
"Hai, Sob sudah bisa kerja ya?" sapa Pandu begitu masuk ke dalam ruangan Arka.
"Eh, kamu Pan. Kapan kamu pulang dari Bali? bukannya kamu bilang kalau kamu akan seminggu di sana? ini belum seminggu kan?" bukannya menjawab pertanyaan Pandu, Arka malah balik bertanya.
"Tadi malam aku sampai di Jakarta. Aku menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat, makanya aku bisa cepat balik ke sini," sahut Pandu. "Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, Ka ... kamu sudah bisa bekerja ya?" Pandu mengulangi pertanyaannya.
"Seperti yang kamu lihat. Walau sebenarnya setengah semangatku tidak ada, tapi aku harus tetap hidup kan? aku harus bisa semangat agar aku bisa menemukan Ruby dan ketiga anakku," sahut Arka tersenyum tipis.
Pandu seketika tercenung, Perasaan bersalah seketika kembali menghampirinya, karena dia tidak memberitahukan di mana Ruby sekarang, padahal dia tahu jelas di mana wanita itu.
"Eh, kenapa kamu jadi diam? apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" Arka mengrenyitkan keningnya.
"Eh, ti-tidak ada sama sekali!" sahut Pandu cepat dan gugup.
Keheningan tercipta untuk beberapa saat di antara Arka dan Pandu. Arka terlihat serius mempelajari dokumen yang ada di tangannya, sedangkan Pandu sibuk dengan pikirannya.
"Emm, Arka ...." Pandu kembali buka suara, untuk memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
"Ya, ada apa, Pan?" Arka melepaskan pandangannya dari dokumen dan menatap Pandu.
"Begini, aku memang belum tahu di mana keberadaan Ruby, tapi aku mendapatkan video Ruby dari kakaknya. Istrimu baik-baik saja dan demikian juga dengan kandungannya," ucap Pandu dengan sangat hati-hati.
Arka sontak menutup dokumen yang ada di tangannya dan langsung beranjak mendekati Pandu.
"Benarkah? apa aku bisa melihatnya?" tanya Arka dengan tatapan penuh harap.
"Tentu saja bisa!" Pandu mengeluarkan ponselnya dan mencari video yang dikirimkan oleh Tiara.
"Nih dia, " Pandu menunjukkan video Ruby yang tengah lahap makan instan.
Arka terdiam. Mata pria itu sontak dipenuhi oleh cairan bening yang siap untuk ditumpahkan, ketika melihat wajah Ruby. Air mata yang tadinya berusaha dia tahan seketika tumpah dari wadahnya begitu melihat perut buncit Ruby sewaktu wanita itu berdiri dan berjalan ke arah wastafel. Cukup lama Arka menatap video itu, dan selalu dia tonton berulang-ulang.
"Ke-kenapa dia makan mie instan? apa dia tidak ada uang untuk beli makanan?" tanya Arka dengan suara yang bergetar.
"Bukannya tidak ada uang, Ka. Dia tiba-tiba ingin makan mie instan saja. Kamu dengar kan tadi dia mengatakan seperti itu? uang 50milliar yang kamu kasih dia manfaatkan untuk membuat usaha restoran dan beli rumah," terang Pandu.
Arka menyeka air mata dan sontak menatap ke arah Pandu dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana?" alis Arka bertaut, curiga.
"Emm, tentu saja dari kakaknya Ruby. Jadi, kamu tenang saja, Ruby baik-baik saja sekarang. Dia hanya belum mau bertemu denganmu. Jadi, tolong kasih dia ruang untuk sendiri dulu. Kata kakaknya Ruby, setiap bulan dia akan mengirimkan video Ruby dan perkembangan anak-anak kalian," tutur Pandu, dengan panjang lebar tanpa jeda.
"Oh begitu ya? aku cukup maklum kalau dia belum mau bertemu denganku, karen tidak semudah itu bisa memaafkan apa yang aku lakukan selama ini padanya," Arka diam sejenak sembari kembali memutar video Ruby.
"Sebenarnya, kalau aku tahu di mana keberadaannya, sekarang juga aku akan ke sana, tapi, seperti yang kamu katakan tadi, kalau dia belum mau bertemu denganku, aku tidak akan memaksa, karena aku tidak mau membuatnya tertekan," ucap Arka dengan lirih.
Pandu menghela napasnya dengan cukup berat. Sebenarnya dia merasa kalau dirinya memikul beban yang berat, menyimpan rahasia itu, tapi dia kembali teringat, kalau memang Ruby juga tidak menginginkan bertemu dengan Arka, akhirnya dia merasa tidak terlalu merasa bersalah.
