
Hari sudah berganti. Pagi ini Ruby tampak lebih segar dan dia batu saja selesai memberikan Asi pada ketiga bayinya. Awalnya dia bingung kenapa ruangannya dipindahkan dari ruang VIP menjadi ruangan VVIP, dan ketiga anaknya juga ditempatkan di ruang yang sama dengannya. Namun, Pandu mengatakan kalau itu merupakan adalah hadiah darinya,makanya Ruby percaya.
"Wah, anak-anak mama, sepertinya tidur dengan nyenyak ya?" ucap Ruby, mengajak ketiga anaknya bicara. Putra pertama yang dia beri nama Alvaro itu, tiba-tiba tersenyum dalam tidurnya, membuat Ruby juga merasa bahagia.
"Aduh anak mama, mimpi apa sih sampai senyum-senyum?" Ruby mentoel-toel hidung baby Alvaro.
"Mimpi mama pelukan sama papa, Ma?" tiba-tiba terdengar suara menjawab pertanyaan Ruby.
Ruby sontak menoleh ke belakang dan melihat Tiara yang sudah berdiri di ambang pintu sembari menenteng makanan di tangannya.
"Apaan sih kamu?" protes Ruby, dengan bibir yang mengerucut sembari melangkah kembali ke ranjangnya.
Tiara tersenyum, dan melangkah menghampiri Ruby. "Sudah jangan manyun begitu dong! aku kanhanya bercanda, tapi kalau benar si kecil bermimpi itu bagaimana?"goda Tiara sembari meletakkan makanan yang dia bawa ke atas nakas.
"Tidak mungkin! karena mereka sama sekali tidak mengenal Papa mereka dan juga tidak pernah mendengar suaranya," sangkal Ruby, dengan sangat yakin.
"iya deh iya. Nih, sekarang kamu makan dulu! wanita menyusui harus banyak makan, biar air asimu banyak," Tiara membuka bungkusan makanan dan memberikannya pada Ruby.
"By, kata dokter kapan kamu bisa pulang?" Tiara mengalihkan pembicaraan.
"Nanti sore sudah bisa pulang, kok," jawab Ruby setelah lebih dulu menelan makanan di dalam mulutnya
"Bagaimana, apa kamu masih belum mau bertemu dengan Arka?" Tiara kembali ke topik awal, mencoba membicarakan tentang Arka.
Mendengar pertanyaan Tiara, Ruby sontak berhenti mengunyah untuk beberapa saat. Detik berikutnya dia kembali melanjutkan kunyahannya, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Tiara.
"Kenapa kamu tidak jawab, By?"
"Ra, kamu lihat aku sedang makan kan? tidak baik bicara sambil makan," Ruby mencoba mencari alasan.
__ADS_1
"Ya udah, kamu lanjutkan aja makannya!" pungkas Tiara akhirnya yang mengerti kalau Ruby tengah menghindari pembicaraan tentang Arka.
Keheningan terjeda cukup lama di antara Ruby dan Tiara. Ruby terlihat fokus menyantap makanannya, walaupun sebenarnya pikirannya sedang mengambang..
"By, maaf kalau aku terkesan selalu membicarakan Arka. Aku tahu kalau kamu sedang tidak ingin membicarakannya. Tapi, entah kenapa mulutku tidak bisa diajak kerja sama untuk tidak membicarakan dia. Aku tahu kalau sebenarnya jauh di dalam lubuk hatimu, kamu sudah memaafkannya karena kamu tahu kalau ini tidak sepenuhnya kesalahannya, tapi aku paham juga, kata-katanya yang menyakitkan susah untuk kamu lupakan. Tapi, Arka benar sudah sangat menyesal dengan semua perbuatannya, By. Tidak bisakah kamu memberikan kesempatan kedua padanya?" tutur Tiara setelah kebisuan yang cukup lama.
Ruby tidak langsung menjawab. Wanita itu tampak meletakkan lebih dulu wadah makanannya kembali ke atas nakas dan menghampiri Tiara.
"Ra, dulu kamu sangat membenci mas Arka dan bahkan tidak ingin aku kembali padanya. Tapi, kenapa justru sekarang kamu yang ingin sekali aku memberikan dia kesempatan kedua?" Ruby mengrenyitkan keningnya.
"Itu dulu, sebelum aku tahu perjuangannya untuk mencarimu. Aku melihat kalau Arka sebenarnya orang yang tulus. Hanya saja waktu itu dia ada di posisi dilema yang berat makanya dia melakukan semua hal yang menyakitimu." Tiara berhenti sejenak untuk mengambil jeda sekaligus untuk menghirup oksigen guna mengisi kembali paru-parunya dengan udara.
