Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 7


__ADS_3

"Halo, Sayang!" sapa Arka yang membuat orang di seberang sana tersenyum, mendengar panggilan sayang dari Arka.


"Halo, kamu tadi menghubungiku ya? apa kamu sudah tidak merasa kesal padaku?" tanya Ruby terdengar hati-hati.


"Aku tidak bisa kesal padamu, karena aku yang akan tersiksa sendiri. Oh ya, kamu tadi kemana saja? aku sudah menghubungimu beberapa kali," protes Arka.


"Aku baru saja bangun. Tadi malam anak-anak mengajakku begadang," jawab Ruby.


"Coba ada aku di sana, mungkin aku akan bisa menggantikanmu untuk menemani mereka dan kamu bisa tidur,"


"Ka, aku pergi dulu ya! kamu lanjut aja ngomongnya. Aku tidak jadi nyamuk di sini," tiba-tiba Pandu menyeletuk, sembari berdiri dari tempat duduknya.


Arka tidak menjawab. Namun dia memberikan jawaban dengan memberikan tanda oke lewat jari jempolnya.


"Siapa itu? apa itu, Pandu?" tanya Ruby dari ujung sana.


"Iya," singkat dan padat.


"Emm, apa aku bisa melakukan panggilan video?" tanya Arka dengan sangat hati-hati.


"Eh, tidak usah!" sahut Ruby, buru-buru.


"Kenapa?" Arka mengrenyitkan keningnya.


"Emm, karena aku baru bangun, belum mandi sama sekali,"


"Tidak masalah sama sekali. Bagaimana dengan dulu? aku sering lihat kamu bangun tidur,"


"Kalau dulu kamu memang melihatku bangun tidur tapi tidak terlalu memperhatikan," Ruby memberikan alasan.


Senyum Arka sontak terbit di bibirnya, walaupun senyumannya itu tidak bisa dilihat oleh Ruby.


"Siapa bilang? asal kamu tahu, dulu aku sering memperhatikanmu diam-diam. Jadi, bagaimana, apa aku bisa melakukan panggilan video?" Arka mengulangi permintaannya.


"Emmm, baiklah!" pungkas Ruby akhirnya mengalah.


Arka bersorak dan langsung mengalihkan panggilan menjadi panggilan video. Yang pertama dilihatnya adalah wajah-wajah dari ketiga anaknya yang terlihat sedang mengoceh tidak jelas.


Cukup lama Arka berinteraksi dengan ketiga anaknya, menunggu Ruby yang pamit untuk mandi.


Tidak beberapa lama kemudian, Tampak Ruby yang sudah terlihat segar dengan handuk yang digulung di atas kepala.

__ADS_1


"Sudah mandinya?" tanya Arka dan Ruby hanya mengangguk, mengiyakan.


Keheningan tercipta untuk beberapa saat, tidak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu. Entah kenapa situasinya berubah seketika berubah canggung.


"Mas, aku sebenarnya mau ngomong sesuatu sama kamu, setelah aku pikir-pikir, aku memutuskan untuk mau menerimamu kembali demi anak-anak," akhirnya Ruby buka suara, mencari suasana canggung yang sempat tercipta.


Arka mendadak diam seribu bahasa. Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat, saking kagetnya mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ruby. Ucapan yang selama ini sangat ingin dia dengar.


"Mas, kenapa diam saja? kamu kenapa bengong?" tanya Ruby dengan alis bertaut. Namun pertanyaannya tetap saja tidak mendapat respon dari Arka yang masih terlihat shock.


"Mas Arka!" suara Ruby meninggi, menyadarkan Arka dari linglungnya.


"Ka-kamu serius, By?" tanya Arka, memastikan dengan bibir yang bergetar.


Tiba-tiba mata Arka mengeluarkan air mata, melihat Ruby menganggukkan kepalanya.


"Apa ini nyata? apa aku sedang bermimpi?" Arka menepuk-nepuk pipinya sendiri, hingga membuat tawa Ruby pecah.


"Ini nyata lah!" sahut Ruby, membuat air mata Arka semakin deras keluar.


"Mas,kamu menangis ya?" Ruby mendekatkan wajahnya ke layar ponsel.


Arka sontak menyeka air matanya dan tersenyum. "Ini air mata bahagia, Sayang. A-aku tidak tahu lagi mau bicara apa. Yang jelas sekarang aku sangat bahagia," wajah Arka sekarang terlihat berbinar. "Padahal, aku berencana akan berangkat nanti malam Ke Bali, dan tinggal di sana sampai kamu membuka hatimu. Ternyata sebelum ke sana Tuhan sudah menjawab doaku!" tutur Arka panjang lebar dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.


