
Ruby baru saja hendak memejamkan matanya, setelah hampir beberapa jam tidak bisa tidur karena memikirkan sikapnya yang dia pikir kurang baik, pada Arka. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dia langsung duduk kembali, takut ketiga anaknya terbangun.
"Halo, Kak!" sapa Ruby. Ternyata yang menghubunginya adalah Risa kakaknya.
"Kamu belum tidur ya? apa kakak mengganggu tidurmu?" ucap Risa dari ujung telepon.
"Aku sama sekali belum tidur kok, Kak. Jadi Kakak sama sekali tidak menggangu. Ada apa menghubungiku malam-malam?" Tanya Ruby sembari menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Risa tidak langsung menjawab, dia terdengar menghela napasnya dengan cukup panjang, sedangkan Ruby, dengan sabar menunggu sang kakak untuk bicara.
"By, Kakak mau tanya, apa kamu benar-benar tidak mau kembali lagi pada Arka? apa kamu tidak mau berpikir ulang keputusanmu?"dari nada suaranya, bisa dipastikan kalau Risa berbicara dengan sangat hati-hati.
"Kenapa Kakak tiba-tiba berbicara hal ini? sudah larut malam lagi. Aku kira Kakak menghubungiku larut malam karena ada hal yang sangat penting," ujar Ruby dengan alis yang bertaut tajam.
"Ya, bagaimana lagi. Suami gilamu itu juga datang malam-malam, hanya untuk merayuku, untuk membujukmu, benar-benar kurang kerjaan kan?" Risa mulai menggerutu.
"Dia datang?" Ruby, memastikan.
"Iya, dia datang ke sini dan baru saja pulang. Dia bahkan sempat adu debat sama David. Bisa-bisanya suami gilamu itu cemburu pada David. Katanya dia kesal karena dia mantan kamu, benar-benar gila kan?"
Tawa Ruby sontak pecah mendengar ocehan kakaknya untuk beberapa saat. "Jadi, kenapa Kakak langsung menghubungiku? apa kakak mau memenuhi permintaan Mas Arka untuk membujukku? apa dia menjanjikan sesuatu pada kakak?" tukas Ruby, curiga.
"Ya, dia memang menawarkan akan memberikan kembali perusahaan David yang sudah dia beli, jika aku berhasil membujukmu, tapi kamu tenang saja,aku menolaknya kok. Aku memintanya untuk berusaha sendiri," Risa diam sesaat untuk mengambil jeda.
"Tapi, By, kalau aku pikir-pikir dia sepertinya benar-benar serius untuk bisa bersama denganmu lagi. Aku berharap kamu mau merubah pikiranmu. Bukan hanya demi dirimu, tapi juga demi kebahagiaan anak-anakmu. Kakak harap kamu bisa memikirkan ini ya!" lanjut Risa lagi.
Ruby bergeming, diam seribu bahasa. Sebenarnya tanpa kakaknya berbicara seperti itu, sudah dari tadi dia juga berpikir akan hal itu.
"By, kamu tahu tidak, sebenarnya Kakak tahu, kalau diam-diam Arka selalu membantu usaha David diam-diam, walaupun di depan David dia menunjukkan rasa tidak sukanya. Asal kamu tahu juga, dia bahkan meminta kami untuk tinggal di rumah yang dia beli dulu untukmu. Katanya biar ada yang merawat rumah ini. Dia bilang, kalau kamu kembali padanya, kalian berdua akan tinggal di rumah ini," kembali terdengar suara Risa.
"Rumah? bukannya aku sudah mengganti rumah itu dengan uang?"Ruby benar-benar kaget mendengar ucapan yang terlontar dari mulut kakaknya itu.
__ADS_1
"Dia tidak pernah menjualnya, rumah itu masih tetap atas namamu, bukan cuma itu saja, tanah yang dia berikan juga masih atas nama kamu kok," jelas Risa membuat Ruby semakin kaget.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruby meletakkan kembali handphonenya setelah panggilannya dengan sang Kakak terputus. Dia baru saja hendak merebahkan badannya, tapi dia urungkan begitu mendengar handphonenya yang kembali berbunyi.
Ruby kembali meraih ponselnya dan melihat ada nama Tiara di layar ponselnya.
"Baru mau menghubungi aku balik, dari tadi dari mana aja sih dia?" Ruby menggerutu melihat Tiara menghubunginya setelah beberapa jam yang lalu panggilannya tidak dijawab oleh sahabatnya itu.
"Kamu dari mana aja sih dari tadi? kenapa kamu tidak angkat panggilanku?" tanpa basa-basi, Ruby langsung mencecar pertanyaan pada sahabatnya itu.
