Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Bab 26


__ADS_3

"Dasar, wanita pembawa sial! sudah empat tahun lebih kalian berdua menikah, tapi masih saja belum bisa kasih mama cucu," ucap seorang wanita yang merupakan mamanya David.


"Ma, kami sudah berusaha untuk memberikan mama cucu, tapi Tuhan belum berkehendak. Mama tahu sendiri kalau Risa berkali-kali hamil, tapi selalu keguguran," David melakukan pembelaan, sementara itu, Risa sudah mulai menangis.


"Itu berarti salahnya dia yang tidak bisa menjaga kandungannya. Sudah tahu hamil, tapi masih saja keluyuran. Tahunya cuma ngabisin duit saja," mamanya David menatap sinis ke arah Risa.


"Ma, cukup!" David meninggikan suaranya.


"Kamu berani ya membentak Mama hanya gara-gara wanita ini. Dasar anak tidak tahu terima kasih! kan benar yang mama katakan. Dia sudah tahu kalau dia hamil, masih saja pergi keluyuran entah kemana, dan ngabisin duit kamu. Sekarang coba kamu pikirkan, semenjak kamu menikah dengannya, perusahaan kamu ada kemajuan tidak? masih tetap jalan di tempat kan? Tapi, istrimu yang tidak tahu diri ini, hanya bisa menghabiskan duit kamu,"


David, diam tidak bisa membantah karena yang diucapkan mamanya itu benar adanya.


"Ma, sudah ya! kami janji akan berusaha untuk memberikan mama cucu secepatnya. Dan kalau Risa sudah hamil, aku dan dia ajak lebih fokus. menjaganya," bujuk David, berusaha menenangkan mamanya.


"Baiklah, mama tunggu! kalau belum hamil juga, mama akan carikan kamu istri baru. Mama pergi dulu!" pungkas mamanya David sembari berlalu pergi.


"Sayang, kenapa kamu menjanjikan hal seperti itu sih pada Mama? bagaimana kalau aku nggak hamil - hamil, coba?" protes Risa, begitu mama mertuanya itu sudah tidak terlihat lagi.


"Mau bagaimana lagi? hanya itu caranya agar mama bisa tenang dan pergi," sahut David, tidak mau disalahkan.


"Arghh, mamamu memang menyebalkan!" umpat Risa,kesal.


"Apa kamu bilang? menyebalkan? apa yang dikatakan mamaku itu benar. Mulai dari kita menikah, usahaku hanya jalan di tempat. Semua keuntungannya selalu kamu habiskan untuk shopping dan shopping terus!" suara David mulai meninggi. "Asal kamu tahu, usahaku sekarang sudah diambang kebangkrutan. Rumah ini pun mungkin akan aku jual untuk membayar gaji dan pesangon pegawai," lanjut David lagi, membuat Risa terkesiap kaget.


"Apa? kamu jangan bercanda! ini sama sekali tidak lucu," Risa menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Apa kamu lihat wajahku lagi bercanda? tidak kan? ini nyata,dan kamu harus terima kenyataan itu!"


"Ta-tapi kenapa bisa sih?"

__ADS_1


"Tentu saja bisa. Itu karena kamu sangat boros, tidak seperti Ruby,".


"Ruby, Ruby lagi yang ada di kepalamu. Kenapa setiap ada masalah, kamu selalu melibatkan nama Ruby. Kamu menyesal ya, menikah denganku, dan ingin kembali pada Ruby?" suara Risa sangat tinggi, karena kini benar-benar sangat marah.


"Ya! aku menyesal! asal kamu tahu, usahaku dulu sudah sempat maju, ketika masih bersama Ruby, tapi ketika sudah menikah denganmu, semuanya menjadi hancur," tegas David, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ada apa ini? kenapa kalian ribut?"


David dan Risa sontak menoleh ke arah datangnya suara yang tidak lain adalah Rajasa.


"Papa!" seru Risa dan David bersamaan.


"Papa kenapa datang tidak kasih tahu lebih dulu?" tanya Risa yang langsung datang menghampiri Rajasa.


"Kenapa papa harus kasih kabar lebih dulu? emangnya kalian tidak suka kalau papa datang?" Rajasa mengrenyitkan keningnya, merasa tidak senang.


"Bukan begitu, Pa? kami kan bisa menyiapkan sesuatu sebelum Papa tiba,"David buka suara. "Oh ya, Pa, silakan duduk dulu!" lanjut David lagi, mempersilakan papa mertuanya itu untuk duduk.


"Papa datang ke sini, hanya mau meminta kembali uang yang kalian pakai untuk pesta pernikahan kalian dulu. Ini sudah empat tahun lebih, tapi kalian sama sekali belum mengembalikannya," ucap Rajasa tanpa basa-basi.


