
Arka mengembalikan ponsel Pandu, setelah panggilannya dengan Tiara terputus. Kemudian dia meraih handphonenya sendiri dan langsung menghubungi anak buahnya.
"Siapkan helikopter, kita pergi ke Labuan Bajo sekarang juga!" titah Arka dan langsung memutuskan panggilan sebelum anak buahnya menjawab iya.
"Apa kamu yakin kalau Ruby ada di Labuan Bajo?" tanya Pandu yang dari tadi hanya diam saja karena merasa kesal mengingat kalau Tiara sekarang sedang bersama dengan pria yang bernama Bima.
" Tidak ada salahnya kita coba ke sana," ucap Arka.
"Tapi kalau kita ke sana, kita juga tidak tahu di mana posisinya Ruby, Ka,"
"Labuan Bajo kota yang tidak terlalu besar. Kita telusuri semua hotel dan penginapan di sana," sahut Arka yang kali ini terlihat lebih optimis.
Pandu diam untuk beberapa saat, karena sedang berpikir keras. "Tapi, menurutku, aku rasa mereka tidak membawa Ruby menginap di hotel atau di penginapan. Entah kenapa aku yakin kalau pria itu menyewa sebuah rumah untuknya,"
Arka diam dan menganggukkan kepalanya, merasa kalau yang diucapkan Pandu itu cukup masuk akal.
"Baiklah, apapun itu, kita berangkat sekarang juga," Arka baru saja hendak melangkah, tapi dia urungkan karena handphonenya tiba-tiba berbunyi yang ternyata dari sang papa.
"Halo, Pa!" sapa Arka, sembari kembali melanjutkan langkahnya, disusul oleh Pandu.
"Apa kamu sudah menemukan jejak Ruby?" terdengar suara Adijaya dari ujung sana.
"Sebenarnya belum, Pa. Tapi kami mendapat kabar, kemungkinan besar Ruby pergi ke Labuan Bajo. Sekarang kami mau ke sana,"
"Labuan Bajo? baiklah, mudah-mudahan kalian berhasil menemukan Ruby di sana." ucap Adijaya penuh harap. "Oh ya, apa kalian sudah tahu siapa dalang dari peristiwa ini?" sambung Adijaya lagi.
"Kami belum sepenuhnya tahu, tapi kami menduga kalau dalangnya adalah papa dan kakak laki-laki Jelita. Karena Jelita pernah cerita kalau dia punya kakak yang namanya Juno," jelas Arka sembari masuk ke dalam mobil karena mereka sudah tiba di parkiran.
Mobil kemudian melaju dengan kecepatan tinggi, menuju landasan di mana helikopter mereka berada.
"Papa dan kakaknya Jelita?" terdengar Adijaya bergumam. " Ternyata sekarang si Jamal sudah memulai aksi balas dendamnya. Papa tidak pernah berpikir kalau ini akan terjadi," ucap Adijaya, ambigu dan misterius.
"Maksud Papa? apa Papa mengenal papanya Jelita?" Arka menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja Papa kenal. Dia itu sahabat lama Papa dan memiliki dendam lama pada Papa. Karena dulu, waktu kamu masih kecil, Papa pernah mendepak dia dari perusahaan, karena melakukan korupsi yang sangat besar. Papa memecat dia tanpa memberikan dia kesempatan sama sekali. Karena alasan itulah dulu, ketika papa tahu Jelita adalah putrinya, Papa tidak setuju kalau kamu sampai menikah dengannya. Papa takut, si Jamal memanfaatkan Jelita nanti untuk membuat perusahaan kita hancur," jelas Adijaya panjang lebar.
"Papa kenapa tidak memberitahukan masalah ini padaku selama ini?" suara Arka sedikit meninggi.
"Karena saat itu kamu lagi bodoh karena cinta. Kalau Papa kasih tahu, apa kamu akan nurut? papa yakin tidak. Kamu pasti tetap akan mempertahankannya karena papa tahu sifat kamu,"
Arka terdiam mendengar ucapan Papanya, tidak membantah sama sekali.
"Sekarang, kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Yang penting sekarang, bawa menantu dan ketiga cucu papa dengan selamat. Ingat, kamu harus tetap waspada, mengingat kalau Jamal ternyata memiliki bisnis gelap, jual beli senjata secara ilegal dan memiliki bisnis judi online. Dia pasti mempunyai banyak anak buah. Jadi, untuk mencegah sesuatu terjadi, sebaiknya kamu jangan gegabah dan lakukan persiapan secara matang," ucap Adijaya, mengingatkan.
__ADS_1
"Baik, Pa!" sahut Arka sembari turun dari mobil karena kini mereka sudah tiba di landasan helikopternya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi sudah datang menjelang. Mentari pagi tampak tersenyum menyapa kota Labuan Bajo.
Ruby membuka jendela kamarnya dan menatap keindahan pantai. Namun, dia merasa kalau pantai itu sama sekali tidak indah karena sekarang dia tengah berpikir keras bagaimana bisa lepas dari Juno.
Ruby berbalik dan menatap ketiga putra-putrinya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Ya, Tuhan bagaimana aku bisa aku lepas dari sini? kasihan anak-anakku!" rintih Ruby, menatap sendu ketiga bayi itu.
Ruby tiba-tiba mencium aroma masakan, yang sepertinya berasal dari dapur.
"Kenapa ada bau masakan? siapa yang memasak? tidak mungkin Juno kan?" batin Ruby sembari melangkah keluar dari kamar.
