Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 24


__ADS_3

Adelia masuk ke dalam kamarnya dan meraih ponselnya. Dia langsung mencari nomor Pandu yang dia beri nama My love dan langsung menghubungi pria itu.


"Hallo," terdengar suara Pandu dari ujung telepon.


"Halo, Kak. Kamu sibuk, gak?" tanya Adelia.


"Lumayan. Kamu kan tahu, aku meninggalkan pekerjaan hampir dua hari, jadi banyak yang harus dikerjakan,"


"Tapi, ini kan sudah sore, Kak. Sudah waktunya jam pulang," Adelia menggigit bibirnya grogi.


"Rencananya aku mau lembur, karena besok aku tidak bisa lembur karena harus ke rumah mu makan malam. Jadi, mau tidak mau aku harus menyelesaikan pekerjaanku," nada bicara Pandu terdengar kurang bersemangat, bicara dengan Adelia.


"Oh begitu ya! ya udah deh kalau begitu! selamat bekerja ya, Kak. Jangan terlalu dipaksakan kerjanya. Kakak pasti lelah, begitu sampai ke Jakarta langsung ke kantor. Aku tidak mau Kakak jadi sakit," Adelia menunjukkan sikap perhatiannya.


"Sebenarnya kamu tadi menghubungiku mau apa? apa ada hal yang sangat penting?" Pandu sama sekali tidak menanggapi perhatian yang ditunjukkan oleh Adelia. Pria itu justru merasa penasaran, alasan Adelia menghubunginya.


"Emm, sebenarnya aku hanya ingin mengajak Kakak makan malam, malam ini, itupun kalau Kakak tidak keberatan. Tapi, sepertinya Kakak sibuk, dan aku yakin kalau Kakak pasti akan menolak," ujar Adelia, dengan gugup.


Tidak terdengar jawaban dari Pandu. Yang terdengar hanya embusan napas. "Baiklah, kamu siap-siap aja. Aku akan menjemputmu," pungkas Pandu akhirnya, menyetujui.


"Eh, benarkah, Kak? baiklah, aku mau bersiap-siap dulu!" raut wajah Adelia terlihat berbinar.


"Tapi tunggu dulu! kita mau makan malam di mana? apa masih di restoran Tiara?" sebelum Adelia benar-benar menutup panggilannya, Pandu kembali bertanya.


"Emm, sekarang terserah Kakak mau di mana. Aku nurut aja. Atau, bagaimana kalau kita makan di restoran yang ada di dalam mall keluarga Kakak? Sekalian aku mau cuci mata, lihat-lihat sesuatu," ucap Adelia penuh harap.


"Baiklah! kamu siap-siap dulu, aku jalan ke sana sekarang!" panggilan akhirnya terputus dan Adelia melompat-lompat kegirangan di atas ranjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pandu berjalan dengan langkah panjang, hingga membuat Adelia sedikit kewalahan untuk bisa berjalan sejajar dengan pria itu.


"Kak, bisa tidak kalau jalan itu jangan cepat-cepat? aku capek!" keluh Adelia dengan napas yang tersengal-sengal.


Pandu menyurutkan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Maaf!" sahut Pandu singkat.


Sekarang Pandu sudah mulai memperlambat jalannya dan menyesuaikan langkahnya dengan langkah Adelia. Adelia mencoba untuk menggandeng tangan Pandu, tapi entah sengaja atau tidak, Pandu tiba-tiba memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


Adelia hanya bisa menghela napas, berusaha untuk tidak tersinggung.

__ADS_1


Adelia mengalihkan tatapannya ke arah lain, agar Pandu tidak melihat raut wajah sedihnya. Mata wanita itu tiba-tiba membesar begitu melihat sosok wanita yang sedang berjalan sendiri. Siapa lagi wanita yang bisa membuat Adelia kaget saat ini kecuali Tiara. Di saat yang bersamaan, mata Tiara juga menatap ke arah Adelia.


"Kak Tiara!" panggil Adelia sembari melambaikan tangannya. Mendengar nama Tiara disebutkan oleh Adelia membuat Pandu sontak menoleh dan melihat ke arah tatapan Adelia. Untuk sejenak matanya dan mata Tiara terkunci, saling menatap. Namun, Tiara segera tersadar dan langsung menghentikan tatapan mereka.


"Ayo, Kak, kita hampiri Kak Tiara," Adelia berusaha bersikap biasa saja seakan dia masih tidak tahu apa yang terjadi di antara Pandu dan Tiara


"Buat apa? biar dia yang menghampiri kita," tolak Pandu, sembari menatap ke arah lain.


Adelia hanya bisa mengerucutkan bibirnya. dan menghela napasnya dengan sekali hentakan.


Sementara itu Tiara berjalan menghampiri Adelia dan Pandu. Sebenarnya kalau tidak mengingat ke sopananan, ingin rasanya Tiara langsung pergi meninggalkan tempat itu, tapi dia merasa tidak enak pada Adelia.


"Hai, Del, Kak Pandu!" sapa Tiara, berusaha bersikap biasa. Padahal, kalau dilihat dengan seksama, kaki wanita itu sudah sedikit bergetar.


