
Adelia masuk ke dalam sebuah kamar hotel yang sudah dihias dengan sangat indahnya. Kamar yang akan ditempatinya bersama dengan Bima, di malam pengantin mereka setelah mereka sudah sah menjadi suami istri.
Ya, mereka berdua akhirnya sudah terikat perkawinan, yang berarti mereka sudah sah menjadi suami dan istri dan acara resepsi baru saja selesai.
Baru saja Adelia hendak duduk di atas sofa, pintu tiba-tiba terbuka, hingga membuat Adelia berdiri kembali. Jantung wanita itu seketika berdetak dua kali lebih cepat dari detak jantung normal.
"Kenapa kamu terlihat kaget? ini aku," ucap Bima sembari menghampiri Adelia.
"Emm, A-aku tidak kaget kok, aku hanya ....". Adelia benar-benar terlihat gugup.
"Hanya apa? hanya takut? apa kamu takut padaku?" tanya Bima sembari membimbing Adelia, untuk duduk.
"Aku sama sekali tidak takut, Kak. Hanya saja aku benar-benar gugup, karena ini adalah malam pertama aku harus tidur sekamar dengan seorang pria," jelas Adelia akhirnya.
Senyum Bima seketika terbit mendengar pengakuan, wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Kamu tenang saja. Ini hanya di awal saja, nanti lama-lama juga akan terbiasa. Sekarang kamu mandi dulu, supaya terlihat segar," ucap Bima dengan lembut.
Adelia menganggukkan kepalanya dan berdiri. Kemudian wanita itu, mengayunkan kakinya, melangkah menuju kamar mandi. Sementara Bima mulai melepaskan, jas, dasi dan aksesoris yang menempel di tubuhnya. Pria itu kemudian meraih handphonenya dan duduk menunggu giliran mandi.
Cukup lama Bima menunggu Adelia keluar dari dalam kamar mandi. Berkali-kali pria itu melihat ke arah pintu yang tertutup, berharap Adelia segera keluar dari dalam sana.
"Kenapa dia lama sekali? sepertinya aku tanya sendiri," batin Bima sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Del, kamu tidak apa-apa di dalam sana? kenapa lama sekali?" tanya Bima sembari mengetuk pintu.
Pintu tiba-tiba terbuka dan kepala Adelia seketika menyembul keluar.
"Kamu kenapa? kenapa belum keluar juga?" Bima mengreyitkan keningnya.
"Emm,Kak, aku lupa bawa baju ganti ke dalam. Semuanya ada di koperku," ucap Adelia sembari memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
"Astaga! jadi kamu tidak keluar-keluar dari tadi hanya gara-gara kamu malu keluar?" Adelia kembali tersenyum sembari menganggukkan kepala, membenarkan.
Bima seketika berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian pria itu memutuskan untuk melangkah dan membawa koper itu ke arah Adelia.
__ADS_1
"Kamu mau pakai pakaian yang mana? biar aku ambilkan!" Bima bersiap untuk membuka koper.
"Tidak perlu, Kak. Biar aku ambil sendiri saja. kopernya masukkan saja ke sini!" ucap Adelia masih dengan menyembunyikan sebagian tubuhnya. Wanita itu tidak bisa membayangkan kalau pria itu harus menyentuh pakaian dalamnya nanti.
"Kenapa kalau aku yang mengambilnya? kamu tinggal bilang saja, yang mana mau kamu pakai?"Bima bersikeras untuk mengambilkan pakaian untuk Adelia.
"Tapi, Kak ...."
"Tidak ada tapi-tapi! kalau kamu tidak mau aku ambilkan, kamu keluar saja dari dalam sana dan ambil sendiri. Biarkan aku yang masuk ke kamar mandi!" ujar Bima yang menyadari kalau wanita yang sekarang sudah berstatus istrinya itu masih malu menunjukkan dirinya yang hanya menggunakan jubah mandi.
"Ya udah, kalau begitu, Kakak ambilkan saja piyama. Hanya satu saja piyama yang aku bawa soalnya," pungkas Adelia akhirnya, mengalah.
Bila tersenyum samar, bahkan sampai tidak terlihat. Pria itu pun kemudian membuka koper dan mengeluarkan piyama berwarna merah menyala dari dalam koper itu, lalu memberikannya pada Adelia.
Setelah menerima piyamanya, Adelia tidak langsung menutup kamar mandi. Wanita itu malah terlihat masih seperti kebingungan, sembari menggigit bibir bawahnya.
"Lho kenapa kamu tidak langsung mengenakan pakaianmu itu?"Bima mengreyitkan keningnya.
"Emm, itu ... itu, Kak ...." Adelia terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Emm, aku juga butuh pakaian dalam," ucap Adelia dengan nada sangat pelan sembari menundukkan kepalanya.
