
"Sepertinya tempat persembunyian kita sudah diketahui suamimu, kamu ya yang memberikan mereka petunjuk?" bentak Juno, begitu mendengar ada keributan yang terjadi di luar.
"Tidak! bagaimana aku memberikan petunjuk, sedangkan aku dari tadi kamu awasi? dan aku memberikan petunjuk dengan apa?" Ruby berusaha untuk menyangkal agar pria itu tidak kalap dan menghabisinya sebelum suaminya datang.
"Kamu jangan menipuku! kamu kira aku bodoh!" dengan sigap Juno mulai meraba saku Ruby.
"Apa ini?" bentak Juno sembari mengeluarkan ponsel dari dalam saku Ruby. "Kamu ya ...." Juno menggeram sembari mengeluarkan pistol dari saku celananya.
Pintu kemudian ditendang seseorang dari luar dan memunculkan sosok Arka. Sementara Pandu dan yang lainnya menghadapi anak buah Juno di luar.
"Selamat datang, Arkana di nerakamu!" sambut Juno sembari menodongkan pistol di kepala Ruby. Ternyata pria itu memutuskan untuk menunggu Arka.
"Mas Arka, tolong aku!" ucap Ruby dengan lirih.
"Hei, brengsek jauhkan tanganmu dari istriku!" teriak Arka menggeram marah.
"Hahahaha! ternyata kamu sangat mencintai wanita ini. Iya, sih aku saja hampir jatuh pada pesonanya. Tapi, asal kamu tahu tidak semudah itu aku untuk melepaskan istrimu ini," dengan menggunakan satu tangannya, Juno mengelus lembut wajah Ruby.
"Eh, ada darah? kamu kenapa?" dengan nada yang dibuat selembut mungkin, Juno mengusap darah yang menetes dari sudut bibir Ruby.
"Brengsek! kamu apakan istriku? hah!" Arka baru saja hendak melangkah maju, tapi dia urungkan begitu mendengar ancaman dari Juno.
"Berani kamu maju ke sini, jangan salahkan peluru dari pistol ini menembus kepala istrimu!" nada bicara Juno terdengar sinis dan dingin.
"Beri dia pelajaran!" titah Juno pada satu anak buahnya yang dari tadi ada bersamanya.
Sang anak buahnya menyeringai sinis, menghampiri Arka. Kemudian, pria itu memberikan tendangan telak di perut Arka yang sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan. Pria itu benar-benar pasrah menerima pukulan demi pukulan yang melayang ke tubuhnya.
"Hentikan! aku mohon hentikan!" teriak Ruby sembari menangis histeris melihat kondisi Arka yang sudah lemah.
"Sudah hentikan! aku tidak mau melihat dia mati dengan cepat!" ucap Juno dengan seringaian sinis di sudut bibirnya.
"Sekarang kamu berdiri!" titah Juno kembali pada Arka.
Dengan susah payah, Arka berusaha bangkit berdiri. Kakinya benar-benar sudah tidak kuat untuk menopang tubuhnya, tapi dia masih berusaha untuk tetap bertahan.
"Awalnya aku tidak ingin mengotori tanganku dengan menghabisimu, yang aku inginkan kamu tersiksa lebih dulu, dan hancur karena kehilangan orang-orang yang kamu cintai, tapi ternyata tanganku memang harus ditakdirkan untuk menghabisimu," ujar Juno, tersenyum licik.
__ADS_1
"Lepaskan istriku! apapun yang kamu minta akan aku turuti!" pinta Arka dengan mulut yang sudah berdarah.
Tawa Juno pecah seketika, mendengar permintaan Arka.
"Tidak semudah itu! kalau kamu mau aku melepaskan istrimu ini, kamu berlutut dan datang mendekat ke sini!" titah Juno.
"Jangan, Mas! jangan lakukan itu! kamu pergi saja!" Ruby menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
Arka mengepalkan kedua tangannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena sekali tarik, saja peluru akan langsung menembus kepala Ruby.
Karena tidak ada pilihan, Arka akhirnya menjatuhkan dirinya berlutut dan menghampiri Juno. Melihat hal itu, tawa Juno kembali pecah, memenuhi ruangan itu. Pria itu terlihat benar-benar puas, bisa membuat seorang Arka berlutut. Sementara itu, Ruby hanya bisa menangis melihat suaminya direndahkan.
"Arka!" tiba-tiba Pandu dan David masuk dan terkesiap kaget melihat keadaan Arka.
"Perintahkan mereka keluar! kalau tidak, jangan salahkan pistol ini akan aku tembakkan!" titah Juno yang sebenarnya sudah panik melihat kehadiran Pandu dan David. Hal itu menandakan kalau anak-anak buahnya sudah berhasil dilumpuhkan.
"Kalian berdua tolong keluar!" titah Arka dengan suara lemah.
"Tidak akan!" tolak Pandu dengan tegas.
