
Sudah seminggu waktu berlalu semenjak terbongkarnya kebusukan Jelita dan mamanya dan sudah seminggu juga, Arka hidup dalam penyesalan.
Seminggu ini,Arka kebanyakan melamun dan hampir tidak pernah keluar kamar. Badannya sudah terlihat kurus karena jarang menyentuh yang namanya makanan. Pria itu hanya menghabiskan hari-harinya dengan duduk di balkon kamarnya sembari menatap kosong ke depan. Bahkan, perusahaan kini harus diambil alih oleh Adijaya lagi.
Bayang-bayangan tentang perlakuannya pada Ruby, hampir setiap hari berkelebat di pikirannya dan tentu saja membuat amarah pria itu bangkit dan tidak jarang dia suka memukul kepalanya sendiri.
Sudah seminggu ini juga dia berusaha mencari tahu, kemana Ruby pergi tapi sama sekali tidak ada yang tahu. Bahkan ketika dia bertanya pada Risa, yang merupakan kakak Ruby pun tidak tahu.
Wanita yang merupakan kakaknya Ruby itu sebenarnya sudah tahu kemana adiknya itu pergi, tapi, karena sebuah pertimbangan dan permintaan dari Tiara, mau tidak mau Risa pun akhirnya berbohong pada Arka mengatakan kalau adiknya itu, tidak pernah menghubunginya sama sekali.
"Kak, ayo makan! sudah seminggu ini kakak jarang makan, tolonglah kali ini Kakak makan. Kalau Kakak mau bertemu lagi dengan Kak Ruby, kakak harus sehat kan?" Adelia kini sudah berdiri di belakang Arka sembari membawa nampan berisi makan malam untuk Arka.
"Taruh aja di situ,nanti aku akan makan," sahut Arka lirih tanpa menoleh ke belakang.
"Tidak, Kak. Aku harus melihat Kakak makan sekarang,biar aku tenang," tolak Adelia sembari melangkah dan berdiri di depan Arka.
"Adel,nanti aku akan makan, aku mohon kamu tinggalkan aku sendiri dulu,"
"Kak, apa kamu masih menyayangi papa, mama dan aku? kalau iya, tolong jangan seperti ini, Kak. Kakak harus semangat untuk bisa menemukan Kak Ruby lagi. Apa Kakak kira Kak Ruby akan senang kalau lihat kondisi Kakak yang begini? dia pasti akan sedih, Kak. Kakak makan ya!" Adelia dengan sabar kembali membujuk Arka.
"Adel,apa kesalahanku masih termaafkan? apa Ruby masih mau memaafkanku?" desis Arka dengan lirih dan tatapan yang masih mengarah ke depan.
"Kak, aku yakin kalau Kak Ruby akan memaafkanmu, karena aku tahu, kalau Kakak itu mempunyai hati yang baik dan lembut. Aku tahu kalau perbuatan Kakak selama ini keterlaluan, tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan Kakak. Jadi, aku mohon agar Kakak bisa semangat lagi ya, supaya Kakak bisa mencari di mana Kak Ruby sekarang," tutur Adelia, mencoba menenangkan hati kakaknya, walaupun sebenarnya dia ragu apakah Ruby kakak iparnya itu bisa memaafkan Arka, kakaknya atau tidak.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiara baru saja selesai mandi bahkan rambutnya masih basah ketika ponselnya berbunyi.
Wanita manis itu meraih ponselnya dari atas nakas dan melihat nama Risa sedang menghubunginya. Tanpa ragu, Tiara pun menekan tombol jawab.
"Halo Kak Risa! ada apa? mau bicara dengan Ruby ya?" sapa Tiara dengan sopan dan tanpa basa-basi.
"Eh, tidak perlu. Aku mau bicara dengan kamu. Ini tentang Arka,"
Mendengar nama Arka disebutkan oleh Risa, Tiara sontak melangkah menuju pintu kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya itu, untuk berjaga-jaga, takut kalau Ruby masuk tiba-tiba.
"Iya, Kak. Ada apa dengan Arka?" tanya Tiara dengan suara yang pelan.
"Arka sudah seminggu ini, menemuiku dan bertanya di mana Ruby. Aku jawab saja tidak tahu, karena memang aku tidak tahu kan? aku melihat kondisinya sangat berantakan. Dia benar-benar terlihat berbeda dari yang dulu. Aku kasihan pada dia,apa kamu tidak mau memberitahukan di mana kalian sebenarnya?"
