
"Pak, Pandu orang yang akan mengajak kerjasama dari Sunrise Group sudah datang," lapor Asisten Pandu.
"Oh, suruh dia masuk!" titah Pandu kurang bersemangat dikarenakan perasaannya yang campur aduk sekarang, apalagi begitu mengetahui perasaan Tiara yang sebenarnya. Sebenarnya dia sangat tidak ingin ke kantor hari ini, karena emang perusahaan libur di hari weekend, tapi karena ada jadwal pertemuan dengan klien yang katanya merupakan pengusaha sukses di luar negeri, membuat Pandu terpaksa datang ke kantor.
Asisten Pandu, menganggukkan kepalanya dan berbalik membuka pintu.
"Tuan, silakan masuk!" ucap asisten itu dengan sopan.
"Selamat siang, Pak Pandu! kenalkan, saya Bima pemilik Sunrise group!"
Pandu sontak mengangkat wajahnya dan terkesiap kaget melihat sosok yang berada di depannya yang tidak lain adalah Bima, pria yang dia sangkakan kekasih Tiara.
"Saya, Pandu!" Pandu langsung berubah dingin, membuat Bima mengreyitkan keningnya.
"Emm, apa kedatanganku kurang berkenan bagi Anda Pak Pandu?" tanya Bima to the point.
Pandu terhenyak mendengar pertanyaan Bima. "Jangan mencampurkan urusan pribadi dengan urusan perusahaan, Pandu! itu sama sekali tidak baik. Ingat,dia itu pemilik Sunrise Group, perusahaan yang dari dulu ingin kamu ajak kerjasama," batin Pandu, mengingatkan dirinya sendiri.
"Oh, sama sekali tidak Pak Bima. Maaf, kalau sikapku tadi sedikit menyinggung Anda," Pandu berusaha untuk bersikap ramah.
"Silakan duduk, Pak Bima!" lanjut Pandu menunjuk ke arah sofa.
"Rey, tolong minta agar OB mengantarkan kopi ke ruanganku!" titah Pandu pada asistennya.
"Baik, Pak!" Rey, berjalan ke arah meja Pandu dan melakukan panggilan dari wireless intercom ke bagian pantry.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pembicaraan kerjasama akhirnya mendapat kesepakatan. Bima yang katanya sedang mendirikan perusahaan cabang di Indonesia akhirnya menandatangani surat kontrak kerjasama dengan Perusahaan Pandu.
Pandu yang sudah bisa menguasai dirinya, akhirnya bisa bersikap profesional, apalagi begitu melihat Bima yang ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan selama ini. Pria itu ternyata sangat cerdas dan cakap serta bijaksana.
"Ok, selamat bekerja sama, Pak Bima! aku harap kerjasama kita ini akan berjalan dengan baik, dan memberikan keuntungan bagi perusahaan kita," ucap Pandu, sembari mengulurkan tangannya.
__ADS_1
" Terima kasih, Pak Pandu! aku harap juga demikian," Bima menyambut uluran tangan Pandu dengan erat.
"Sekarang aku mau pamit dulu, Pak Pandu!"
"Silakan, Pak Bima!" Bima mengatur kakinya, melangkah menuju pintu setelah dipersilakan oleh Pandu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bima berjalan menuju lift yang akan membawanya turun ke bawah. Pria itu menekan tombol tanda panah ke bawah, lalu menunggu pintu lift terbuka.
Begitu pintu lift terbuka, Bima terkesiap kaget melihat sosok wanita yang berdiri di dala lift dan hendak keluar.
"Kak Bima!" seru wanita itu yang juga tidak kalah kagetnya.
"Emm, tunggu dulu! aku lupa-lupa ingat namamu," Mimik wajah Bima terlihat berusaha keras mengingat siapa wanita yang di depannya.
"Adelia, kak. Aku Adelia!" ucap wanita itu yang ternyata Adelia.
"Ha, iya, Adelia!" Bima terkekeh ringan. "Maaf, aku lupa namamu tapi wajahmu masih sangat aku ingat," Bima nyengir kuda.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" bukannya menjawab, Bima malah balik bertanya.
"Aku ke sini mau menemui orang yang aku ceritakan itu. Kamu pasti sudah bertemu dengannya kan?"