"Tapi, bukannya Arka itu manusia biasa yang sama sekali tidak sempurna? setiap manusia yang tidak sempurna pasti pernah melakukan kesalahan kan? Jadi tidak ada salahnya kamu mau berdamai dengan hatimu, mencoba untuk berbicara baik-baik dengan Arka. Stop menanamkan asumsi-asumsi yang belum tentu akan terjadi yang membuat dirimu dikelilingi rasa takut akan kehilangan ketiga anakmu. Kalau seperti itu, kamu tidak akan pernah merasa tenang, By. Kamu akan selalu merasa takut pada sesuatu yang belum tentu terjadi," lanjut Tiara kembali.
Ruby kembali terdiam tidak membantah ucapan Tiara, karena menurutnya yang baru terlontar dari ucapan sahabatnya itu benar adanya. Sampai kapan dia siap untuk bisa bertemu dengan Arka kalau dia masih tetap dirundung rasa takut, mengenai nasib ke tiga anaknya.
"Ra, yang kamu katakan itu benar. Sepertinya aku memang harus membuang jauh-jauh pemikiran buruk tentang Arka," ucap Ruby dengan lirih.
Ruby tidak menjawab tapi dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari beranjak sudah semakin sore, tapi orang yang ditunggu oleh Ruby tidak kunjung datang.
"Ra, sepertinya orang yang kita tunggu tidak akan datang, sebaiknya kamu bantu aku untuk mengangkat barang-barangku, supaya kita pulang!" ucap Ruby sembari menekan bel untuk memanggil perawat, guna agar ada yang menggendong satu bayinya keluar.
"Kita tunggu sebentar lagi, By. Mungkin dia dalam perjalanan ke sini!" ucap Tiara mencoba mencegah sahabat itu.
"Sudahlah, Ra. Jangan terlalu berharap kalau dia akan datang. sebaiknya kita pulang. Kalau kamu masih mau menunggunya di sini, silakan!" pungkas Ruby sembari menggendong salah satu anaknya, disusul oleh dua orang perawat. Tampak ada gurat kecewa yang tergambar di wajah wanita itu.
__ADS_1
Tiara menghela napasnya dan meraih tas berisi perlengkapan ketiga anak Ruby.
"Kemana sih Kak Arka? susah-susah aku membujuk Ruby, tapi dianya hilang begini," Tiara menggerutu dalam hati. Akhirnya mau tidak mau dia mengikuti langkah Ruby keluar dari ruangan itu.
"Ra, kamu tunggu sebentar ya, aku mau ke administrasi dulu,mau tanya berapa yang harus aku bayar?"
"Kamu lupa ya? ketika ruangan kamu dipindahkan, berarti semuanya sudah dibayar tanpa kecuali. Jadi, sekarang kita langsung pulang saja!"
"Oh iya ya!" ucap Ruby seraya tersenyum tipis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang membawa Ruby dan Tiara beserta ketiga bayinya berhenti di depan rumah Ruby.
Ruby turun dan membuka bagasi untuk mengeluarkan kereta bayi yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Ra, tolong bantu aku mengangkat mereka ke kereta bayi mereka ya!" pinta Ruby. Masih terlihat kekecewaan di raut wajah wanita itu.
Tiara menganggukkan kepalanya, dan melakukan seperti yang diminta oleh Ruby.
Setelah ketiga bayi itu sudah terbaring sempurna di dalam kereta bayi, Ruby pun mulai melangkah seraya mendorong kereta bayi anak-anaknya dibantu oleh Tiara yang dari tadi kebanyakan diam.
"Ra, kunci rumah di mana? ada di kamu kan?" tanya Ruby, setelah berada tepat di depan pintu.
"Pintunya nggak terkunci kok, By. Kamu buka aja!" sahut Tiara ambigu.
"Tidak terkunci? maksudnya? kamu , tidak pernah menguncinya rumah kita ya? bagaimana kalau ada maling yang masuk?". ucap Ruby, panik dan langsung buru-buru membuka pintu.
Namun apa yang ada di depannya sungguh membuat dia terkesiap kaget. Bagaimana tidak, kedatangannya disambut dengan tulisan, 'welcome back wanita hebat dan tiga malaikat kecil'. Di bawah tulisan itu tampak Arka berdiri dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
Tbc