Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
ekstra part 2


__ADS_3

Di jalanan yang sepi tampak tiga pria yang terduduk di trotoar. Dari wajah mereka terlihat jelas kelelahan dan keputusan asaan bercampur jadi satu.


"Dari tadi kita sudah cari dimana-mana, tapi gak ketemu-ketemu tuh buah mangga. Adanya yang udah matang. Kita mau cari di mana lagi nih?" Pandu mengutip batu kecil dari tanah dan melemparkannya ke sembarang arah. Sedangkan Arka berjongkok dengan tangan yang sibuk menggambar di tanah dengan sebatang ranting pohon. Sementara Bima menaruh tangannya ke atas kepala, benar-benar frustasi. Apalagi dari tadi, Adelia berulang kali menghubunginya menanyakan rujaknya.


Kalau dilihat dengan jelas, kondisi ketiga pria itu benar-benar sangat kacau. Tapi, karena mereka memiliki wajah tampan, kekacauan itupun bisa tertutupi.


"Haish, ini semua gara kamu Bim? datang ke Jakarta hanya buat susah kita," Pandu lagi-lagi menggerutu hal yang sama.


"Bisa tidak kamu berhenti menggerutu?" Bima terlihat mulai kesal. "Lagian kamu kurang kreatif. Dari tadi kata-katanya itu Mulu. Ganti ke!" cetus Bima, sembari melempar ranting kayu kecil ke arah Pandu.


"Ganti bagaimana? kan yang membuatku kesalkan karena alasan yang itu?"


"Yang menghubungimu kan bukan aku, tapi Arka! jadi salahkan dia!" Bima benar-benar tidak mau disalahkan.


"Kok jadi bawa-bawa aku?" Arka buka suara tidak terima.


"Tapi iya juga. Yang menghubungiku kan kamu, Ka. Coba kalau tadi kamu nggak menghubungiku, pasti sekarang aku sedang mendekap Tiara," Pandu membenarkan ucapan Bima.


"Nah, tu dia masalahnya. Berhubung aku baik hati dan suka berbagi, jadi begitu aku dapat kesusahan, aku tidak mau egois dan ambil sendiri kesusahan itu, makanya aku putuskan untuk berbagi denganmu. Kurang baik apa aku coba?" ucap Arka, santai.


"Sialan kamu!" umpat Pandu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Itu kayanya ada pohon mangga!" seru Pandu saat mobil yang dikemudikan oleh Bima itu melintas di sebuah perumahan warga.


"Eh iya! kayanya cocok tuh," Bima dengan sigap menepikan mobil milik Arka itu.


"Kenapa kalian berhenti?" tanya Arka yang sempat tertidur.


"Tuh, ada pohon mangga, Sob!" Pandu menunjuk pohon mangga yang berbuah lebat.


"Oh iya!" seru Arka bersorak kegirangan seperti baru mendapatkan harta Karun. "Mari kita ambil!" imbuhnya lagi.


Bugh ... tangan Pandu melayang meninju pundak Arka.


"Enak aja main ambil, minta dulu sama yang punya,"


"Eh, kamu yang mintalah, kan yang butuh istri kamu," ucap Arka, menoleh ke arah Bima.


"Istriku itu adikmu, Ka!" sahut Bima kesal.

__ADS_1


"Ya, adikku sih adikku, tapi, aku sudah memberikan tanggung jawab untuk membahagiakan adikku. Atau, aku akan meminta mangganya pada yang punya, tapi dengan satu syarat," Arka tersenyum misterius.


"Syarat lagi, syarat lagi! hidupmu penuh dengan syarat ya? sekarang syarat apa lagi? mau aku panggil kakak ipar, ok, aku akan lakukan!" Bima menggerutu kesal.


"Bukan itu syaratnya!"


"Jadi apa?" Bima terlihat sudah tidak sabaran.


"Kamu kembalikan adikku padaku, biar jadi tanggung jawabku, bagaimana? kamu sanggup?" goda Arka, yakin kalau Bima akan menolak.


"Enak aja! lagian kalau aku kembalikan apa kamu akan terima adik kamu dikembalikan? atau apa kamu yakin kalau Adelia mau pisah denganku?" Bima membalas siasat licik Arka.


"Sialan kamu!" umpat Arka, kesal tidak bisa membalas ucapan Bima.


"Udah ah! kalian berdua jangan berdebat lagi! sekarang siapapun dari kalian berdua, tolong temui pemiliknya, untuk mempersingkat waktu," celetuk Pandu, menghentikan perdebatan kedua pria yang iparan itu.


"Kamu aja yang menemui pemiliknya, Pan, bagaimana?" Arka menatap Pandu dengan tatapan penuh harap.


"Tidak mau!" tolak Pandu mentah-mentah.


"Ya udahlah biar aku yang mengetuk pintunya," pungkas Bima akhirnya mengalah.


