
"Lin, aku mau ke rumah Tuan Bima, mengantarkan dokumen-dokumen ini, ya!" ucap Jenny, pada salah satu rekan kerjanya di kantor.
"Baiklah, hati-hati! mudah-mudahan kali ini sukses!" sahut Cherrylin dengan nada menggoda.
"Ihh, kamu ah. Sukses apaan sih?" ucap Jenny yang berpura-pura tidak tahu ke mana arah pembicaraan rekan kerja sekaligus teman dekatnya itu.
"Ih, tidak tahu apa pura-pura tidak tahu sih? tadi kamu dandan buat apa kalau bukan mau ketemu Tuan Bima. Wajahmu sekarang ceria, beda ketika Tuan Bima masih di Indonesia. Pasti kamu sekarang kangen sekali kan?". Cherrylin masih saja melontarkan godaannya.
"Ih, apaan sih! aku pergi dulu! lama-lama di sini, nanti kamu akan terus melantur," Jenny memutar tubuhnya dan mengayunkan kakinya hendak melangkah pergi.
"Jen, tunggu dulu!" panggil Cherrylin tiba-tiba membuat Jenny mengurungkan langkahnya
" Ada apa lagi?"
"Aku ada ide, supaya kamu bisa mendapatkan Tuan Bima. Kamu mau tidak dengar ideku?"
Jenni mengrenyitkan keningnya sebentar, Kemudian menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang membawa Adelia dan Bima akhirnya tiba di depan sebuah rumah pribadi yang berada di kawasan Orchard road, yang merupakan salah satu kawasan mewah di Singapura.
"Ayo turun,Del!" ucap Bima setelah membuka pintu mobil untuk Adelia
"Kita sudah sampai ya?" tanya Adelia sembari keluar dari dalam mobil.
"Iya. Ini rumahku dan sekarang sudah menjadi rumahmu juga. Tidak sebesar rumahmu di Jakarta, tapi ini nyaman kok," ucap Bima dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Jhon tolong bawa koper Nyoya me dalam ya!" titah Bima, pada supirnya.
"Baik, Tuan!"
Bima kemudian meraih tangan Adelia, menggandeng tangan wanita itu untuk berjalan menuju pintu masuk ke dalam rumah.
"Nanti kalau kamu mau jalan-jalan dan beli sesuatu, kamu bilang saja ke aku, kita akan pergi sama-sama," ucap Bima, dan Adelia menanggapi dengan anggukan kepala.
"Ayo masuk!" ucap Bima, setelah pria itu membuka pintu.
"Wah, rumah kamu indah sekali! aku yakin pasti betah di sini," ucap Adelia dengan raut wajah berbinar.
__ADS_1
Bima hanya tersenyum mendengar ucapan Adelia. " Ayo kita ke kamar!" Bima kembali buka suara, tanpa melepaskan gandengan tangannya.
"Emm tunggu dulu, ada telepon masuk," tiba-tiba Bima berhenti melangkah dan melepaskan tangannya dari tangan Adelia. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan dalam saku dan melihat panggilan masuk dari Tomy sang asisten.
"Hallo Tom! ada apa?"
"......"
"Iya, aku baru saja sampai di rumah dan aku meminta Jenni mengantarkan dokumen yang harus aku tandatangani ke rumah, karena aku mau menemani istriku dulu di rumah. Emangnya kenapa?"
"...."
"Iya, aku sudah menikah! maaf tidak memberitahukanmu, karena aku tahu kamu pasti sibuk mengurus perusahaan. Kenapa kamu belum jawab pertanyaanku tadi? ada apa apa kamu meneleponku? Bima kembali mengulangi pertanyaannya.
"......"
"Serius? brengsek! kalau begitu, terima kasih buat informasinya!" Wajah Bima terlihat memerah, rahangnya mengeras sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ada apa, Kak?" Adelia mengrenyitkan keningnya.
"Tidak ada apa-apa! hanya masalah kantor,". Bima kembali tersenyum.
"Sudahlah tidak apa-apa! percayalah aku bisa menanganinya sendiri. Sekarang aku mau masuk ke kamar dulu, mau bersih-bersih sebentar, sebelum Jenny datang. Kamu mau ikut?"
"Kakak duluan saja. Aku mau ke dapur sebentar. Aku haus soalnya,"
"Ya udah, nanti kalau sudah selesai, kamu langsung ke kamar dan istirahat!" Adelia mengangguk-anggukan kepala, mengiyakan.
Baru saja Adelia meneguk segelas air mineral, bel pintu tiba-tiba berbunyi. Adelia sontak mengayunkan kakinya, melangkah untuk membukakan pintu.
