
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan waktu selalu berlalu selama satu tahun.
Di sebuah rumah sakit tampak Pandu yang berlari dengan wajah panik, di sepanjang koridor rumah sakit.
"Ma, bagaimana Tiara?" tanya Pandu, dengan napas yang tersengal-sengal begitu melihat papa mamanya dan juga kedua mertuanya.
"Tiada di dalam, Nak. Kamu masuk aja, karena dia membutuhkanmu untuk memberikan dukungan," ujar Nirmala, mamanya.
Ya, setelah menikah sekitar dua bulan, Tiara dan Pandu langsung mendapatkan karunia, dengan mengandungnya Tiara dan sekarang wanita itu b akan melahirkan.
Pandu yang masih memakai pakaian kerjanya mengayunkan kakinya melangkah ke arah pintu yang tertutup. Pria itu membuka pintu dengan perlahan dan sangat hati-hati.
Suara rintihan kesakitan dari mulut Tiara, menyambut kedatangan Pandu.
"Sayang! Pandu, menghambur menghampiri Tiara.
"Kamu kemana aja sih? kenapa baru datang? protes Tiara di sela-sela rasa sakitnya.
"Kamu tahu sendiri kan , jarak dari kantor ke sini? kan lumayan jauh. Sekarang kamu tenang saja aku sudah ada di sini. Aku akan akan selalu menemanimu," ujar Pandu sembari menggenggam tangan istrinya itu.
Wanita itu hanya meringis dan tidak berhenti merintih kesakitan. Di saat rasa yang amat sakit datang, Tiara meremas kuat lengan Pandu.
Rasa sakit yang dia rasakan ketika sang anak mencoba mencari jalan lahir, seakan mematahkan tulangnya satu persatu. Air mata yang menetes dari sudut mata Tiara ,menyadarkan Pandu betapa istrinya sekarang sedang sangat kesakitan.
"Sayang, sakit," rintih Tiara dengan wajah yang meringis serta berkali-kali mengembuskan napas.
"Iya ,sayang,sabar ya!" bisik Pandu dengan lembut persis di telinga Tiara. Tangannya tidak berhenti mengelus-elus punggung sang istri seperti yang disarankan oleh dokter, guna memberikan ketenangan pada sang istri.
Melihat istrinya yang semakin kesakitan, Pandu mengalihkan tatapannya ke arah dokter.
"Dok, apakah masih lama?tolongin istri saya!"kenapa anda masih berdiri tenang di sana? apa anda tidak melihat kalau istriku ini kesakitan?" Pandu mulai menaikan intonasi suaranya ke arah dokter.
Dokter itu menerbitkan seulas senyuman, berusaha untuk tetap profesional
"Sabar, Tuan Pandu! pembukaan istri anda masih pembukaan 6 menuju ke 6. Tunggu sampai pembukaannya sepuluh baru bisa dikatakan sempurna, dan bayi siap untuk dilahirkan," jelas dokter ,sabar dan lembut.
__ADS_1
"Apa? jadi itu berarti kami harus menunggu sampai 6 pembukaan lagi dong?? emangnya tidak ada lagi cara lain ya, untuk mempercepat pembukaannya?" Pandu benar-benar frustasi.
"Ada! caranya, kamu cukup diam saja!' bukan dokter yang menjawab melainkan Tiara Wanita yang sedang menahan sakit yang amat sangat itu.Dia benar-benar kesal melihat Pandu yang sepertinya sedang mengintimidasi dokter.
Pandu sontak terdiam, tidak berani untuk berkata-kata lagi, ketika mendengar intonasi suara Tiara yang meninggi.
Tiara kembali mencoba meraup oksigen di sekitarnya dengan dalam-dalam, lalu mengembuskannya kembali dengan cukup panjang. Wanita itu melakukan aktifitas itu berkali-kali.
Sementara itu Pandu berdiri dengan kaki gemetar, tidak kuat melihat istrinya yang kesakitan. Lengan pria itu kini sudah memerah, karena remasan kuat dari tangan istrinya itu. Akan tetapi, Pandu tidak memperdulikan rasa perih di lengannya, karena rasa sakit yang dia rasakan, tidak sebanding dengan rasa sakit yang sekarang dirasakan oleh Tiara.
"Sakit!" terdengar kembali suara rintihan dari mulut Tiarap, membuat Pandu kembali panik.
"Dok, please cari jalan lain, agar istriku tidak kesakitan lagi!" mohon Pandu yang tanpa sadar menangis melihat kesakitan yang dialami oleh istrinya itu.
"Tuan Pandu, please jangan panik. Rasa sakit ini mau tidak mau memang harus dirasakan. Justru dalam melahirkan itu, rasa sakit ini yang dicari. Bahkan untuk mempercepat kelahiran, bisa dilakukan induksi yaitu untuk merangsang
kontraksi guna mempercepat proses persalinan, tapi ___"
"Kalau begitu diinduksi aja, Dok,biar lebih cepat!" Pandu menyela sebelum dokter itu menyelesaikan ucapannya.
