Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
BBMW bab 34


__ADS_3

Hari berganti hari, tidak terasa hari yang ditunggu-tunggu oleh Pandu dan Tiara sudah tiba. Setelah tadi pagi mereka sudah sah menjadi pasangan suami-istri secara hukum dan agama, malam ini acara resepsi pernikahan impian keduanya akan dihelat secara besar-besaran.


Tiara kini sudah tampil cantik dalam balutan gaun berwarna putih, seperti yang diimpikan dia selama ini.


Demikian juga dengan Pandu yang juga sudah tampil gagah dengan tuxedo hitamnya.




Wajah keduanya tampak berbinar bahagia, terlebih Pandu yang memang sudah lama menunggu pernikahan ini.


"Kamu cantik sekali, Sayang!"puji Pandu dengan sorot mata yang benar-benar terpukau.


"Jangan terlalu berlebihan deh. Aku memang sudah cantik dari dulu," jawab Tiara sembari memutar bola matanya jengah.


"Tapi, kali ini kecantikanmu terlihat lebih memancar dari sebelumnya. Apa karena kamu sudah menjadi istriku ya? cie cie, sudah jadi istri sekarang!" Pandu tetap saja tidak mau berhenti memuji sekaligus menggoda.


Tiara kembali memutar bole matanya, dan langsung berbalik membelakangi Pandu.


"Udah ah, sebentar lagi, acara mau mulai, lebih baik kita bersiap untuk masuk ke tempat acara," Tiara melangkah meninggalkan Pandu. Bukan karena kesal dengan pujian pria yang sudah menjadi suaminya itu, tapi karena dia tidak mau Pandu melihat kalau sekarang dia sedang tersipu malu karena pujian pria itu.


"Sayang, kenapa main pergi begitu aja sih?" Pandu berlari kecil mengejar Tiara. "Kamu tidak mau memuji aku tampan?" Pandu dengan sengaja memasang wajah masam.


"Buat apa muji kamu? setiap hari juga kamu selalu terlihat tampan," sahut Tiara yang secara langsung sudah memuji pria itu.


"Wah, yang benar? akhirnya, aku mendengar sendiri kamu bilang aku tampan. Akhirnya aku mendapat pengakuan darimu.Jadi, makin cinta deh sama kamu," Pandu mencubit pipi Tiara dengan gemas.


"Kak, Pandu, jangan main cubit-cubit dong! pipinya sudah merah karena make -up. Ditambah dengan cubitanmu, nanti akan semakin merah!" Tiara mengerucutkan bibirnya.


Kali ini Pandu ingin mencubit hidung Tiara,


tapi dia urungkan karena dia mendengar suara MC yang meminta mereka untuk masuk ke ruangan tempat acara.

__ADS_1


Pandu kemudian langsung meraih tangan Tiara dan menggandeng wanita itu untuk masuk ke dalam ruangan. Kehadiran mereka tentu saja langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan.


Sebuah lagu romantis, menggema memenuhi ruangan itu, mengiringi raja dan ratu di acara itu sampai ke pelaminan.


Di antara para tamu, tampak Bima dan Adelia yang sama-sama tersenyum melihat ke arah pengantin, Bima dengan senyum lebar, Adelia dengan senyum tipis, hampir mengarah ke arah ingin menangis.


"Del, tersenyumlah dengan tulus! apa kamu menyesal karena mengalah dan memilih mundur?" tanya Bima dengan tatapan, menyelidik.


"Tentu tidak sama sekali. Aku justru bahagia. Ternyata, bahagia ketika mendapat mainan baru sewaktu kecil, tidak jauh beda dari rasa bahagia yang aku rasakan. Aku benar-benar ikut berbahagia atas pernikahan mereka berdua," lanjut Adelia lagi, melemparkan senyum yang sekarang sudah terlihat lebih lebar dan tulus.


Bima menghela napasnya dengan sekali hentakan. "Daripada kita diam-diam saja, lebih baik kita membahasnya bagaimana konsep pernikahan kita Minggu depan," Bima dengan sengaja kembali membuat suara.


"Itu semua terserah Kakak saja. Aku yakin kalau pilihan Kakak itu, pasti baik," pungkas Adelia yang memang tidak terlalu semangat untuk rencana pernikahannya.


"Del, aku tahu kalau kamu tidak bersemangat dengan rencana pernikahan ini. Tapi, sebagai seorang pria aku hanya ingin mendengar apa yang kamu inginkan. Karena bagaimanapun, setiap wanita pasti punya pernikahan impian. Jadi, walaupun aku tidak pria yang kamu cintai, aku tetap butuh pendapatmu," pungkas Bima, sembari beranjak pergi.


