
Arka turun dari dalam mobil, sembari menggendong Ruby. Sementara David menyusul dengan raut wajah kusut tanpa senyuman.
Tiara dan Risa yang dari tadi belum merasa tenang, langsung menghambur menghampiri Arka. Bukan hanya dua wanita itu saja, tampak seorang pria yang Arka tahu bernama Bima juga ikut menghampiri Arka. Ternyata, pria itu, datang menyusul ke Labuan Bajo. Kehadiran Bima sontak membuat alis Arka bertaut tajam, merasa tidak suka.
"Kenapa dengan Ruby? kenapa matanya terpejam. Dia tidak kenapa-kenapa kan?" Risa dan Tiara saling berebutan untuk bertanya.
"Kalian berdua minggir dulu! Ruby tidak apa-apa, dia hanya pingsan?" sahut Arka sembari tetap membawa Ruby menuju kamar. Semua orang pun menyusul Arka dari belakang.
Arka kemudian membaringkan tubuh Ruby di atas kasur, lalu duduk di tepi ranjang.
Sementara itu, Risa menoleh ke samping, lalu ke belakang, dengan raut wajah bingung.
"Kenapa kalian hanya berdua? di mana Pandu?" tanya Risa, mewakili apa yang hendak ditanyakan oleh Tiara. Wanita itu benar-benar merasa takut ada sesuatu yang terjadi pada Pandu.
"Oh, dia langsung balik ke Jakarta, katanya dia ada pekerjaan yang sangat penting," sahut Arka dengan mata yang masih tetap menatap Ruby.
"Oh, seperti itu?" Risa mengangguk-anggukan kepalanya. Sedangkan Tiara tersenyum kecut.
Sayang baju kamu kenapa kotor begini?" celetuk Risa pada David yang baru menyadari kondisi wajah suaminya itu.
"Tadi, dia bertarung sangat hebat. Dia sampai berguling-guling di tanah, benar-benar seperti Hero," bukan David yang menjawab, melainkan Arka.
"Wah, serius! kamu benar-benar hebat, Sayang!" puji Risa dengan ekspresi sangat kagum.
"Berguling-guling bagaimana? yang ada aku diguling-gulingkan Arka ke tanah," David menggerutu dalam hati. Kalau tidak mengingat ancaman Arka tadi, ingin rasanya dia bicara jujur pada istrinya itu.
Arka melirik ke arah David dengan tatapan yang hanya David lah yang tahu apa maksud tatapan itu.
"Dasar orang gila!" ucap David tanpa suara, tapi, Arka bisa mengerti apa yang diucapkan oleh David, hingga membuat Arka kembali menatap David dengan tatapan yang semakin tajam.
Sebenarnya, tadi sewaktu di dalam mobil, Arka masih sempat meminta David untuk tidak memberitahukan apa yang dia lakukan pada pria itu. Bukan karena Arka takut kalau Risa marah padanya, hanya saja dia tidak mau mendengar kecerewetan wanita itu, bakal panjang urusannya.
"Kalau begitu, sekarang kamu mandi dulu, nanti aku ambilkan pakaian ganti untukmu!". Risa meraih tangan David,dan mengajak suaminya itu keluar dari kamar Ruby.
Setelah David dan Risa keluar dari kamar, Arka langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Bima, yang kebetulan sedang menatap wajah Ruby, dengan tatapan penuh makna.
__ADS_1
"Turunkan tatapanmu dari istriku! berani sekali kamu menatapnya seperti itu! dan siapa yang memintamu datang ke sini!" nada bicara Arka terdengar sangat dingin.
Bima tidak langsung menjawab karena dia sudah memprediksikan kalau dia pasti akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Arka. Namun, dia tidak menyangka kalau suaminya Ruby itu, bisa terlihat sedingin itu.
"Kak, kamu ditanya tuh! ayo jawab!" bisik Tiara.
Senyum Bima terbit dan berusaha untuk bersikap tenang.
"Maaf, kalau aku lancang menatap Ruby. Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya merasa simpati melihat kondisi Ruby," Bima diam beberapa saat, untuk mengambil jeda.
"Untuk masalah kedatanganku ke sini, itu tidak diminta oleh siapapun. Aku hanya khawatir mendengar Ruby diculik, Itu saja. Tidak salah kan?" senyum Bima tidak pernah tanggal dari bibirnya.
