
"Hai, apa kami terlambat?" sapa Bima, menutupi tubuh Tiara.
"Oh, tidak sama sekali. Acaranya belum dimulai kok," sahut Adelia, dengan senyum manisnya. Hanya Adelia yang tersenyum menyambut Bima, selainnya bersikap dingin. Arka bahkan dengan posesifnya langsung merangkul pinggang Ruby. Sedangkan Ruby terpaksa tidak menyapa, karena tatapan Arka yang mengintimidasi.
"Syukurlah!" Bima menghela napas, lega.
"Kak Tiara mana? Kakak tidak datang sendiri kan?" mendengar nama Tiara disebutkan oleh Adelia, membuat jantung Pandu bergetar seketika.
Bima sontak menatap ke sampingnya, baru menyadari kalau Tiara tidak ada.
"Aku di sini!" celetuk Tiara, muncul dari belakang Bima.
Semua orang sontak menatap ke arah Tiara, tak terkecuali Pandu. Pria itu bergeming, menatap Tiara tanpa berkedip. Dia terpukau dengan penampilan Tiara yang lebih cantik dari biasanya. Namun, rasa kagumnya hanya bertahan untuk beberapa saat. Rasa kagum itu kini berganti dengan rasa kesal melihat penampilan Tiara yang menurutnya terlalu terbuka, hingga memperlihatkan kulit punggungnya.
"Brengsek, kenapa sih dia berpenampilan seperti itu? kenapa Bima memberikan dia gaun yang itu?" Pandu menggerutu di dalam hati.
"Selamat ya__"
"Selamat malam semuanya!" belum sempat Tiara menyelesaikan ucapannya selamatnya pada Adelia dan Pandu, dari arah podium terdengar suara seorang pria setengah baya menyapa para tamu undangan.
"Malam ini adalah malam yang membahagiakan bagi kami, karena Pandu putra kami satu-satunya, akhirnya sudah menemukan tambatan hatinya. Malam ini akan manjadi malam untuk mengikat mereka dalam ikatan pertunangan, yang mungkin dalam waktu dekat akan berubah ke ikatan perkawinan. Jadi, terima kasih buat kesediaan kalian semua dalam menghadiri acara pertunangan ini," ucap pria yang merupakan papanya Pandu.
"Nak, Pandu mari maju ke depan, Nak! bawa juga Tiara bersamamu!" pinta Prasetyo, papanya Pandu.
Pandu tersenyum dan menghampiri Tiara yang kebingungan begitu namanya disebutkan.
Pandu mengulurkan tangannya ke arah Tiara yang masih bergeming di tempatnya. Wanita itu sama sekali tidak menyambut uluran tangan Pandu, karena dia benar-benar masih gagal paham.
"Kak, aku bukan Adelia. Papamu salah sebut nama," bisik Tiara, sembari mencondongkan tubuhnya ke arah Pandu.
"Pandu, kenapa kamu masih diam di sana? ayo, bawa Nak Tiara ke panggung ini!" kembali Prasetyo memanggil anaknya.
__ADS_1
"Kak, Pandu! ayo maju! Kamu dan Kak Tiara disuruh maju ke depan!" ucap Adelia sembari menarik tangan Tiara dan meletakkannya ke telapak tangan Pandu.
"Adel, ada apa ini sebenarnya? kamu jangan aneh-aneh!" Tiara menarik kembali tangannya.
"Papa tidak salah sebut nama, karena yang bertunangan malam ini, adalah kita," ucapan Pandu barusan membuat mata Tiara membesar, terkesiap kaget. Wanita itu bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya, saking tidak percaya.
Tiara menoleh ke arah Adelia, menatap wanita itu dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Kak, acara ini memang direncanakan untuk pertunangan kalian berdua,bukan untukku dan Kak Pandu. Karena aku tidak mau bertunangan dengan orang yang sama sekali tidak mencintaiku," bisik Adelia.
"Semua ini, aku dan semua keluarga yang merencanakannya. Kak Arka, Kak Ruby,Mama, Papa, Om Prass, Tante Nirmala dan Kak Bima. Bahkan Om Prass dan Tante Nirmala sudah melamar Kak Tiara pada orang tuanya. Coba kakak lihat ke arah sana! itu mama dan Papanya Kak Tiara kan?" lanjut Adelia lagi sembari menunjuk ke suatu tempat.
Tiara melihat ke arah tangan Adelia menunjuk. Wanita itu kembali kaget ketika melihat kehadiran kedua orangtuanya di tempat itu.