Bima akhirnya berdiri di depan pintu pagar sambil meneriakkan kata permisi. Namun, tidak ada satupun yang muncul dari dalam, karena kemungkinan sang pemilik rumah sudah tertidur.


Tanpa pikir panjang, akhirnya mereka pun memanjat pagar rumah itu, tapi sebelumnya, Arka mengambil secarik kertas dari buku agendanya, dan sebuah pena dari dalam mobilnya.


Setelah menuliskan kata maaf, dan permintaan Arka meletakkan uang pecahan 100 tanpa menghitung jumlahnya, beserta kertas tadi.


"Sudah! sekarang yang manjat kamu, Bim" titah Pandu.


"Kok aku?" protes Bima.


"Kan ini semua __"


"Karena Adelia istriku dan ini kemauan anakku," sela Bima, sebelum Pandu selesai dengan ucapannya.


"Nah, itu kamu tahu," Arka dan Pandu, terkekeh.


Bima mengembuskan napasnya terlebih dulu, kemudian dengan susah payah mulai memanjat pohon mangga yang sangat besar itu sambil menggerutu.


Tiba-tiba dari arah belakang rumah, ada sesuatu yang tiba-tiba muncul.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di sana!"


"Woi, ada kuntilanak!" teriak Pandu yang melihat kemunculan seorang wanita memakai pakaian putih dan rambut diurai. Kebetulan cahaya lampu di tempat itu memang tidak terlalu terang.


Mendengar kata kuntilanak Bima yang tadinya kesusahan untuk memanjat, entah dapat kekuatan dari mana, dengan cepat dia sudah berhasil memanjat pohon mangga itu. Dia lupa kalau sosok itu benar-benar kuntilanak, pasti bisa terbang ke atas pohon tempat di sekarang. Sedangkan dua orang yang di bawah berebutan melarikan diri dengan memanjat pagar yang tadinya mereka panjat untuk bisa masuk ke dalam pekarangan rumah.


"Aku duluan bangsat!" Arka mulai memanjat, menyingkirkan Pandu


"Buruan setan!" Pandu mendorong Arka,. berniat membantu sahabatnya itu bisa memanjat itu pagar.


"Woi, kalian mau kemana? jangan tinggalkan aku!" teriak Bima yang bingung mau turun atau tetap berada di atas pohon.


"Kenapa kalian mau lari. Aku bukan kuntilanak!" seru wanita itu kembali dengan tangan yang memegang kayu besar.


Arka dan Pandu sontak berhenti dan menoleh ke arah wanita yang ternyata kebetulan memakai pakaian warna putih.


Arka dan Pandu sontak kembali turun dan menghampiri wanita yang mengambil kuda-kuda siap memberikan pukulan kalau-kalau Arka dan Pandu berniaga jahat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nih, rujak kamu!" Bima menyerahkan kotak makan yang berisi rujak pada Adelia setelah dirinya sampai kembali di Singapura yang sekarang sudah menunjukkan pukul dua subuh waktu Singapura.


"Makasih Sayang! tapi kok lama banget sih?" cetus Adelia dengan bibir yang mencebik.


Bima menghela napasnya dengan sekali hentakan. Ingin rasanya dia mendebat istrinya, tapi dia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Jadi dia lebih memilih untuk diam saja. Ya, setelah menjelaskan alasan mereka pada sang pemilik mangga, pemilik rumah yang kebetulan baik itu memaklumi ketiga pria itu, apalagi setelah melihat sejumlah uang di depan pintu.


Bima tersenyum melihat Adelia yang sangat menikmati saat makan rujaknya. Rasa lelahnya sepertinya terbayar melihat pemandangan di hadapannya.


"Apakah rasanya enak, Sayang?" tanya Pandu yang merasa ngilu saat melihat Adelia memasukkan potongan-potongan mangga muda itu ke mulutnya. Adelia menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban karena mulutnya yang penuh.


"Kamu mau?" Adelia menyodorkan potongan buah mangga itu ke arah Bima.


"Aku tidak mau makan yang buah mangga. Tapi, buah yang lainnya boleh juga," Bima mengambil buah lain dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"Emm, enak juga!" gumam Bima sembari kembali mengambil buah yang lain.


Karena merasa rujak itu enak, Bima lagi-lagi mengambil dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"Udah, stop!" pekik Adelia sembari menarik wadah rujak itu dan menyembunyikan ke belakang tubuhnya. "kenapa jadi kamu yang makan? udah cukup buatmu, nanti kalau habis sebelum aku puas bagaimana? kamu mau aku suruh ke Jakarta lagi?" nada suara Adelia terdengar kesal.


"Tapi itu masih banyak, Sayang?"

__ADS_1


"Tidak boleh ya tidak boleh!" seru Adelia sembari mendelik tajam ke arah Bima


__ADS_2