Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 33


__ADS_3

"Bima,apa sebenarnya alasanmu mau menikah dengan adikku? alasan pertunangan kalian berdua saja masih sulit untuk aku terima, sekarang kamu buat keputusan untuk menikahi adikmu secepatnya juga, apa maksudmu sebenarnya? tanya Arka, begitu dia punya kesempatan untuk berbicara berdua dengan Bima. Tatapan pria itu, terlihat sangat tajam dan mengintimidasi.


Bima yang baru saja keluar dari toilet, sama sekali tidak merasa takut melihat tatapan Arka, yang seperti siap untuk mengulitinya. Pria itu justru menyunggingkan senyumnya.


"Bukannya tadi aku sudah katakan, kalau yang pasti , yang kulakukan, tidak seperti yang kamu pikirkan?" sahut Bima santai.


"Emangnya, kamu tahu apa yang aku pikirkan?" Arka memicingkan matanya.


"Tentu saja! kamu pasti mengira kalau aku sengaja ingin menikah adikmu agar lebih mudah mendekati Ruby kan?" tukas Bima, tersenyum smirk.


Arka tidak menjawab sama sekali. Dia tidak membantah karena dugaan Bima tepat sasaran. Namun, bukan hanya itu sebenarnya tapi lebih dari itu. Dia tidak ingin adiknya menikahi pria yang mencintai wanita lain, yang kebetulan wanita itu adalah istrinya sendiri. Dia tidak ingin Bima melakukan apa yang dia lakukan dulu, pada Adelia, sebagai bentuk balasan atas perbuatannya pada Ruby.


"Kamu jangan membangun ketakutan pada hatimu sendiri. Kamu tenang saja, aku tidak akan menyakiti adikmu," lanjut Bima yang kembali membuat Arka terdiam.


"Apa kata-katamu ini bisa kupegang? karena bagaimanapun Adel adalah adikku satu-satunya. Aku tidak ingin dia menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintainya. Apa kamu bisa aku percaya untuk menjaga adikku?" ucap Arka yang nada suaranya sudah tidak sedingin di awal.


"Pria sejati harus konsisten dengan apa yang dia ucapkan. Kamu tenang saja, selagi aku mampu, aku akan berusaha menjaga adikmu. Adikmu wanita yang baik dan tulus. Dia sama sekali tidak pantas untuk disakiti," ucap Bima dengan tegas, berusaha meyakinkan Arka.


Arka diam untuk beberapa saat, berusaha membaca ekspresi di wajah Bima, apakah perkataan pria itu serius atau hanya sekadar kata-kata saja.


Setelah berdiam beberapa saat, bibir Arka akhirnya menerbitkan seulas senyum tipis.


"Aku percaya padamu! aku harap kamu bisa menjaga adikku, dan mencintainya dengan tulus. Sebagai seorang wanita, dia banyak kekurangan tapi tidak sedikit memiliki kelebihan juga. Aku harap kamu mau mengerti dan memakluminya jika nanti dia sudah menjadi istrimu," ucap Arka dengan mata yang berembun, sembari menepuk pundak Bima.


Bima menganggukkan kepalanya, dengan mantap. Kemudian Arka yang sudah mulai terlihat tenang, memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan Bima.


"Aku mungkin bisa menjaga adikmu, tapi kalau masalah mencintainya dengan tulus, aku tidak berani janji, karena mungkin itu adalah hal yang sulit bagiku. Tapi,aku akan tetap berusaha untuk hal itu," bisik Bima pada dirinya sendiri sembari menatap kepergian Arka sampai tubuh pria yang akan menjadi kakak iparnya itu menghilang dari pandangannya.


Tidak berhenti sampai di situ, begitu Bima ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba langkahnya terhenti karena kemunculan Adelia yang tiba-tiba.


"Kamu bikin kaget aja, Del. Muncul nggak bilang-bilang!" ucap Bima sembari mengelus-elus dadanya.


Adelia sama sekali tidak menanggapi reaksi kaget dari Bima. Wanita itu fokus pada tujuan awalnya yang ingin menanyakan kenapa pria di depannya itu tiba-tiba ingin menikah dengannya.


"Wih, tatapan kamu mengerikan? kamu lagi kesambet ya?" Bima berpura-pura takut.

__ADS_1


"Nggak usah bercanda, Kak! sekarang aku butuh penjelasan kenapa Kakak tiba-tiba memutuskan mau menikah denganku? bukankah itu akan kita lakukan, ketika Kak Tiara yang memintanya? tadi kan Kak Tiara sama sekali tidak meminta, jadi kenapa__"


"Sttttt!" Bima refleks menutup mulut Adelia dengan jari telunjuknya, hingga ucapan wanita itu terhenti di udara.


"Kamu jangan bicara keras-keras. Takutnya ada yang menguping. Kamu mau, rencanamu gagal?" ucap Bima, sembari mengedarkan pandangannya pura-pura panik.


"Iya juga ya?" Adelia, tanpa sadar ikut-ikutan panik.


