
"Baiklah kalau begitu. Nanti setelah kamu mengingatnya,kamu segera mengabariku!" ucap Pandu. "Yang jelas, saran aku, kamu jangan gegabah dan jangan stress. Ingat, kamu harus berusaha untuk tetap tenang. Karena aku yakin pelakunya menginginkan kamu depresi sama seperti dulu. Dia ingin kamu benar-benar hancur. Jangan biarkan keinginan dia tercapai!" ucap Pandu berapi-api.
"Aku paham itu! kamu tenang saja. Kali ini aku harus berusaha untuk tenang, karena aku yakin kekuatan cintaku akan bisa mengembalikan Ruby padaku. Dan aku pastikan aku tidak akan membiarkan siapapun yang berniat mencelakai istriku hidup aman. Aku akan menghancurkan hidupnya, kalau ada yang terjadi pada Ruby," Arka tidak kalah berapi-api nya.
Panggilan mereka pun akhirnya terputus seiring berakhirnya pembicaraan.
Pandu kemudian kembali melajukan mobil Tiara, menuju kediaman Tiara.
"Sudah sampai!" ucap Pandu,memecah keheningan yang tercipta di antara mereka sepanjang jalan menuju rumah Tiara.
"Oh, sudah sampai ya! terima kasih banyak ya!" ucap Tiara tulus.
"Hmm," sahut Pandu singkat sembari melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil Tiara.
"Jadi, kamu pulang naik apa?" tanya Tiara, basa-basi.
"Tidak perlu kamu pikirkan masalah itu. Aku sudah meminta salah satu anak buahku untuk menjemputku di sini. Sekarang, sebaiknya kamu masuk saja!" titah Pandu sembari menatap jauh ke depan, memastikannya kedatangan anak buahnya.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu di sini sampai jemputan kamu datang," ucap Tiara.
"Aku rasa tidak perlu! aku bisa sendiri menunggu di sini. Kamu sebaiknya masuk!" tolak Pandu, dengan nada dingin.
"Tapi __"
"Itu dia sudah datang!" ucap Pandu menyela ucapan Tiara.
"Sekarang kamu masuk. Kamu tenang saja, Ruby pasti akan segera kami temukan. Aku pergi dulu!" tanpa sadar Pandu mendekat ke arah Tiara dan mengecup kening wanita itu lalu berlalu pergi.
Tiara diam terpaku seperti patung, merasa kaget dengan apa yang baru saja Pandu lakukan untuknya.
"Apa maksudnya ini? bukannya dia akan menikah dengan Adel?" bisik Tiara pada hatinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di lain tempat, di sebuah kota di bagian Indonesia Timur tepatnya di kota labuan Bajo di kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai barat, tampak seorang wanita yang berjalan sambil mendorong kereta bayi yang berisi tiga orang bayi. Siapa lagi dia kalau bukan Ruby. Di belakang wanita itu tampak seorang pria dan beberapa anak buahnya sedang menarik koper yang berisi pakaian Ruby dan ketiga anak-anaknya itu.
"Kamu untuk sementara bisa tinggal di sini. Aku sudah membayar sewanya untuk tiga bulan," ucap pria itu ketika mereka tiba di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Tuan!" ucap Ruby dengan tatapan tulus.
"Sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku Tuan. Panggil aku Juno!" sahut pria yang ternyata bernama Juno itu.
"Oh, iya, maaf! aku lupa!"
"Ya udah, sekarang mari kita masuk!" pria itu membukakan pintu dan mempersilakan Ruby masuk.
"Kamu pilih saja kamar yang kamu suka, sedangkan aku ... aku tidak akan tinggal di rumah ini kalau kamu merasa tidak aman. Aku akan stay di hotel untuk beberapa hari, setelah itu aku akan kembali ke Jakarta. Tapi, kamu tenang saja, aku akan sering datang ke mari!"sambung pria itu lagi.