Pandu dan David tidak bisa berbuat apa-apa lagi! keduanya memutuskan untuk mundur secara perlahan dan keluar dari ruangan itu.
Juno kembali tersenyum, merasa menang. Sementara Arka kini sudah mulai dekat dengan Juno.
"Berhenti di sana! sekarang kamu memohon kembali!" titah Juno.
"Tolong lepaskan istriku! kamu menginginkan nyawaku kan? kamu ambil saja, tapi tolong lepaskan istriku!" kali ini Arka benar-benar sudah terlihat sangat pasrah. Satu-satunya yang dia inginkan adalah keselamatan Ruby.
"Tidak, aku tidak mau! lebih baik aku yang mati, Mas!" Ruby kembali buka suara.
"Oh, kalian benar-benar membuatku iri. Tapi, juga semakin membuatku marah. Kalian tahu kenapa? karena kalian kembali mengingatkanku pada adikku," ucap Juno. Kemudian dia menatap ke arah Arka, dan menyeringai sinis.
"Sekarang aku akan membuat kamu menyusul adikku, agar kalian bisa bersatu di sana," lanjut Juno kembali sembari mengarahkan pistolnya ke arah Arka.
"Aku matipun, aku pasti tidak akan bersatu dengan adikmu!" ucap Arka dengan tegas.
"Brengsek!" Juno tanpa berpikir lagi, menarik pelatuk pistolnya. Sebuah peluru berhasil keluar dan langsung mengenai dada Arka.
__ADS_1
"Mas Arkaaaa!" pekik Ruby, histeris melihat Arka yang langsung terjerembab telungkup ke lantai.
"Hahahaha!" akhirnya dia mati juga!" ucap Juno tersenyum puas.
"Kamu jahat! kamu tidak punya hati! benar-benar pecundang dan pengecut. Kamu berani di saat orang lemah," maki Ruby sembari berusaha melepaskan diri.
"Diam! sekali lagi kamu bicara, kamu juga akan mengalami hal yang sama dengan si brengsek itu!" bentak Juno, membuat Ruby terdiam. Kalau boleh memilih ingin rasanya dia juga menyusul sang suami, tapi bayangan wajah ketiga anaknya berkelebat di kepalanya.
"Arkaaa!" teriak Pandu dan David yang langsung masuk begitu mendengar suara tembakan.
Melihat kedatangan dua orang itu, lagi-lagi Juno menembakkan pistolnya ke arah Pandu dan David. Karena terlalu tiba-tiba, kedua pria itu sama sekali tidak bisa mengelakkan peluru, sehingga mereka juga terkena tembakan di dada. Mereka berdua pun langsung jatuh tersungkur ke lantai sembari memegang dada masing-masing. Melihat hal itu, sontak membuat Ruby kembali histeris dan tidak sadarkan diri.
Suara tawa Juno kembali pecah, menggelar memenuhi ruangan disambut dengan tawa sang anak buah.
Juno berjalan menghampiri tubuh Arka. Dia menggunakan kakinya hendak membalikkan tubuh Arka. Namun, belum sempat kaki Juno menyentuh tubuhnya, mata Arka yang tadinya tertutup terbuka kembali dan langsung menangkap kaki Juno. Kemudian, dengan cepat dia membalikkan tubuh Juno seiring dengan dirinya yang langsung bangkit berdiri sembari menodongkan pistol di kepala Juno yang kini sudah terjatuh di lantai.
Hal serupa juga terjadi pada Pandu dan David. Kedua pria itu juga sudah berdiri sembari menodongkan pistol ke arah anak buah Juno.
"Ba-bagaimana mungkin ...." wajah Juno kini sudah terlihat pucat di sela-sela rasa kagetnya.
Arka menyeringai sinis dan membuat kancing kemeja yang dia pakai dengan menggunakan satu tangan. Tampak di balik kemeja itu, Arka menggunakan pakaian anti peluru.
"Kamu kira aku bodoh! aku sudah mempersiapkan segalanya, Tuan Juno yang terhormat.
"Brengsek!" umpat Juno.
"David, bawa istriku keluar! aku akan membuat perhitungan dengan si brengsek ini lebih dulu, sebelum menyerahkannya pada polisi!" titah Arka, tanpa sadar. Dia seakan lupa kalau David akan mengangkat tubuh istrinya nanti.
Tanpa berpikir panjang dan tidak bermaksud apa-apa, David akhirnya mengangkat tubuh Ruby, dan membawanya keluar.
"Siapkan mentalmu nanti, kamu pasti akan mendapatkan murka dari Arka, begitu pria gila itu menyadari kalau kamu menggendong istrinya!" bisik Pandu begitu David melewatinya.
"Astaga, aku lupa! bagaimana ini?" Pandu mengangkat bahunya.
"Arghh, bodo amatlah!" ucap David sembari membawa Ruby keluar.
Tbc
__ADS_1