"Aku benar-benar tidak paham, Del. Bukannya kamu itu mencintai Kak Pandu? kenapa kamu menyia-nyiakan kesempatan ini?" akhirnya Tiara buka suara.
"Kak, bisa tidak aku jelaskan nanti saja, setelah acara selesai?" ucap Adelia, seraya tersenyum.
"Tidak! aku tidak akan maju karena aku masih belum mengerti ada apa dengan semua ini. Dan kamu juga Kak, apa kamu juga tahu semua ini?" Pandu menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Sayang, ayo maju! nanti para tamu undangan curiga. Kami janji akan menjelaskan setelah acara selesai,"
Tiara masih bergeming,dan menatap ke arah Adelia. Yang ditatap pun tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.
"Kak Tiara,Kakak tidak usah khawatir padaku. Setelah aku pikir-pikir ternyata aku sama sekali tidak mencintai Kak Pandu. Aku sudah menemukan cinta sejatiku," ucap Adelia, yang masih melihat ada keraguan di mata Tiara.
Tiara terkesiap kaget mendengar ucapan Adelia. "Siapa? kenapa bisa begitu cepat perasaan kamu berubah?" tanya Tiara dengan alis bertaut. Jangan lupakan Pandu yang mulai sudah tidak tenang, menunggu. Tiara ikut maju bersamanya ke depan.
"Kakak tentu saja mengenalnya. Ini dia orangnya!" Adelia meraih tangan Bima dan menggandengnya.
Tiara semakin kaget mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut Adelia.
__ADS_1
"Kenapa bisa?"
"Ra, bisa tidak nanti saja nanyanya? Papa dan mama kita sudah menunggu lama, begitu juga dengan para tamu," bisik Pandu.
"Ya, Pandu benar. Kami berjanji, kalau kami akan menjelaskannya nanti," Bima buka suara menimpali ucapan Pandu.
"Tapi aku belum sepenuhnya yakin dengan Adelia dan Kak Bima karena __"
"Kalau kamu tidak yakin, kami juga malam ini akan bertunangan sama seperti kalian berdua. Itu menandakan kalau kami juga tidak mau berlama-lama lagi," ucap Bima, membuat yang lainnya kaget, tak terkecuali Arka sang kakak.
"Enak sekali kamu mau ajak adik saya tunangan tanpa izin dariku!" Arka menggeram.
"Haish, sepertinya makin lama nih selesai urusannya!" Pandu menggerutu di dalam hati.
"Aku sudah izin ke Om Adi dan Tante Rosa. Aku mau izin ke kamu, tapi susah ketemunya karena kamu sibuk ngebucin. Maaf ya!" ucap Bima sembari menyelipkan sebuah sindiran di balik ucapannya.
"Kamu ...." Arka hendak melayangkan tinjunya ke Bima, tapi Ruby dengan sigap menahannya. "Sayang, jangan emosi! ini lagi banyak orang. Nanti kita bisa tanya apa alasan mereka di balik ini semua," bisik Ruby, persis di telinga Arka.
"Apakah acara pertunangan ini masih mau dilanjutkan? atau kalian ingin membatalkannya? kalau iya, biar Papa minta para tamunya untuk pulang! lima menit lagi, kalian tidak sampai di panggung, fiks pertunangannya Papa batalkan!" Prasetyo kembali buka suara memberikan ultimatum.
"Jangan, Pa! enak saja main batal-batalkan!" tanpa berpikir panjang lagi,Pandu langsung menarik tangan Tiara, dan Tiara di tengah rasa penasaran yang masih mendominasi, mau tidak mau mengikuti Pandu naik ke panggung.
Dari belakang Pandu dan Tiara menyusul Adelia dan Bima.
"Kak Bima, maaf sudah melibatkanmu!" bisik Adelia merasa tidak enak.
"Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur. Sekali kita mandi ya harus basah. Seperti yang aku katakan, kalau Tiara tidak melihatmu bahagia, dia pasti akan tetap bersikeras menolak pertunangan dengan Pandu, karena dia tidak mau hidup bahagia di atas kesedihanmu. Jadi, jalan satu-satunya ya begini. Dengan cara kamu mengatakan sudah menemukan cinta lain dan harus bisa menunjukkan siapa pria yang kamu cintai itu, agar dia percaya. Kamu tenang saja, aku tidak masalah dengan hal ini, karena Tiara itu adikku," tutur Pandu dengan suara yang sangat pelan.
Tbc
Nanti aku akan tulis flash back apa yang dilakukan dan direncanakan oleh Adelia dan Bima ya, guys! terima kasih!
__ADS_1