Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 38


__ADS_3

Bima kini sudah memboyong Adelia ke apartemennya karena memang rumah dia yang sesungguhnya ada di Singapura, tempat perusahaannya berada.


Sekarang, situasi sudah malam, dan mereka sudah bersiap untuk tidur.


"Kak, jadi kita harus tinggal di luar negeri? apa tidak bisa di sini saja?" Adelia tiba-tiba buka suara. Wanita itu sebenarnya sedikit keberatan untuk tinggal di luar negeri.


Bima tersenyum tipis dan menghela napasnya. "Bukannya kamu sudah tahu kalau pusat dari usahaku ada di sana dan yang di Indonesia ini masih sangat baru? lagian ada baiknya juga kita tinggal di Singapura, karena kita bisa hidup bersama tanpa harus melihat kebersamaan orang yang kita cintai. Jadi, dengan begitu kita berharap bisa saling mencintai, bukankah begitu?


Adelia bergeming, tidak bisa membantah ucapan Bima yang menurutnya benar.


"Ya udah, jangan terlalu dipikirkan! sekarang kita tidur saja!" lanjut Bima lagi sembari mengusap kepala Adelia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari mulai muncul dengan malu-malu untuk menyapa bumi. Adelia, mulai membuka matanya, dan pemandangan yang sama seperti pagi sebelumnya, kembali dia rasakan, yaitu melihat wajah damai Bima.


Bibir Adelia, tiba-tiba menerbitkan seulas senyuman. Wanita itu menatap wajah Bima sepuasnya, dan tanpa sadar mengagumi keindahan ciptaan Tuhan itu.


"Kamu ternyata tampan juga, Kak. Aku heran kenapa dulu Kak Ruby tidak bisa jatuh cinta padamu," bisik Adelia pada dirinya sendiri.


Setelah puas menatap wajah Bima, Adelia melirik ke arah jam di dinding. Wanita itu melihat kalau jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Wanita yang kini sudah tidak gadis itu lagi sontak turun dari atas ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk sedikit bersih-bersih.


Setelah mengganti piyamanya dengan pakaian biasa, Adelia melangkah keluar dan menuju dapur.


"Emm, statusku sekarang sudah menjadi seorang istri. Sebagai seorang istri aku harus buat untuk suami. Aku buat sarapan apa ya? Kak Bima biasanya sarapan apa?" Adelia terlihat sangat bingung.


"Haish, apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar tidak bisa masak," raut wajah Adelia sudah mulai terlihat menangis.


"Tunggu dulu! sebaiknya aku membuat nasi goreng saja, dan aku kan bisa lihat caranya di YouTube?" Adelia sontak tersenyum dan langsung meraih handphonenya.


"Baiklah, aku siapkan dulu bahan-bahannya!" Adelia melangkah ke arah rice cooker dan membukanya.

__ADS_1


"Astaga, bagaimana aku bisa membuat nasi goreng, kalau nasi saja tidak ada? jadi aku harus masak apa? apa sebaiknya aku pesan saja ya?" Adelia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Tapi, kalau aku beli, nanti Kak Bima bilang aku pemalas. Kalau aku baca-baca, pria itu banyak yang menyukai wanita yang pintar memasak," Adelia benar-benar dilema.


Adelia membuka pintu lemari yang tergantung di atas kompor, dan melihat ada mie yang belum diolah.


"Hmm, apa aku buat mie goreng saja ya? sepertinya, caranya juga mudah,"Adelia kembali bersemangat. Wanita itu kemudian, membuka kulkas dan mengeluarkan bahan yang diperlukan sesuai dengan petunjuk yang ada di video yang dia tonton.


Bermodal video yang dia tonton, Adelia kini terlihat mulai fokus untuk memasak. Wanita itu terlihat sangat kerepotan, dan seperti sedang berperang. Keadaannya benar-benar sangat kacau. Wanita itu berkali-kali mengipas-ngipas wajahnya dan melihat ke atas karena matanya sangat perih akibat dari mengiris bawang.


