Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 28


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Arka, berhenti di depan sebuah rumah mewah. Arka turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ruby.


Ruby menatap takjub rumah di depan matanya yang katanya Arka adalah rumah pribadi mereka.



"Ayo, Sayang kita lihat rumah kita!" Arka meraih tangan Ruby, menggenggam tangan wanita itu, seraya berjalan menuju pintu masuk.


Di teras rumah itu tampak Risa dan David berdiri menyambut kedatangan Aneka dan Ruby. Tampak jelas raut wajah kesal Risa saat menatap ke arah Arka. Namun, Arka yang bersikap apatis dan seakan-akan tidak melihat sosok Risa, membuat wanita itu semakin kesal.


"Hei, kenapa kalian semua pulang tidak bilang-bilang lebih dulu? kalian sengaja ya?" begitu Arka dan Ruby dekat, bukannya menyapa lebih dulu, Risa langsung melontarkan protesnya.


"Iya! kan kamu bilang mau menikmati bulan madu dulu, mumpung masih di sana. Jadi, karena tidak mau mengganggu bulan madu kalian, ya aku memutuskan mengajak Ruby dan Tiara, pulang ke Jakarta. Emangnya kenapa, Kak?" tanya Arka, berpura-pura tidak tahu apa yang membuat Risa kesal.


"Cih, bilang saja memang ingin membalasku. Asal kamu tahu,aku dan David jadinya harus keluar uang untuk pulang ke Jakarta," Risa masih saja kesal.


Arka terkekeh, karena merasa tujuannya untuk mengusili pasangan suami isteri itu. berhasil


Tanpa memperdulikan kekesalan Risa, Arka beranjak masuk ke dalam dengan tangan yang masih setia menggandeng tangan Ruby.Sementara Risa dan David menyusul dari belakang.


"Sayang ini kamar kita!" Arka membukakan pintu sebuah kamar yang dari pintu saja sudah bisa dipastikan kalau di dalam kamar itu pastilah sangat indah dan mewah.


"Wah, bagus sekali kamarnya!" ujar Ruby seraya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan kamar itu.


"Kalau itu pintu kamar mandi, kalau pintu yang di sana?" Ruby menunjuk ke arah sebuah pintu yang masih tertutup.


"Ayo kita lihat ke sana!" Arka dengan semangat kembali menggandeng tangan


Ruby, membawa isteri ke arah pintu tertutup.


"Kalau yang ini, kamar anak-anak kita. Ini sengaja aku renovasi dan buat pintu penghubung, agar kita mudah memperhatikan mereka di malam hari. Kamu lihatlah ke dalam!"


Mata Ruby sontak membesar melihat kamar yang sudah didekorasi dengan begitu indah khas kamar bayi pada umumnya?


"Terima kasih, Sayang! untuk pertama kalinya Ruby memanggil Arka dengan sebutan sayang.


"Kamu panggil aku apa tadi? kamu panggil aku Sayang kan?" Ruby dengan malu-malu menganggukkan kepalanya.


"Mulai sekarang jangan ubah panggilan kamu. Kamu harus tetap memanggilku, Sayang!" ucap Arka tegas tak terbantahkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hari berlalu dengan begitu cepat. Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Adelia di mana dia akan melangsungkan pertunangan dengan Pandu setelah disepakati satu minggu yang lalu.


Adelia sudah tampil sangat cantik dan siap berangkat ke kediaman Pandu bersama dengan kedua orang tuanya.



Ya, entah kenapa acara pertunangan diadakan di kediaman Pandu bukan di kediaman Adelia. Tapi, tentu saja ini semua karena kemauan Adelia.


"Pa, Ma, ayo kita berangkat!" tampak senyum manis menghiasi bibir Adelia.


Adijaya menghela napasnya dengan cukup berat. Namun Pria setengah baya itu,masih tetap membalas senyum putri satu-satunya itu, demikian juga hal dengan Rosa.


"Kamu cantik sekali, Nak!" puji Rosa dengan senyum tipis.


"Iya dong! anak siapa dulu? kan anak Mama dan Papa!" ucap Adelia dengan sangat ceria.


"Udah ah,Papa dan Mama senyumnya yang ikhlas dong,kaya Adel. Jangan dipaksakan gitu. Nanti Adel nangis lho," Adelia memasang wajah cemberut.


"Iya, iya, Mama dan Papa akan tersenyum. iya kan Pa? kita bahagia kan dengan keputusan Adel?" Rosa menatap Adijaya, meminta dukungan.


Melihat tatapan istrinya, membuatku Adijaya juga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, ayo kita berangkat! nanti Arka dan Ruby,akan menyusul ke sana!" pungkas Adijaya sembari melangkah lebih dulu dengan mata yang berkaca-kaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ayolah, Ra, Pandu itu rekan kerja Kakak, jadi tidak mungkin aku tidak datang memenuhi undangannya," ucap Bima memohon.


