
Juno terlihat keluar dari salah satu kamar dan menuju keluar. Melihat hal itu, Ruby yang memantau pergerakan Juno dari tadi, langsung bergerak dengan cepat, berjalan dengan sangat hati-hati menuju kamar yang tadi dimasuki oleh Juno.
"Handphoneku pasti dia simpan di dalam. Aku harus berusaha mendapatkannya," batin Ruby sembari membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati seraya kembali melihat ke sekeliling memastikan keadaan aman.
"Di mana dia simpan handphoneku?" Ruby mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, namun dia tidak melihat adanya handphone yang tergeletak.
"Mungkin dia simpan di dalam lemari sana!" Ruby melangkah ke arah lemari dan membukanya. Kemudian, Ruby mulai memeriksa lemari yang sama sekali tidak ada isinya itu, hasilnya juga nihil.
"Tidak ada juga!" gumam Ruby.
Tugas pintu terlihat bergerak, menandakan kalau akan ada yang masuk. Ruby seketika langsung panik dan sontak bersembunyi di bawah ranjang.
Ruby berusaha menahan napas melihat kaki Juno yang persis di depan matanya dan bersamaan dengan itu pula, ketiga anak-anaknya menangis bersahut-sahutan, benar-benar bukan waktu yang tepat untuk menangis.
Sementara itu Juno mendaratkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang dengan kaki yang menjuntai menyentuh lantai.
"Mati aku, bagaimana aku bisa keluar dari sini? anak-anakku sudah bangun dan mereka pasti lagi haus," Ruby mulai gusar di bawah sana
Tangisan ke tiga bayi itu terdengar semakin kencang, hingga membuat Juno terusik.
"Haish, di mana sih wanita itu? kenapa dia membiarkan anak-anaknya menangis?" Juno terdengar menggerutu, dan langsung berdiri lalu beranjak keluar.
Begitu Juno keluar, Ruby pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk keluar dari persembunyiannya. Dia membuka pintu perlahan dan mengintip terlebih dulu. Ia melihat Juno berdiri di depan kamarnya dan mencoba mengetuk-ngetuk pintu itu. Karena tidak ada jawaban dari dalam, Juno terlihat memutuskan untuk membuka pintu dan masuk ke dalam.
Begitu Juno masuk ke dalam, Ruby pun langsung keluar dari dalam kamar yang ditempati Juno dan melangkah buru-buru ke kamarnya.
" Tenang, Ruby, tenang! kamu harus tetap berpura-pura tidak tahu rencananya dia.
"Eh, Juno kenapa kamu ada sini?" tanya Ruby pura-pura kaget setelah dirinya masuk ke dalam kamar.
"Anak-anak kamu menangis tadi. Kamu kemana aja sih tadi?" protes Juno.
__ADS_1
"Tapi kenapa sekarang mereka diam?" tanya Ruby dengan alis bertaut.
"Ya mana aku tahu," sahut Juno yang juga merasa bingung melihat ketiga bayi itu yang diam tiba-tiba, setelah Ruby masuk ke dalam kamar.
"Kamu tadi belum menjawabku, kamu pergi ke mana tadi?" alis Juno bertaut tajam.
"Oh, A-aku tadi pergi ke dapur sebentar untuk mencari makanan, karena aku lapar. Ternyata aku tidak menemukan apapun di sana," sahut Ruby, berharap Juno berhenti curiga.
"Tentu saja tidak ada. Baiklah, aku akan meminta anak buahku untuk membelikan makanan. Kamu mau makan apa?" tanya Juno yang sepertinya percaya pada alasan yang diberikan oleh Ruby, mengingat wanita yang ada di depannya itu, adalah wanita menyusui.
"Apa saja!" jawab Ruby, singkat karena memang pada saat ini di tidak merasa lapar.
Juno, beranjak pergi tanpa pamit dan menutup pintu. Ruby seketika mengembuskan napas lega, setelah Juno tidak terlihat lagi.
Wanita itu sontak menghampiri ketiga anaknya.
