
"Kamu dari mana?" suara Arka yang tiba-tiba terdengar menyambut kepulangan Adelia, membuat wanita terjengkit kaget.
"Kakak, kenapa kaya hantu sih muncul tiba-tiba?" protes Adelia, memasang tampang kesal
"Jangan mengalihkan pembicaraan! kamu dari mana?"
"Aku tadi makan malam dengan Kak Pandu. Kakak kan pasti tahu," sahut Adelia.
"Jangan bohong, Adel! Kakak tadi sudah lihat kamu diantar pulang, tapi kamu pergi lagi. Kakak juga tahu kalau di dalam mobil itu ada Tiara, benar kan?"
Adelia terdiam tidak membantah ucapan Kakak laki-lakinya.
"Bagaimana? apa kamu tetap dengan pendirianmu, begitu mengetahui kenyataan Pandu dan Tiara yang saling mencintai?" tanya Arka to the point.
"Maaf Kak, aku tidak ingin membicarakan hal ini sekarang. Fisik dan hatiku lagi capek. Aku mau istirahat!" Adelia mengayunkan kakinya, hendak berlalu dari depan Arka.
"Adel, aku harap kamu bisa menggunakan hati dan pikiranmu dengan baik. Ini semua demi kebaikanmu. Percayalah, kalaupun nanti kamu bisa bersama dengan Pandu, kamu akan selalu dihantui oleh rasa bersalah, setiap kamu melihat Tiara. Apalagi kalau nantinya Tiara tidak bisa jatuh cinta pada pria lain," ucap Arka sebelum adiknya itu benar-benar menjauh.
Adelia berhenti beberapa saat, ketika mendengar ucapan sang Kakak. Namun, tanpa memberikan tanggapan apapun, wanita itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana? apa Adelia baik-baik saja,Mas?" tanya Ruby, begitu Arka kembali masuk ke dalam kamar.
" Secara fisik, aku lihat dia baik-baik saja, tapi aku tidak tahu bagaimana dengan hatinya. Yang pasti, aku tahu kalau hatinya pasti terluka," jawab Arka, sembari menghela napas beratnya.
"Mudah-mudahan, Adelia bisa berpikir jernih dan masalah ini bisa selesai dengan baik," ucap Ruby. "Ya udah, sekarang kita tidur saja, sudah malam. seperti katamu, besok kita akan pindah ke rumah kita sendiri kan?" Ruby merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Emm, apa kita hanya tidur saja?" tanya Arka, ambigu.
"Iya, jadi mau ngapain lagi?" Ruby mengrenyitkan keningnya.
"Emm, kita tidak ...." Arka menggantung ucapannya, karena merasa grogi mengungkapkan kemauannya.
"Kita tidak apa, Mas?" Ruby benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Arka.
Arka mengembuskan napasnya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ahh, sudahlah! kita tidur saja!" ucap Arka dengan nada kesal sembari membaringkan tubuhnya, memunggungi Ruby.
"Dia tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti sih? masa aku harus bilang secara langsung, kalau aku menginginkannya?" Arka menggerutu di dalam hati.
"Mas, kenapa kamu membelakangiku? kamu marah ya?" tanya Ruby sembari meraih tubuh Arka agar berbalik menghadapnya. Namun, Arka tidak menjawab sama sekali. Pria itu tetap pada posisinya, dan tidak mau berbalik.
"Mas, kamu kenapa sih? kenapa tiba-tiba marah begini?"
Arka masih diam seribu bahasa dan memejamkan matanya. "Kamu pasti membujukku, kita lihat saja," Arka tersenyum, smirk.
"Ya udah deh, kalau marah. Aku benar-benar tidak mengerti. Selamat malam, Mas!" Ruby kembali merebahkan tubuhnya, dan memunggungi Arka.
"Heh? kenapa dia tidak membujukku?" Arka membuka matanya dan langsung menoleh ke arah Ruby.
Arka duduk kembali dan menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang. Berkali-kali dia melirik ke arah Ruby, sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Arghhh, bisa-bisa aku gila nih. Sekarang kok jadi aku yang seperti mengemis cinta?" batin Arka sembari memeluk Ruby dari belakang.
"Udah nggak marah lagi, Mas?" celetuk Ruby, menahan tawanya.
"Ah, gak tahu!" Arka mengencangkan pelukannya.
__ADS_1
Tawa Ruby sontak pecah. Wanita itu kemudian berbalik menghadap ke arah Arka.
Tatapan kedua suami istri itu, seketika terkunci. Arka benar-benar terhipnotis dengan bibir baby pink milik Ruby yang sudah sangat lama tidak dia sentuh. Tatapannya kini sudah penuh damba.