Ya, Tiara sebenarnya sudah tahu kalau Arka sudah tahu kebusukan Jelita dan tidak jadi menikah dengan wanita licik itu. Dia bahkan sudah tahu kalau Jelita dan mamanya sudah masuk dalam penjara. Namun, Tiara dengan sengaja tidak menginformasikan ini semua pada Ruby, karena dia khawatir kalau hati sahabatnya itu, melunak dan cepat-cepat kembali ke Jakarta, mengingat kondisi wanita itu yang sedang labil karena hormon kehamilannya yang kadang ingin bisa dekat dengan ayah dari anak-anak yang dia kandung.
"Seperti itu ya? tapi, aku takut kalau sampai sekarang Ruby masih merasa bersalah dengan kematian papa. Dia akan terus-menerus akan mengira kalau papa benar-benar bunuh diri karena tidak sanggup kesepian," dari nada suara Risa, terdengar jelas kalau wanita di seberang sana sedang khawatir.
"Kamu tenang saja,Kak. Untuk masalah itu, Ruby sudah baik-baik saja. Bahkan dia sudah bisa tersenyum lebar sekarang. Ditambah dengan restorannya yang sudah semakin banyak dikunjungi oleh tamu, membuat dia sedikit sibuk dan lupa akan semua yang dia alami selama ini," jelas Tiara dengan nada sangat meyakinkan.
"Syukurlah kalau begitu!" Risa menghela napas lega. "Oh ya, kalau sekali lagi Arka datang ke sini, apa yang seharusnya aku jawab? Karena sepertinya dia belum percaya kalau aku tidak tahu di mana keberadaan Ruby," lanjut Risa lagi.
__ADS_1
Tiara tidak langsung menjawab. Alis wanita itu terlihat bertaut tajam, berusaha berpikir keras.
"Hmm, kakak jawab saja, kalau Ruby pergi ke luar negeri, dan kasih tahu tanggal keberangkatan Ruby dengan tanggal yang salah. Agar ketika nanti dia berniat meminta daftar manifest ke bandara dia tidak menemukannya sama sekali," ucap Tiara, memberikan usul.
"Baiklah kalau begitu!" sahut Risa.
"Dan satu lagi,Kak. Kakak juga harus tetap merahasiakan ini dari David," Tiara kembali' mengingatkan.
"Baiklah! ... Ra, terima kasih ya, sudah mau menjaga adikku di sana. Aku mohon jaga dia baik-baik! Seharusnya aku yang ada di sana untuk menjaganya, tapi situasi dan kondisi sama sekali tidak mengizinkan. Aku benar-benar menyesal akan hal itu," suara Risa terdengar sangat lirih.
"Kakak tenang saja. Tanpa Kakak minta pun aku dengan senang hati akan membantu dan menjaga Ruby," ucap Tiara dengan tegas dan mantap.
"Ra,apa kamu di dalam? kita makan malam yuk!" tiba-tiba terdengar suara Ruby dari luar sembari mengetuk-ngetuk pintu.
"Kak Risa, sudah dulu ya! Ruby memanggilku. Kalau aku tidak jawab, takutnya nanti dia curiga," pungkas Tiara sembari memutuskan panggilan setelah Risa menjawab iya.
Setelah panggilan benar-benar putus, Tiara langsung melangkah untuk membukakan pintu.
"Kamu lagi apa sih di dalam? kok tumben pintu pakai di kunci segala?" Ruby sontak memprotes dengan alis yang bertaut tajam, curiga.
"Oh,itu ... anu ... tadi aku sedang mandi, dan pintu ini gak sengaja aku kunci," sahut Tiara gugup.
"Oh, seperti itu? ya udah ayo makan! nanti keburu dingin," Ruby beranjak pergi lebih dulu dan disusul oleh Tiara dari belakang.
__ADS_1
"Maaf, Ruby. Aku terpaksa berbohong padamu . Aku tidak mau, nanti hati kamu cepat luluh, kalau kamu tahu yang sebenarnya. Aku benar-benar tidak rela kalau Arka bisa mendapatkan kamu lagi dengan mudah. Dia harus dikasih pelajaran biar adil," bisik Tiara pada dirinya sendiri sembari menatap punggung Ruby.
Tbc