Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 46


__ADS_3

Bima pulang dari kantor dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Pria itu melihat ke pergelangan tangannya, Ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Bima menatap ke atas, ke arah kamar yang pintunya tertutup.


"Adelia pasti sudah tidur. Ahhh, aku capek sekali. Tapi aku cukup bahagia akhirnya semuanya selesai," ucap Bima sembari menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


Setelah merasa pegal di tubuhnya sedikit berkurang, akhirnya Bima memutuskan untuk naik ke atas dan masuk ke dalam kamar.


Saat masuk ke dalam tatapan pertamanya langsung tertuju pada Adelia yang seperti dugaannya, sudah terlelap.


Pria itu tersenyum dan mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Adelia. Pria itu menarik selimut dari kaki Adelia sampai ke atas, menutupi tubuh wanita itu, lalu berjongkok menatap wajah istrinya itu dengan cukup lama. Kemudian,pria itu kembali berdiri dan tidak lupa mendaratkan bibirnya di kening Adelia.


Bima kemudian berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang menurutnya sudah sangat lengket. Ketika Bima masuk ke dalam kamar mandi, Adelia yang ternyata sudah terbangun ketika pria itu masuk ke kamar, pelan-pelan membuka matanya dan duduk menatap ke arah kamar pintu kamar mandi yang tertutup.Tanpa alasan apapun, tiba-tiba air mata Adelia menetes membasahi pipinya. Dan dia benar-benar tidak mengerti kenapa belakangan ini dia begitu sensitif, apalagi jika itu menyangkut masalah Bima.


Tugas pintu terlihat berputar, pertanda Bima akan keluar dari dalam kamar mandi, Adelia pun reflek langsung berbaring kembali dan menutup matanya.


Ranjang sedikit bergetar pertanda kalau Bima sudah naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Adel.


Adelia sontak menahan napas, ketika tangan Bima memeluknya dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi kembali datang menyapa. cahaya sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar melalui celah- celah jendela kamar yang ditempati oleh Bima dan Adelia.


Karena sinar matahari mengenai wajahnya, membuat Bima membuka matanya perlahan-lahan. Pria itu mengerjap-erjapkan matanya untuk sesaat, berniat menyesuaikan matanya yang menangkap sinar untuk pertama kalinya.


Bima menoleh ke sampingnya dan melihat Adelia masih terlelap tidak seperti biasanya.


"Kenapa dia belum bangun? biasanya dia bangun lebih dulu, dan sudah turun ke bawah, membantu bibi," batin Bima dengan alis yang bertaut.


"Del, bangun, sudah pagi!" Bima menepuk-nepuk pundak Adelia dengan lembut.


Adelia, Seketika menggeliat dan membuka matanya perlahan-lahan.


"Aku masih mengantuk, Kak!" Adelia kembali memejamkan matanya.


"Kamu kenapa? tidak biasanya kamu begini. Apa kamu sakit?" Bima menyentuh kening Adelia.


"Tidak panas sama sekali," gumam Bima.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya masih mengantuk saja," ucap Adelia dengan mata yang masih terpejam.


"Ya udah, kamu tidur aja lagi. Aku mau mandi," Bima beranjak turun dari ranjang.


Belum mencapai pintu kamar mandi, tiba-tiba Bima mendengar Isak tangis dari arah tempat tidur. Pria itu sontak berbalik dan langsung menghampiri Adelia.


"Adel, kamu kenapa? kamu kok tiba-tiba menangis?" Bima terlihat panik.


"Aku kangen Mama, Papa, Kak Arka dan Kak Ruby. Aku juga kangen sama tiga ponakanku," sahut Adelia di sela-sela isak tangisnya.


Bima tercenung. Dia merasa bingung karena baru dua bulan yang lalu Dia dan Adelia pulang ke Indonesia.


"Bagaimana dengan Pandu? apa kamu juga merindukannya?" tanya Bima dengan tatapan menyelidik.


