Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 44


__ADS_3

Bima dan Adelia,masuk ke sebuah food court yang sudah banyak dipenuhi oleh orang-orang yang sedang makan siang. Adelia sengaja memilih food court dibandingkan restoran karena dia merasa makanan di food court beragam dan juga sangat enak.


Wajah Bima dari tadi selalu ditekuk, tidsenyuman sama sekali. Pria itu benar-benar merasa kesal mengetahui asistennya jatuh cinta pada Adelia.


"Kak, kamu kenapa sih? kenapa wajahnya dari tadi ditekuk saja? Kakak keberatan aku datang ke kantormu?" tanya Adelia dengan wajah masam.


"Aku sama sekali tidak keberatan. Hanya saja aku kesal, kenapa kamu tidak mengabariku lebih dulu, biar aku jemput ke bawah," ucap Bima masih dengan ekspresi wajah tidak menyenangkan.


"Kenapa? apa kamu takut kalau kamu ketahuan seandainya kamu dengan perempuan lain?" tukas Adelia dengan tatapan curiga.


"Tidak sama sekali. Hanya saja ... ahh sudahlah! yang penting sekali lagi kamu harus kasih kabar kalau mau datang ke kantor. Bukan karena apa yang kamu tuduhkan itu tapi karena aku tidak mau terjadi sesuatu hal buruk. Karena aku tahu kalau Jenni dan Cherrylin sahabatnya sama sekali belum pulang ke Indonesia," ucap Bima memberikan alasan, walaupun memang itu adalah salah satu alasan selain karena kekesalannya pada Tomy tadi.


"Sekarang,kamu mau makan apa? biar aku pesan!" Bima berdiri dari kursinya.


"Hari ini aku mau makan Hokkian prawn noodle, dan roti prata, Kak!" sahut Adelia.


"Kamu sanggup makan keduanya?"


"Sanggup? emangnya kenapa? kamu takut aku gemuk?" Adelia mengerucutkan bibirnya.


"Bukan seperti itu! Aku hanya takut kamu tidak bisa menghabiskannya dan kamu memaksaku untuk menghabiskannya," ujar Bima.


"Tidak akan! Kamu tenang saja!" tegas Adelia dengan nada yang sangat yakin.


"Baiklah kalau begitu. Aku tadinya ingin makan chicken rice tapi, dari pada bolak-balik,aku akan makan Hokkian prawn noodle juga lah," pungkas Bima lalu berjalan menuju stand yang menjual prawn noodle.


Tidak perlu menunggu lama, Bima kembali datang sembari membawa nampan berisi pesanan mereka berdua.


"Kamu makan dulu, aku mau pergi pesan roti prata," ucap Bima sembari meletakkan nampan di tangannya dan berlalu pergi lagi.


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang sedang menatap mereka penuh kebencian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bima dan Adelia kini sudah selesai makan siang. Mereka berdua keluar dari food court dan Lang melangkah menuju mobil.


"Kamu mau langsung pulang atau masih mau ikut ke kantorku? tapi aku sarankan kalau kamu bosan di rumah, sebaiknya kamu ikut ke kantor!" ucap Bima. "Eh, tidak usah ke kantor. Aku langsung antar kamu pulang saja," tiba-tiba Bima menarik kembali kata-katanya begitu mengingat ada Tomy pria yang jelas-jelas mengagumi istrinya, di kantor.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak boleh ikut ke kantor kamu? apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" mata Adelia memicing curiga.


"Berapa kali aku harus katakan, tidak ada sama sekali. Aku hanya merasa kalau kamu di kantorpun pasti akan merasa bosan, menungguku kerja," Bima mencoba memberikan alasan yang masuk akal.


"Aku tidak akan bosan. Aku juga bisa membantu pekerjaanmu. Ingat, aku pernah membantu kak Arka mengelola perusahaan,". Adelia bersikeras untuk tetap ikut.


"Haish, keras kepala sekali sih! tidak mungkin kan aku mengatakan karena ada Tomy di sana," Bima menggerutu dalam hati.


"Kalau begitu kita pulang saja. Aku tidak akan kembali lagi ke kantor. Aku juga mau istirahat," pungkas Bima akhirnya, memutuskan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua orang wanita yakni pemilik dua pasang mata yang menatap penuh kebencian pada Adelia, kini sudah berada di dalam mobil. Siapa lagi mereka kalau bukan Jenni dan Cherrylin sahabatnya yang juga terkena imbas pemecatan.


"Kamu yakin Jen, mau menabrak istrinya Tuan Bima?" tanya Cherrylin yang sebenarnya kurang setuju dengan rencana Jenni.


Jenni sontak menatap ke arah Cherrylin dengan tatapan yang sangat tajam.


"Yakinlah! kenapa? apa kamu mau mundur?"


"Bukan seperti itu, Jen. Kamu tahu sendiri kan, kalau Tuan Bima sudah mengingatkanmu kalau ada sesuatu yang terjadi pada istrinya itu, kamu orang pertama yang akan dia cari? kamu mau kalau kamu di penjara?" Cherry mencoba untuk mengingatkan mencoba untuk membuat sahabatnya itu, berpikir ulang.