"Kak Tiara mau kemana?" tanya Adelia basa-basi.


"Emm, aku tadi hanya ingin beli sesuatu saja, tapi belum ketemu. Kalau kalian?" sahut Tiara dengan ekor mata yang melirik ke arah Pandu yang bersikap apatis padanya, seakan pria itu tidak melihat keberadaannya di tempat itu.


"Kami sih mau makan malam aja di restoran yang di sana. Setelah itu, aku juga mau cuci mata. Bagaimana kalau Kakak ikut kami makan malam?"


"Ehmm, ehem!" Pandu sontak berdeham seakan sedang tersedak sesuatu, begitu mendengar ajakan Adelia.


"Oh, tidak usah! kalian berdua saja. Tidak enak kalau aku ikut," tolak Tiara yang tahu maksud reaksi dari Pandu tadi.


"I-iya tidak apa-apa!" sahut Pandu akhirnya.


"Tuh kan, tidak apa-apa! ayolah!" tanpa ingin mendapat penolakan dari Tiara lagi, Adelia langsung menarik tangan wanita itu dan berjalan mendahului Pandu. Jangan lupakan Pandu yang hanya bisa mengembuskan napas, pasrah.


Mereka bertiga kini sudah masuk ke dalam restoran yang juga menyediakan sebuah panggung untuk bernyanyi.


"Kak Tiara mau pesan apa?" tanya Adelia sembari menyerahkan buku menu.


Masih dengan perasaan tidak enak, Tiara menyebutkan pesanannya asal.


"Kamu kan tidak bisa makan seafood, kenapa kamu pesan Seafood?" tiba-tiba Pandu buka suara, menatap Tiara dengan sangat tajam. Dia tidak menyadari kalau kelakuannya itu mendapat perhatian dari Adelia.


"A-aku sudah bisa kok makan seafood," sahut Tiara yang merasa tidak enak melihat perubahan raut wajah Adelia.


"Tidak boleh. Pokoknya kamu tidak boleh makan seafood. Aku tidak mau nanti kamu kenapa-kenapa. Kamu pesan yang lain saja, yang tidak ada seafoodnya," ucap Pandu, tegas tak terbantahkan. Masih belum menyadari sikapnya yang berlebihan dalam memproteksi Tiara.

__ADS_1


"Oh, jadi Kak Tiara tidak bisa makan seafood ya?" ucap Adelia, lirih.


Pandu seketika terdiam, tersadar dengan sikapnya yang benar-benar impulsif. Pria itu akhirnya memilih untuk tidak menjawab guna menghindari pertanyaan-pertanyaan lain yang pasti akan timbul nantinya.


"Ternyata kamu begitu mencintai kak Tiara, Kak. Kamu benar-benar tidak ingin dia kenapa-kenapa. Sedangkan aku ... aku sengaja memesan makanan pedas, makanan yang tidak bisa aku makan, tapi kamu tidak peduli," batin Adelia, sembari menatap ke arah lain


Di saat mereka sedang menunggu makanan, seorang wanita kini sudah berdiri di panggung dan dipastikan akan menyanyikan sebuah lagu. Sialnya wanita itu menyanyikan lagu yang berjudul Terlanjur mencintai yang merupakan lagu dari seorang penyanyi Indonesia bernama Tiara Andini.


"Aku tlah tahu kita memang tak mungkin


Tapi mengapa kita selalu bertemu


Aku tlah tahu hati ini harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta"


"Bila memang hatimu untuk aku


Salahkah ku berharap


Berharap kau memilih diriku cinta"


"Sial! kenapa harus ini sih yang dinyanyikan? umpat Pandu, karena lagu ini benar-benar sesuai dengan perasaannya sekarang.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Tiara. Dia benar-benar merasa kalau lagu ini adalah cerita tentang dirinya.


"Kakak, kenapa sendirian tadi? apa tidak ada yang menemanimu?" celetuk Adelia, memecah kecanggungan di antara Pandu dan Tiara.


"Oh, tadi aku ke sini sama Kak Bima, tapi dia tiba-tiba ada keperluan penting makanya dia langsung pergi," sahut Tiara.


"Laki-laki macam apa dia, yang meninggalkan seorang wanita seorang diri. Benar-benar laki-laki tidak bertanggung jawab," celetuk Pandu, berusaha menekan amarahnya.


"Emm, bu-bukan seperti itu. Tadi dia hanya izin pergi, tapi Kak Bima janji akan menjemputku nanti," ujar Tiara, melakukan pembelaan pada Bima.


Pandu terlihat semakin kesal mendengar pembelaan Tiara. Itu terlihat dari raut wajahnya yang memerah dan rahang mengeras.


"Itu sama saja! bahaya itu tidak hanya bisa terjadi di luar gedung, di dalam gedung juga bisa terjadi bahaya. Itu juga berarti pekerjaannya lebih penting dari kamu," ucap Pandu yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa yang menjadi penonton perdebatan mereka ya? kenapa rasanya sangat sakit?" bisik Adelia dalam hati.


Tbc


__ADS_2