
Sudah satu minggu Adelia tinggal di Singapura. Wanita itu benar-benar merasa bosan, karena belakang ini juga Bima selalu sibuk, karena terlalu lama meninggalkan perusahaan kemarin-kemarin, ditambah dengan tidak ada Jenni lagi sebagai sekretarisnya.
"Bosan sekali. Tidak ada yang bisa aku kerjakan," keluh Adelia sembari mematikan televisi yang dari tadi menurutnya tidak ada yang menarik dipertontonkan.
"Hmm, aku ke kantor Kak Bima saja kali ya? sekalian ngajak makan siang," Adelia berdiri dari tempat dia duduk dan langsung beranjak berjalan menuju kamar.
"Mbak, siang ini tidak usah masak ya? aku mau ke kantor tuan, dan makan siang di luar. Mbak masak buat Mbak sendiri aja!" titah Adelia pada asisten rumah tangga yang dikirimkan oleh mertuanya dari Indonesia.
"Baik, Non!" jawab sang asisten dengan sopan.
Adelia masuk ke dalam kamar,berganti pakaian, memoles wajahnya dengan riasan yang sederhana. Kemudian dia, memanggil Jhon, supir pribadi dan meminta pria itu untuk mengantarkannya ke kantor suami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adelia mengayunkan kaki berjalan hendak masuk ke lobby. Tiba-tiba ketika dia membuka pintu, seorang pria tiba-tiba keluar sembari membawa kopi di tangannya. Alhasil pria itu menubruk tubuh Adelia, dan membuat kopi itu tumpah ke pakaian Adelia.
"Oh, sorry, sorry! I didn't see you, just now!" ucap pria itu dalam bahasa Inggris.
Adelia yang sebenarnya kesal, hanya bisa menghela napasnya, berusaha untuk tidak marah. Bagaimanapun menurutnya pria itu tidak sengaja.
"It's ok!" sahut Adelia singkat, sembari tersenyum tipis ke arah pria itu.
Pria itu, sejenak terpaku, mengagumi makhluk cantik yang baru saja muncul di depannya.
"Cantik!" gumamnya dalam bahasa Indonesia.
"Oh, kamu orang Indonesia?" tanya Adelia, kini tersenyum lebar.
"Iya. Kamu juga orang Indonesia ya?" pria itu tampak bahagia, begitu mengetahui kalau wanita cantik di depannya itu datang dari negara yang sama dengannya.
"Iya, aku orang Indonesia. Aku datang ke sini mau __"
"Pasti mau melamar jadi sekretaris kan?" tukas pria itu dengan cepat.
"Sekretaris?" gumam Adelia, dengan alis yang bertaut.
"Kamu pasti diterima nanti. Soalnya sudah satu minggu Pak Bima tidak punya sekretaris," pria itu terlihat sangat yakin kalau Adelia adalah salah satu pelamar yang hendak menjadi sekretaris menggantikan Jenni.
"Emm, aku ke sini hanya ingin menemu su__"
"Tuan Tomy, anda dipanggil oleh Tuan Bima!" tiba-tiba seorang wanita memanggil pria yang ternyata Tomy itu, hingga membuat Adelia urung melanjutkan ucapannya.
"Haish,apa lagi sih dia? kan ini sudah jam makan siang. Mana aku udah lapar sekali!" ucap Tomy, menggerutu tidak jelas, membuat Adelia tersenyum. "Oh, ini yang namanya Tomy," batin Adelia.
"Oke. Aku ke sana sekarang!" ucap Tomy pada wanita tadi. Kemudian pria itu, menoleh kembali ke arah Adelia.
"Nona, aku ke atas dulu. Kamu mau ikut saya ke atas? biar nanti kita sama-sama ke ruangan Pak Bima!" ajak Tomy penuh harap.
"Nanti saja, Tuan! aku mau ke toilet dulu untuk membersihkan pakaianku sebentar," tolak Adelia, tanpa menanggalkan senyumnya.
"Oh kalau begitu nanti langsung ke atas aja ya!"Adelia menganggukkan kepalanya seraya berlalu pergi.
Tomy masih saja tersenyum menatap punggung Adelia sampai tubuh wanita itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Kemudian, dia berjalan ke arah resepsionis.
"Nanti kalau wanita tadi datang lagi, segera suruh langsung ke ruangan Tuan Bima ya! dia itu calon sekretaris pengganti Jenni,"
"Iya, Tuan Tomy!"
Tomy pun melangkah untuk kembali ke ruangan Bima. Rasa lapar yang dia rasakan tadi, menguap entah kemana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Masuk!" titah Bima dari dalam ketika ada yang mengetuk pintu ruangannya.
Suara pintu yang dibuka seseorang, mengalihkan perhatian Bima dari layar laptop di depannya. Pria itu melihat Tomy sang asisten yang masuk, memenuhi panggilannya.
"Kamu dari mana? Aku tadi menghubungi ke ruanganmu,tapi tidak ada jawaban, makanya aku menghubungi ke bawah," cecar Bima tanpa basa-basi.
"Ini kan sudah jamnya makan siang, Bim. Aku lapar dan ingin cari makan ke luar. Emangnya ada apa sih?" tanya Tomy sembari duduk di atas sofa.
"Tidak ada apa-apa. Aku sebenarnya juga ingin mengajakmu makan siang," sahut Bima santai.
"Tapi, kenapa kamu tidak turun menyusulku dan meminta resepsionis untuk memberitahukanku agar menunggumu di bawah? kenapa kamu malah memintaku naik ke atas?" protes Tomy kesal.