"Apa aku boleh memiliki video ini?" Arka kembali buka suara.
"Iya, ambil saja! sebenarnya ada beberapa video, kalau kamu mau semuanya, Ambi saja! nanti kalau ada video baru, aku akan mengirimkan padamu," pungkas Pandu.
"Oh iya,Ka. Ada satu lagi yang sebenarnya mengganjal di hatiku," sambung Pandu, di saat Arka masih sibuk memindahkan beberapa video dari handphonenya.
"Apa itu?" sahut Arka tanpa mengalihkan tatapannya dari handphone di tangannya.
"Aku mau tanya, bagaimana perasaanmu sebenarnya pada Ruby? apa kamu mencari-carinya karena sudah mencintainya, atau karena hanya perasaan bersalah saja?"
Arka sontak bergeming dan tidak melanjutkan kegiatannya. Pria itu bingung untuk memberikan jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu. Karena dirinya sendiri pun masih bingung, bagaimana perasaan dia sebenarnya.
Arka menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan embusan yang cukup berat.
"Menurutmu bagaimana, Pan? apa menurutmu aku sudah mencintainya?" Arka malah balik bertanya.
"Kenapa kamu malah balik bertanya? yang punya perasaan kan kamu," Pandu berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku juga bingung, Pan. Tapi, aku akan marah ketika ada yang menghinanya. Aku merasa marah ketika ada pria yang terang-terangan memujinya. Tapi,saat itu aku masih mengira kalau apa yang aku rasakan, itu hanya karena aku sedang menjaga harga diriku," jelas Arka.
"Bagaimana dengan sekarang? coba bayangkan kalau ada pria yang mendekati Ruby sekarang. Apa yang kamu rasakan?" Pandu memberikan pancingan.
Arka mencoba melakukan apa yang diminta oleh Pandu. Pria itu membayangkan Ruby didekati oleh pria teman SMA yang ditemuinya di sebuah acara itu. Arka sontak mengepalkan tangannya, wajah pria itu juga seketika memerah dan rahangnya mengeras, padahal itu hanya bayangan saja belum menjadi kenyataan.
"Bagaimana? apa yang kamu rasakan?" celetuk Pandu, membuat Arka seketika tersadar dari bayangannya.
"Emm, entahlah! aku merasa kalau hatiku tidak terima dan aku merasakan amarah yang amat sangat. Aku benar-benar tidak rela dia bersama dengan laki-laki lain," ucap Arka.
__ADS_1
"Sepertinya yang kurasakan bukan lagi hanya perasaan bersalah, tapi aku sudah mencintainya, tapi aku tidak menyadarinya," lanjut Arka lagi dengan nada yang sangat yakin.
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Coba kamu pikirkan sekali lagi. Nanti setelah kamu benar-benar yakin, baru kamu bisa menyimpulkan. Sekarang aku mau balik dulu. Ada hal penting yang harus aku selesaikan. Sini handphoneku! kamu sudah selesai kan?"
Arka menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Pandu kemudian mengayunkan kakinya melangkah keluar dari ruangan Arka untuk kembali ke perusahaannya.
Arka baru saja mau berniat memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku setelah menyimpan semua video dari handphone Pandu. Namun, dia urungkan ketika handphonenya tiba-tiba berbunyi.
Arka mengrenyitkan keningnya, melihat nomor yang sedang menghubunginya sama sekali tidak terdaftar di kontaknya.
"Halo!" sapa Arka dengan nada dingin.
"Halo, benar ini dengan Tuan Arka? ini dari kepolisian, Tuan!" terdengar suara dari ujung sana.
"Iya, ini aku! ada, Pak?" Arka mengrenyitkan keningnya. Dia sudah bisa menebak kalau polisi menghubunginya pasti bada hubungannya dengan Jelita dan mamanya, yang sampai sekarang selalu menganggap diri mereka adalah bagian penting dari keluarganya.
"Tuan, kami hanya mau menginformasikan kalau penjara baru saja kebakaran dan wanita bernama Jelita meninggal karena tidak sempat meloloskan diri dari kobaran api. Bagaimana, Tuan apa anda mau mengambil mayatnya?" tanya Polisi di seberang sana.
"Tidak, Pak. Aku tidak ada hubungannya dengan dia. Jadi, tolong Bapak urus sendiri!" Arka memutuskan panggilan setelah selesai berbicara dengan polisi itu.
Tbc
Bua Nalinthip as Ruby
Pon Nawasch as Arkana
God itthipat as Pandu
Richy Oranate as Tiara
__ADS_1