"Itu mereka. Kamu siap-siap!" Jenni mulai menghidupkan mesin dan menginjak gas.


Cherrylin memejamkan matanya, dan menahan napasnya.


Sementara itu, Adelia dan Bima yang sudah mendekati mobil tidak menyadari sama sekali kalau akan ada bahaya yang mengintai.


"Awas, Nona!" tiba-tiba seorang laki-laki menarik tangan Adelia dan seorang pria lain lagi mendorong tubuh Bima, hingga tubuh pria itu sedikit terpental dan Adelia berada di pelukan pria yang menarik tangannya.


Sementara itu, mobil yang dikemudikan oleh Jenni melaju dengan kencang. Wanita itu menoleh ke belakang, tapi lupa untuk menurunkan gasnya sehingga malang tidak bisa dihindarkan lagi, mobil itu menabrak sebuah pohon besar di depannya.


Kepala Jenni membentur kemudi dengan sangat keras demikian juga dengan Cherrylin.


Bima bangkit berdiri dengan ekspresi kaget sekaligus panik.


"Adel!" pekik pria itu.

__ADS_1


"Hei, jauhkan tanganmu dari istriku!" bentak Bima dalam bahasa Inggris. Pria itu begitu emosional, melihat Adelia ada di pelukan laki-laki.


"Maaf, Tuan!" ucap pria itu dalam bahasa Indonesia, sembari melepaskan Adelia yang terlihat masih shock.


Bima menarik tangan Adelia dan memeluk wanita itu. Tanpa sadar pria itu mencium puncak kepala Adelia berkali-kali. Sementara pria yang tadi memeluk Adelia menoleh ke arah rekannya yang mendorong tubuh Bima.


"Kamu pergi periksa dua wanita itu!" titahnya dengan tegas.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bima sembari memeriksa tubuh Adelia.


"Aku tidak apa-apa, Kak! syukur ada dia yang menyelamatkanku," Adelia menunjuk ke arah pria tinggi yang berpakaian casual itu.


"Terima kasih! lain kali jangan main peluk-peluk lagi! Kali ini kamu aku maafkan! kalau masih terulang aku patahkan tanganmu!" ucap Bima dibarengi dengan tatapan tajam.


Pria itu hanya tersenyum menanggapi ancaman Bima. Dia tidak merasa tersinggung sama sekali.


"Oh ya, sepertinya kalian orang Indonesia, apa benar dugaanku?" Bima menaikkan sedikit alisnya menyelidik


"Iya, benar, Tuan. Kami sebenarnya diperintahkan oleh Tuan Arka untuk menjaga keselamatan Nona Adelia dari wanita bernama Jenni dan Cherrylin. Dan yang tadi hendak mencelakai Nona Adel adalah dua wanita itu,"


Bima tersentak kaget mendengar pengakuan pria itu.


"Kenapa dia memerintahkan orang untuk melindungimu? apa dia sama sekali tidak percaya kalau aku bisa melindungimu?" tanya Bima dengan nada tidak suka.


"Kakak jangan su'udjon dulu! lebih baik kita tanya dulu baik-baik apa alasannya, " ujar Adelia menenangkan Bima yang sepertinya sedang marah.


"Sob, dua wanita itu sudah tidak tertolong lagi. Mereka berdua sudah meninggal karena benturan yang terlalu keras! mereka sudah dibawa ke rumah sakit," pria yang merupakan rekan pria bertubuh tinggi itu datang melaporkan kondisi Jenni dan Cherrylin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bima meraih ponselnya dan menghubungi Arka. Sebenarnya dia ingin mengucapkan terima kasih tapi ada rasa kesal karena dia merasa Arka tidak mempercayainya sampai meminta orang untuk melindungi Adelia.


"Halo, Bim!"terdengar suara Arka dari ujung sana.


"Ka, kenapa kamu meminta orang untuk menjaga Adel? apa kamu masih tidak percaya padaku?" tanpa basa-basi Bima langsung pada topik.


Terdengar suara helaan napas dari Arka.

__ADS_1


"Bukannya aku tidak percaya padamu,Bim. Maaf kalau kamu merasa aku meragukanmu. Awalnya aku tidak punya niat untuk mengirimkan anak buahku ke sana. Tapi, Tiara datang dan bilang kalau di sana kamu ada sekretarismu yang dia yakin sangat menyukaimu. Jadi aku meminta seseorang untuk mencari tahu kebenarannya. Ternyata dugaan Tiara benar. Aku cukup senang ketika aku tahu kamu memecatnya, tapi ada rasa khawatir padaku kalau perempuan itu akan balas dendam. Makanya diam-diam aku meminta anak buahku untuk menjaga Adelia dari jauh dan mengawasi pergerakan Jenni. Aku tahu kamu sudah mengingatkannya untuk tidak mencelakai Adel,tapi aku merasa kalau wanita itu tidak akan peduli. Sekali lagi maaf! Aku tahu kalau Adel sudah memiliki suami, aku juga tidak mau mengabaikan tanggung jawabku sebagai kakak. Anggap saja kita sama-sama sedang melakukan tanggung jawab kita."


Tbc


__ADS_2