"Itu hukuman buatmu, karena kamu mau pergi tanpa ngajak-ngajak!" Bima terlihat santai menanggapi protes Tomy.
"Sialan kamu!" umpat Tomy kesal.
"Sudah, tidak perlu marah-marah lagi, ayo kita turun ke bawah!" Bima berdiri dari kursinya dan hendak melangkah menuju pintu keluar.
"Calon sekretaris?" Bima mengreyitkan keningnya, bingung.
"Iya. Da cantik sekali, Bim! aku benar-benar terpesona dan sepertinya dia itu jodohku! kali ini tolong terima dia ya Bim! supaya aku bisa mendekatinya. Kamu nggak kasihan lihai aku sendiri terus?" ucap Tomy panjang lebar, tanpa jeda.
Bima terkekeh melihat ekspresi wajah Tomy yang antara girang dan memelas menjadi satu.
"Tergantung skill yang dia punya Tom. kalau dia hanya moda cantik saja, tentu saja aku tidak bisa terima," sahut Bima, lugas.
"Aku yakin dia itu kompeten, Bim. Itu bisa aku lihat dari cara dia berbicara dan tidak gampang emosi. Jadi, please terima dia! aku rela deh gajiku kamu potong asal kamu terima dia!"
"Kamu benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama ya? ini nih akibat kelamaan sendiri," ejek Bima.
"Jangan meledek deh. Kamu enak sudah punya istri ... eh iya, kapan sih kamu mengenalkan istrimu ke aku? masa sampai sekarang aku belum kenal?" ucap Tomy.
"Siapa suruh tidak datang ke rumah? makanya datang, biar aku kenalkan." sahut Bima yang akhirnya ikut duduk di atas sofa.
"Iya, nanti aku akan datang!"
Tok tok tok
Pintu tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Tomy langsung memperbaiki penampilannya karena dia yakin kalau yang datang itu adalah wanita yang ditemuinya di lobby tadi.
"Masuk!" titah Bima.
"Kak Bima, aku datang!" benar dugaan Tomy yang datang adalah wanita yang dia temui di bawah. Tapi, Tomy benar-benar kaget mendengar wanita itu memanggil Bima dengan sebutan Kak.
__ADS_1
"Adel, kenapa kamu datang ke sini?" Bima terkesiap kaget melihat kedatangan istrinya.
"Aku bosan di rumah, Kak. Tidak ada kerjaan. Jadi, aku mau mengajakmu makan siang," ucap Adelia sembari menghampiri Bima. Jangan lupakan Tomy yang terlihat masih kebingungan.
"Eh, ada Pak Tomy!". Adelia tersenyum ke arah Tomy.
"Kamu mengenalnya?" Bima mengreyitkan keningnya, menatap curiga.
" Baru kenal tadi, di bawah." sahut Adelina santai.
Bima sontak menatap pakaian Adelia yang masih terlihat ada noda kopi yang menempel.
"Tomy, jadi wanita yang kamu maksud itu istriku?" pekik Bima menatap tajam ke arah Tomy.
"I-istri? jadi dia istrimu?" wajah Tomy terlihat semakin kaget. "A-aku nggak tahu, Bim!"
"Jangan ikut makan siang dengan kami! kamu makan siang sendiri!"ucap Bima ketus.
" Loh, emangnya kenapa, Kak?" Alis Adelia bertaut.
"Tidak ada! ayo kita pergi, Sayang!" Bima tiba-tiba memanggil Adelia dengan sebutan Sayang.
Sementara Tomy hanya bisa melongo sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Belum sampai di pintu, Bima kembali memutar tubuhnya, berbalik menatap Tomy.
"Aku tarik kembali kata-kataku tadi yang memintamu datang ke rumahku. Jangan datang ke rumahku, sampai kamu punya istri!" tatapan Bima semakin tajam.
"Kenapa sih, Kak? kenapa bicara seperti itu pada Tomy?" Adelia semakin kebingungan.
"Tidak ada! ayo keluar! " Bima meraih tangan Adelia dan menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
"Da-da, Pak To__"
"Ayo pergi, tidak usah pakai dada-dada!" Bima menarik Adelia keluar, sebelum Adelia sempat melambaikan tangannya ke arah Tomy.
"Huft, gagal lagi dapat calon istri, nasib-nasib!" Tomy menyenderkan tubuhnya dengan lemas ke sandaran sofa.
Sementara itu, Bima tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Adelia saat berjalan di sepanjang koridor Kantornya sama tiba di lobby. Tentu saja hal itu menarik perhatian para karyawan.
"Baru saja mau jadi sekretaris tapi sui berani menggoda Tuan Bima," terdengar seseorang berbisik.
Bima kemudian berhenti melangkah dan menatap tajam ke arah orang yang berbisik itu.
"Semua, kumpul di sini!" titah Bima dengan suara yang menggelegar.
Semua karyawan yang kebetulan sudah kembali dari makan siang, langsung berkumpul sesuai perintah Bima.
"Kalian dengar semua, wanita yang bersamaku ini sekarang adalah Adelia.Dia ini istriku bukan sekretarisku. Kami berdua sudah menikah sebulan lalu." Bima mengangkat tangannya dan tangan Adelia menunjukan cincin nikah mereka.
"Paham semua!" lanjut Bima lagi seraya menatap tajam ke arah wanita yang berbisik tadi, yang sontak menundukkan kepalanya.
Tbc
__ADS_1