Ruby mengrenyitkan keningnya, ketika melihat seorang wanita setengah baya yang sedang serius berkutat di depan kompor.
"Siapa kamu?" tanya Ruby, membuat wanita itu terjengkit kaget.
"Ma-maaf, Bu. Aku diminta oleh Tuan Juno untuk melakukan pekerjaan rumah, termasuk memasak," ucap wanita itu dengan sopan setelah rasa kagetnya reda.
"Apa Ibu ini, Ibu Ruby?" lanjut wanita itu kembali.
"Kayanya tidak ada lagi, Bu. Ini sudah mau selesai," jawab wanita itu dengan menerbitkan seulas senyum di bibirnya.
Ruby mengedarkan pandangannya, celingukan untuk memastikan keadaan.
"Bu, apa aku boleh minta tolong?"tanya Ruby berbicara dengan sangat pelan, yang hampir sama seperti tengah berbisik.
"Apa itu, Bu? kalau aku mampu aku akan tolong?" wajah wanita setengah baya di depan Ruby itu terlihat serius menatap Ruby.
"Apa, Ibu bawa handphone? apa bisa aku meminjam sebentar? soalnya handphone aku tadi malam tidak sengaja kerendam air. Padahal aku mau menghubungi kakakku di Jakarta," ucap Ruby dengan mata yang masih melihat ke arah sekitar, takut Juno datang tiba-tiba. Karena setahu dia, hotel tempat Juno menginap tidak jauh dari tempat dia tinggal.
"Oh, tentu saja boleh, Bu. Tapi maaf handphonenya jelek," wanita itu memberikan handphonenya sembari nyengir.
"Oh, tidak apa-apa! yang penting masih bisa dipakai, tapi, apa ini ada pulsanya?" tanya Ruby.
"Oh ada kok, Bu. Kebetulan tadi aku mengaktifkan paket nelponnya. Jadi, Ibu bisa pakai sepuasnya," ucap wanita itu, tanpa menanggalkan senyumnya.
"Kalau begitu aku pinjam, dan aku ke belakang sebentar ya, Bu!" Ruby melangkah menuju belakang, setelah wanita setengah baya itu menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di belakang, lagi-lagi Ruby menoleh ke belakang, memastikan Juno tidak datang.
__ADS_1
Setelah merasa aman, Ruby akhirnya menekan nomor Arka yang kebetulan sudah dia ingat.
Sementara itu di suatu tempat, tepatnya di sebuah hotel Arka dan Pandu bersiap-siap ingin keluar kembali, untuk melakukan pencarian setelah semalaman hasil yang mereka dapat nihil.
Ponsel Arka tiba-tiba berbunyi dan Arka mengrenyitkan keningnya, karena nomor yang sedang menghubunginya tidak tercantum di kontaknya. Arka mencoba mengabaikan panggilan itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Namun, ponselnya kembali berbunyi dan itu sampai tiga kali.
"Jawab dulu, Ka. Mungkin itu sangat penting," ucap Pandu.
"Tidak ada yang lebih penting dari Ruby saat ini," ucap Arka, menolak permintaan Pandu.
"Tapi, tidak ada salahnya kamu menjawab teleponnya dulu," Pandu tetap kekeuh.
"Baiklah!" Arka akhirnya menekan tombol jawab.
" Halo, siapa ini?" ucap Arka dengan nada dingin.
"Akhirnya kamu jawab juga teleponnya, Mas. Ini aku Ruby," terdengar suara Ruby dari ujung sana dengan nada takut.
"Ruby ! kamu di mana, Sayang?" pekik Arka yang membuat Pandu sontak antusias mendengar.
"Tolong aku dan anak-anak, Mas. Aku ternyata sudah dibohongi oleh pria itu. Dia ternyata kakaknya Jelita yang ingin membalas dendam padamu. Maafkan aku, yang meragukanmu," Ruby terdengar mulai menangis.
"Kamu tenang, Sayang. Sekarang kamu ada di mana. Aku dan Pandu sudah ada di Labuan Bajo mencarimu. Apa kamu benar di kota ini?"
"Iya, aku di labuan Bajo. Tepatnya di __"
"Ternyata kamu sudah mengetahui rencanaku ya!" tiba-tiba terdengar suara bentakan seorang pria dari ujung sana, yang bisa dipastikan kalau itu adalah Juno.
"Ruby, Sayang! kamu kenapa? RUBY!" teriak Arka, panik.
"Brengsek!" Arka hendak melemparkan handphonenya, beruntung Pandu langsung mencegah.
"Jangan lempar Arka. Panggilan tadi bisa membantu kita untuk melacak keberadaan Ruby.
Arka menarik napas dalam-dalam berusaha untuk tenang, walaupun sangat sulit mengingat Ruby sekarang ada dalam bahaya..
Dengan kepintaran yang dia miliki, akhirnya Arka bisa menemukan tempat dari mana Ruby menghubunginya.
"Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini, kita harus cepat bergerak!" titah Arka dengan tegas.
"Baiklah! tapi sebelumnya, kita harus melakukan persiapan yang matang, seperti yang dikatakan Om Adi," Pandu kemudian menghubungi anak buahnya yang kebetulan dia bawa serta demikian juga dengan Arka melakukan hal yang sama.
"Ayo, buruan! aku takut kita terlambat!" seru Arka sembari berlari keluar.
__ADS_1
Tbc