"Sekali lagi terima kasih! tapi, aku benar-benar bingung, kenapa kamu baik padaku, padahal kamu tidak mengenalku?" alis Ruby bertaut tajam.
"Bukannya sudah aku katakan, kalau aku pernah hadir di pernikahanmu dan Arka? Aku melihatmu saat itu sangat tertekan dan tidak bahagia. Makanya pada saat aku mendengar Arka memerintahkan anak buahnya untuk melenyapkan ketiga anakmu, aku merasa tidak tega. Aku pun mencari tahu di mana keberadaanmu. Tidak sulit untuk mencari karena aku tahu kamu memiliki restoran dan aku bertanya pada karyawanmu," jelas pria itu, berusaha menyakinkan Ruby.
Ruby tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau begitu, sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kamu,"
"Sudah, kamu jangan sungkan! aku melakukannya karena aku masih seorang manusia. Sekarang, kamu masuk ke dalam kamarmu saja!" tiba-tiba handphone Juno berbunyi pertanda ada panggilan yang masuk.
"Ruby, aku pergi sebentar untuk mengangkat telepon. Ini dari asistenku, sepertinya ada masalah di perusahaan,"
Sesampainya di kamar, dan dia menaruh ke tiga anaknya di atas ranjang, Ruby merogoh tasnya untuk mencari handphone miliknya.
"Handphoneku di mana ya? kok nggak ada? apa ketinggalan di helikopter tadi? bagaimana aku bisa menghubungi Tiara dan Kak Risa kalau begini?" gumam Ruby sembari masih tetap mengacak-ngacak isi tasnya.
"Astaga, aku lupa! bukannya handphoneku ada di tangan Juno? tadi dia kan meminta untuk menyimpannya, agar mas Arka tidak bisa melacak ke mana aku harus pergi? tapi, bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan Tiara?" Ruby menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Juno kini sudah tiba di taman belakang. Dia kembali menghubungi orang yang baru saja menghubunginya.
"Halo, Juno! kenapa kamu baru angkat telepon Papa?" terdengar suara bernada marah dari seorang pria di ujung sana.
"Maaf, Pa! tadi posisinya lagi tidak memungkinkan untukku menjawab telepon Papa," sahut Juno. Ternyata yang menghubunginya adalah papanya.
"Oh, apa karena wanita itu ada bersamamu?" suara pria di sebrang sana, sudah mulai bernada normal.
__ADS_1
"Iya, Pa!" sahut Juno.
"Sekarang, posisi kalian ada di mana?"
"Kami sekarang ada di Labuan Bajo, Pa," sahut Juno dengan satu tangan yang masuk ke dalam saku celananya.
"Kenapa kamu membawanya ke kota itu? kenapa kamu tidak sekalian membawanya ke luar negeri? tempat itu tidak terlalu jauh dari Bali. Hanya cukup sehari perjalanan. Arka bisa saja tahu kamu membawanya ke sana, dan rencana kita bisa gagal," pria di ujung sana mulai kembali marah.
"Mau bagaimana lagi, Pa. Dia maunya ke sini. Kalau aku memaksanya ke tempat lain, dia pasti akan curiga. Sebaiknya kita turuti saja dulu kemauannya, bukannya aku harus berpura-pura baik di depannya agar rencana kita berjalan dengan lancar? lagian, aku menggunakan helikopter membawanya ke sini. Jadi, Arka tidak akan bisa menemukan jejaknya, kalaupun dia harus memeriksa daftar penumpang pesawat dan kapal laut,"
Tidak terdengar jawaban dari sebrang sana, dan Juno yakin, papanya itu berusaha mencerna ucapannya.