"Tunggu dulu! Kakak sengaja ya, mau mengelabui aku? tidak mempan," akhirnya Adelia menyadari trik Bima. " Sekarang, Kakak jelaskan maksud niat Kakak itu? Kakak punya maksud terselubung ya?" Adelia memicingkan matanya, curiga.


Bima berdecak sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Del, bukannya aku sudah mengatakan, kalau sekali berkorban ya harus total. Dan totalitas tertinggi dari pengorbanan kita ya,kita harus menikah. Karena kalaupun nanti Pandu dan Tiara menikah, sedangkan kita tidak jadi menikah, Tiara juga tidak akan bahagia dan merasa bersalah. Apa kamu mau itu terjadi? atau jangan-jangan memang itu niat kamu? Tiara merasa bersalah dan pergi meninggalkan Pandu, lalu kamu pura-pura menghibur Pandu dan bisa mengejar cinta Pandu lagi, begitu ya?" tutur Bima, Pura-pura curiga.


"Enak saja, kalau bicara! aku tidak pernah punya niat seperti itu!" sangkal Adelia dengan bibir yang mengerucut. "Tapi, yang Kakak katakan tadi di awal ada benarnya juga. Tapi, aku mau tanya dulu, apa Kakak punya niat terselubung dengan menikahiku?" lanjut Adelia dengan mata yang kembali memicing, curiga pada Bima.


"Tentu saja aku punya niat terselubung," Wajah Adelia sontak memerah, mendengar ucapan Bima barusan.


"Niat terselubungku ya, melindungi dan menjagamu," lanjut Bima dengan cepat sebelum wanita di depannya itu meluapkan amarahnya.


"Baiklah, aku harus jujur padamu," akhirnya Bima menceritakan apa yang dilakukan oleh Adijaya, selaku seorang ayah yang menginginkan kebahagiaan putrinya.


"Papamu hanya meminta, tidak memaksa


Dia menyerahkan semua keputusan di tanganku. Jadi, walaupun papamu memintaku untuk menikahimu, aku berhak untuk menolak. Tapi, setelah aku pikir-pikir, tidak ada salahnya kalau kita menikah, karena kita juga sama-sama bebas, tidak memiliki kekasih. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, mau menikahimu memang tulus dari hatiku bukan karena permintaan papamu," tutur Bima panjang lebar.


"Tapi kita sama-sama tidak memiliki perasaan cinta satu sama lain kak? bagaimana kita bisa hidup bersama tanpa adanya cinta?" Adelia mulai menampakkan kekhawatirannya.


"Bisa pasti bisa. Kamu tenang saja, ketika kamu tidak bisa nyaman hidup bersamaku, aku pastikan kamu bisa meninggalkanku kapan saja, karena sebelum kienerima satu sama lain, aku tidak akan menyentuhmu," pungkas Bima, memutuskan dengan tegas dan lugas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bima dan Adelia kini sudah kembali bergabung dengan yang lainnya, setelah mereka sama-sama sudah sepakat untuk menikah.


Pernikahan Pandu dan Tiara akhirnya, diputuskan akan dilakukan tiga minggu setelah malam ini.

__ADS_1


"Kak Pandu, kalau Kakak mau menikah, ceraikan dulu aku!" celetuk Adelia tiba-tiba, membuat orang yang ada di tempat itu terkesiap kaget.


"Ceraikan? maksudnya? kita kan tidak pernah menikah sama sekali, bagaimana mungkin kamu bisa meminta aku untuk menceraikanmu?" Pandu mengrenyitkan keningnya.


"Kakak lupa ya? ingat kita pernah menikah waktu kita kecil, dan kakak sama sekali belum menceraikanku!"


"Itu kan hanya main nikah-nikahan, Adel!". Pandu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Sementara yang lainnya, langsung tertawa.


"Pokoknya ada kata nikah. Jadi kalau Kakak mau nikah lagi, Kakak harus menceraikanku!"


"Ya udah, baiklah! mumpung nikah-nikahan yang dulu tidak ada suratnya, jadi sekarang aku ceraikan kamu tanpa surat cerai juga,"


"Huaaaaa! akhirnya aku jadi janda juga," Adelia pura-pura menangis, yang membuat yang lainnya semakin tertawa.


"Kalau begitu, berarti sampai sekarang aku masih istrinya orang, karena aku juga belum cerai dari pengantin kecilku," celetuk Ruby, membuat mata Arka membesar dan menatap Ruby dengan tatapan tajam.


"Siapa laki-laki itu? kita cari dia sekarang!" ucap Arka dengan nada kesal.


"Sayang, kita pulang yuk!" celetuk David tiba-tiba sembari menarik tangan Risa dan buru-buru pergi.


"Tuh orangnya, baru aja pergi!" Ruby menunjuk ke arah David.


"Daviddddd!" teriak Arka.


"Mati aku! dia kumat lagi!" David sontak mengambil langkah seribu, sementara yang lainnya tertawa terbahak-bahak.


Tbc


Hayo siapa yang dulu suka main nikah-nikahan waktu kecil? udah pada cerai belum?😁😁😁😁


Oh ya, guys kalau berkenan mampir ke cerita kak Nopani Dwi Ari yang berjudul Twin's ya!



Terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2