
"Ada apa meneleponku lagi, Ra? apa kamu belum juga tidur?" Terdengar suara Bima dari ujung sana.
"Emm, apa Kakak sudah sampai di apartemen?" tanya Tiara, gugup.
"Ni, baru aja sampai. Kamu sekarang tidur ya, sudah larut malam. Untuk masalah pria yang kamu ceritakan itu, kamu tenang saja, kalau kalian berdua berjodoh,mau bagaimanapun pasti akan bersatu," ucap Bima, yang merasa yakin kalau Tiara menghubunginya karena ingin kembali membahas pria yang sudah membuatnya galau.
"Emm, sebenarnya aku lagi tidak ingin membahas dia, Kak. Tapi ada hal yang lebih penting dan ini tentang Ruby," ucap Tiara. Sisa-sisa rasa gugupnya masih sedikit terasa.
"Oh ya, ada apa dengan Ruby? apa kamu sudah mengabari dia kalau aku sudah pulang ke Indonesia?" Bima terdengar antusias, membuat Tiara kembali merasa dilema.
"Ra, kenapa kamu diam?" suara Bima kembali terdengar.
Tiara menghela napasnya dengan sedikit berat. "Kak Bim, aku menghubungimu cuma mau bilang, agar sebaiknya Kakak mengurungkan niat Kakak untuk mendekati Ruby lagi," akhirnya Tiara membulatkan tekad untuk mengatakannya.
"Kenapa? apa tadi kamu sudah membicarakan niatku untuk mendekatinya, dan dia langsung menolak? kalau untuk masalah itu, kamu tenang saja, aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena aku sudah yakin kalau itu pasti akan terjadi. Tidak mungkin kan semudah itu dia langsung menerimaku? pasti butuh waktu dan aku pasti akan selalu berusaha untuk itu," tutur Bima panjang lebar tanpa jeda.
"Bukan seperti itu, Kak!"
"Jadi, bagaimana?
"Sebenarnya aku tidak pernah menyinggung masalah kalau kakak ingin mendek.,ati dia lagi, karena sebelum aku mengucapkannya, Ruby sudah lebih dulu bilang kalau dia akan memberikan kesempatan kedua pada suaminya. Dia berniat akan kembali pada suaminya, Kak,"
Keheningan sontak tercipta. Bima sama sekali tidak bersuara untuk beberapa saat. Sepertinya pria itu kaget atau tidak menyangka kalau dia harus gagal lagi.
"Kak, apa Kakak baik-baik saja?" tanya Tiara dengan nada yang merasa tidak enak hati.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lemas saja. Tadinya aku sudah bahagia, karena merasa ada kesempatan tapi ternyata aku kembali patah hati," Bima kembali diam, demikian juga dengan Tiara yang semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku, Kak. Aku kira tadinya Ruby benar-benar tidak akan kembali lagi pada suaminya, tapi dugaanku salah," nada suara Tiara terdengar lirih.
"Kenapa kamu harus minta maaf? ini sama sekali bukan salahmu. Mungkin, aku dan Ruby sama sekali tidak akan berjodoh," Bima terdengar sudah pasrah. "Tapi, biarpun seperti itu, aku masih sangat ingin bertemu dengannya, kamu masih mau kan menemaniku ke sana? " sambung Bima kembali.
__ADS_1
"Kenapa masih mau bertemu, Kak? nanti__"
"Nanti apa? percaya deh padaku, aku hanya ingin bertemu dengannya saja. Kamu jangan berpikir yang macam-macam!" Bima dengan sigap menyela ucapan Tiara sebelum adik sepupunya itu selesai bicara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi kini kembali datang menyapa. Tampak di kediaman Arka, tepatnya di meja makan, empat orang yaitu Arka dan Adelia adiknya serta kedua orangtua mereka berdua sedang menyantap sarapan pagi.
"Pa, Ma, sepertinya aku memutuskan untuk pergi ke Bali dan tinggal di sana untuk sementara waktu dan untuk urusan di Jakarta aku serahkan pada Adel," ucap Arma setelah pria itu menyelesaikan sarapan paginya.
Semua yang ada di tempat itu sontak berhenti makan dan menatap ke arah Arka.
"Ke Bali? buat apa?" Rosa mengrenyitkan keningnya.
