Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 41


__ADS_3

"I-istri?" gumam Jenny, lirih di sela-sela rasa kagetnya.


"Oh iya, lupa! kamu belum tahu. Kenalkan ini Adelia, istriku! kami sudah menikah seminggu yang lalu. Maaf juga tidak memberitahukan kamu, acaranya juga di Jakarta," ucap Bima, dengan wajah datar.


Wajah Jenny seketika berubah pias. Wanita itu, menatap Adelia dengan tatapan yang sukar untuk dibaca. Tangan Jenny juga sedikit bergetar, karena benar-benar tidak menyangka kalau dirinya akan mendengar kabar, pria yang dia sukai bertahun-tahun itu, sudah menikah.


"Oh ya kenapa kamu diam saja? mana berkas yang aku minta?" suara Bima kembali menyadarkan Jenny dari lamunannya.


"Kamu duduk dulu! aku cek semua dulu berkas-berkasnya!" Bima mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa, disusul oleh Adelia yang langsung duduk di samping pria itu. Mata Adelia terlihat tetap mengawasi sikap Jenni.


"Kenapa kamu masih berdiri? ayo duduk!" Bima menatap Jenny dengan alis yang bertaut.


"I-iya, Tuan!" Jenny dengan gugup menjawab dan langsung duduk di depan Bima.


"Aku benar-benar tidak percaya kalau wanita ini adalah istrinya. Bukannya Tuan Bima selama ini menyukai seorang wanita yang sudah menikah dan seingatku namanya Ruby. Tidak mungkin kan, dia secepat ini langsung menikah? aku saja yang sudah sangat lama, mengenal Tuan Bima, sulit mendapatkan hatinya. Aku yakin, pasti wanita ini sudah melakukan sesuatu yang buruk untuk menjerat Tuan Bima makanya bisa langsung menikah. Aku yakin kalau dia hanya mau hidup enak saja, makanya melakukan berbagai cara untuk mendapatkan, Tuan Bima." Jenny mulai membatin, sembari menatap Adelia dengan tatapan sinis.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Adelia. Wanita itu, balik menatap sinis ke arah Jenny.


"Sepertinya dia mau mengajakku perang. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan," bisik Adelia pada dirinya sendiri.


"Sayang, aku mengantuk. Masih lama tidak kerjanya?" Adelia dengan sengaja merangkul tangan Bima, dan meletakkan kepalanya di atas pundak pria itu.


"Kalau kamu mengantuk, tidur saja, di kamar


Sayang. Nanti aku akan menyusul!" sahut Bima yang akhirnya memilih mengikuti permainan Adelia.


"Tapi aku maunya ditidurkan sama kamu," nada suara Adelia semakin manja, membuat seorang wanita yang ada di depan mereka, merasa panas hati.


"Cih, sok manja!" umpat Jenny dalam hati.


"Ditidurkan, atau ditiduri?" Bima menatap Adelia, sembari mengerlingkan matanya.


"Ihh, mesum! ada sekretarismu di sini Sayang. kasihan Dia, kalau panas sendiri," Adelia mencubit lengan Bima yang langsung pura-pura kesakitan.


"Hehehe, Adelia pintar juga ternyata aktingnya," batin Bima, berusaha menahan tawa.


Sementara itu, Jenny mulai terlihat tidak tenang. Wanita itu dengan sengaja mengalihkan tatapannya ke arah lain, benar-benar merasa gerah dengan kemesraan yang dipertontonkan oleh Adelia.


"Nona Jenny, kenapa? anda haus ya? sepertinya anda terlihat kepanasan," sindir Adelia, dengan bibir yang tetap tersenyum.


"Apa iya, Jenny?" Bima memicingkan matanya,ke arah Jenny. "Kalau iya, bisa kamu ambil minum sendiri? soalnya Adelia biasanya dilayani oleh pembantu di rumahnya," lanjut Bima kembali.