Sementara di luar sana, tampak seorang wanita yang memakai pakaian dengan sedikit seksi. Wanita itu terlihat memperbaiki penampilannya, membenarkan rambutnya dan membenarkan lipstiknya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Jenny.
Wanita itu benar-benar terlihat tidak sabar m, karena memang dia sudah sangat merindukan Bima.
Jantung wanita itu seketika berdebar ketika mendengar langkah kaki, yang sudah mendekat. Detak jantung itu semakin cepat, ketika melihat tanda-tanda pintu aka terbuka.
"Selamat siang Tu ...." Jenny menggantung ucapannya, kaget melihat sosok yang membuka pintu bukan sosok yang dirindukannya, melainkan seorang wanita cantik yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Ya, cari siapa?" tanya Adelia, berbasa-basi, padahal dia yakin kalau wanita di depannya itu pasti Jenny, sekretaris suaminya.
__ADS_1
"Cih, dari pakaiannya sepertinya dia berniat mau menggoda Kak Bima. Dasar wanita penggoda!" umpat Adelia dalam hati sembari melihat tubuh Jenny dari atas sampai ke bawah. "Tunggu dulu! apa selama ini, dia juga berpenampilan seperti ini? sial! awas saja kalau berniat menggoda Kak Bima!"
"Siapa kamu? kenapa kamu ada di rumah Tuan Bima? dan kenapa kamu melihatku seperti itu? " bukannya menjawab pertanyaan Adelia, Jenny malah balik bertanya dengan tatapan tidak suka pada Adelia.
"Kenapa kamu malah balik bertanya? aku tanya kamu cari siapa, seharusnya kamu jawab, bukan balik bertanya. Itu benar-benar tidak sopan. Lagian, apa penting kamu tahu siapa aku? yang jelas, aku juga pemilik rumah ini sekarang," ucap Adelia ketus.
"Rumahmu? ini jelas-jelas rumah Tuan Bima, bagaimana bisa kamu bilang kalau ini rumah kamu juga? Anda bermimpi ya, Nona!" ledek Jenny dengan tertawa mengejek.
"Aku ini_"
"Oh iya aku tahu. Apa Anda ini pembantu baru Tuan Bima? karena setahuku, orang tua Tuan Bima sudah pindah ke Jakarta, membawa serta pembantunya dulu. Tapi sepertinya penampilan kamu terlalu wah, sebagai seorang pembantu. Kamu punya niat menggodanya Tuan Bima Ya?" belum selesai Adelia bicara, Jenny sudah memotong dengan cepat.
"Enak saja bilang aku pembantu. Asal kamu tahu aku ini __"
"Siapa yang datang, Del?" terdengar suara Bima, yang membuat Adelia urung bicara.
"Selamat siang, Tuan Bima!" Jenni tersenyum lebar dan langsung masuk begitu saja, dengan sedikit menyenggol tubuh Adelia.
"Aduh!" rintih Adelia sembari menyentuh lengannya.
"Maaf! aku tidak sengaja. Soalnya tadi kamu menghalangi jalan!" ucap Jenny, tersenyum meledek.
"Kamu tidak apa-apa, Del? Bima menghambur merangkul pundak Adelia dan tentu saja hal itu membuat Jenny terkesiap kaget.
"Lain kali kamu harus sopan! kamu bahkan belum disuruh masuk kan?" tegur Bima dengan sorot mata tajam ke arah Jenny, membuat wanita itu semakin bingung.
"Sayang, pundakku sakit!" tiba-tiba Adelia memanggil Bima dengan sebutan sayang dan dengan nada yang manja. Kali ini Bima yang kaget dengan sikap manja Adelia yang tiba-tiba.
"Heh, dia panggil aku sayang? apa itu akibat benturan di lengannya? tapi kan nggak mungkin?" batin Bima bertanya-tanya.
"Sayang, kamu dengar nggak sih!" Adelia mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Iya, iya, Sayang aku dengar kok!" Bima akhirnya paham, kenapa Adelia tiba-tiba berubah. Jangan lupakan Jenny yang juga tersentak kaget mendengar wanita yang dia kira pembantu memanggil Bima dengan sebutan sayang.
"Jenny, lain kali kamu tidak boleh langsung masuk kalau belum dipersilakan. Sekarang aku minta kamu, minta maaf pada istriku!"
Bagaimana tersambar petir, tanpa adanya angin dan hujan, begitulah yang dirasakan oleh Jenny sekarang.
"I-istri?" gumam Jenny, lirih di sela-sela rasa kagetnya.
__ADS_1