"Oh, jadi pria yang kamu ceritakan itu Pak Pandu? pantas kamu sangat mencintainya," tutur Bima.
"Emm, Kak Bima, sebaiknya kita bicara di tempat lain saja. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Kakak, mumpung kita ketemu di tempat ini," Adelia kembali menekan tombol lift yang tadi sudah sempat tertutup.
"Lho, bukannya kamu ingin menemui Pandu? nanti dia menunggu lama," tolak Bima dengan halus.
"Kami tidak janjian untuk bertemu. Aku saja yang ingin menemuinya. Jadi, dia tidak tahu kalau aku akan ke sini, dan mungkin dia tidak menginginkan kedatanganku," ucap Adelia dengan wajah yang berubah sendu.
Bima menarik napas dalam-dalam , dan mengembuskannya kembali. Dia benar-benar merasa simpati dengan apa yang dirasakan oleh wanita di depannya itu. Yaitu cinta bertepuk sebelah tangan. Dia tahu bagaimana perasaan wanita di depannya itu pada Pandu, tapi seperti yang diceritakan oleh Adelia, Pandu justru mencintai wanita lain.
__ADS_1
"Apa Kak Bima, mau bicara sebentar denganku?" Adelia kembali buka suara.
"Baiklah!"
Seiring dengan Bima yang bersedia, pintu lift juga langsung terbuka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi, kamu adiknya Arkana Rafassya suaminya Ruby?" seru Bima, dengan ekspresi kaget begitu mereka berdua berada di taman perusahaan Pandu.
"Iya? jangan bilang wanita yang Kak Bima sukai itu, Kak Ruby?" Sudut alis Adelia sedikit naik ke atas, menatap Bima dengan tatapan curiga.
"Sayangnya kamu benar! Aku menyukai Ruby sudah sangat lama. Aku begitu kecewa ketika mendengar dia sudah menikah. Aku marah ketika tahu kalau dia menikah karena hal yang sama sekali tidak dia inginkan. Tapi, aku sama sekali tidak ingin mengganggu pernikahannya dan justru mendoakan agar bahagia. Tapi, yang aku dengar dia sempat berpisah dengan kakakmu, makanya aku. seperti memiliki harapan lagi, hingga membawa aku kembali ke negara ini. Tapi, lagi-lagi aku kecewa dan kamu pasti tahu kenapa. Tapi, melihat kakakmu yang sekarang sangat mencintai Ruby, justru aku bahagia, karena kebahagiaan orang yang kita cintai itu lebih dari segalanya walaupun dia bahagia bukan bersama dengan kita. Betul bukan?"
Kata-kata yang terlontar barusan dari mulut Bima, memukul telak hati Adelia. Wanita itu tersenyum tipis dan miris seketika.
"Terima kasih, Kak tidak berusaha merebut kak Ruby dari kak Arka. Kalau Kakak mau, bisa saja Kaka melakukan hal itu. Kalau itu sempat terjadi, Kak Arka akan kembali seperti mayat hidup," ujar Adelia, tulus.
"Jadi kamu bagaimana? apa kamu akan tetap melanjutkan pertunanganmu dengan Pandu? bagaimana dengan wanita yang dicintai Pandu itu, apa dia juga mencintai Pandu?" Bima benar-benar penasaran.
"Ya, wanita itu juga mencintai Kak Pandu. Mereka berdua saling mencintai. Inilah alasanku mengajak Kakak untuk berbicara, karena Kakak tahu siapa wanita itu dan dia sangat dekat dengan, Kakak," nada suara Adelia terdengar lemah.
Bima mengreyitkan keningnya, bingung.
"Aku mengenalnya? siapa?"
"Wanita itu Kak Tiara, sepupu Kakak,"
Bima membesarkan matanya, mulutnya sedikit terbuka, terkesiap kaget mendengar ucapan Adelia.
"Jadi, pria yang diceritakan Tiara itu, Pandu? dan dia akan bertunangan denganmu?" Wajah Bima berubah memerah, merasa marah tiba-tiba.
Tbc
__ADS_1
Mohon tetap tinggalkan jejaknya ya guys. Kalau berkenan vote rekomendasinya bolehkah dikasih ke karya ini. Kalau berkenan sih, kalau tidak berkenan ya tidak apa-apa. 😁😁😁