"Dilayani? maksudnya? siapa wanita ini sebenarnya? kenapa Tuan Bima bilang, dia biasa dilayani pembantu?" Jenni menatap curiga pada Adelia.


"Jenni? apa kamu keberatan mengambil minum sendiri?" Bima kembali buka suara.


"I-iya, Tuan. Aku akan ambil sendiri!" ucap Jenni dengan cepat seraya berlalu pergi menuju dapur.


"Aku mau ikut dia ke dapur, Kak!" Adelia ikut berdiri dan menyusul Jenni. Sementara itu, Bima hanya bisa tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jenni meraih gelas dan mengisinya dengan air putih. Wanita itu pun meneguk air putih itu sampai habis, dengan wajah yang memerah.Bahu wanita itu terlihat turun naik karena benar-benar merasa kesal.


"Wah, sepertinya kamu benar-benar haus, ya Nona Jenni?" Adelia ternyata sudah berdiri di belakang Jenni, membuat wanita itu, terjengkit kaget.


"Maaf ya, bukannya aku tidak mau mengambilkan minum untukmu, tapi aku tidak terbiasa untuk mengambilkan minum, untuk orang yang sepertinya memiliki niat buruk untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya," ujar Adelia, menyelipkan sindiran.


"Apa maksudmu? kamu menyindirku ya?" Jenni mulai terpancing.


"Astaga! maaf kalau kamu merasa tersindir!". Adelia memasang wajah pura-pura bersalahnya


"Tidak usah basa-basi! kamu melakukan cara licik ya untuk menjerat Tuan Bima? ayo ngaku!" tukas Jenni menatap tajam ke arah Adelia.


Adelia menautkan kedua alisnya dan tersenyum smirk.


"Kamu sepertinya terbiasa melakukan hal licik, sehingga kamu bisa memiliki pikiran negatif seperti itu. Apa dugaanku benar?" Adelia, masih bersikap santai.


"Jangan asal bicara! kalau aku biasa melakukan hal seperti itu, sudah dari dulu aku melakukannya, dan pastinya Tuan Bima sudah menjadi suamiku sekarang," sangkal Jenni dengan cepat.


"Wah wah, berarti secara tidak langsung kamu mengakui kalau kamu sebenarnya tidak murni hanya ingin bekerja, tapi sebenarnya mempunyai perasaan pada suamiku dan aku curiga kalau kamu sebenarnya ingin menggoda suamiku dengan pakaian seksimu ini," ucap Adelia, menatap Jenni dari atas sampai ke bawah.


"Enak saja! jangan asal menuduh! aku memang terbiasa berpakaian seperti ini!". Jenni mulai terlihat gelagapan.


"Wah kalau begitu, aku benar-benar salut dengan suamiku yang bisa tidak tergoda dengan penampilan seksi kamu. Padahal, denganku yang hanya memakai kaos kebesaran saja, dia langsung main sergap saja. Berarti suamiku, melihatku lebih seksi kali ya, walaupun aku tidak mengumbar apapun,"


"Sialan! apa kamu mau bilang kalau tubuhku tidak menarik?" wajah Jenny, memerah karena amarah yang amat sangat.


"Kenapa anda terlalu sensitif, Nona Jenny? apa anda sedang datang bulan?"


"Jadi maksud ucapan kamu tadi apa? bukannya itu sedang menyindirku?" bahu Jenny terlihat turun naik.


"Nona Adelia! apa kamu pikir Tuan Bima juga mencintaimu? tidak sama sekali, karena aku tahu kalau dia mencintai wanita lain,"


Adelia sontak menghentikan langkahnya dan kembali memutar tubuhnya. Wanita itu melihat Jenny menatap sinis ke arahnya. Entah kenapa tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman yang timbul di dalam hatinya, padahal dia juga tahu jelas kalau memang Bima mencintai wanita lain yang tidak lain kakak iparnya sendiri. Dia merasa hatinya tiba-tiba merasa sakit mengingat suaminya tidak mencintainya.


