Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 32


__ADS_3

Tempat diadakannya acara pertunangan kini sudah tampak sepi karena para tamu undangan sudah meninggalkan tempat acara. Yang tersisa kini hanya empat keluarga yang mengadakan acara.


"Aku tidak mau berlama-lama lagi, aku mau secepatnya menikah," celetuk Pandu yang disambut oleh tawa dari orang yang berada di tempat itu.


"Kamu sudah tidak sabar ya? asal kamu tahu, lebih baik kamu menikmati masa mudamu sebentar lagi, karena wanita itu sangat sulit untuk dipahami.Contohnya mamamu," ucap Prasetyo sembari tertawa lepas.


Namun tawa lepasnya hanya bertahan untuk sebentar, karena detik berikutnya tawa itu seketika langsung berubah menjadi rintihan kesakitan akibat cubitan dari Nirmala, istrinya.


"Apa an? maksudmu kamu menyesal buru-buru menikahiku dulu?" Nirmala menatap tajam ke arah suaminya. "Ingat, kalau kamu dulu sampai bawa aku kabur dari acara pertunanganku, gara-gara kamu tidak rela ... hmpph," Nirma berhenti bicara karena mulutnya sudah disumpal oleh tangan Prasetyo.


"Jangan bongkar kebodohanku dulu!" ucap Prasetyo dengan wajah memerah.


Semua yang berada di tempat itu sontak tertawa kembali melihat wajah Prasetyo.


"Apapun itu aku sudah siap! karena aku sudah terbiasa melihat kalian berdua berdebat habis itu sayang-sayangan lagi. Tahu tidak, kalau itu sudah terjadi, aku hanya bisa menanti pesawat yang bisa membawaku ke Mars. Jadi, kalau nanti aku menikah dengan Tiara, aku akan membalas semua ke-ngenesanku selama ini," ucap Pandu setelah tawanya mereda. Wajah Tiara pun berubah merah seketika.


Lagi-lagi suara tawa menggema memenuhi tempat itu, kecuali Adelia yang hanya tertawa kecil. Raut wajah Adelia, itu tentu saja tidak luput dari perhatian Bima.


"Kalau begitu, aku juga mau menikah dengan Adel secepatnya," celetuk Bima yang membuat suasana tawa, berubah hening seketika. Hanya Adijaya yang tersenyum penuh makna.


"Enak saja mau ngajak adikku nikah cepat-cepat? pertunangan kalian saja aku masih belum sepenuhnya setuju,apalagi sampai menikah,"pekik Arka menatap Bima dengan tatapan yang sangat dingin.


Bima tidak merasa tersinggung sama sekali dengan penolakan dari Arka. Pria itu hanya tersenyum manis menanggapinya.


"Maaf kalau membuatmu merasa tidak senang. Kalau boleh tahu apa alasanmu menolakku?" tanya Bima, dengan senyuman smirk yang menghiasi bibirnya.


Arka terdiam. Dia merasa tidak mungkin dia mengatakan kalau dia takut pria itu menikahi adiknya agar bisa lebih mudah untuk mendekati Ruby lagi. Dan yang lebih dia khawatirkan, Bima tidak mencintai adiknya sama sekali. Pria itu benar-benar tidak mau adiknya itu hidup dengan pria yang sama sekali tidak dia cintai. Dia takut pria itu memperlakukan adiknya dengan kejam, menyiksa batin adiknya seperti dirinya dulu pada Ruby.


"Kenapa kamu diam?" Bima mengreyitkan keningnya. "Oh, kamu tidak perlu menjelaskannya, karena tanpa kamu jelaskan pun aku sudah tahu jawabannya. Kamu tenang saja, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak selicik itu. Aku memang tulus ingin menikahi adikmu, tanpa tujuan tertentu seperti yang kamu pikirkan," lanjut Bima kembali, masih tetap tersenyum.


Arka bergeming, merasa diserang telak oleh Bima. "Apa kamu bisa dipercaya?" Alis Arka bertaut sangat tajam.

__ADS_1


"Kamu bisa pegang kata-kataku! aku tidak sekejam yang kamu pikirkan," ucap Bima, sembari menyelipkan sindiran di balik ucapannya.


"Sudah, sudah! Papa sama sekali tidak keberatan, mama kamu juga, iya kan, Ma?". Adijaya membuka suara sembari menatap Rosa sang istri yang tampak kebingungan.


"I-iya,Mama tidak keberatan," pungkas Rosa yang akhirnya mengiyakan, karena mengerti makna tatapan suaminya, yang memintanya untuk menyetujui ucapannya.


"Bagaimana, Adel? kamu juga setuju kan?" Bima menatap Adelia yang juga sebenarnya sangat bingung.


"Haish, kenapa harus sampai seperti ini sih? bukannya di kesepakatan, kalau itu terjadi kalau Kak Tiara meminta untuk melihat kami menikah lebih dulu? ini, Kak Tiara kan tidak meminta sama sekali, tapi kenapa Kak Bima malah bilang mau menikah juga? apa sih alasan dia? atau jangan-jangan dia mau mendekati Kak Ruby lagi dengan cara menikahiku?" batin Adelia yang ternyata memiliki kecurigaan yang sama seperti sang kakak.


"Adel, kenapa kamu tidak jawab? Bima nanya tuh,Nak! kamu mau kan menikah secepatnya?" Adijaya kembali buka suara.


Adelia membuka mulutnya, hendak menjawab tidak mau. Namun seketika dia kembali menelan ucapannya begitu melihat tatapan Tiara yang menyiratkan kecurigaan padanya.


"I-iya, tentu saja aku mau!" ucap Adelia, akhirnya.