Pandu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Raut wajah pria itu benar-benar frustasi.
"Dok, bagaimana kalau operasi caesar aja?" celetuk Pandu tiba-tiba.
"Tidak mau!" pekik Tiara. " Kalau kamu tidak mau melihat aku kesakitan, lebih baik kamu keluar saja dari sini!" imbuh wanita itu dengan mata yang mendelik tajam.
"Tapi, Sayang, aku ...." Pandu tidak melanjutkan ucapannya, melihat tatapan Tiara yang semakin tajam ke arahnya.
"Tuan, keadaan bayi masih sangat memungkinkan untuk dilahirkan normal. Jadi, Tuan, sabar aja ya!" Dokter menengahi, mengehentikan ketegangan di antara dua orang itu.
"Nak, jangan buat mamah kesakitan terus ya! cepat lah keluar. Papah sama mamah sudah tidak sabar untuk melihatmu," Arend mengelus-elus perut Tiara dengan lembut yang sontak mendapat respon cepat dari anak
Bayinya itu seakan mengerti dengan ucapan Sang papa, sehingga kembali menyeruduk seakan tidak sabar ingin keluar. Hal itu tentu saja membuat Tiara semakin kesakitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Tuan Pandu, pembukaannya sepertinya sudah sempurna. Anak anda siap untuk dilahirkan.Tolong berikan dukungan buat istrinya ya, Tuan." Pandu menganggukkan kepalanya dengan peluh yang semakin deras menetes di pelipisnya.
Tiara mengejan berkali-kali dengan peluh yang sudah banjir di keningnya.
"Ayo, Bu,sedikit lagi ... kepalanya sudah terlihat.Jangan lama-lama, Bu, kasihan bayinya." dokter itu memberikan semangat.
"Ayo, Sayang kamu pasti bisa. Ingat sebentar lagi, kita akan bertemu dengan anak kita. I Love You!" Pandu juga ikut memberikan semangat, dengan tangan yang menggenggam erat tangan sang istri serta mengecup puncak kepala istrinya itu dengan penuh perasaan.
Ucapan Pandu seakan menjadi kekuatan baru buat Tiara . Dengan mengerahkan semua tenaganya akhirnya putri pertama mereka lahir dengan selamat, tidak kurang satu apapun. Pandu tidak bisa menahan lagi air matanya. Pria itu kini terlihat menangis, melihat dan mendengar tangisan putri pertama nya. Hal serupa juga terjadi pada Tiara. Wanita itu juga menangis begitu mendengar suara tangisan anaknya.
"Welcome to the world, my princess!" gumam Pandu sambil menyeka air matanya.
Kemudian pria itu mengecup kening Tiara berkali-kali.
"Terima kasih, Sayang! terima kasih sudah berjuang untuk melahirkan putri kita. Dia cantik seperti kamu. Kamu benar-benar hebat!" ucap Pandu dengan tulus.
"Happy Anniversary juga, Sayang. Terima kasih buat kado terindah yang kami berikan padaku hari ini. Lanjut Pandu,sembari kembali mencium kening Tiara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, jauh di tempat lain, tampak seorang wanita yang terlihat murung. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Adelia.
Mata wanita itu menerawang, menatap kosong ke depan, memikirkan kisah cintanya. Dia merasa kalau sekarang hanya dirinya yang mencintai sendirian ditambah belakangan ini, Bima sering pulang telat dan jarang memberikan kabar.
Ya, seiring berjalannya waktu, dengan perhatian dan semua perlakuan baik Bima, mampu membuat cinta Adelia tumbuh untuk pria itu dan lambat laun menghilangkan rasa cintanya pada Pandu. Namun,dia tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya pada Bima.
"Seminggu lagi pernikahanku dan Kak Bima akan satu tahun. Tapi, sampai sekarang sepertinya dia belum mencintaiku," batin Adelia dengan mata yang berembun.
"Kak Bima memang baik, dan perhatian tapi aku tidak tahu apa dia melakukan hanya karena sekedar tanggung jawab atau karena cinta, aku benar-benar tidak tahu. Apa karena aku belum hamil juga ya, makanya dia susah jatuh cinta padaku?" Adelia kini mulai berpikir yang tidak-tidak.
Adelia meraih ponselnya karena ada sebuah pesan yang masuk. Ternyata pesan itu dari Ruby kakak iparnya, yang mengabarkan kalau Tiara sudah melahirkan seorang putri dengan selamat.
Adelia tersenyum dan mengucap syukur. Namun, detik berikutnya, wanita itu tiba-tiba menangis, mengingat dirinya yang sampai sekarang belum juga diberikan anugerah untuk mengandung.
TBC
__ADS_1