Seakan sebuah magnet, bibir Ruby berhasil menarik bibir Arka yang secara perlahan sudah menempel di bibir Ruby.
Ketika tidak mendapat penolakan, Ciuman yang tadinya hanya menempel kini berubah menjadi lu*matan lembut dan makin lama semakin berubah menjadi cepat. Ruby merasakan ciuman Arka kali ini bukan ciuman kemarahan tapi ciuman yang memang penuh perasaan cinta.
Tidak ingin hanya berakhir pada ciuman, tangan Arka mulai bergerak ikut bermain meraba di setiap daerah sensitif milik Ruby. Suara lenguhan Ruby semakin menjadi pemantik api gairah pada diri Arka. Suasana semakin terasa panas karena mereka berdua sudah mulai terbakar gairah.
"Astaga,Mas! jangan sekarang!" pekik Ruby tiba-tiba menghentikan Arka.
"Kenapa?" tanya Arka dengan tatapan sendu.
"Aku belum mengkonsumsi pil KB, ataupun belum suntik KB," ucap Ruby, membuat Arka mengembuskan napas, kesalnya.
"Kenapa sih kamu selalu mengingatkan hal itu lagi? aku kan tidak memintamu untuk mengkonsumsi pil KB lagi!" ucap Arka.
"Bu-bukan begitu maksudku, Mas. Aku tidak mengingat hal yang dulu, tapi aku memang tidak ingin hamil lagi, karena ketiga anak kita masih bayi. Kalau aku hamil lagi bagaimana? apalagi ini lagi masa suburku!" ucap Ruby, menyangkal pemikiran suaminya itu.
Arka bergeming. Seketika moment ketika Ruby melahirkan yang menurutnya mengerikan, berkelebat di kepalanya.
"Aku tidak mau kamu hamil lagi! aku tidak mau melihat kamu kesakitan," ujar Arka, dengan mimik yang meringis ketakutan.
"Kalau begitu kita tidur saja. Sini biar aku peluk!" Arka menarik tubuh Ruby dan memeluk wanita itu dengan erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari kini sudah berganti dan sudah siang hari. Tampak Tiara sedang berjalan di antara rak-rak yang berisi sayuran dan buahan. Ya, setiap hari Sabtu, adalah Jadwalnya untuk belanja sayuran dan buah untuk di rumahnya sendiri.
Setelah dia rasa semua yang dia mau sudah ada, Tiara berjalan menghampiri kasir. Dia pun berdiri di belakang seorang wanita setengah baya, yang belanjaannya juga tengah dihitung oleh kasir.
"Oh iya," Wanita setengah baya itu, mulai merogoh tas yang dia bawa. Dia terlihat berkali-kali mengacak-acak isi tasnya, namun dia tidak menemukan apa yang dia butuhkan, yakni dompet.
"Maaf, Mbak, bisa tunggu sebentar! sepertinya dompetku ketinggalan di rumah. Tadi aku terburu-buru," ucap wanita setengah baya itu, dengan nada tidak enak pada sang kasir.
"Jadi bagaimana, Bu dengan belanjaannya? apa dompet ketinggalan hanya alasan ibu saja?" Kasir itu berucap dengan nada ketus.
"Mbak, aku sanggup bayar. Bahkan supermarket ini saja bisa aku beli jika aku mau. Dompetku benar-benar ketinggalan," sahut wanita itu, sedikit merasa terhina.
Kasir itu berdecih, menatap sinis ke arah wanita setengah baya itu.
"Tunggu aku telepon anakku dulu!" wanita itu meletakkan handphone di telinganya, namun dari raut wajah sang wanita yang lesu, sepertinya yang dia hubungi tidak menjawab.
"Bagaimana, Bu? bisa bayar nggak? masih banyak yang antri, Bu!" sang kasir sudah mulai hilang kesabaran.
"Tunggu, aku telepon calon menantuku dulu!" ujar wanita itu.
"Nak, kamu tolong datang ke Fresh supermarket yang dekat dengan rumah, Tante dong. Tante lupa bawa dompet soalnya,"
"Iya, Tante, tunggu ya!" Wanita setengah baya itu, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Tunggu saja, mungkin sebentar lagi calon menantuku akan datang. Kamu layani yang lain aja dulu!" ucap wanita setengah baya itu pada sang kasir.
"Apa dengan anda berpura-pura menghubungi calon menantu, Ibu aku akan percaya? Bisa saja, ketika aku sibuk melayani yang lain, Ibu pun diam-diam akan pergi," ucap Kasir itu dengan nada sinis.