Bima menghela napasnya dengan sekali hentakan. Pria itu berharap mudah-mudahan keputusan yang dia ambil, adalah keputusan yang benar. Kalau bukan karena permohonan Adijaya tadi, tidak mungkin dia mengambil keputusan yang kesannya terburu-buru seperti ini.


Flash back On


Bima tidak menyangka kalau Adijaya, papanya Adelia menyusulnya dari belakang.


"Bima," Bima tersentak kaget, karena merasa pundaknya ditepuk seseorang dengan tiba-tiba.


Bima sontak menoleh ke belakang, dan semakin kaget melihat sosok Adijaya yang tersenyum padanya.


"I-iya,Om! ada apa?" tanya Bima dengan ekspresi kebingungan.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Tentu saja bisa, Om? ada apa?" Bima menyanggupi.

__ADS_1


"Kita menjauh dari tempat ini dulu sebentar. Karena aku tidak ingin ada yang mendengar apa yang ingin aku bicarakan," Adijaya, melangkah lebih dulu dan disusul oleh Bima yang tampak masih kebingungan.


"Kita bicara di sini saja. Tidak ada orang di sini!" ternyata Adijaya membawa Bima ke area kolam renang yang memang kebetulan tidak ada orang lain di sana.


"Silakan duduk!" lanjut Adijaya sembari mendaratkan tubuhnya duduk di sebuah kursi.


"Ada apa, Om? apa ada sesuatu yang sangat penting?" Bima benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


"Begini, Nak Bima. Om tahu, kalau kamu dan Adelia hanya bersandiwara. Tapi, entah kenapa Om menginginkan kalau pertunangan kalian berdua itu nyata dan kalau boleh kalian berdua benar-benar menikah,"


Mata Bima sontak membesar, terkesiap kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut papanya Adelia itu. Dia benar-benar bingung kenapa pria itu memintanya untuk benar-benar menikahi putrinya.


"Om, kenapa Om bisa bicara seperti itu? kita baru saja kenal. Kenapa Om bisa sepenuhnya percaya padaku?"


"Om,hanya mengandalkan apa yang Om rasakan. Maaf, kalau Om lancang. Sebenarnya setelah kamu dan Adelia mendatangi kami dan menyampaikan niat baik kalian berdua, Om seketika merasa tertarik dengan kepribadianmu. Om merasa kalau kamu adalah pria yang bertanggung jawab. Setelah itu,Om menyelidiki latar belakangmu. Ternyata dugaan Om, benar. Kamu itu memang pria yang penuh tanggung jawab dan pria yang menghargai yang namanya wanita. Om benar-benar ingin Adelia menikah dengan pria yang bertanggung jawab sepertimu. Om tidak mau dia jatuh pada pria yang salah,Nak," tutur Adijaya dengan panjang lebar tanpa jeda.


"Tapi, Om ... Om tahu sendiri kalau Adelia sama sekali tidak mencintaiku, begitu juga aku. Bagaimana kami bisa menikah tanpa cinta?" Bima, mencoba meminta Adijaya memikirkan kembali keputusasaannya.


Adijaya tidak langsung menjawab. Pria setengah baya itu, menghela napasnya dan berdiri dari tempat dia duduk. Lalu berdiri membelakangi Bima.


"Aku tahu itu. Kalau aku mengatakan, kalian bisa belajar mencintai setelah menikah, alasan itu sudah sering didengar dan alasan yang mungkin kalian anggap sudah basi dan terlalu klise. Tapi, lagi-lagi aku harus mengatakan alasan yang sama," Adijaya berhenti sejenak dan masih tetap berdiri membelakangi Bima.


"Aku hanya memiliki seorang putri, dan dia sudah berkali-kali kecewa dengan yang namanya cinta. Sebagai seorang ayah, aku hanya mengkhawatirkan putriku sendiri, tidak salahkan? Aku tidak mau nantinya, hati dia masih terus memikirkan Pandu,dan lupa untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Aku merasa, kalau usiaku semakin lama akan semakin tua. Dan satu-satunya yang aku takutkan,aku pergi sebelum melihat putriku berada di tangan orang yang tepat, yang bisa menggantikanku untuk melindunginya. Aku tahu, dia masih ada Kakak laki-laki, tapi dia tidak mungkin bisa selalu bersama dengan Adelia. Dia memiliki istri dan juga anak-anak yang harus dia jaga dan lindungi. Entah kenapa aku merasa kalau kamu adalah orang yang tepat untuk bisa menggantikanku untuk menjaga dan melindungi Adelia," lanjut Adijaya, sembari menyeka cairan bening yang ternyata secara lancang, keluar dari matanya.


Bima tercenung mendengar penuturan Adijaya. Dia tidak mengira kalau pria yang terkenal bijaksana dan tegar itu, memperlihatkan sisi rapuh di hadapannya.


Setelah menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, Adijaya berbalik dan menatap ke arah Bima.


"Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, Kamu boleh mempertimbangkannya dulu. Tapi, satu hal, Om tidak mau memaksamu, kamu boleh mengambil keputusan yang terbaik menurutmu. Om pergi dulu!" Adijaya menepuk pundak Bima dengan lembut, kemudian beranjak pergi, meninggalkan Bima yang masih terpaku diam di tempatnya.


Setelah berdiam dan memikirkan perkataan, papanya Adelia, Bima berdiri dari tempat dia duduk dan melangkahkan kakinya, menuju tempat acara. Di saat dia tiba, matanya menangkap sosok Adelia yang terlihat melamun menatap ke arah Pandu dan Tiara.

__ADS_1


"Mungkin aku harus memenuhi permintaan Om Adi. Dia juga tidak buruk untuk dijadikan istri," batin Bima yang kemudian memutuskan untuk menghampiri Adelia.


Tbc


__ADS_2