"Kamu benar juga. Sekarang, kamu harus tetap memainkan sandiwaramu, seakan-akan kamu adalah malaikat penolong untuknya. Aku ingin Arka, hancur dan papa tahu kalau wanita itu adalah kunci mempercepat kehancuran Arka. Hanya satu pesan Papa, jangan pernah menggunakan perasaan saat kamu dengan wanita itu! ingat tujuan awal kita, adalah ingin balas dendam atas kematian adik kamu Jelita yang sia-sia. Dan ini semua karena Arka yang mencintai wanita itu," bisa dipastikan kalau mata pria yang berada di ujung sana pasti sedang berkilat-kilat penuh dendam saat ini.
"Tapi, Pa ... tadi aku mendengar cerita kalau semua yang terjadi karena Arka murka merasa telah dibohongi oleh Jelita dan mama. Jadi__"
"Juno! apa kamu mulai goyah?" pekik papanya Juno dari sebrang sana. "Tanpa kamu katakan.Papa sudah tahu itu, tapi sebagai papa, aku tidak pernah rela, begitu mengetahui hidup adik kamu berakhir sia-sia. Papa sekarang hidup dalam penyesalan kenapa papa tidak membawa kalian berdua ketika bercerai dengan mama sialanmu itu!"
"Pa, berhenti mengatakan Mama sialan! bagaimanapun dia itu tetap mamaku," protes Juno.
"Terserah kamu! yang penting sekarang kita harus fokus pada tujuan awal kita. Papa ingatan sekali lagi, kamu jangan sampai jatuh cinta pada wanita itu!" ucap papanya Juno dengan tegas.
"Papa tenang saja! aku juga sangat menginginkan kehancuran Arka. Aku benar-benar ingin dia mendapat balasan atas kematian Jelita yang sia- sia. Mudah-mudahan yang papa prediksi benar. Arka akan kembali depresi karena kehilangan istri dan anak-anaknya, perusahaannya kembali hancur, dan karena depresi dia akan menghabisi dirinya sendiri. Sehingga kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk menghabisinya," mata Juno tampak berkilat-kilat penuh amarah dan dendam.
"Kamu benar! jadi, tetaplah bersandiwara! kalau bisa, kamu lenyapkan juga wanita itu dan ketiga bayinya lalu kirim photo mayat-mayatnya ke Arka, agar dia semakin depresi. Pasti rasanya akan menyenangkan melihat keadaannya begitu, Hahahaha!" pria di sebrang sana, tertawa puas.apa tutup ya teleponnya!"
"Untuk sekarang, tidak perlu aku harus melenyapkan istri Arka dan ketiga anaknya. Karena menurutku, dengan kepergian istri dan anak-anaknya, sudah mampu membuat si brengsek itu, hancur. Tapi, kalau kondisi Arka masih baik-baik saja, baru kita melenyapkan istri dan anak-anaknya itu," tutur Juno sembari menyeringai licik.
"Terserah kamu saja. Sekarang yang penting, kamu harus tetap berpura-pura baik padanya, dan jangan sampai kamu mengembalikan handphonenya,"
"Iya, Pa!" Panggilan akhirnya terputus dan Juno memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
Tanpa dia sadari, Ruby yang berniat memberanikan diri untuk meminta kembali ponselnya mendengar semua pembicaraan Juno dan papanya. Wanita itu benar-benar kaget dan langsung beranjak pergi dengan sangat hati-hati.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan! aku sudah membuat suamiku sendiri dalam bahayan!" rintih Ruby dalam hati setelah dia sudah berada kembali di dalam kamar.
" Tapi, bagaimana aku harus pergi dari sini? kalau tiba-tiba aku pergi, dia pasti akan curiga dan tidak akan sungkan untuk menghabisi aku dan anak-anak. Aku juga tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselku ada di dia," Ruby benar-benar ketakutan sekarang.
__ADS_1
"Mas Arka,maafkan aku!" gumam Ruby lirih.
"Tenang, Ruby tenang! kamu jangan terlihat takut dan gugup di depannya. Kamu harus tetap bersikap biasa dan berpura-pura seakan kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai kamu menemukan celah untuk mengambil handphone kamu lagi darinya," Ruby menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara guna menenangkan dirinya sendiri.