Jenni terlihat tersenyum menang, melihat wajah muram Adelia.


"Dari mana kamu tahu kalau aku mencintai wanita lain, Jenni?" tiba-tiba Bima sudah berdiri di ambang pintu. Tatapan pria itu benar-benar sangat tajam bak sebilah pisau belati yang siap menghujam jantung.


Jenni sontak terkesiap kaget dan kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


"Kenapa kamu diam? apa selama ini kamu diam-diam mencari tahu tentangku? dan apa maksudmu mencari tahu tentangku?" sambung Bima kembali sembari melangkah mendekati Adelia.


Jenni benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Menurutmu emangnya siapa wanita yang aku cintai itu? apa kamu tahu siapa dia?" cecar Bima, membuat Jenni semakin terdesak.


"Kenapa kamu diam?" aura Bima terlihat semakin dingin.


"Biar aku jawab, kalau kamu kesulitan untuk menjawabnya! nama wanita itu Ruby kan?" bukan Bima yang berbicara melainkan Adelia yang kini sudah bisa menguasai perasaannya.


"Ke-kenapa kamu bisa tahu?" tanya Jenni dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Itu karena aku sendiri yang berterus terang padanya, bukan dia yang cari tahu. Kamu tahu, kenapa seorang pria bisa mengakui sesuatu yang pribadi pada seorang wanita? itu karena dirinya sudah merasa nyaman dengan wanita itu dan kemungkinan lainnya, pria itu sudah memiliki perasaan lebih pada wanita itu sehingga tidak mau menutupi apapun agar tidak terjadi kesalahpahaman di masa depan. Aku rasa sampai di sini kamu bisa paham." tutur Bima dengan panjang lebar, seraya merangkul pinggang Adelia, membuat jantung Adelia seketika berdetak dengan cepat.


Jenni benar-benar terpaku, tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Oh ya, Jenni sekarang kamu bisa pergi dari sini, kembali ke kantor, bereskan barang-barang kamu dan kembali ke Indonesia!"


Jenni benar-benar shock mendengar ucapan Bima. Dia benar-benar tidak menyangka kalau karirnya akan segera berakhir.


"Tuan Bima, kenapa anda memecatku karena hanya masalah ini saja. Ini benar-benar tidak adil. Padahal aku sudah banyak berkontribusi pada perusahaan. Tidakkah Tuan bisa mempertimbangkan kontribusiku itu?"


"Aku menghargai kontribusimu makanya aku tetap memberikan kamu imbalan yang pantas sesuai dengan kontribusi itu. Seandainya kamu tidak memiliki niat buruk untuk menjebakku, mungkin saja aku masih bisa memberikan kamu kesempatan, tapi niat burukmu itu benar-benar tidak bisa dimaafkan,"


Wajah Jenni seketika berubah pucat, seperti tidak dialiri darah oleh sama sekali. Sementara itu, Adelia terlihat kebingungan, tidak mengerti maksud perkataan suaminya.


"Niat buruk apa yang Tuan maksud? kenapa Tuan tega menuduhku?" Jenni berusaha membela diri.


"Aku tahu kalau kamu membawa sesuatu di dalam tasmu itu. Kamu membawa obat perangsang kan? kamu berniat menjebakku, dengan memberikan aku minuman yang akan kamu campur dengan obat itu. Setelah itu, aku akan memaksa kamu untuk melakukan hubungan badan, sehingga mau tidak mau aku harus menikahimu," tutur Bima yang membuat Jenni semakin pucat.


"Dari mana Tuan Bima tahu? bukannya itu itu tadi baru aku rencanakan dengan Cherrylin?" batin Jenni.


"I-itu tidak benar, Tuan. Kamu tidak boleh memfitnahku!" Jenni berusaha untuk menyangkal.