"Aku sudah bilang kalau aku ini sanggup bayar!" wanita setengah baya itu mulai hilang kesabaran.
"Sudah, Mbak. Belanjaan Ibu ini biar aku saja yang bayar! berapa tadi totalnya? sekalian gabungkan saja dengan belanjaanku," Tiara akhirnya berinisiatif untuk bantu membayar.
__ADS_1
"Aduh, Nak. Tidak perlu! sebentar lagi, calon menantuku akan datang," wanita setengah baya itu mencoba untuk mencegah Tiara.
"Tidak apa-apa, Bu. Tenang saja!" Tiara tersenyum manis.
"Terima kasih, ya!" ucap Wanita itu dengan perasaan tidak enak hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nama kamu siapa, Nak?" tanya wanita setengah baya itu pada Tiara setelah mereka berada di luar supermarket.
"Aku Tiara, Tante!"
"Kalau Tante namanya, Nirmala. Panggil aja Tante, Mala," ucap wanita setengah baya yang ternyata bernama Nirmala.
"Kamu kenapa mau membayar belanjaan Tante padahal kita tidak kenal? bagaimana kalau tadinya Tante hanya berpura-pura?" lanjut Nirmala lagi dengan alis bertaut.
"Oh, aku hanya murni ingin menolong. Untuk masalah Tante berbohong atau berpura-pura, itu masalah Tante, dan dosanya Tante yang nanggung, itu saja kok Tante. Tapi, aku percaya sama Tante, kalau Tante sama sekali tidak berbohong," tutur Tiara tanpa menanggalkan senyumnya.
"Baik sekali kamu, Nak. Seandainya anakku belum punya calon istri, aku akan dengan senang hati, menjodohkanmu dengan putraku," ucap Nirmala menatap kagum pada Tiara.
"Aduh Tante bisa saja. Tante terlalu berlebihan," sahut Tiara.
"Tante Mala!" seorang wanita berlari ke arah mereka.
"Adelia?" ucap Tiara, kaget.
"Eh, Kak Tiara! kenapa Kakak bisa ada di sini?" Adelia tidak kalah kagetnya.
"Aku beli sayuran dan buah-buahan!" sahut Tiara.
"Oh, jadi kalian saling kenal ya?" celetuk Nirmala, juga ikut kaget.
"Iya, Tante. Ini Kak Tiara sahabatnya kak Ruby, istrinya Kak Arka," ujar Adelia.
"Ya, ampun! jadi kami sahabatnya Nak Ruby?" Nirmala semakin mengembangkan senyumnya. Sementara Tiara sudah bisa menarik kesimpulan kalau wanita yang baru saja ditolongnya ada ibu dari pria yang dia cintai.
"Nak Tiara, Adelia ini calon menantu, Tante. Kamu kenal tidak dengan sahabatnya suami Ruby?"
Tiara menganggukkan kepalanya, lemah. "Iya Tante, aku kenal. Namanya Pandu,"
"Aduh, ternyata kamu kenal juga!" wajah Nirmala semakin berbinar.
"Oh ya, tadi rencananya buah-buahan yang Tante beli itu untuk Tante bawa ke rumah Adelia nanti malam. Soalnya nanti malam kami ada perjamuan makan malam untuk membicarakan pertunangan mereka. Nanti pas acara pertunangan kamu hadir ya,Nak!" pinta Nirmala dengan tulus.
"Emm, a-kan aku usahakan,Tan!" jawab Tiara, lirih. "Kalau begitu aku pamit dulu ya, Tan, Del. Masalahnya aku masih harus ke restoran," ucap Tiara yang merasa sudah mulai tidak nyaman lagi.
"Oh, bagaimana dengan uangmu, Nak?"
"Tidak masalah, Tan! aku pamit dulu!" Tiara mengayunkan kakinya, beranjak pergi, setelah Nirmala dan Adelia menganggukkan kepalanya.
"Benar-benar gadis yang baik dan cantik. Seandainya aku masih punya anak laki-laki selain Pandu, aku akan berusaha menjodohkan anakku itu dengannya," gumam Nirmala yang bisa didengar jelas oleh Adelia.
"Apa Tante, menyukai Kak Tiara?" tanya Adelia hati-hati.
"Tentu saja! apalagi kalau dia sahabatnya Ruby, pasti dia juga baik seperti Ruby!" Nirmala masih tersenyum sembari masih menatap Tiara yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Tbc.
Maaf, baru update malam, karena hari ini ada acara keluarga.
__ADS_1