaksa, tetap juga kamu pasti tidak akan bahagia," ucap Arka. "Tapi walaupun seperti itu, aku akan tetap berusaha untuk membuat kamu cinta padaku," lanjut Arka lagi.


"Masalahnya kamu tidak perlu berusaha lagi untuk itu," ujar Ruby ambigu.


Arka mengrenyitkan keningnya, gagal paham dengan maksud perkataan Ruby.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin aku berusaha? kenapa?"


"Hmm, bukan seperti itu maksudnya. Maksudku,kamu tidak perlulah lagi berusaha karena sebenarnya aku sudah mencintaimu," ucap Ruby dengan sangat hati-hati sembari menggigit bibirnya.


Arka tercenung, diam untuk beberapa saat. Pria itu benar-benar speechless, merasa seperti sedang bermimpi.


"Ka-kamu serius?" tanya Arka, memastikan.


Senyum Arka mengembang dengan sempurna, begitu melihat Ruby menganggukkan kepalanya.


"Apa aku bisa memelukmu?" tanya Arka, gugup. Seumur-umur,baru kali ini dia merasa grogi.


"Bukannya tadi kamu sudah memelukku ketika aku hampir pingsan?"


"Oh, iya ya?" Arka menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Jadi kenapa kamu minta izin lagi sekarang?" tanya Ruby, menatap dalam-dalam mata Arka.


"Karena aku ... aku ... haish, kamu benar-benar menyebalkan!" ucap Arka, dengan tangan yang menarik tubuh Ruby ke pelukannya.


"Terima kasih, Sayang kamu sudah mau bersamaku lagi. Aku sempat hampir putus asa, tapi hatiku sama sekali tidak mengizinkanku untuk putus asa. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan yang sempurna, karena tidak ada yang sempurna, tapi aku akan berusaha semampuku untuk selalu membuatmu bahagia," tutur Arka panjang lebar, dan lugas.


Ruby tidak memberikan jawaban sama sekali. Wanita itu hanya tersenyum dengan air mata bahagia yang menetes di pipinya. Dia tidak menyangka kalau dia dan Arka masih ditakdirkan untuk bersama. Ruby merangkul pinggang Arka dan menyurutkan kepalanya di dada sang suami, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arka, yang selama ini sangat dia rindukan. Ruby benar-benar merasa nyaman.


Setelah berpelukan dengan cukup lama, Arka melerai pelukannya dan mengangkat wajah Ruby, untuk melihat wajah istrinya itu. Dia menyeka air mata di sudut mata sang istri dan mencium kening wanita itu. Pandangannya sekarang mengarah ke arah bibir Ruby dan seakan terhipnotis Arka mulai menunduk hendak mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya. Sementara itu, Ruby sudah memejamkan matanya, siap untuk menerima ciuman dari Arka.


Tok tok tok


Suara ketukan berkali-kali dari pintu sontak membuat kedua bibir itu gagal untuk saling menyapa.


"Sialan! brengsek! siapa sih orang gila di luar sana!" Arka menggeram kesal seraya melangkah untuk membukakan pintu.


Arka membuka pintu dengan keras seraya memberikan tatapan membunuh bagi siapa saja yang ada di depan pintu itu.


"Nih, anak kalian berdua! nangis dari tadi, sepertinya butuh susu!" belum sempat Arka meluapkan amarahnya, si pengetuk pintu yang ternyata Risa sudah lebih dulu buka suara.


"Bukannya ada susu formula? kan bisa dikasih itu dulu!" Arka mulai protes.


"Dilarang protes! ini hukuman buatmu atas apa yang kamu lakukan pada suamiku tadi," sepertinya Risa sudah kembali ingat tujuan awalnya.

__ADS_1


"Kok jadi seperti ini sih?" Arka menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya karena seperti itu. Udah ya, aku pergi dulu! aku mau bulan madu sama suamiku, mumpung masih di sini," pungkas Risa sambil berlalu pergi tanpa rasa bersalah.


"Sialan! umpat Arka, kesal. Namun rasa kesalnya hanya bertahan untuk beberapa saat karena begitu melihat wajah ke-tiga anaknya di dalam kereta dorong, sembari tersenyum ke arahnya, kekesalannya langsung menguap entah kemana.


"Aduh anak-anak Papa, kenapa tampan dan cantik sekali sih? iya lah, papanya kan tampan," Arka yang bertanya tapi dia juga yang menjawab.


Arka kemudian, mendorong masuk kereta dorong anak-anaknya dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.


"Anak-anak, Mama!" Ruby menghambur menghampiri ketiga anaknya.


"Anak-anak, Papa juga!" Arka tidak mau kalah.


"Iya, iya, anak papa dan mama!" ucap Ruby, tersenyum sembari mentoel-toel pipi ke tiga putra-putrinya.


"Kita sebaiknya bersiap-siap dan kita kembali ke Jakarta sekarang juga," celetuk Arka tiba-tiba.


"Kenapa?" Ruby mengrenyitkan keningnya.


"Ya, karena memang aku sudah berjanji akan membawa kalian pulang ke Jakarta secepatnya,"


Ruby bergeming, diam seribu bahasa. Ada perasaan berat hati untuk pulang ke Jakarta, membayangkan tatapan sinis dari ibu mertuanya nanti. "Mas, kenapa kita tidak kembali ke Bali aja?" tanya Ruby dengan nada lirih.


"Sayang, rumah kita ada di Jakarta. Kalau rumah yang di Bali bisa kita tempati kalau kita berkunjung ke Bali. Aku berjanji kalau kita akan sering-sering ke Bali untuk memantau restoranmu. Dan satu hal lagi, di Jakarta kita akan tinggal di rumah kita sendiri, rumah yang pernah aku berikan padamu dulu," tutur Arka, yang seakan mengerti kegundahan hati Ruby.


"Mas, apa kamu tidak keberatan kalau kita tinggal terpisah dengan kedua orangtuamu? apa kamu tidak menganggap kalau aku __"


"Aku tidak keberatan sama sekali. Karena memang sebaiknya begitu. Karena aku tahu, kamu pasti akan merasa lebih aman tinggal di rumah sendiri. Kalau masalah kedua orangtuaku, kita bisa kan sering-sering mengunjungi mereka," sambar Arka sebelum Ruby selesai dengan ucapannya.


Ruby tersenyum manis, mendengar ucapan Arka. Namun, senyumnya hanya bertahan untuk beberapa saat karena tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Mas, bukannya rumah itu ditempati oleh Kak Risa dan kak David?"


"Kamu tenang saja, aku juga tidak sekejam itu. Aku sudah membeli kembali rumah yang mereka jual. Dan Rumah papa kamu juga sudah aku buat atas namamu, dan katanya sekarang sudah ditempati saudara sepupumu,"


Ruby sontak menghambur, memeluk Arka.


"Terima kasih, Mas, terima kasih!" ucap Ruby, dengan tulus.


"Ya udah, sekarang kita sebaiknya bersiap-siap dan langsung kembali ke Jakarta. Jangan kasih tahu ke Kakakmu dan David, Kita biarkan kakakmu dan David menikmati bulan madunya dulu, menikmati indahnya pantai, setelah mereka kembali, mereka akan panik karena kita pulang lebih dulu. Hehehehe!" ucap Arka, sembari terkekeh, membayangkan wajah panik Risa dan David.

__ADS_1


Tbc


Nanti akan aku usahakan untuk up lagi ya, Guys. Karena memang kondisiku kurang sehat sekarang. 🥰🥰🥰


__ADS_2