"Kalian pasti menangis karena tahu mama dalam bahaya ya? anak-anak pintar," ucap Ruby sembari membawa baby Alvaro ke pangkuannya untuk memberikan bayi itu Asi lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana ini Pan? aku benar-benar khawatir pada Ruby dan anak-anakku," wajah Arka terlihat sangat kusut. Bahkan pria itu tidak menyentuh yang namanya makanan dari tadi.
Pandu tidak menjawab sama sekali, karena dirinya jug tidak tahu mau memberikan jawaban apa. Kalau meminta sahabatnya itu untuk tenang, dia sudah berkali-kali mengucapkannya dari tadi.
"Apa kamu sudah ingat siapa laki-laki itu?" tanya Pandu, yang tiba-tiba mengingat video rekaman CCTV itu.
"Aku sudah berusaha untuk mengingatnya, tapi aku tetap tidak tahu. Aku merasa aku pernah berhubungan dengan pria itu baik di bidang bisnis maupun pertemanan," sahut Arka, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Coba deh kamu lihat sekali lagi, dan perhatikan pelan-pelan," Pandu kembali menunjukkan video itu ke Arka.
Tampak Arka memicingkan matanya, berusaha untuk mengingat sosok pria di dalam video rekaman CCTV itu.
__ADS_1
"Oh, aku ingat. Dia terlihat mirip dengan papanya Jelita. Apa mungkin dia kakaknya Jelita? karena aku pernah dengar dari Jelita kalau dia punya kakak laki-laki yang ikut papanya, ketika orang tuanya bercerai," ucap Arka tiba-tiba.
"Fiks, ini kakaknya Jelita. Dia pasti mau balas dendam atas kematian adiknya," pekik Pandu, sangat yakin.
"Berarti, istri dan anak-anakku benar-benar dalam bahaya. Bagaimana ini?" Arka semakin bertambah panik.
"Sial! brengsek! aku memang tidak berguna! bagaimana mungkin aku tidak bisa melacak kemana mereka dia membawa mereka?" Arka mengumpat,memaki dirinya sendiri.
"Arka, bukannya aku sudah berkata, kamu harus tetap tenang. Jaga emosional kamu!"
"Kamu enak sekali bicara! coba kalau kamu ada di posisi kamu, apa kamu masih bisa tenang? hah!" suara Arka, meninggi, membentak Pandu.
Pandu tidak menjawab sama sekali, karena dia merasa kalau dia berada di posisi Arka belum tentu juga dia bisa tenang.
Tiba-tiba ponsel Pandangan berbunyi, menandakan ada orang yang menghubunginya. Pandu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam. Dia melihat ada nama Tiara yang tertera di layar ponselnya.
"Ka, Tiara menghubungiku. Mungkin Ruby sudah menghubunginya," ucap Pandu.
Mendengar itu, tangan Arka dengan cepat merampas handphone Pandu dan langsung menekan tombol jawab. Sementara itu, Pandu hanya bisa menghela napas, pasrah.
"Halo, Tiara apa kamu sudah mendapatkan kabar dari Ruby?" tanya Arka tanpa basa-basi.
"Apa ini kak Arka?" bukannya menjawab, Tiara malah balik bertanya. Karena setahunya Pandu ada di Jakarta bukan di Bali.
"Iya ini aku sendiri. Tolong jawab, apa kamu sudah tahu di mana Ruby?" Arka terlihat tidak sabar.
"Emm, kata kak Bima, besar kemungkinan Ruby pergi ke labuan Bajo,"
"Bima? bagaimana dia bisa tahu?" Arka mengrenyitkan keningnya, tidak suka.
"Karena aku sudah lama mengenal Ruby," tiba-tiba telepon sudah berpindah tangan pada Bima yang ternyata posisinya berada di dekat Tiara.
__ADS_1
"Dulu, Ruby pernah berkata selain Bali, kota yang ingin dia tinggali itu, Labuan Bajo, karena Ruby suka yang namanya pantai. Nah, aku merasa yakin, kalau dia ke sana, mengingat ke sana bisa lewat jalur laut atau helikopter. Kalau di daftar penumpang di pelabuhan nama Ruby tidak ada, besar kemungkinan mereka pakai helikopter ke sana," sambung Bima lagi, menjelaskan.
Tbc