"Tidak salah, kalau kamu datang karena khawatir karena menganggap Ruby sebagai sahabat. Yang salah itu, kalau kamu memiliki perasaan padanya," Arka masih terlihat sangat dingin.
Tenggorokan Bima, tiba-tiba seperti tercekat sehingga dia mengalami kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
"Kamu tidak ada perasaan lebih kan pada istriku?" alis Arka bertaut, menyelidik.
"Kalau untuk masalah itu, aku tidak bisa bohong. Aku sudah menyukai Ruby sejak dulu, tapi sumpah demi apapun, aku tidak pernah ada niat untuk merebutnya darimu, karena dari dulu, Ruby juga tidak pernah merespon perasaanku," sahut Bima, jujur, membuat wajah Arka memerah.
"Tentu saja! kamu bisa pegang kata-kataku! aku bukan tipe pria yang suka memaksakan kehendak. Jadi, kamu tenang saja!"
" Baiklah, aku pegang kata-katamu!" pungkas Arka, akhirnya.
"Tapi,aku harap kamu bisa membuat Ruby bahagia. Kalau kamu kembali menyakitinya, aku tidak akan segan-segan mengambil dia darimu," ucap Bima dengan tegas.
"Untuk masalah itu, kamu tidak perlu mengingatkanku, karena tanpa kamu ingatkan pun, aku sudah berjanji untuk selalu membahagiakan Ruby," tutur Arka lugas.
"Oh ya, tadi kamu bilang, kalau aku menyakitinya, kamu tidak akan segan-segan mengambil Ruby dariku, masalahnya, apa Ruby mau padamu? bukannya tadi kamu bilang kalau dia tidak pernah merespon perasaanmu?" sambung Arka kembali, sembari menyelipkan sindiran di balik ucapannya.
"Sial!" umpat Bima, dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruby mengerjap-erjapkan matanya, pertanda kalau wanita itu sudah mulai siuman. Dia mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling. Wanita itu benar-benar bingung melihat dirinya yang kini sudah berada di dalam kamar, di mana dia meninggalkan ketiga anaknya tadi.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa ada di sini? apa tadi aku hanya bermimpi? aku harap itu semua hanya mimpi," batin Ruby sembari bangkit duduk.
"Kamu sudah bangun, By?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sangat dia kenal. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan, Tiara.
"Ti-Tiara? ke-kenapa kamu ada di sini?" Ruby mengrenyitkan keningnya.
"Tentu saja karena aku khawatir padamu, makanya aku datang ke sini. Kamu benar-benar membuat aku olahraga jantung, By." Tiara menggerutu, tapi di balik ucapannya terselip rasa lega, melihat Ruby sudah sadar.
"Emangnya, apa yang terjadi? apa tadi aku bukan sedang bermimpi? apa aku benar-benar dibawa Juno pergi?" Ruby mulai terlihat panik.
" Iya, kamu memang dibawa pergi oleh pria bernama Juno itu. Tapi__"
"Jadi, dimana anak-anakku? mereka baik-baik saja kan?" belum sempat Tiara melanjutkan ucapannya, Ruby sudah menyela dengan cepat.
"Kamu tenang, By! mereka baik-baik saja,dan sekarang lagi bersama Kak Risa,"
"M-Mas Arka! bagaimana dengan Mas Arka? tadi dia ditembak Juno, Ra!" Ruby histeris dengan air mata yang menetes seketika.
" By, tenang! Arka__"
"Aku memang pembawa sial! karena kebodohanku, Mas Arka jadi korban. Ra, apa yang harus aku lakukan sekarang?" lagi-lagi Ruby menyela ucapan Tiara.
"By, kamu tenang dulu! Arka tidak __"
Brakk ...
Tiba-tiba pintu dibuka dengan kencang oleh seseorang yang tidak lain adalah Arka.
"Ruby, kamu sudah bangun, Sayang!" seru Arka sembari menghambur ke arah Istrinya itu.
"M-Mas Arka! ba-bagaimana bisa kamu ada di sini? ka-kamu kan sudah ...." Ruby menggantung ucapannya karena tiba-tiba wanita itu kembali akan pingsan.
"Eh, Ruby jangan pingsan lagi!" teriak Arka sembari merangkul pundak Ruby.
Tbc
__ADS_1