"Astaga, telurnya gosong!" pekik Adelia, merasa miris melihat penampakan telur dadarnya.


"Ternyata tidak segampang, seperti yang aku lihat di video," Adelia benar-benar ingin menangis.


"Aku tidak boleh menyerah,aku harus bisa!". Adelia kembali bersemangat. Wanita itu kemudian melihat rebusan mienya. Mata wanita itu membesar melihat penampakan mienya yang membengkak, karena kelamaan direbus.


"Adel!" tiba-tiba terdengar suara Bima memanggil, membuat Adelia panik seketika.


Sementara itu,Bima yang tidak menemukan Adelia di kamar, mencari keberadaan istrinya ke dapur. Pria itu mengrenyitkan keningnya, melihat ada penampakan telur dadar gosong di atas meja. Pria itu, membuka panci dan melihat mie mengembang.


Pria itu sontak tersenyum dan menyadari kalau Adelia berusaha untuk memasak.


"Adel, kamu di mana?" Bima kembali memanggil, pura-pura tidak tahu kalau Adelia sembunyi di bawah meja.


Sementara itu, Adelia berusaha menahan napasnya, dan duduk seraya memeluk lututnya.


"Kenapa kamu sembunyi di bawah sana?". Adelia terjengkit kaget, sampai kepalanya membentur meja, karena kemunculan wajah Bima yang sudah tepat berada di depan wajahnya.


"A-aku ...." Adelia terlihat sangat gugup.


"Ayo keluar dari sana!" Bima mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu keluar.

__ADS_1


"Aku tidak mau!" Adelia menepis tangan Bima.


"Kenapa?"


"Aku malu. Kamu pasti menertawakan aku nanti," sahut Adelia sembari memutar tubuhnya, memunggungi Bima.


"Tidak! aku tidak akan menertawakanmu. Jadi, ayo keluar dari sana!" ucap Bima dengan lembut.


"Kamu janji tidak akan tertawa?" tanya Adelia memastikan sembari kembali menghadap ke arah Bima.


Bima menganggukkan kepalanya, mengiyakan sembari berusaha menahan tawanya.


Adelia sontak tersenyum dan menyambut uluran tangan Bima.


"Kakak, pasti lapar kan? maaf aku tidak bisa jadi istri yang baik. Goreng telur saja aku, bisa gosong," ucap Adelia sembari menatap penampakan telur dadarnya yang mengenaskan.


"Jadi istri yang baik itu tidak harus pintar memasak. Semua wanita itu punya kelebihan dan kekurangan. Mungkin kamu lemah di dalam hal memasak, tapi urusan ranjang kamu kan pintar," ujar Bima, menyelipkan sebuah candaan.


"Ih, mesum!" sungut Adelia dengan wajah memerah.


Bima terkekeh dan kembali mengusap kepala Adelia.


"Kalau urusan memasak, kamu jangan paksakan. Nanti lama-lama akan terbiasa juga. Bahkan kalaupun kamu tetap tidak bisa, kan ada aku. Kalau memang tidak memungkinkan, kita bisa menghire asisten rumah tangga. Jadi, kamu jangan terlalu berpikir ke arah sana."


"Tapi,aku hanya ingin bisa seperti istri -istri kebanyakan di luar sana, seperti Kak Ruby dan Kak Tiara yang pintar memasak," ucap Adelia sembari menundukkan wajahnya.


"Bukannya aku sudah katakan, jangan terlalu dipikirkan? sekarang, kamu duduk saja, dan lihat aku memasak!" Bima menarik kursi dan mendudukkan Adelia di atas kursi itu.


Tanpa menunggu lama, Bima mulai serius berkutat di depan kompor. Sementara itu Adelia yang tidak bisa tinggal diam, berdiri kembali, membantu Bima, walaupun hanya memberikan apa yang dibutuhkan pria itu.


Ketampanan Bima sontak berubah menjadi sangat tinggi,di mata Adelia melihat keseriusan pria itu ketika memasak.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2