"Kakak kan bisa pergi sendiri, kenapa aku harus ikut?" Tiara masih bersikeras untuk menolak.


"Di sana aku akan sendirian. Masa kamu tega membuat aku sendiri. Kalau mau mendekati Ruby,bisa disate aku sama suaminya. Jadi, please temani Kakak!" Bima pantang menyerah.


"Lagian, kamu juga kan diundang? apa kamu merasa gak enak kalau nggak datang? aku tahu kalau Pandu itu adalah pria yang kamu cintai, tapi kalau kamu benar-benar sudah merelakannya dengan tulus pada Adelia, kamu harus tunjukkan keikhlasanmu itu dengan kehadiranmu. Kalau kamu tidak datang, itu sama saja menunjukkan kalau kamu belum rela, atas pertunangan mereka,"


Tiara tercenung mendengar penuturan Bima. Jauh dalam lubuk hatinya dia membenarkan ucapan kakak sepupunya itu.


"Kak, bukan aku tidak rela, tapi justru aku takut dengan aku hadir di sana, konsentrasi Pandu pada Adelia akan hancur sehingga acaranya bisa kacau. Kalau untuk masalah iklas, aku benar-benar sudah sangat ikhlas," ucap Tiara, memberitahukan alasan yang memang sangat masuk aka


"Aku rasa Pandu adalah orang yang profesional dan tidak ingi keluarganya dan keluarga Arka kecewa. Kamu ikut Kakak Ya! kebetulan Tante dan Om juga kan lagi keluar, kamu jadi sendirian di rumah. Jadi, kamu lebih baik ikut, Kakak!" lagi-lagi Bima memohon.


"Baiklah! aku ganti pakaian dulu!" Tiara berdiri dari tempat di duduk dan nyaris melangkah, tapi dia berhenti tiba-tiba karena mendengar panggilan Bima.

__ADS_1


"Nih,Kakak sudah menyiapkan gaun untukmu. Pokoknya kamu harus pakai yang itu! sekalian kamu dandan sendiri ya!" Bima memberikan sebuah kotak yang di dalamnya berisi sebuah gaun.


Tiara menerima gaun itu dan pergi masuk ke dalam kamarnya. Sementara Bima menunggu di luar.


Setelah menunggu sekitar 30 menit, Tiara turun ke bawah dengan gaun yang diberikan oleh Bima. Wanita itu terlihat risih dengan gaun yang dia pakai, karena dia tidak terbiasa dengan gaun jenis yang sedikit terbuka, memperlihatkan kulit punggung dan dadanya.


Bima sontak menatap kagum begitu adik sepupunya itu sudah berdiri di depannya.



"Kak,apa gaun ini tidak berlebihan?" ucap Tiara dengan wajah meringis, risih.


"Sama sekali tidak! Kamu tampak sangat cantik, Tiara!" puji Bima tidak berkedip melihat penampilan adiknya itu.


"Tapi, ini terlalu seksi, Kak! aku tidak terbiasa dengan gaun seperti ini,"


"Kamu tenang saja, di sana juga nanti kan pasti akan lebih banyak yang memakai gaun lebih seksi. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Ayo kita pergi!" untuk menghindari, Tiara protes lagi, Bima langsung beranjak pergi. Tiara kini hanya bisa menghela napas pasrah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana taman di belakang rumah Pandu yang sudah dihias dengan begitu indah sudah mulai terlihat ramai didatangi para tamu. Di antara para tamu, tampak ada Arka dan Ruby yang kini sedang berbicara dengan Pandu yang terlihat kurang bersemangat.


"Hai, bisa gabung?" tiba-tiba Adelia yang ternyata baru sampai bersama Adijaya dan Rosa, datang menghampiri ketiga orang itu.


"Wah, cantik sekali kamu, Del!" seru Ruby, memuji penampilan Adelia.


Adelia tersipu malu dan melirik ke arah Pandu.


"Kak Pandu, aku cantik tidak?" tanya Adelia, dengan melemparkan senyum termanisnya.


Pandu menatap intens ke arah Adelia. Pria itu tidak memungkiri kalau penampilan adik dari sahabatnya itu sangat cantik malam ini.


"Iya, kamu cantik sekali," sahut Pandu yang membuat pipi Adelia semakin memerah.


"Kakak juga sangat tampan!" puji Adelia masih dengan nada grogi.


Ya,Pandu memang terlihat sangat tampan dengan tuxedo putihnya, hampir seperti tuxedo pengantin.



"Terima kasih!" jawab Pandu, tersenyum tipis.

__ADS_1


Tbc


Mohon di like dan di vote dong, Guys. Kasih hadiah juga boleh lah😁😁😁


__ADS_2