Adelia sontak tercenung, merasa bersalah mendengar ucapan Bima, yang walaupun dikatakan dengan lembut, tapi terselip kekecewaan di dalamnya. Padahal jelas-jelas, kalau pria itu juga merasakan hal yang sama dengannya, sama-sama menikah dengan orang yang tidak dicintai.


Adelia kemudian berdiri dan menyusul Bima.


Sementara itu, di pelaminan tampak aura kebahagiaan terpancar dari sepasang insan yang baru saja berganti status menjadi suami dan istri.


"Sayang, sebenarnya aku sedikit kesal hari ini. Kenapa sih kamu bersikeras untuk memakai gaun terbuka seperti itu?padahal kan aku sudah memilih gaun yang bisa menutupi punggungmu." protes Pandu, memasang wajah kesal.


"Apaan sih,Ka? Kakak kan tahu sendiri kalau yang memilih gaun ini mama, Mala. Lagian apa salahnya sih dengan gaun ini?" Tiara mengerucutkan bibirnya, karena kesal.


"Tidak ada yang salah. Cuma aku kurang suka kalau kulitmu punggungmu dilihat oleh banyak pria. Apalagi gaun ini terlihat sangat cantik ketika kamu pakai. Harusnya hanya aku yang bisa melihatnya,"


"Kalau kulitku tidak bisa dilihat oleh orang lain, harusnya aku pakai selimut saja, supaya bisa menutupi seluruh tubuhku." cetus Tiara masih dengan posisi bibir yang sama.


Pandu akhirnya terkekeh mendengar jawaban yang diberikan oleh Tiara. Dia ingin sekali menyambar bibir sang istri yang menurutnya sangat menggoda. Namun, pria itu mengurungkannya, karena takut nantinya tidak bisa menahan diri. Kan aneh, kalau acara berlangsung, tapi pengantinnya tiba-tiba menghilang.


"Kamu benar-benar menggemaskan," ucap Pandu sembari mencubit pelan pipi sang istri.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu mencubit pipiku, aku laporkan ke polisi kasus KDRT," Tiara memberikan ancaman dengan tatapan yang sangat tajam. Namun bukannya takut, justru pandu tertawa karena menurutnya ekspresi Tiara itu sangatlah lucu.


"Oh ya, apa kamu suka dengan dekorasinya?". Pandu mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja aku suka. Ini Inda sekali?" sahut Tiara, jujur.


"Ini semua untukmu, Sayang dan ini sama sekali tidak gratis." ucap Pandu, ambigu.


"Maksudmu?" Tiara mengrenyitkan keningnya.


"Kamu harus membayarnya nanti malam," Pandu mengerlingkan matanya, menggoda Tiara


Tiara yang mengerti ke arah mana ucapan Pandu, seketika menundukkan kepalanya, dengan wajah yang memerah. Seketika, wanita itu membayangkan rasa sakit yang akan dia rasakan nanti.


"Tapi, seperti aku belum bisa membayarnya malam ini, Ka." Tiara berbisik dengan sangat hati-hati.


"Kenapa tidak bisa?"gantian Pandu yang mengreyitkan keningnya.


"Karena aku kedatangan tamu bulananku," sahut Tiara ambigu.


"Tamu bulanan?" alis Pandu bertaut tajam. "Maksudmu setiap bulan kamu akan kedatangan tamu? tamunya laki-laki atau perempuan?" lanjutnya lagi, yang benar-benar menangkap lain, ucapan Tiara.


"Maksudku, aku lagi datang bulan, bukan tamu sebenarnya,"


"Kamu jangan bohong! kamu pasti mau menghindar' kan? 'Oh, tidak bisa! aku tahu kalau kamu itu sama sekali tidak datang bulan," tukas Pandu, asal.


"Kok, kamu bisa tahu?" alis Tiara bertaut tajam, karena bingung bagaimana Pandu tahu kalau dirinya tidak sedang datang bulan.


"Jadi kamu benaran tidak datang bulan?" wajah Pandu seketika berbinar. "Yes, tadi sebenarnya aku hanya menduga-duga saja, ternyata dugaanku benar," sorak Pandu bersemangat.


"Jadi, tadi kamu sebenarnya hanya menduga-duga?" Pandu, menganggukkan kepalanya dengan senyum semringah.


"Ihh, kamu ya ..." ingin rasanya Tiara mencekik suaminya itu, tapi dia urungkan karena tidak ingin membuat kekacauan di acara pernikahannya sendiri.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2