"Aku mengatakan, kalau aku merindukan keluargaku, kenapa kamu bawa-bawa nama Pandu?" nada suara Adelia mulai meninggi.


"Kenapa kamu jadi marah begini? aku kan hanya bertanya?"


"Iya, kamu memang hanya bertanya tapi pertanyaanmu yang salah!" suara Adelia semakin meninggi.


"Salahnya di mana?" Bima mengreyitkan keningnya.


"Kenapa dia bisa semarah itu?" gumam Bima dengan raut wajah kebingungan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bima turun dari atas, sudah rapi dengan pakaian kantor yang kali ini dia siapkan sendiri.


Pria itu langsung menuju dapur untuk sarapan seperti biasa. Bima mengreyitkan keningnya ketika tidak melihat sosok Adelia di meja makan.


"Bi, di mana istriku?" tanya Bima pada asisten rumah tangga.


"Non Adelia ada di taman belakang, Tuan," sahut pembantu itu dengan sopan.


"Oh ya, Tuan, Non Adelia beberapa hari ini terlihat murung dan hanya makan sedikit, itupun kalau diingatkan saja," lanjut wanita itu mulai melapor.


"Hah, makan sedikit? kenapa baru sekarang Bibi kasih tahu ke aku? kenapa tidak kemarin-kemarin?" Bima berucap dengan nada dingin.


"Maaf, Tuan. Lain kali aku akan segera kasih tahu Tuan," wanita itu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Bima menarik napas dan mengembuskannya kembali ke udara, mencoba untuk tidak marah.


"Ya udah, lain kali jangan terulang lagi. Kasih tahu aku apapun yang terjadi pada istriku. Asisten rumah tangga itu menganggukkan kepalanya dengan sopan.


Oh ya, apa tadi istriku sudah sarapan?" tanya Bima lagi.


"Belum, Tuan! tadi Non Adelia begitu turun dari atas langsung ke belakang dan belum kembali dai tadi. Bahkan Non Adelia tidak membantuku me__"


Bima sontak beranjak pergi, sebelum Pembatu itu selesai bicara.


Bima menghela napasnya dengan sekali hentakan, saat melihat Adelia yang duduk termenung menatap kosong ke depan. Pria itu pun mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Adelia.


"Del, kamu kenapa? maaf ya, kalau aku salah berucap tadi!" ucap Bima sembari duduk di samping wanita itu.


"Kakak tidak salah apa-apa, buat apa minta maaf? aku yang salah, terlalu sensitif," sahut Adelia, masih tetap setia menatap ke depan.


"Kalau begitu kita masuk yuk! kita sarapan dulu!" Bima kembali berdiri seraya mengulurkan tangannya ke arah Adelia.


"Aku tidak selera sama sekali, Kak. Jadi, biar kamu aja yang masuk dan aku di sini," jawab Adelia, lugas.


"Kamu harus tetap sarapan, Del. Kata Bibi belakangan ini kamu makanya sedikit." Bima terlihat begitu sabar.


"Aku merindukan masakanmu,Kak. Aku akan makan kalau Kakak yang masak,"


Bima bergeming. "Kenapa harus aku yang masak? apa masakan Bibi kurang enak?" Bima mengreyitkan keningnya.


"Enak kok. Tapi aku hanya ingin makan makanan yang Kakak masak. Kalau tidak aku tidak akan makan," Adelia mengerucutkan bibirnya dan menatap ke arah lain.


"Tapi aku mau berangkat kerja, Del. Bagaimana mungkin aku masak lagi? nanti sore saja aku masak ya!" ucap Bima dengan lembut.


"Aku maunya sekarang. Aku benar-benar tidak akan makan kalau bukan masakanmu," Adelia bersikeras dengan keinginannya.


Bima menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kembali ke udara.


" Baiklah! aku akan masak. Kamu mau aku masakin apa?" Bima akhirnya mengalah.


"Apa saja, Kak!" wajah Adelia terlihat berbinar mendengar Bima menyanggupi permintaannya.


"Baiklah! kalau begitu kita masuk dulu! kamu temani aku masak!"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2