Terdengar kekehan Tiara dari ujung telepon.
"Maaf, By. Tadi ku lagi keluar dengan Kak Bima, handphone aku tak sengaja ketinggalan," sahut Tiara setelah tawanya reda.
"Kak Bima sudah pulang?" Ruby mengrenyitkan keningnya, walaupun dia tahu sahabatnya itu tidak akan bisa melihat kernyitan di keningnya.
Ruby mendengus merasa tidak tertarik mendengar pria yang bernama Bima itu merindukannya. "Oh seperti itu? Ya udah sampaikan salamku padanya. Sekarang ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, kamu belum mengantuk kan?" Ruby sengaja mengalihkan percakapan, karena dia tahu kalau sahabatnya itu pasti akan kembali menjodoh-jodohkan dia dengan Bima kakak sepupunya itu.
Ya, pria yang bersama Tiara adalah kakak sepupunya Tiara yang memiliki bisnis di luar negri. Pria itu sudah lama menyukai Ruby dan berkali-kali berusaha mendekatinya.
"Kamu mau menghindari topik Kak Bima ya?" tukas Tiara, tepat pada sasaran
Bisa dipastikan kalau bibir sahabatnya itu pasti dalam keadaaan mengerucut sekarang.
Ruby menghela napasnya dengan cukup panjang dan berat. "Ra, bukan seperti itu maksudku, aku memang ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, kalau untuk membicarakan Bima, kita bisa bicarakan nanti," ujar Ruby.
"Ada hal penting apa?" Tiara terdengar mulai antusias.
"Begini, Ra, bagaimana menurutmu kalau aku menerima mas Arka kembali? karena aku merasa kalau dia benar-benar mencintaiku dan anak-anak,"
__ADS_1
Terdengar suara batuk dari ujung telepon yang tidak lain adalah Tiara. Wanita itu sampai terbatuk-batuk karena terlalu kaget mendengar ucapan Ruby.
"Ra, kamu kenapa? kamu sakit ya?" Ruby mulai panik.
"Ti-tidak,By. Aku hanya kaget mendengar ucapanmu tadi? kamu serius mau menerimanya kembali?" ucap Tiara memastikan.
"Iya, emangnya kenapa? bukannya selama ini kamu malah menyarankanku untuk kembali ke Mas Arka? tapi kenapa kamu jadi kaget begini?" alis Ruby bertaut tajam, curiga.
"Ti-tidak apa-apa, By. Baguslah kalau begitu. apa kamu mau kembali karena dia sudah menunjukkan perhatiannya dan rajin memberikan kamu kejutan-kejutan kecil?" tanya Tiara, menyelidik.
"Tidak! itu karena aku merasa kalau ternyata perasaanku tidak pernah berubah dan juga aku ingin ketiga anakku tumbuh dengan adanya kedua orang tuanya," ucap Ruby mantap.
"Jadi, apa kamu memutuskan untuk kembali ke Jakarta?"
"Bisa dipastikan iya. Tapi, ada hal yang masih aku ragukan," ucap Ruby ambigu.
"ragu tentang apa?".
"Aku ragu pada Mama Rosa. Karena selama ini, aku belum pernah berkomunikasi dengan mama Rosa. Aku takut kalau mama Rosa masih belum benar-benar ikhlas untuk menerimaku sebagai menantu, karena aku bukan menantu idamannya," suara Ruby terdengar lirih.
"Emm, bagaimana ya? sebenarnya kamu jangan terlalu fokus pada Tante Rosa. Yang penting, Arka kan menginginkanmu. Bukan hanya dia, Om Adijaya dan adiknya Arka juga menginginkanmu kembali," tutur Tiara mencoba meyakinkan Ruby.
"Emm, baiklah! keputusanku sudah bulat. Aku akan menerima Arka kembali demi anak-anak," pungkas Ruby, memutuskan.
Panggilan Ruby dan Tiara akhirnya terputus dan Ruby kini tidak jadi tidur karena anak-anaknya bangun. dan dia harus menidurkan mereka kembali.
Sementara itu di lain tempat, tampak Tiara yang berjalan mondar-mandir, merasa bingung.
"Aduh bagaimana ini? padahal tadi, aku sudah menyarankan dan mendukung Kak Bima untuk berusaha mendapatkan hati Ruby lagi. Bagaimana cara menyampaikannya pada Kak Bima ya? Kak Bima pasti kecewa. Sudah lama dia masih mencintai Ruby, masa dia lagi-lagi harus kecewa?" bisik Tiara pada dirinya sendiri.
Tbc
__ADS_1