Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 23


__ADS_3

"Mas, aku tidur di mana? di sofa lagi ya?" Ruby menyelipkan sebuah sindiran ketika mereka sudah tiba di dalam kamar Arka.


Arka tidak menjawab sama sekali, dia hanya mengembuskan napasnya. Dia menatap sang istri yang kini juga tengah menatapnya.


"Please jangan ingatkan tentang hal itu lagi. Aku baru merasa kalau tidur di sofa itu rasanya tidak enak. Karena setelah kamu pergi aku mencoba tidur di sana," ujar Arka, sembari menunjuk ke arah sofa yang posisinya masih tetap sama.


"Serius, Mas?" tanya Ruby memastikan dan Arka mengangguk lemah.


"Jadi, kamu tidur di atas ranjang aja ya?" lanjut Arka sembari tersenyum.


Ruby membalas senyum Arka dan menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, kamu istirahat dulu, aku mau ke ruang kerja, karena ada hal penting yang harus aku lakukan. Kalau ada hal yang dibutuhkan, kamu tinggal telepon aku. Aku pasti akan langsung datang," Ruby menganggukkan kepalanya dan Arka mencium kening Ruby, sebelum akhirnya pria itu beranjak pergi.


Setelah tubuh Arka menghilang di balik pintu, Ruby mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar. Tidak ada perubahan di dalam kamar ini, kecuali sekarang ada photo pernikahan mereka yang di panjang di atasnya ranjang.


Baru saja, Ruby hendak berbaring, tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Ruby sontak melangkah untuk membukakan pintu.


"Adelia?"alis Ruby bertaut begitu mengetahui kalau yang baru saja mengetuk pintu adalah Adelia adik iparnya.


"Apa aku mengganggu, Kak?" tanya Adelia, tersenyum tipis.


"Oh, tidak sama sekali!" sahut Ruby dengan cepat.


"Boleh aku masuk? ada sesuatu yang mau aku bicarakan," Adelia menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya wanita itu merasa kurang enak hati, tapi dia merasa tidak tenang sebelum mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.


"Tentu saja boleh, ayo masuk!" Ruby membuka pintu lebar-lebar, dan memberikan jalan untuk Adelia.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Ruby, sembari duduk di samping adik iparnya.


"Kak, apa Kakak ... emm ...."Adelia merasa gugup untuk mulai bicara.

__ADS_1


"Kenapa berhenti, Del? aku kenapa?" Ruby benar-benar merasa penasaran.


Adelia mengembuskan napasnya dengan perlahan guna menenangkan hatinya.


"Kak, apa Kakak tidak membenciku?" tanya Adelia hati-hati.


"Membencimu atas apa?" Ruby benar-benar bingung arah pembicaraan Adelia.


"Emm, atas masalah pertunanganku dengan Kak Pandu. Kakak pasti marah dan kesal karena aku akan bertunangan dengan Kak Pandu, yang otomatis membuat hati Kak Tiara terluka," Akhirnya Adelia berani mengungkapkan kegundahannya.


"Tunggu! apa itu berarti kamu sebenarnya sudah tahu kalau Pandu ...." Ruby menggantung ucapannya karena dia yakin tanpa dia lanjutkan pun, adik iparnya itu pasti sudah mengerti maksudnya.


"Iya, Kak. Aku sudah tahu semuanya. Aku bahkan tahu kalau Kak Pandu salah paham pada kak Tiara. Aku juga tahu kalau Bima itu sepupu dari Kak Tiara, tapi aku benar-benar tidak sanggup kak, kalau aku harus gagal bertunangan dengan Kak Pandu. Aku mencintainya," tutur Adelia dengan raut wajah sendu.


"Apa kamu juga tahu kalau Tiara juga memiliki perasaan pada Pandu?" tanya Ruby memastikan.


Ruby semakin kaget melihat Adelia mengangguk, mengiyakan.


Karena aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya pertunanganku dengan Kak Pandu dibatalkan. Aku egois ya, Kak?" Adelia mulai menangis.


Ruby bergeming tidak menjawab, karena kalau dia mengatakan Adelia tidak egois, kenyataannya, adik iparnya itu memang sudah bersikap egois. Namun kalau dia menjawab 'ya, kamu egois!', dia merasa tidak enak hati mengatakan hal itu. Dia benar-benar dihadapkan dengan masalah yang cukup berat, di mana yang satu sahabat yang selalu ada untuknya dan yang satu lagi adik iparnya.