Mendengar ucapan Adelia, Bima sontak menelan ludahnya sendiri. Pria itu seketika merasa sedikit panas dan jantungnya berdegup kencang. Bagaimanapun dia adalah pria normal yang hanya melihat pakaian dalam saja, pikiran bisa traveling kemana-mana.
"Aku akan ambilkan!" ucap Bima dengan suara bergetar, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Bima kembali membuka koper dan melihat ada beberapa pakaian dalam di dalamnya.
"Ka-kamu mau pakai yang mana?" tanya pria itu, gugup. "Sial, kenapa aku bisa jadi gugup begini sih? bukannya hanya pakaian dalam? tapi kan, aku jadi membayangkan benda yang akan ditutup sama pakaian dalam ini?" rutuk Bima dalam hati.
"Yang mana saja deh, Kak! ta-tapi harus satu warna atas dan bawah," sahut Adelia, masih dengan suara yang pelan dan sembari menggigit bibirnya.
"Sama atas dan bawah? haish, pikirkanku semakin traveling kemana-mana," batin Bima.
Pria itu kemudian meraih pakaian dalam Adelia dengan tangan bergetar, dan berusaha untuk tetap bersikap santai ketika memberikannya pada wanita itu.
__ADS_1
Setelah pintu kamar mandi tertutup kembali, Bima sontak mengipas-ngipas tubuh panasnya menggunakan kerah bajunya disertai dengan berkali-kali mengembuskan napas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bima kini sudah terlihat segar setelah selesai membersihkan tubuhnya. Pria itu keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan celana pendek dan baju kaos oblong.
Sementara itu, Adelia terlihat semakin grogi begitu melihat pria itu keluar dari dalam kamar mandi. Entah kenapa, walaupun pria itu berpenampilan seperti itu di depannya, justru terlihat tampan.
"Emm, apa kami akan tidur dalam satu ranjang malam ini? dan apa dia akan memintaku untuk melayaninya?" bisik Adelia pada dirinya sendiri.
"Kamu tidak perlu gugup seperti itu! aku tidak akan melakukan apapun malam ini. Kalau kamu tidak menginginkanku tidur di ranjang juga tidak apa-apa. Aku bisa tidur di sofa," celetuk Bima tiba-tiba, seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Adelia.
"Haish, kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan? dia cenayang ya?" batin Adelia.
"Emm, A-aku tidak keberatan Kakak tidur di ranjang bersamaku. Kalau di sofa, nanti badanmu bisa sakit. Kakak, ke sini saja!" ucap Adelia akhirnya, begitu melihat Bima yang hendak melangkah ke sofa.
Bima tersenyum tipis dan kembali melangkah ke arah ranjang. Kemudian dia duduk di samping Adelia, lalu merebahkan tubuhnya di atas tumpukan bunga mawar.
Keheningan tercipta di antara mereka, karena mereka berdua benar-benar gugup tidak tahu mau membicarakan apa.
"Kamu tidurlah! bukannya sudah capek seharian?" akhirnya Bima buka suara.
Adelia, tidak menyahut. Kalau tadi, begitu acara selesai, dia berpikir setelah mandi dia akan tertidur dengan nyenyak karena kecapean. Namun ternyata, rasa gugup yang dia rasakan, bisa mengalahkan rasa ngantuk sehingga dia tidak bisa tidur sama sekali.
"Apa Kakak tidak mau melakukannya denganku sekarang?" celetuk Adelia tiba-tiba, hingga membuat Bima terkesiap kaget, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Adelia.
"Apa kamu tidak keberatan?" tanya Bima memastikan.
"Tidak sama sekali! bagaimanapun kamu itu sudah menjadi suamiku. Sudah sepantasnya aku melakukan kewajibanku kan?" ucap Adelia, yang selama Bima di kamar mandi, sudah memikirkan tentang itu semua.
"Apa kamu mau melakukanya tanpa adanya cinta? aku tidak mau memaksa kamu untuk melakukan kewajiban, karena aku tahu kalau kamu tidak mencintaiku. Kita berdua sama-sama tahu kalau aku dan kamu menikah tanpa pernah menjalin hubungan,"
"Aku tahu itu. Tapi aku sudah berjanji dalam hati, akan jadi istri yang baik dan berusaha belajar untuk mencintaimu. Karena bagaimanapun kita sudah sah menjadi suami istri. Lagian kamu juga sudah mengatakan akan serius menjalani pernikahan ini kan? Kita juga pasti sulit untuk berpisah karena menjaga hati orang tua kita masing-masing dan orang-orang di sekeliling kita. Aku juga sudah mendengar janjimu pada papa dan Kakakku dan aku percaya kalau kamu adalah tipe pria yang tidak akan ingkar janji. Jadi apa salahnya kalau kita harus total dalam menjalani pernikahan kita? betul tidak?"
Bima bergeming, tidak bisa menyangkal ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Adelia. Pria itu merasa kalau apa yang diucapkan oleh wanita itu benar adanya.
__ADS_1
Tbc