"Kenapa Mama masih bertanya lagi? dia ke sana adalah salah satu usaha untuk bisa dekat dengan istri dan anak-anaknya, sehingga Ruby bisa luluh dan mau kembali ke sini lagi," bukan Arka yang menjawab melainkan Adijaya.
"Oh," sahut Rosa singkat dan kembali melanjutkan makannya.
"Itu juga yang kupikirkan,Pa."
"Jadi kapan Kakak akan berangkat ke Bali?" Adelia buka suara.
"Nanti malam! hari ini aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku dulu!" sahut Arka, lugas.
" Baiklah! Kakak di sana saja dulu, kalau urusan di sini aku dan papa akan handle,"ucap Adelia lagi.
"Benar kata Adelia. Kamu bawa menantu dan cucu-cucu Papa kembali ke Jakarta! Papa sudah sangat merindukan Alvaro, Alvian dan Alisha!" Adijaya menimpali ucapan putrinya.
"Adel juga. Terakhir kali kita melihatnya dua minggu setelah lahir. Sekarang sudah tiga bulan pasti mere sudah sangat menggemaskan," ujar Adelia sembari membayangkan wajah ketiga keponakannya. Walaupun hampir setiap hari dia bisa melihat melalui video call,tapi menurutnya lebih baik lagi kalau melihat secara nyata.
"Atau bagaimana kalau kita semua pergi sama-sama ke sana nanti malam? Papa juga udah rindu dengan mereka. Bagaimana, Ma? apa kali ini kamu sudah mau ikut?" Adijaya menatap Rosa istrinya dengan tatapan penuh harap. Karena ketika dia dan Adelia menyusul ke Bali, Rosa selalu menolak untuk ikut.
__ADS_1
Rosa terdiam tidak menjawab. Wanita setengah baya itu meraih gelas yang berisi air, lalu meneguknya sampai tandas.
"Lihat nanti saja, Pa. Nanti aku akan bilang ke Papa ikut tidaknya aku," sahut Rosa.
"Sebenarnya, Papa juga ada kabar baik dan kabar ini untuk Adel," celetuk Adijaya tiba-tiba.
Adelia sontak menatap ke arah papanya dengan tatapan penasaran. Bukan hanya gadis itu, Rosa dan Arka juga menatap Adijaya dengan tatapan yang sama.
"Kabar baik apa, Pa?" tanya Adelia antusias.
"Papa mau bilang kalau tadi Papa menerima pesan dari Om Pras kalau Pandu sudah setuju dijodohkan dengan Adelia," ucap Adijaya dengan senyum yang mengembang sempurna.
Adelia sontak menundukkan kepala, menyembunyikan senyum bahagianya. Karena memang dirinya menyukai sahabat kakaknya itu. Dirinya memang sempat kecewa karena Pandu pernah menolak dijodohkan dengannya karena kata pria itu, dia sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
"Cie, ada yang sedang bahagia nih?" ledek Rosa, menggoda putrinya itu.
"Mama! jangan ledek Adel, bisa?" Adelia mengerucutkan bibirnya, membuat Rosa terkekeh.
"Pandu setuju? kok bisa?" di antara tiga orang yang berada di tempat itu, hanya Arka yang memberikan reaksi yang berbeda.
Adijaya, Rosa dan Adelia sontak menatap Arka dengan tatapan bingung.
"Lo, emangnya kenapa? kamu tidak senang ya, kalau sahabatmu yang jadi adik iparmu? bukannya kamu dulu juga menginginkan Adelia menikah dengan Pandu? tapi kenapa sekarang kamu terlihat tidak senang?" alis Adijaya bertaut tajam, menyelidik.
"Bukan tidak senang, tapi ...." Arka menggantung ucapannya. "Arghh, sebaiknya aku akan tanya sendiri nanti ke dia," pungkas Arka akhirnya sembari berdiri dari tempat duduknya dan berlalu pergi.
Sementara itu, sikap Arka barusan membuat Adelia curiga. Dia menatap kepergian kakaknya dengan tatapan penuh tanya.
"Ada apa ya? kenapa Kakak terlihat tidak suka mendengar Kak Pandu setuju dijodohkan denganku? apa ada sesuatu yang terjadi?" batin Adelia.
"Sudah, sudah! kamu jangan pikirkan kakakmu. Mungkin dia lagi banyak pikiran," Rosa buka suara.
__ADS_1
Tbc