"Jadi menurutmu apa ini?" Bima menunjukkan rekaman video pembicaraan Jenni dengan Cherrylin yang dikirimkan oleh Tomy asistennya.


Ya, Tomy mendengar semua rencana Jenni dan Cherrylin tadi. Pria itu pun langsung memutuskan untuk menelepon Bima agar waspada.


"Brengsek! dasar wanita murahan!"


Adelia terlihat menggeram, dan hendak menghambur untuk memberikan pelajaran pada Jenni. Beruntungnya Bima langsung menahan tubuh istrinya itu.


Jenni benar-benar tidak bisa mengelak lagi.


"Da-dari mana Tuan mendapatkan rekaman itu?"


"Tidak perlu kamu tahu aku dapat dari mana. Tapi, yang jelas ini sudah bisa menjadi bukti. Sekarang kamu pergi dan bereskan semua barang-barangmu!"


"Tuan, aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu! kenapa kamu tidak menyadari perasaanku selama ini? aku selalu menutup diri dari pria-pria yang mendekatiku, berharap suatu saat kamu bisa melihatku dan membalas perasaanku. Tapi, kenapa kamu malah memilih wanita lain? apa makna semua hal baik yang Tuan tunjukkan padaku?" Jenni mulai menangis.


"Jenni, aku baik pada semua orang bukan hanya padamu. Aku baik padamu karena kamu karyawanku. Kamu yang salah memaknai sikap baikku selama ini. Aku sama sekali tidak pernah memiliki perasaan padamu. Sekarang, kamu sebaiknya pergi saja. Kamu pulang ke Indonesia atau ingin tetap mencari pekerjaan di negara ini, terserah kamu. Kita sama sekali tidak ada urusan lagi!" tegas Bima.


"Kamu benar-benar tidak punya perasaan, Tuan Bima. Aku sudah lama berada di sampingmu. Selalu membantu setiap ada permasalahan, tapi kenapa aku bisa kalah dengan wanita ini? padahal belum tentu dia tulus mencintaimu. Dia pasti hanya ingin hartamu, bukan sepertiku yang benar-benar tulus mencintaimu!" pekik Jenni dengan air mata yang semakin banyak menetes membasahi pipinya.


"Jenni, kamu tidak tahu apa-apa, jadi jangan asal bicara! kamu tidak mengenal siapa Adel. Kalau kamu tahu siapa dia, kamu tidak akan berani menuduh dia macam-macam. Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini. Kamu tahu pintu keluar kan?" Bima terlihat semakin dingin.


Jenni, mengayunkan kakinya, melangkah pergi. Namun, wanita itu tiba-tiba berhenti karena Bima kembali memanggilnya.


"Iya,Tuan Bima!" Jenni menyunggingkan senyumnya, berharap Bima sudah berubah pikiran.


"Aku cuma mau mengatakan padamu, aku masih berbaik hati padamu. Aku tidak akan memberitahukan hal ini pada Arkana Rafassya. Jadi, kalau kamu berniat pulang ke Indonesia dan ingin mencari pekerjaan, kamu bisa tetap bisa bekerja. Kenapa akau membawa-bawa nama Arkana, itu karena wanita yang kamu hina ini adalah adik kesayangannya. Jadi, kalau dia tahu masalah ini, dia pasti tidak akan segan untuk memasukkanmu ke dalam daftar hitam!"


Jenni terlihat semakin shock, begitu mengetahui siapa Adelia. Dia tidak menyangka wanita yang berpenampilan sederhana itu adalah adik dari Arkana Rafassya, pengusaha besar di Indonesia.

__ADS_1


"Satu lagi, Jenni, kamu jangan pernah berniat mencelakai istriku, karena sekali saja dia celaka dengan cara yang tidak masuk akal, orang pertama yang aku cari adalah kamu!" pungkas Bima, memberikan ancaman.


Tbc


__ADS_2