Risa dan David saling silang pandang dengan raut wajah panik.


"Pa, maaf sekali. Kami sedang mengalami kesulitan keuangan, bahkan __"


"Jadi mau sampai kapan kamu bisa mengembalikannya?" Rajasa memotong ucapan David, sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.


"Sekarang aku benar-benar butuh uang. Sementara Ruby sudah tidak bersama Arka lagi, jadi aku tidak bisa meminta uang padanya lagi," sambung Rajasa lagi.


"Apa? jadi dia sudah berpisah?" pekik David. "Jadi, di mana Ruby sekarang dan bagaimana keadaannya?" lanjutnya lagi dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


"Kenapa kamu terlihat khawatir?" Risa menatap David dengan tatapan curiga.


"Bagaimanapun dia itu pernahkah dekat denganku dan juga adik iparku. Pantas kan aku bertanya bagaimana keadaannya?" ucap David santai.


"Sudah, sudah! aku datang ke sini hanya untuk meminta uang itu, bukan mendengar kalian berdua ribut. Papa sangat memerlukannya, untuk membayar utang," Rajasa menyela, menghentikan perdebatan putri dan menantunya.


"Emm, Pa. Tapi kami benar-benar sudah tidak punya uang lagi. Usahaku sekarang di ambang kebangkrutan dan sudah tidak bisa dipertahankan lagi,"


"Apa? bangkrut? kamu benar-benar tidak berguna. Sia-sia semua yang kulakukan demi kalian berdua. Asal kalian tahu, uang itu dikasih seseorang dan Ruby yang membayarnya pada orang itu dengan mengorbankan dirinya, dengan mau berpura-pura menjebak Arka," tanpa sadar Rajasa mengungkapkan apa yang dia sembunyikan selama ini.


Pengakuan yang baru saja terlontar dari mulut Rajasa sontak membuat Risa dan David kaget.


"Apa? jadi Ruby melakukannya karena di bawah tekanan, Papa? bagaimana mungkin Papa bisa melakukan seperti itu pada putri sendiri?" suara David mulai meninggi. Karena walaupun dia pernah memanfaatkan Ruby, tapi dia tidak pernah melupakan kebaikan wanita yang pernah dikhianati nya itu.


"Itu bukan urusanmu! dia itu putriku dan terserah aku mau melakukan apa padanya. Dia sudah membuat orang yang aku cintai, orang yang membuat setengah jiwaku hilang, jadi dia memang pantas membayarnya dengan berkorban padaku. Aku sudah kehilangan kebahagiaan, jadi dia tidak panty juga untuk bahagia," ucap Rajasa, berapi-api.


"Jadi, Pa, selama ini Papa sudah menanamkan kebencian itu padaku juga? Papa sadar nggak sih, kalau Papa sudah membuat seorang Kakak membenci adiknya sendiri? aku bahkan sampai ingin mengambil apapun yang membuat dia bahagia termasuk kekasihnya," Risa buka suara dengan suara yang juga tidak kalah tinggi.


"Apa? jadi kamu mau mengatakan kalau kamu


mau menikah denganku bukan karena kamu mencintaiku, tapi hanya karena ingin membuat Ruby sakit hati, begitu maksudmu?" Pekik David, menatap tajam ke arah Risa.


"Dulu, iya. Tapi semakin lama aku akhirnya mencintaimu juga, makanya aku tidak suka, kalau kamu selalu memuji Ruby di depanku. Ternyata kamu benar, aku tidak sebanding dengan Ruby," Risa mulai menangis.


Risa kembali menatap Rajasa papanya. "Pa, aku sekarang menyadari, kenapa rumah tanggaku dan David selalu dikelilingi oleh masalah. Mulai dari kami selalu gagal memiliki anak, pertengkaran yang selalu melibatkan nama Ruby, sampai usaha David yang bangkrut. Ternyata itu semua terjadi karena rumah tangga kami terbangun dari air mata dan penderitaannya. Dan semua ini gara-gara,Papa!"


"Kamu jangan membentakku! sekarang yang papa mau, kalian berikan uang yang kalian pakai dulu padaku, karena aku sangat membutuhkannya!" Rajasa seakan tidak peduli dengan kemarahan putri dan menantunya itu.


"Tidak akan! karena itu bukan hak Papa. Itu hak Ruby. Setelah rumah ini kami jual, dan membayar gaji karyawan, Berapapun sisanya, kami akan memberikan uang itu pada Ruby. Kalau Masih kurang, kami akan berusaha untuk mencicilnya!" pungkas David dengan tegas.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2