Penyesalan Suami Kejam

Penyesalan Suami Kejam
Kamu mengenalnya?


__ADS_3

Pandu baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan kliennya yang berasal dari luar negri. Untuk mengisi kebosanan, pria itupun berjalan di tepi pantai sembari menunggu datangnya sunset.


Pandu berjalan sembari mengarahkan kameranya untuk menangkap gambar yang menurutnya sangat indah, karena kebetulan pria itu suka mengabadikan momen-momen unik.


"Auh!" pekik suara seorang wanita yang berbenturan dengan tubuh jangkung Pandu. Pria itu sontak menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita yang berjongkok di pasir.


"Ma-maaf!" ujar Pandu sembari mengulurkan tangannya ke arah wanita itu.


"Maaf,maaf! enak aja minta maaf!" wanita itu menepis tangan Pandu dengan sedikit kasar.


"Anda punya mata nggak sih?" wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah tampan Pandu.


"Punya," jawab Pandu singkat padat dan jelas seraya menyunggingkan senyumnya.


"Punya, tapi kenapa tidak dipakai?" wanita itu masih menggerutu dengan bibir yang mengerucut, membuat Pandu menahan tawa, melihat wajah kesal wanita itu yang menunjukkan menggemaskan.


"Menarik!"batin Pandu, tanpa menanggalkan senyum di bibirnya.


"Apa kamu tidak bisa melihat. Mataku jelas-jelas menempel dengan sempurna, yang berarti terpakai dengan baik," Pandu masih bersikap santai, tidak merasa terganggu dengan sikap ketus wanita di depannya itu.p


"Ihh!" wanita itu menggeram seraya mengangkat tangannya, seakan hendak mencakar-cakar wajah Pandu.


"Hei, Nona. Jangan kesal -kesal bisa? aku minta maaf deh kalau aku ada salah. Tapi, aku benar-benar tidak sengaja. Nona sendiri kan tahu kalau aku tadi lagi mengambil photo pemandangan di sebelah sana. Harusnya Nona yang menghindari saya," tutur Pandu tidak mau disalahkan.


Wanita itu mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan.


"Iya, Maaf!" ucapnya ketus sembari berlalu pergi.


"Wah, unik ni perempuan. Biasanya banyak wanita yang akan cari perhatian padaku, tapi sepertinya dia tidak tertarik sama sekali. Aku harus kenal dia," pungkas Pandu sembari berlari kecil menyusul wanita itu.


"Hei Nona, tubuh kamu kecil, tapi langkah kamu cepat juga ya,"Pandu kini sudah berada tepat di samping wanita itu.


Wanita itu sontak menghentikan langkahnya dan menatap Pandu dengan tatapan tajam. Sementara itu,Pandu berpura-pura mengalihkan tatapannya ke arah lain, seakan-akan dia tidak tahu kalau wanita di depannya itu menatap tidak suka padanya.


"Kenapa kamu membuntutiku?" tanya wanita itu tanpa menurunkan tatapannya.


"Emm, nggak ada apa-apa sih. Oh ya,namaku Pandu, kalau kamu?" Pandu mengulurkan tangannya.


Wanita itu menatap tangan Pandu dan kembali menatap wajah Pandu. Wanita itu mendengkus, lalu melanjutkan kembali langkahnya mengabaikan tangan Pandu.


Pandu kembali tersenyum, seketika merasa tertantang untuk mendekati wanita itu. Dia kembali berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan wanita yang benar-benar menarik hatinya itu.


"Kenapa kamu masih membuntutiku?" nada suara wanita itu, terdengar sangat dingin.


"Kamu belum menyebutkan namamu. Boleh aku tahu namamu, di mana kamu tinggal, dan kalau boleh sekalian nomor teleponmu," ujar Pandu santai tidak peduli dengan sikap dingin wanita di depannya.

__ADS_1


"Kalau aku tidak mau kasih tahu namaku bagaimana?"


"Emm, berarti aku akan mengikutimu kemanapun sampai aku tahu namamu," jawab Pandu, tetap dengan senyum yang memikat.


"Tapi maaf,aku tidak punya nama," jawab wanita itu sembari mempercepat langkahnya. Namun secepat apapun langkahnya, Pandu tetap saja bisa berjalan sejajar dengan wanita itu, karena langkahnya yang panjang.


"Bisa tidak kamu berhenti mengikutiku?" wanita itu meninggikan suaranya dengan napas yang tersengal-sengal karena kecapean.


"Bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku akan tetap mengikutimu sampai aku tahu namamu. Kamu kira aku bercanda?" Pandu mengerlingkan matanya.


"Dasar laki-laki gila!" umpat wanita itu, sembari kembali melangkahkan kakinya.


"Laki-laki gila ini, sangat ingin tahu siapa namamu. Soalnya mau aku simpan di sini," Pandu menunjuk ke arah dadanya.


"Dasar aneh! kamu emang benar-benar gila ya!" wanita mengembuskan napas, kesal.


"Emm, mungkin kalau kamu tidak sebut namamu, aku akan benar-benar gila, karena penasaran terus. Dan yang akan bertanggung jawab dengan kegilaanku adalah kamu,"?