Ruby akhirnya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Seharusnya kamu tidak perlu bertanya ke pada Kakak masalah itu, karena kakak yakin, kamu sudah tahu jawabannya, Del." Ruby berhenti sejenak untuk mengambil jeda.


"Cinta itu tidak egois,dan kadar besarnya cinta kita pada seseorang itu diukur dari bahagianya kita melihat orang yang kita cintai bahagia, meskipun tidak bersama dengan kita," lanjut Ruby lagi.


Adelia tercenung, diam seribu bahasa. Tanpa diucapkan secara langsung pun, Adelia sudah bisa mengerti maksud ucapan kakak iparnya yang secara tersirat mengatakan kalau dia sudah bersikap egois.


"Kami sudah membicarakan hal ini tadi sebelum berangkat ke Jakarta. Sebenarnya, aku dan Kakakmu Arka ingin membantu menyelesaikan kesalahpahaman mereka berdua dengan memberitahukan kebenarannya pada Pandu, tapi Tiara melarang karena dia tidak ingin kamu terluka . Di samping itu dia tidak ingin hubungan keluarga kita dan keluarga Pandu hancur kalau sampai Pandu membatalkan kembali pertunangan. Tiara bilang, berbahagia di atas air mata seseorang itu, tidak ada gunanya dan justru membuat sebuah hubungan akan menjadi hambar karena dihantui oleh rasa bersalah," Ruby kembali menjelaskan dengan panjang lebar dan tanpa jeda.

__ADS_1


"Kak Tiara bilang seperti itu?" tanya Adelia, dan Ruby mengangguk, mengiyakan.


"Kenapa Kak, Tiara bisa berbesar hati seperti itu?" lanjut Adelia lagi.


"Seperti yang Kakak katakan tadi, cinta itu tidak egois. Sekarang semua tergantung padamu, kalau kamu masih tetap ingin melanjutkan pertunangan, itu berarti kamu harus siap menerima rasa sakit, setiap kali kamu kurang ditanggapi atau kurang diperhatikan oleh Pandu, dan kamu juga harus siap untuk berusaha lebih keras, membuat Pandu bisa melupakan Tiara dan bisa mencintaimu. Kalau kamu memilih untuk mundur, kamu juga harus punya alasan yang jelas, dan berusaha agar kedua keluarga besar tidak salah paham dan hubungan tetap terjaga," ujar Ruby, dengan lugas.


Adelia bergeming, tidak membantah ataupun mengiyakan ucapan kakak iparnya karena hati dan pikirannya masih berperang.


"Hei, ngapain kamu di sini? kamu mengganggu kakak iparmu ya?" tegur Arka yang ternyata sudah kembali.


"Cih, emangnya nggak bisa ya kalau aku ngajak bicara kakak ipar sendiri? Kak Ruby ini bukan hanya milik Kakak," sahut Adelia dengan bibir yang mengerucut.


"Iya, dia memang bukan hanya milik Kakak, tapi dia juga bukan milikmu. Dia itu milik Kakak, dan anak-anak kami," Arka tidak mau kalah.


Adelia tersenyum bahagia, melihat sikap Kakaknya yang selalu mengajaknya berdebat sudah kembali lagi.


"Tidak usah senyum-senyum! sekarang kamu keluar, dan biarkan Kakak iparmu istirahat. Mumpung ada papa dan mama yang jagain baby triplet," Arka menarik tangan Adelia dan mendorong adiknya itu keluar.


"Cih, bilang aja kalau Kakak sama Kak Ruby mau kangen-kangenan," ucap Adelia, menyindir.


"Tuh, kamu tahu! Sono pergi!" pungkas Arka sembari menutup pintu.


"Dia ke sini mau ngapain tadi?" tanya Arma setelah dia kembali menghampiri Ruby.


"Dia ke sini cuma mau menanyakan pendapatku tentang pertunangannya dengan Pandu, Mas. Ternyata dia sudah tahu semuanya tentang kesalahahpahaman Pandu dan Tiara," jelas Ruby.


"Jadi bagaimana? apa dia memilih untuk mundur?" tanya Arka antusias.


Ruby menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya. "Dia sangat berat untuk mundur,Mas! tapi aku sudah memberikan dia sebuah pandangan tadi. Mudah-mudahan dia dapat mempertimbangkan pandangan yang aku berikan,"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2