
"Hei,Nona, jangan berdiri di sana, berbahaya!" teriak Bima pada seorang wanita yang sedang berdiri di pembatas jalan, sebuah flyover.
Wanita itu tidak menjawab sama sekali, tapi dia hanya menoleh sekilas ke arah Bima, dan kembali menatap ke depan.
Bima akhirnya keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri wanita itu.
"Nona, kalau lagi putus asa, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup dengan cara begini. Itu tidak baik dan dosa," Bima kini sudah berdiri di samping wanita yang ternyata tidak lain adalah Adelia.
Adelia mengembuskan napas dengan keras lalu menatap Bima dengan tatapan kesal.
"Emangnya siapa yang mau bunuh diri? jangan berpikir yang aneh-aneh!" sangkal Adel dengan nada ketus.
"Lo, jadi kamu di sini ngapain?" Bima mengreyitkan keningnya.
"Aku ada di sini, itu bukan urusanmu!" lagi-lagi Adelia menjawab dengan ketus.
Senyum Bima seketika tersenyum, tipis tidak merasa tersinggung sama sekali dengan sikap yang ditunjukkan oleh Adelia.
"Kalau aku lihat-lihat dari pakaian yang kamu pakai, kamu ini orang kantoran, bukannya ini masih jam kantor? seharusnya kamu kan ada di kantor sekarang?" ucapnya sembari menatap Adelia dari atas sampai ke bawah.
"Kalau kamu bagaimana? bukannya seharusnya kamu juga bekerja sekarang? atau jangan-jangan kamu ini tidak punya pekerjaan, jadinya kamu sibuk ngurusin urusan orang!" balas Adelia, memberikan sindiran pedas.
"Oh, Kebetulan aku memang masih pengangguran," ucap Bima merendah.
"Pantas!" Adelia menatap sinis ke arah Bima.
"Sepertinya kamu sedang patah hati? apa tebakanku benar?"lagi-lagi Bima mencoba bicara dengan lembut.
Adelia mendengkus dan menatap tajam ke arah Bima.
"Kenapa? apa aku ada salah bicara? kenapa kamu menatapku seperti itu?"Bima pura-pura memasang wajah bingung.
"Bukannya aku sudah bilang tadi, apapun yang terjadi padaku, itu bukan urusanmu? tapi kenapa kamu masih bertanya?" kali ini nada suara Adel bukan hanya ketus tapi sudah mulai meninggi.
__ADS_1
Lagi-lagi Bima tersenyum tipis.
"Maaf deh kalau begitu! Aku cuma penasaran saja. Soalnya, yang aku tahu biasanya kalau seorang wanita menyendiri sembari melamun dengan tatapan kosong,itu pasti sedang patah hati,"
Adelia tidak menjawab. Namun, ekor matanya yang melirik sinis ke arah Bima menandakan kalau dia benar-benar keki pada Bima.
"Oh ya, kalau kamu patah hati, berarti kita senasib karena aku juga tengah patah hati. Mungkin rasa sedih yang aku rasakan lebih sakit dibandingkan kamu,"
Ucapan yang terlontar dari mulut Bima, sontak membuat Adelia menoleh kembali ke arah Bima.
"Benarkah?" tanya Adelia yang merasa terpancing ingin tahu lebih jauh tentang jenis patah hati yang dirasakan pria di sampingnya itu.
"Tentu saja! kamu tahu, wanita itu yang aku cintai itu tidak akan mungkin jadi milikku. Padahal aku sudah menyukainya sangat lama," kini giliran Bima yang menatap jauh ke depannya. Raut wajah pria itu juga tampak sendu.
"Kenapa tidak bisa? apa wanita itu lagi-lagi menolak cintamu?" alis Adelia bertaut tajam.
"Sebenarnya dia tidak menolakku secara langsung, tapi aku merasa tertolak dengan sebuah kenyataan," ucap Bima, ambigu.
"Maksudnya?" mata Adelia memicing.
Adelia mengangguk-anggukan kepalanya dengan mulut yang membulat membentuk huruf 'o'.
"Bagaimana menurutmu, apa salah mencintai wanita yang sudah bersuami?"
"Kamu tidak salah, karena kita tidak pernah tahu pada siapa cinta kita akan berlabuh, karena rasa cinta itu datang dengan sendirinya tanpa kita undang. Yang salah itu, adalah kamu berusaha merebut wanita itu dari suaminya. Mencintai bukan berarti harus memiliki kan?"