"Bodo amat! kamu mau gila sekalipun, aku tidak peduli,"


"Kalau kamu tidak peduli, berarti kamu sudah berdosa padaku," Pandu tidak mau kalah.


"Haish, kamu benar-benar sinting! jangan ikuti aku lagi! awas kalau kamu masih tetap ikut, aku akan teriak,dan bilang kalau kamu mau berbuat jahat padaku," ancam Wanita itu sembari terus melangkah.


Pandu akhirnya menghentikan langkahnya dan membiarkan wanita itu berjalan menjauh darinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil yang membawa Pandu berhenti tepat di belakang sebuah mobil yang dikemudikan oleh wanita yang menarik perhatianku tadi. Tidak ada namanya menyerah dalam kamusnya.


Mobil yang dikemudikan wanita itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang tidak cukup besar, tapi juga tidak kecil.


Rumah itu terlihat sangat asri dan sedap dipandang mata karena penuh dengan tanaman hijau dan bunga.


Wanita itu terlihat keluar dari dalam mobil dan hendak melangkah. Namun wanita itu sontak menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Pandu yang menyapanya.


"Oh, jadi rumah kamu di sini ya?" tanya Pandu sembari menatap ke arah rumah.


"Hei, kenapa bisa ada di sini? kamu masih membuntutiku ya?" pekik wanita dengan napas memburu, menahan kesal.


"Bukannya aku sudah katakan kalau aku akan tetap mengikutimu sampai aku tahu siapa namamu?" Pandu melemparkan senyum manisnya.


"Kamu benar-benar, kurang waras,gila, sinting!" umpat wanita itu bertubi-tubi.


"Eh,Nona tanpa nama, semua yang kamu sebutkan itu sama saja. Benar-benar pemborosan kata, tahu nggak!" Pandu sama sekali tidak merasa sakit hati mendengar umpatan gadis di depannya. Baginya melihat wajah kesal wanita itu merupakan hiburan tersendiri baginya.

__ADS_1


Wanita itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dan wanita itu melakukannya berulang-ulang, berusaha bersikap sabar pada pria di depannya itu.


"Baiklah, Tuan. Kalau aku sudah menyebutkan namaku, kamu janjikan akan langsung pergi?" tanya wanita itu memastikan.


"Tidak juga," sahut Pandu ambigu.


"Maksudmu? bukannya tadinya kamu bilang kalau kamu akan berhenti mengikutiku kalau kamu sudah tahu namaku?" wanita itu kembali marah-marah.


"Aku akan pergi, jika aku sudah tahu namamu dan nomor teleponmu,"


"Kamu ngelunjak ya! huft!" wanita itu mengelus dadanya berusaha untuk sabar.


"Apa kamu butuh bantuan, untuk mengelus dadamu? dengan senang hati aku bersedia,"


"Ouh! pekik Pandu ketika kaki wanita itu tiba-tiba mendaratkan keras di kakinya.


"Kamu mau mesum ya!" bentak wanita itu dengan mata yang berapi-api.


"Tidak sama sekali! aku kan hanya menawarkan bantuan. Bukan mau mesum," sahut Pandu sembari meringis kesakitan.


"Sama saja!" wanita itu mengerucutkan bibirnya.


" Maaf deh kalau begitu. Sekarang, kamu kasih tahu nama kamu siapa dan sekaligus nomor teleponmu," ucap Pandu.


"Baiklah, namaku Dina dan nomor teleponku ...." wanita itu menyebutkan nomor teleponnya.


"Sudahkan? sekarang kamu bisa pergi," ucap wanita yang katanya bernama Dina itu.


"Baiklah,Dina. Terima kasih! nanti aku akan menghubungimu," Pandu baru saja melangkah hendak masuk ke dalam mobil yang dia sewa. Tapi, dia urungkan karena tiba-tiba mendengar suara seorang wanita.


"Tiara, kamu kah itu! kamu lagi bicara dengan siapa!" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang sudah berdiri di teras rumah. Karena suasana gelap, wanita yang perutnya membuncah itu tidak bisa melihat jelas wajah wanita yang ternyata Tiara itu dan pria teman bicaranya.


"Oh, jadi nama kamu Tiara bukan Dina?" ucap Pandu sembari menatap tajam ke arah Tiara. Mata pria itu kemudian menoleh ke arah wanita yang berdiri di teras.


"Ruby? bukannya itu Ruby?" ucap Pandu yang tentu saja membuat Tiara kaget.


Wanita itu sontak menarik tangan Pandu untuk menjauh dari tempat itu.


"Tiara kamu mau kemana?" teriak Ruby, memanggil.


"Sebentar Ruby! sebentar lagi aku masuk!" sahut Tiara membalas teriakan Ruby.


"Jadi, kamu Tiara sahabatnya Ruby?" tanya Pandu setelah agak menjauh dari rumah itu.


"Kamu mengenal Ruby?"

__ADS_1


Tbc


Maaf, tadi aku kedatangan tamu, dan pulang sampai malam, makanya baru sempat menulis 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2