"Iya, nanti malam. Kamu tunggu aku di sana ya! setelah itu aku akan membawa kalian pulang ke Jakarta. Kita akan tinggal di rumah kita sendiri agar kamu merasa nyaman, "


Ruby tersenyum mendengar ucapan Arka. Dia tidak menyangka kalau Arka bisa mengerti dengan perasaannya. Ia benar-benar melihat sisi lain dari Arka yang hangat dan pengertian. Sangat jauh berbeda ketika dia bersama dengan pria itu dulu.


"Oh ya, aku juga mau kasih tahu sesuatu padamu. Adelia juga sebentar lagi akan menikah dengan Pandu,"


Mata Ruby seketika membesar mendengar kabar yang terlontar dari mulut Arka. Bukan kaget mendengar Adelia akan menikah, melainkan kaget mendengar dengan siapa adik iparnya itu akan menikah.


"Mas, apa aku tidak salah dengar? Adel dengan Pandu?" Tanya Ruby memastikan.


"Iya, kamu tidak salah dengar,"


"Bagaimana bisa? bukannya Pandu mencintai Tiara?" Ruby benar-benar terlihat bingung.


Arka menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan cukup berat. Setelah itu, dia akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Ruby menghela napasnya dengan sekali hentakan, setelah memahami apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Tiara bersikap dingin pada Pandu, bukan karena dia tidak mencintai Pandu. Dia seperti itu hanya ingin melindungi dirinya sendiri, agar tidak terlihat kalau dia mencintai Pandu. Kenapa dia bisa bersikap seperti itu, karena dulu dia pernah dimanfaatkan oleh pria yang sangat dia cintai. Dia sangat mencintai laki-laki itu, dan selalu menunjukkan rasa cintanya, membuat pria itu menganggap Tiara hanya bonekanya," jelas Ruby panjang lebar.


"Yang membuat Pandu menyerah, juga karena tadi malam dia melihat Tiara bersama laki-laki lain di kafe," ucap Arka, lagi.


"hah? tunggu, tunggu dulu! Tiara dengan laki-laki lain, tadi malam di kafe?tadi malam Tiara juga bilang kalau dia pergi ke Cafe. Aku yakin kalau pria yang bersamanya itu adalah Bima," ujar Ruby.


"Kamu mengenal pria itu?" ada terselip rasa cemburu di dalam pertanyaan Arka.


"Tentu saja aku mengenalnya. Dia itu kakak sepupunya Tiara. Dia baru saja pulang dari Amerika. Tentu saja dia sangat manja pada kakaknya itu, karena memang dari dulu dia sudah begitu ke Bima,"


"Jadi, itu berarti Pandu salah paham?" tanya Arka memastikan.


"Iya, dia benar-benar salah paham. Kalau Pandu akhirnya memilih untuk menyerah pada sikap Tiara, itu pasti akan membuat Tiara semakin kecewa karena patah hati dua kali. Dan itu pasti akan membutuhkan waktu yang lama lagi untuk menyembuhkan sakit hatinya," tutur Ruby dengan raut wajah sendu.


"Begitu ya? baiklah, nanti aku akan kasih tahu fakta ini ke dia," sahut Arka.


"Tapi bagaimana dengan Adel? nanti dia akan kecewa?" giliran Ruby yang merasa tidak enak.


"Lebih baik kecewa sekarang daripada nanti," ucap Arka, menenangkan Ruby.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel pinta rumah Ruby, membuat Arka mengrenyitkan keningnya.


"Siapa itu?" tanyanya, menyelidik.


"Oh, mungkin itu manager di restoranku. Tadi, aku memintanya untuk mengantarkan dokumen. Udah dulu ya, aku mau membukakan pintu," panggilan akhirnya terputus setelah Arka mengiyakan.


Setelah panggilan terputus, Arka langsung mencari nomor Pandu dan menghubungi pria itu.


"Haish kenapa tidak bisa dihubungi sih?" Arka menggerutu, kesal.


"Nanti saja aku menghubunginya kembali, aku harus secepatnya menyelesaikan pekerjaanku," Arka kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku.


Sementara itu, jauh di Bali sana, Ruby membuka pintu. Wanita itu kaget karena yang datang ternyata bukanlah managernya seperti yang dia katakan tadi. Tapi, seorang pria bertubuh tinggi dan berdiri membelakanginya.


"Maaf anda siapa dan sedang mencari siapa?"


Pria itu berbalik dan tersenyum pada Ruby.


"Apa Kamu yang bernama Ruby?"


Tbc

__ADS_1


Dirgahayu republik Indonesia yang ke-77 every one.


__ADS_2