"Kamu benar. Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku tidak akan merebut dia dari suaminya, dengan satu syarat, yaitu dia harus bahagia, kalau dia tidak bahagia, aku pastikan akan merebutnya dari suaminya itu. Emm, bagaimana? posisiku lebih parah kan dibandingkan kamu?" tanya Bima.
"Emm,bisa dikatakan iya. Tapi bagiku, apa yang terjadi padaku juga sangat membuatku dilema. Aku mencintai pria yang dijodohkan denganku, tapi pria ini mencintai wanita lain. Pria ini menerima perjodohan karena patah hati. Apa menurutmu aku harus tetap menerima perjodohan ini atau aku membatalkannya? aku benar-benar dilema," ucap Adelia yang entah kenapa tiba-tiba bisa terbuka pada Bima.
"Aku tahu perasaanmu. kamu pasti sangat mencintai pria ini dan kamu sangat ingin bersamanya, tapi di sisi lain kamu merasa hanya dijadikan pelampiasan, apa dugaanku benar?" tukas Bima.
"Iya, seperti itulah yang kurasakan sekarang. Bagaimana kalau seandainya kamu ada di posisiku? apa yang akan kamu lakukan?"
__ADS_1
"Kalau aku, tergantung bagaimana kondisinya." lagi-lagi Bima berbicara ambigu.
"Maksudnya?" alis Adelia bertaut.
Bima menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.
"Maksudnya, kalau orang yang aku cintai itu, patah hati karena orang yang dicintainya sudah punya orang lain, aku akan tetap memilih untuk melanjutkan perjodohan, lalu berusaha untuk membuatnya mencintaiku. Tapi, kalau orang yang aku cintai itu, patah hati karena situasi yang ambigu, aku akan memilih untuk mundur. Karena bisa saja mereka saling mencintai, tapi karena kurangnya keterbukaan sehingga terjadi salah paham. Nah, kalau sudah begitu, akan sulit buat kita untuk mendapatkan hatinya," tutur Bima.
"Masalahnya aku juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Aku mendengar kalau calon suamiku ini tiba-tiba menerima perjodohan karena melihat wanita itu dengan pria lain, tapi dia sama sekali tidak tahu dan belum menyelidiki siapa pria itu. Dia itu
kekasih wanita itu, atau ada hubungan lain, calon suamiku sama sekali tidak tahu. Yang aku tahu, kalau wanita itu, tidak menolak tapi juga tidak terlalu memberikan respon yang meyakinkan pada calon suamiku ini, jadi status mereka abu-abu. Kalau begitu situasinya, bagaimana menurutmu?"
"Kalau begitu, sebaiknya kamu yang menyelidikinya. Calon suamimu itu bisa saja, dalam situasi hati yang panas, saat menyetujui perjodohan kalian berdua. Menurutku lebih baik sakit sekarang daripada nanti setelah kalian berdua sah menikah," ucap Bima dengan bijaksana.
Adelia terdiam, memikirkan kata-kata Bima. Dia berpikir bahwa yang dikatakan oleh pria di sampingnya itu benar, tapi entah kenapa ada perasaan yang masih berat yang dia rasakan kalau nanti dia harus melepaskan Pandu, bilamana dia tahu kalau Pandu dan wanita itu saling mencintai dan hanya sedang salah paham.
"Terima kasih sudah memberikan aku saran. Aku akan coba mempertimbangkan saranmu!" pungkas Adelia akhirnya dengan nada yang ragu.
"Oh ya, dari tadi kita sudah bicara panjang lebar, tapi kita belum saling kenal. Kenalkan, aku Adelia!" Adelia mengulurkan tangannya ke arah Bima.
"Bima!" sahut Bima sembari menyambut uluran tangan Adelia.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya,semoga kamu bisa menemukan solusi terbaiknya!" ucap Bima setelah mereka diam beberapa saat.
" Baiklah! kalau boleh tahu, kamu akan pergi kemana?" tanya Adelia.
"Aku mau ke restoran sepupuku. Aku mau bertemu dengannya sekaligus makan siang gratis, maklumlah aku masih pengangguran di sini. Kamu mau ikut?" tanya Bima menyelipkan sebuah candaan di dalam ucapannya.
"Oh, tidak perlu! aku mau ke kantor calon suamiku. Aku mau mengajak dia makan siang bersama. Terima kasih buat tawarannya!" tolak Adelia, sembari tersenyum tipis.
"Oke deh! kalau begitu aku pergi! see you!" Bima akhirnya masuk ke dalam mobilnya dan langsung berlalu pergi.
Tbc
__ADS_1
Maaf, aku telat up. Karena seharian ini, aku menemani anak ikut lomba, 17-an sekaligus ikut meramaikan juga. 😁😁😁